
Lehon dan sahabatnya Yona baru saja ke luar dari rumah sakit setelah mengambil resep obat dari dokter. Mata gadis itu segera tertuju ke arah Liora yang tengah bersama keluarganya.
"Ngapain mereka ke rumah sakit? Mamanya juga tuh, pakai acara ngelus-ngelus perutnya si cewek itu. Dia kan pacarnya si Riko," ujar Yona memberi keterangan yang sangat mengejutkan bagi Lehon.
Sungguh ia baru tahu.
"Sudahlah, lupakan. Ngapain juga sibuk ngurusin hidup orang," balasnya yang segera menarik pergi Yona dari sana.
Sesaat setelah itu, pikirannya terus melayang dan terbayang pada gadis itu. Bagaimana tidak, dua tahun ia kuliah, selama itu pula ia memendam sendiri rasa cintanya pada Liora.
"Kenapa kamu? Ada yang kelupaan atau ketinggalan?" tanya Yona menyadarkan Lehon dari lamunannya.
"Kayaknya iya, deh."
"Kalau begitu, aku ambilin sebentar."
"Tidak, tidak, tidak usah. Aku sendiri saja yang ambilin," cegah Lehon.
Ia segera bergerak, namun langkahnya mendekat pada keluarga Liora. Dengan begitu, ia bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Dek, setelah ini kamu harus lebih pintar jaga diri dan jangan mudah percaya sama orang lain. Masih ada abang yang bisa lebih kamu andalkan daripada siapapun di luar sana." Mike bersuara kemudian memeluk adik satu-satunya itu.
"Mike, tapi kamu akan tetap mengurus pendidikan adik kamu, kan?" tanya Mely. Sejak kemarin, itulah yang selalu menjadi bahan pikiran wanita itu.
"Iya, Mah, tetap kok. Liora biar tetap kuliah sampai dua bulan ke depan. Aku juga akan urus surat kepindahanku. Kalau ayah dari anak ini tidak mau bertanggungjawab, lebih baik kita yang jaga dan tanggungjawabi semuanya." Mike segera memberi kejelasan.
"Hush, kamu ngapain bahas hal seperti itu di tempat umum seperti ini. Dilanjutkan di mobil saja. Sekarang kita pergi dari sini," tegur Mely sesegera mungkin menarik putra dan putrinya pergi dari sana.
Tampak Liora yang sadar jika dirinya sedang diperhatikan. Ia menoleh dan menatap tajam ke arah Lehon yang segera menjauh dari sana dan untungnya tak sempat dilihat jelas oleh gadis itu.
"Riko? Liora? Jadi ... dia yang telah dihamili oleh Riko?" gumam Lehon sendirian dan masih merasa tak percaya.
"Hei, bukankah ini ponselmu?" tanya Dokter yang ditemui oleh Lehon beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Iya, untung saja dokter ingat, hehe..."
"Iya, soalnya itu ada gambar wajah kamu juga. Ganteng."
"Terima kasih, Tante Dokter," balas Lehon yang sangat tidak suka dengan tatapan aneh wanita itu.
Lantas, ia bergerak cepat dan segera tiba di mobil Yona. Gadis itu memasang wajah murung tatkala telah menunggu Lehon terlalu lama.
"Ke mana saja?"
"Tadi aku sempat tersesat, mutar sana sini, hehe ... kelamaan, ya?"
"Ya iyalah, lama banget malah. Aku kan udah bilang mau ketemu Om Roy, sudah lama tidak ngobrol bareng. Kamu nih leletnya kebangetan, malas ih," ujar Yona yang masih menunjukkan rasa kesalnya.
"Hahaha ... maafkan aku, temanku yang paling manis. Kamu mengemudilah, aku akan bujuk Papi untuk nungguin kita sebelum beliau berangkat kerja."
"Janji?"
"Iya janji. Makanya, dimohon itu bibir jangan manyun mulu," balas Lehon yang segera menghubungi Roy sambil sibuk memasang seat beltnya.
***
Penasaran dan masih mencari tahu walau dalam keadaan emosional yang tak terbendung, pada akhirnya Jona menemukan keberadaan laki-laki yang telah menghancurkan hodup putrinya.
"Di mana yang namanya Riko?" tanyanya dengan suara yang sangat kencang.
Seorang dari mereka yang sedang menertawakan dan menggunjing keberadaan Jona sebab telah sangat mengganggu kenyamanan mereka, pun maju.
"Aku orangnya, kamu siapa?" tantangnya dengan songong yang segera mendapatkan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun hingga lelaki itu tumbang seketika.
Terheran dan tak percaya, Riko pun segera memberi komando untuk membalas perlakuan Jona pada teman mereka.
Lelaki yang sebenarnya masih tangguh itu pun pada akhirnya kalah ketika berhadapan dengan empat orang anak muda sekaligus. Ia bahkan tidak diberi jeda untuk mengambil ancang-ancang.
__ADS_1
"Makanya, kalau punya anak tuh dijaga, diajarin juga biar pintar jaga diri. Jangan murah, eh salah ... murahan!" umpat Riko sombong sambil meneriaki Jona yang tengah babak belur sekarang.
"Sampai teman kami kenapa-kenapa, habislah kamu!" umpat Leo tampak sangat marah.
Jona terdiam tatkala telah ditinggalkan sendirian di sana. Ia menjambak kepalanya sendiri. Lelah, sakit yang ia terima masih tak sebanding dengan rasa sakit yang diterima putrinya. Ia tengah berpikir keras tentang cara untuk membuat Riko ampun dan mendapatkan balasan setimpal.
Beberapa saat kemudian, Mike telah sampai untuk menjemput sang ayah. Ia yang tak diberi informasi apa-apa, hanya segera membantu lelaki itu bangkit dan keluar dari tempat itu.
"Aku akan cari tau, apa yang sebenarnya terjadi dan yang Papah lakukan di sini," ujarnya dengan nada datar.
Jona tidak peduli dan segera membuka ponselnya tatkala panggilan masuk dari Helena yang sangat mendesak. Tanpa pikir panjang, ia menyuruh Mike ke luar dari mobil dan sesegera mungkin pergi dari sana.
"Sial! Dia meninggalkanku sekarang," umpat Mike merasa bingung dan tak tentu arah.
Setibanya di sebuah lapangan kosong dan terbengkalai. Tampak jika Riko dan empat teman lainnya tengah mengerumuni Helena.
"What's up, Brody! Ini siapamu? Istri kedua, selingkuhan, simpanan? Tepatnya apa, ya?" ledek Riko membuat Jona merasa sangat geram. "Stop, santai dong. Kalau kamu bergerak sedikit saja, wanitamu ini akan aku pakai. Jadi, santai ... tenang ... diam."
Selang beberapa menit mempermainkan emosi Jona, Riko memberi perintah agar dua temannya menahan pergerakan Jona, sementara dirinya dengan sangat bahagia menikmati bibir Helena.
"Ah, rasanya ... rasa tante-tante. Dasar om bodoh, kenapa bisa terpikat sama tante-tante seperti dia? Contoh saya dong, sukanya yang muda-muda, yang segar ... contohnya putri Anda!" Lelaki itu kemudian melempatkan tubuh Helena dengan sangat brutal.
Sial! Dia benar-benar tidak punya hati.
Helena meringis kesakitan di dadanya yang ternyata telah digigit oleh Riko.
"Itu hanya pertanda kecil kalau aku sudah menyentuh simpananmu, Om. Istri sahnya mau aku sentuh juga? Jangan deh, kasihan ... orangnya baik." Riko terus mengoceh sampai ia benar-benar puas dan akhirnya mengajak pergi teman-temannya dari sana.
"Aku akan menghabisimu dan keluargamu. Tunggu saja waktunya!" umpat Jona sangat marah sekarang. Ia sungguh tidak menyangka jika Riko bahkan selicik itu. Tahu semua tentangnya.
"Jangan bermain-main lagi dengannya, Mas. Ini hanya luka kecil," ucap Helena bersuara.
"Iya, itu hanya luka kecil. Kamu memang tidak akan pernah peduli dengan diri kamu sendiri. Sudah terlalu murah sih, makanya sampai tidak punya harga diri begitu," hina Jona yang segera masuk ke mobilnya tanpa peduli dengan keadaan Helena.
__ADS_1
Sambil berjalan, wanita itu menangis meratapi nasibnya. "Ini aku terima dengan lapang demi bisa bersamamu, Mas. Tapi tetap salah juga ..."
***