Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Mencoba Menjodohkan


__ADS_3

“Apa yang Papah lakukan di sana? Kenapa dia lebih memilih pekerjaan dibanding keluarga?” tanya Mike ketika dirinya tengah merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang untuk dibersihkan.


Mely terdiam tertegun mendengar pertanyaan putranya itu.


‘Nak, Papah kamu telah berkhianat. Papah telah berkhianat. Mungkin sebentar lagi, kita akan ditinggalkan,’ batin wanita itu terlihat sangat sedih.


Mike yang sadar akan perubahan raut wajah itu, pun segera meledek.


“Jangan terlalu rindu, itu berat. Biar aku saja. Kalau kata Dilan sih, begitu Mamah. Sudahlah, aku yang akan bicara dengan Papah nanti, dia harus menyusul ke sini.”


Mely terdiam masih tak menyahut perkataan laki-laki itu. Ia membiarkan Mike berbuat semaunya karena memang anak itu sudahlah dewasa.


“Halo ...” Morgan yang datang dengan membawakan bubur buatannya.


“Apa-apaan datang-datang bawa makanan begitu? Jangan buat orang sungkan dong, Mor!” kesal Mike yang walaupun menerima pemberian itu.


“Itu untuk Liora. Yang nyuruh juga Tante Mely. Tenang, Bro. Itu aku sendiri kok yang buatin.” Morgan memberi keterangan yang segera berhasil membuat Mely tersenyum.


Ia yang sedari tadi tak melakukan apa-apa bahkan segera bangkit lalu mengajak Morgan untuk duduk bersama-sama dengannya. Matanya mencari-cari keberadaan Lehon yang segera menghindar dan memilih menunggu di luar.


Pria itu benar-benar tersiksa oleh ulah saudara tirinya. Ia yang bahkan seharusnya pergi bersama-sama dengan Morgan menuju universitas yang akan dikunjungi, pun memilih untuk bergerak sendiri. Ia mandiri.


“Apa yang kamu lakukan setiap harinya, Nak? Coba jelasin dari bangun pagi sampai kamu tidur lagi,” ujar Mely yang berhasil membuat kening Mike dan Morgan mengerut.


“Mamah ngapain nanya hal pribadi begitu.” Mike segera berkomentar.


“Apa salahnya melakukan pendekatan? Buat jaga-jaga saja, mana tau anak ini main obat terlarang biar mamah kasih tau ke Bunda nya.” Mely berucap santai.


Morgan yang mendengar hal itu pun segera menangkap satu tujuan Mely. Ia sepertinya mendapat lampu hijau untuk mendekati Liora nantinya.


“Bangun pagi, minum dulu setelahnya olahraga ... membaca buku, lanjut memasak, kemudian sarapan. Setelahnya berangkat bekerja, makan siang, makan malam, membantu Bunda ngurusin bisnisnya, membaca buku, dan diakhiri menghubungi Bunda.” Morgan menjelaskan dengan seksama membuat Mike tak lagi dapat menahan tawanya.


“Itu ciri-ciri pria sejati atau pria yang terlalu sayang bundanya. Anak bunda, anak bunda.” Meledek hingga membuat tawanya meledak-ledak.


“Bagus, Morgan. Tante suka dengan kesibukan kamu setiap harinya. Kamu tidak main game?” balas Mely yang tidak mempedulikan Mike.

__ADS_1


“Game yang seperti apa maksudnya, Tan?” tanya Morgan kemudian.


“Saya tidak suka dengan laki-laki pemain game. Seperti manusia biadab yang telah membuat anak saya seperti ini.”


“Ohohoh ... saya mah tidak ikut bermain game seperti anak zaman sekarang. Tidak ada waktu, Tan.”


Mely tampak semakin senang sekarang.


“Morgan, tapi kamu menerima anak saya apa adanya, kan?”


Sebuah pertanyaan yang bahkan membuat aktivitas Mike terhenti sesaat. Ia tampaknya baru sadar ke mana arah pembicaraan sang ibu.


“Mah, tolong jangan terlalu mengurusi masalah pribadi kami. Mamah tidak ada hak untuk menawar-nawarkan Liora begitu. Jika memang jodohnya pasti akan datang sendiri.” Laki-laki itu berkomentar.


“Hentikan saja omong kosongmu. Jika selama ini mamah ikut masuk dalam kisah asmara kalian, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Kamu harus-“


“Mah! Kalau Mamah merasa ini terlalu berat, pulang saja. Aku bisa sendiri ngurusin Liora. Adanya Mamah yang menganggap Liora beban malah membuatku terbebani.”


Mely dan Mike malah terbawa arus perdebatan sengit sekarang. Wanita itu tak begitu yakin sebab putranya bahkan menatapnya dengan tajam.


***


Roy dan Sila kini tiba di tempat yang katanya adalah tempat bekerja Riko. Keduanya menelusuri tempat itu namun tidak menemukan seseorang yang dicari di sana.


Keduanya bahkan mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sana. Hal itu cukup membuat Sila merasa risih.


“Selamat pagi, kalau boleh tau di mana ya pemilik tempat ini?” tanya Riko pada salah seorang anak muda yang tampaknya pendiam dan berwajah ramah.


“Beliau sedang tidak di sini, Pak. Jarang ke sini, paling sekali sebulan.”


“Oh begitu, ya.” Roy manggut-manggut sambil menikmati pemandangan bengkel yang cukup besar dan luas itu.


“Nak, di sini ada remaja pekerja yang namanya Riko, tidak?” tanya Sila yang sudah tak dapat menahan rasa rindu dan penasarannya.


“Riko? Sepertinya tidak.” Orang itu menatap ke arah seluruh temannya yang tengah berada di posisi masing-masing. “Itu Didi, Rendy, Janu, Horas, Jhon, dan saya ... Winando.”

__ADS_1


“Oh, jadi tidak ada di sini, ya. padahal baru saja saya dapat informasi kalau dia bekerja di sini. Apa dia pernah melamar ke sini misalnya?”


“Sepertinya tidak juga. Kami cukup kenal dengan orang-orang yang melamar ke sini. Coba tunjukkan fotonya,” ujar salah seorang dari mereka yang bernama Jhon itu.


Sila yang cukup menggebu-gebu pun segera memberi foto putranya yang ternyata tak mendapat informasi apa-apa.


“Kami tidak pernah melihat dia,” jawab semua orang yang ada di sana secara bergantian setelah melihat foto itu.


Keduanya berlalu dengan perasaan sedih sekarang. Sila yang sejak kemarin sudah cukup tegar, kini menangis kembali. Ia sungguh tidak menyangka jika keberadaan putranya begitu sulit ditemukan.


Keduanya sungguh tidak sadar jika Riko tengah mengawasi mereka sekarang. Pria itu benar-benar panik, merasa posisinya tidak lagi aman. Pada dasarnya, ia juga merindukan sepasang orang tua itu, namun belum saatnya.


Ia kemudian berlalu ke belakang bengkel dan berdiam diri di sana sampai keadaan benar-benar memungkinkan untuk menyuruhnya ke luar dari persembunyian.


“Sila, satu per satu, ya ... sekarang kita ke rumah anak gadis itu dulu. kita cari tau keadaannya sekarang.” Roy mengajak istrinya untuk melakukan hal berbeda agar wanita itu tidak terlalu sedih lagi.


“Baik, Mas. Kita ke sana sekarang,” jawab Sila yang segera menyeka air matanya.


Roy yang tak kuasa pun memeluk wanita itu selama beberapa saat sebelum akhirnya melajukan kemudinya. Ia benar-benar berharap jika kegiatan selanjutnya tidak lagi membuat istrinya tertekan.


Setelah perjalanan yang cukup panjang itu, keduanya kini tiba di kediaman Jona yang tampak menyepi. Namun, terlihat jika ada penghuninya.


Roy dan Sila mencoba memanggil pengisinya dan sangat terkejut melihat siapa yang ke luar.


“Permisi ... kami mau bertemu dengan Mely, pemilik rumah ini.” Sila bersuara.


“Oh. Sedang ada urusan selama sebulan ini.” Helena terlihat menyembunyikan tubuhnya dibalik kain tipis dan memanjang yang ia bawa ke luar.


“Maaf, kalau boleh tau ... anda siapanya, ya?” tanya Sila lagi menatap curiga pada Helena dan beberapa saat kemudian Jona pun menampakkan diri.


Pria dan wanita itu tampak seperti sepasang suami istri yang segera membuat Roy dan Sila panik.


“Kalian tidak dengar, ya? Mely tidak ada di rumah, kami tidak menerima tamu. Pergilah!”


Roy dan Sila yang telah berada di mobil itu sungguh tak habis pikir. Keduanya sama-sama menatap aneh ke arah rumah itu.

__ADS_1


***


__ADS_2