
Terlihat jika Riko tengah melakukan perjalanan bersama-sama dengan Yana. Hanya berdua.
Hal itu dilakukan untuk mendapat keromantisan tatkala pria itu akan menepati perkataannya untuk melamar gadis itu. begitu juga dengan Yana yang sangat yakin akan mendapat kebahagiaan nantinya.
Keduanya berjalan meninggalkan mobil di tempat yang seharusnya untuk memulai perkemahan mereka. Hanya satu ponsel yang boleh mereka bawa pergi.
Itu memang sudah aturan dari Riko yang memang tidak ingin suasananya terganggu oleh teknologi. Benda itu pun terpaksa dibawa oleh karena menjaga kalau-kalau terjadi sesuatu.
“Kamu kenapa senyum terus, Yan?” tanya Riko yang sebenarnya tau alasan gadis itu.
“Hum. Namanya juga senang, Ko.”
“Senang kenapa memang?” goda pria itu sambil menengadahkan tangannya untuk menggapai tangan Yana dan menariknya untuk melewati kubangan air yang becek.
“Huh.” Membuang napas sejenak. “Senang karena akhirnya setelah sekian lama bisa jalan-jalan juga. Ke alam pula.” Gadis itu tersenyum tipis sekarang.
“Senang karena jalan-jalan ke alam atau karena bareng aku?” goda Riko membuat Yana semakin tersipu.
Gadis itu segera mengambil alih posisi pertama untuk melangkah duluan. Ia melaju dengan langkah yang lumayan cepat sehingga Riko segera mengejarnya.
Keduanya kemudian memperlambat langkah menjadi lebih santai. Tempat yang mereka kunjungi memang aman dari segala kemungkinan buruk, sebab tempatnya yang terjaga dengan baik.
“Makan siang. Lapar.” Yana mengeluh dan segera duduk di bawah pohon ketika Riko memberinya isyarat perizinan.
Riko juga melakukan hal yang sama sekarang. Ia mengeluarkan makanan yang ada di tasnya. Keduanya saling melempar senyum satu sama lain sebelum memulai acara makan tersebut.
“Ih, kamu ih, senyum-senyum mulu. Kenapa, ih?” tanya Yana dengan bibir manyun.
“Aku bahagia bisa bareng kamu lagi, Yan. Terima kasih. Mungkin kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah ada di posisi seperti sekarang ini. Makanya, aku tidak jadi manusia yang lupa diri. Aku akan selalu kembali padamu.”
“Riko, dari awal juga aku sudah bilang, kamu pasti akan jadi orang sukses dan akan kembali padaku. Kamu masih ingat permasalahan kita terakhir kali dan aku tidak datang sebulan kemudian? Itu karena aku sudah pasrah. Aku tau, berhubungan di saat susah seperti itu hanya akan semakin memperkeruh.”
Riko mengangguk. Ia juga punya pemikiran yang sama sehingga tidak terlalu kepikiran dan mencari-cari Yana tatkala gadis itu tidak mendatanginya.
“Ah, sudahlah. Kita makan dulu. sudah lapar, nih.” Yana kembali menggerutu dan memukul-mukul perutnya yang segera dihentikan oleh Riko.
“Jangan dibiasakan. Tidak baik.”
__ADS_1
“Hehe.” Bersender sesaat di bahu pria itu sebelum akhirnya meluruskan posisi untuk menikmati makanannya.
Hutan kecil yang memang selalu dikunjungi oleh pencinta alam itu memang berhasil memberi kenyamanan untuk keduanya. Mungkin impian Riko dan Yana juga akan segera terjadi nantinya.
***
Liora kembali dari bekerja. Ia memang memilih untuk pulang sendiri tanpa dijemput oleh Mely dan Rainy. Hal itu membuatnya menunggu di parkiran, sebab dirinya akan menggunakan jasa ojek online.
Entah mengapa, perasaannya tidak tenang dan semakin tidak nyaman ketika hari sudah mulai gelap. Entah mengapa, ia sangat sulit membuat pesanan yang selalu terbatalkan dengan sendirinya.
“Astaga! Tiga aplikasi kok malah terblokir semua akunnya. Apaan, nih? Setelah ketemu dia, kok malah sial terus akunya,” gumam wanita itu teringat akan kejadian di tempat kerjanya.
Liora berjalan menuju kantin sambil membaca pesanan Maria. Ia terus fokus dengan tulisan itu sehingga tidak sengaja menubruk seseorang yang ternyata adalah Lehon.
Kepalanya bahkan menempel cukup lama di dada pria itu. semua orang menatap ke arahnya hingga pulang tadi.
“Ah, sial sial sial! Kenapa juga dia harus lewat jalan itu. kenapa dia harus melewati tangga. Coba saja dia naik lift, tidak akan ada cerita kecelakaan begitu. Ah, malunya.”
Ia menendang-nendang lantai dengan kekuatannya sampai tak sadar jika seseorang tengah mendekatinya. Pria itu ke luar dari mobil, mencoba menarik tangannya sekarang.
Wanita itu berteriak sangat ketakutan. Ia menjadi sangat cemas.
“Kamu harus membayar sakit hati yang aku dapatkan.”
Kalimat yang membuat Liora merinding. Pasalnya, ia sama sekali tidak sadar dengan siapa dirinya bermasalah. Walau sebenarnya tak lagi ingin menjadi bahan gosipan, ia akhirnya melupakan niat itu dan segera berteriak meminta tolong.
Beberapa saat kemudian, terlihat jika seseorang segera menghantam kepala pria itu dan memberikan sebuah tinju di perutnya. Pria itu masuk ke mobil dan segera melajukan kemudinya.
Lehon yang adalah pahlawan itu pun ingin mengejarnya yang segera dihentikan oleh Liora yang sudah hampir tak sadarkan diri. Ia memang sangat mudah pingsan ketika terlambat makan.
“Kamu kenapa?” tanya Lehon.
Liora hanya menjawab dengan gelengan kepala membuat pria itu segera membawanya ke mobilnya.
Ia membawa Liora ke rumah sakit yang tentu saja segera dihentikan. Ia memang baik-baik saja sebenarnya, hanya saja memang tengah membutuhkan makanan.
“Aku lapar, jadi tolong bawakan ke warung saja.”
__ADS_1
“Sok-sokan sekali anda. Baru pulang dari luar negeri kok makannya di warung. Merakyat sekali, Anda.”
Mendengar jawaban sewot itu membuat Liora menjadi tidak mood.
“Tidak usah. Tidak jadi. Saya mau pulang saja.” Liora menjadi sangat kesal sekarang.
“Maaf, maaf. Kita turun di warung makan, iya deh.”
Lehon bingung dengan sikapnya sendiri namun ikut turun setelah gadis itu berjalan lebih dulu dan sudah menjauh darinya. Mengapa jadi dia yang sungkan terhadap gadis itu?
***
Helena semakin senang dengan sikap Jona yang sudah secara terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya. Pria itu bahkan sudah tidak lagi menemani Mely ketika belanja. Ia bahkan pernah membiarkan wanita itu pulang naik becak.
Walau statusnya masih belum bisa dimuat ke dunia luar, namun ia tetap senang sebab diposisikan menjadi yang terutama. Ia yang selalu diantar ke mana pun ketika dibutuhkan. Memberikan biaya hidup dan hadiah mahal ketika ingin.
Tidak apa-apa belum jadi istri, yang penting sudah diperlakukan lebih dari seorang istri. Begitulah isi hati dan pikiran wanita itu sekarang.
“Mas, kamu pulang ya malam ini?” tanyanya dengan nada manja yang sebenarnya tidak tega.
Namun, ia harus tetap pulang apalagi setelah mendapat panggilan dari Rainy.
“Opah, pulang!” seru anak itu.
“Iya, Sayang. Sebentar lagi pulang, kok. Ini masih siap-siap. Ditunggu ya, Bu Bos!” Jona menjawab dengan senyuman yang seketika menjadi sangat lebar.
Helena yang menyadari hal itu pun menjadi sangat sedih. tentu saja dirinya tidak ingin tersaingi oleh anak kecil yang padahal sama sekali tidak menarik baginya.
“Aku akan singkirkan mereka semua. Makin hari malah makin nyusahin saja!” geramnya kemudian memeluk Jona dari belakang.
“Besok aku datang ke kantor ya, Mas. Ada urusan dari pekerjaan. Aku memang harus datang ke sana, tapi bukan untuk ketemu kamu, kok. Jadi santai saja.”
“Lakukan apapun yang membuatmu senang. Uang jajan dan belanja sudah aku kirimkan.”
Memberikan pelukan sambil saling berciuman sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari tempat itu. Helena melambai dengan gayanya yang manja tentunya.
***
__ADS_1