Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Di Mana Harga Dirimu?


__ADS_3

Morgan, pria berusia 29 tahun itu tampak tengah duduk di ruangan di mana Liora dirawat. Tidak ada perbincangan yang terjadi di antara mereka.


Sesungguhnya, gadis itu tidak begitu terima akan kehadiran pria itu. namun, perintah dan permintaan Mely sungguh tak dapat ditolak.


Masih dalam diam, ponsel Morgan berdering. Panggilan dari ibunya masuk yang segera berhasil membuat pria itu berlalu dari sana.


Liora menatap kepergian Morgan.


Setengah jam hingga hampir dua jam lamanya pria itu tak ada di ruangan membuat Liora kesulitan. Ia bahkan harus bergerak sendiri untuk membukakan tirai di ruangan itu untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung.


Ia bahkan harus membuka kotak makanan sendiri yang penutupnya begitu erat, begitu juga dengan botol minum.


“Kamu ada butuh sesuatu, Liora?” tanya Morgan yang pada akhirnya kembali dan melihat keadaan gadis itu yang memang tak lagi butuh apa-apa.


Tak mendapat respon membuat Morgan merasa sedikit canggung. Ia bingung namun segera bergerak ke arah buah yang belum terkupas.


“Maaf, ya. tadi ngobrol sama Bunda ceritanya panjang lebar. Ada masalah pekerjaan yang harus aku bantu.”


“Hm. Saya tidak mempermasalahkan hal itu, Pak. Saya bisa melakukannya sendiri.”


Mendapat jawaban singkat dan tegas itu membuat Morgan terdiam cukup lama. entah mengapa, Liora seolah berusaha menunjukkan ketidaktertarikannya. Namun, hal itulah yang membuat pria itu semakin tertarik.


Morgan menyendokkan buah ke mulut Liora yang tengah membersihkan tangannya dengan tisu bertepatan dengan masuknya Mely ke ruangan itu. canggung di antara keduanya tak bisa dielakkan, berbeda dengan respon wanita setengah baya itu yang tengah tersenyum tipis sekarang.


“Mah, tolong bawa Rainy, sudah waktunya dia minum susu,” ucap Liora yang pada akhirnya membuat suasana tak lagi begitu tegang.


“Kamu makan buah saja dulu. kamu juga butuh vitamin.” Mely masih ingin melihat kebersamaan dua sejoli itu secara langsung.


“Pak Morgan, buahnya untuk bapak saja, ya. saya sudah sangat kenyang. Tidak muat lagi kalau harus masuk ke perut saya.”


Morgan hanya tersenyum tipis dan mengangguk walau gadis itu kembali menunjukkan sikap yang sama. Entah mengapa, ia selalu mentolerir hal itu.


***

__ADS_1


Lehon tengah terduduk di depan tempat Mike bekerja. Ia sudah menunggu sejak sejam yang lalu setelah ia kembali dari kampus untuk melakukan tugas kuliahnya.


Ia tampak menunggu dan segera berjalan cepat menghampiri Mike yang baru saja ke luar. Pria itu tampak bingung dan berhasil membuatnya berhenti sesaat.


“Bang, aku mau bicara.” Lehon memasang wajah tegang.


Mike yang tampak sadar akan arah pembicaraan itu pun segera mengarahkan langkah mereka menuju coffee shop. Ia bahkan memesan sendiri untuk mereka.


“Bang, aku mau bicara sesuatu.”


“Lehon, tolong ya, kamu jangan sungkan sama saya. Soal masalah keluarga kita, saya tidak pernah mempermasalahkannya. Semua sudah terjadi, mereka juga sudah berpisah sekarang. Yang jadi masalahnya adalah Mamah saya.”


“Abang tidak marah?”


Mike segera menggeleng yang berhasil membuat Lehon bisa bernapas dengan lega. Ia juga tersenyum tulus sekarang.


“Terima kasih, Bang. Tapi aku ingin meminta maaf dengan setulus-tulusnya untuk kesalahan yang diperbuat Riko. Aku juga tidak pernah menyangka jika hal itu bisa terjadi. Sekarang keutuhan keluarga kami tak lagi ada. Semuanya berantakan.”


Lehon tersenyum senang. Dimaafkan dengan cara direpotkan membuatnya sangat bersyukur. Ia bahkan segera setuju tanpa banyak bertanya lagi.


“Besok kamu ikut Morgan ke apartemen. Kita makan bersama untuk merayakan kelahiran keponakan saya.”


“Loh, bukannya Pak Morgan dan saya jadi pindah ke apartemen abang? Katanya sih begitu agar tidak terlalu mahal.”


Mike tersenyum jengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil bangkit membawa cup coffeenya yang masih utuh.


“Itulah karena kesibukan saya sekarang. Huft ... jadi lupa, kan.” Sambil membayar biaya belanjaan keduanya. “Kalian pindahanlah tanpa saya. Kamu juga tolong bantuin Morgan memasak, ya. jangan sungkan, saya yang akan bicara dengan Mamah kalau beliau ada sikap tidak baik.”


“Bang, tolong jangan membuat-“


“Tidak ada yang tidak baik untuk hal membantu. Kamu ada dan masuk dalam kegiatan keluarga kami karena saya. Jadi, tidak usah ragu.”


Lehon hanya tersenyum membalasnya. Ia tak lagi ada kuasa untuk menjawab mantan dosen yang pernah sangat ia kagumi ini.

__ADS_1


***


Yana kembali hadir di tempat kerja Riko membuat pria itu merasa terganggu sekarang. Bagaimana tidak, ia yang sudah bertekad untuk tidak membawa-bawa kehadiran wanita dalam proses perubahan dan jalan suksesnya menjadi amat sangat terganggu sekarang.


Yana yang tahu keadaan itu tidak begitu mempermasalahkannya. Ia tidak masalah jika harus tidak dianggap sebagai kekasih asalkan tetap bisa mencintai Riko sebebasnya dan masih menjadi wanita yang paling dapat diandalkan.


Hal itu membuat Riko merasa semakin kesal tatkala keputusannya dilanggar. Ia memutuskan untuk membuat Yana sadar sekarang.


“Yan, kamu masih sehat tidak? Kamu tega menipu orang tuamu demi pria bajingan sepertiku dan sekarang ... sekarang kamu malah datang ke sini, menemui laki-laki yang bahkan tidak ingin kamu datang. Di mana harga dirimu?”


Mencoba memahami keadaan. Yana menurunkan ego dan emosinya, ia masih tetap pada keputusannya untuk menemui Riko semaunya untuk meredam rasa rindu yang semakin bergejolak.


“Ko, aku sudah mencoba sadar dan aku sadar akan hal itu. kenyataan lain dari itu adalah aku yang tidak bisa tanpa kamu. Aku selalu merindukan kamu, aku butuh kehadiranmu. Aku tidak ada gairah untuk melakukan apapun tanpa kamu.”


Berdecak kesal kemudian berlalu dari hadapan Yana yang mengikutinya sekarang.


“Kamu boleh datang ke sini hanya sekali sebulan, itu keputusanku. Kalau kamu masih nekat, aku akan benar-benar tidak menganggapmu.”


Yana terkesiap mendengarnya. Kenyataan itu bagaikan tombak yang menghujam dadanya sekarang, ia tidak terima.


“Sekali seminggu saja sudah sangat sulit bagiku, Riko.” Tangisnya pecah.


“Yana, tangis ibuku saja tidak aku pedulikan, apalagi tangis manjamu yang tidak berguna itu. ingat saja kata-kataku itu, kalau kamu melanggarnya, kamu akan jadi wanita paling tidak punya harga diri yang pernah aku kenal!” Riko berucap dengan penuh ketegasan dan memakai emosi.


“Riko, coba kamu yang jadi aku sekarang. Aku sudah suka sama kamu dari awal kita masuk kuliah, tapi kamu malah pacaran sama orang lain. Sekarang ... setelah kita pacaran, kamu malah menjauh, kamu tinggalin aku begitu saja. Kamu pikir mudah? Coba kamu yang jadi aku, Ko!”


“Jijik. Sudahlah sudah, hentikan tangisanmu. Aku malas mendengar tangisan kepalsuan seperti itu. seperti orang yang sedang belajar akting saja. Kamu masih gagal.”


Riko benar-benar tidak menanggapi keluhan gadis itu dengan serius. Yana semakin histeris dalam tangisnya. Ia segera menekan ponselnya untuk memesan ojek online kemudian bergegas pergi meninggalkan kotak makanan dan jaket yang ia bawa.


Pria itu hanya terdiam membisu tapi tidak ada niat untuk berbuat apapun. Satu bulan kemudian adalah pembuktian cinta Yana yang mungkin benar-benar tulus atau hanya mengejarnya ketika rasa itu tengah menggebu-gebu.


***

__ADS_1


__ADS_2