
Jona masih terlihat bersenang-senang dengan wanitanya. Tak pernah sadar jika rumahnya tengah dimasuki seseorang yang ternyata adalah Mike.
Pria itu amat kaget melihat keadaan rumah yang amat sangat memprihatinkan. Begitu kotor, tak pernah dibersihkan. Pakaian kotor berserakan di mana-mana, begitu juga dengan peralatan dapur.
Mike begitu kaget melihat keadaan itu. ia yang memang tidak akan sempat apabila melakukannya sendiri, pun memutuskan untuk memesan jasa pembersih.
Tak berlama-lama di sana, ia juga bergerak menuju kediaman Alya sekarang. Ia membantu gadis itu menyelesaikan masalahnya yang ternyata tak pernah sungguh ada.
Alya tampak memasang wajah takut dan cemasnya ketika Mike datang. Ia tidak terlihat senang membuat pria itu merasa curiga.
“Kamu diapa-apain lagi?” tanyanya.
Gadis itu menggeleng.
“Kamu kenapa? Ada masalah baru lagi setelah peneror itu?” tanya Mike semakin penasaran dan lagi-lagi hanya dibalas dengan gelengan kepala.
Hal itu sungguh membuat pria itu semakin cemas. Kini, ia segera memeluk Alya yang pada akhirnya menangis kencang.
“Bang, aku hanya bercanda. Aku tidak menyangka kalau Bang Mike akan sekhawatir itu dan datang ke sini demi aku. Maaf ... tolong maafkan aku.”
Sontak Mike menjadi sangat kaget. Ia yang bahkan meninggalkan pekerjaan dan keluarganya demi gadis ini yang ternyata tak pernah ada. Ia cukup kecewa sekarang.
Gadis itu kembali terisak membuat Mike merasa iba. Apalagi ketika Alya mengucap kata rindu padanya. Tentu saja, ia tak lagi tega untuk marah pada gadis itu.
“Abang maafin aku?”
“Memangnya aku pernah marah padamu?” balas pria itu segera menghilangkan rasa cemasnya. Perasaannya juga berubah menjadi rasa cinta yang semakin dalam tatkala gadis itu masih setia menunggunya.
“Bang, kapan pulang?” tanya Alya setelah ia menyeka air matanya dan merapikan make up yang sedikit luntur.
“Besok, Yak. Kamu tidak keberatan, kan? Atau masih mau kalau abang berlama-lama di sini?”
“Yah. Maunya sih iya. Tapi itu tidak mungkin, Bang. Aku juga tidak mau Liora kenapa-kenapa di sana tanpa kehadiran Abang.”
Alya memberi pengertian yang berhasil membuat pria itu semakin merasa nyaman. Keduanya kini bergerak untuk menghabiskan waktu bersama.
***
__ADS_1
Jona yang mendapat notif dari istrinya sangat terkejut ketika mengetahui kedatangan Mike. Ia buru-buru pulang ke rumah untuk menyambut pria itu.
Helena yang memaksa ikut tak bisa ia hentikan. Keduanya bergerak cepat sekarang.
Pria itu sangat terkejut mendapati keadaan yang sudah sangat rapi sekarang. Ia juga bergegas menuju garasi dan tidak lagi menampakkan keberadaan motor putranya di sana.
Helena segera bergerak mundur dan berlalu dari sana. Ia belum ingin ketahuan apalagi jika harus dihadapan seorang Mike. Tentu saja sifat anak itu sangat keras. Ia tidak ingin dimaki dan dihina saat itu juga.
“Hati-hati,” ucap Jona yang sebenarnya tidak rela melepas kepergian wanita itu begitu saja.
Perkiraannya juga benar ketika Mike baru saja kembali bersama Alya. Ia memasang wajah tidak senangnya pada sepasang manusia itu.
“Kamu pacaran sama dia?” tanyanya terlihat keberaratan.
“Tidak, Om. Kami tidak pacaran. Aku datang ke sini hanya ingin mengantarkan buku Liora dulu.” alya tergugup kemudian memberikan buku itu pada Jona.
“Dari mana saja, Pah?” tanya Mike masuk membawa Alya bersamanya.
Jona segera melangkah ikut menyusul putranya itu. ia memasang wajah sedihnya sekarang.
“Papah baru saja pulang dari bekerja. Kamu tau sendiri kan, bagaimana banyaknya pekerjaan di kantor yang membuat Papah tidak banyak waktu untuk keluarga.” Memberi alasan yang dirasa cukup masuk akal.
Mike terlihat sangat kesal sekarang. Ia menjawab semua pernyataan sang ayah dengan sanggahan sebagai pertanda panasnya hati dan pikiran.
“Mike, tolong jangan sensi begitu. Hanya karena Papah tidak bisa jemput kamu di bandara, kamu jadi begini.”
“Ssst. Tidak usah terlalu banyak alasan, Pah. Aku tiba tadi malam dan menginap. Apa dari tadi malam sampai sekarang tidak penasaran di mana aku? Kenapa tidak menanyainya sama sekali?”
Uh, keadaan benar-benar berhasil menyudutkan seorang Jona. Ia bahkan tak lagi dapat berkata-kata.
“Kamu pulanglah sana, Nak. Kami mau bicara dahulu,” kata pria itu pada Alya yang memang sangat bingung dengan posisinya sejak tadi.
Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana sebab tak tahu juga dengan masalah yang sedang dihadapi. Kepalanya menjadi sangat pusing dan berteriak dalam hati untuk segera ke luar dari sana.
“Tetap di sini. Aku yang akan mengantarkanmu,” titahnya kemudian berlalu dari sana untuk mengambilkan jaket.
“Siapa yang bersihkan rumah ini?” tanya Jona sedikit berteriak ketika kedua sejoli itu beranjak pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
“Yang pastinya bukan Papah. Jangan terlalu memikirkan masalah itu. aku sudah membayarnya!”
Berlalu dengan sikap dingin tanpa menoleh sedikit pun pada sang ayah. Ia menunjukkan sikap sebagai penanda kemarahannya.
***
Riko tampaknya tahu akan kabar kepulangan Mike. Ia bergegas menemui Lehon yang entah untuk apa.
Ia berhasil membuat pria itu kaget namun tetap tidak memberi penjelasan apa-apa.
“Ko, aku sudah bilang berkali-kali, jangan lagi mengganggu kehidupan Liora. Dia pantas bahagia untuk jalan hidup yang dia tempuh sekarang.”
Riko menelan salivanya. Menatap remeh pada Lehon yang padahal tengah bicara serius dengannya.
“Jangan bilang, kamu sudah benar-benar suka ya sama Liora? Dari kemarin, kamu terlihat sangat sibuk mengurusi dia. Kamu selalu ingin peduli dengannya. Dan sekarang, kamu takut, cemas ketika tau aku lebih dulu mendengar kabar kepulangan Mike?”
“Jangan asal bicara kamu, Ko. Aku tidak sedang ingin berkelahi, aku bosan berdebat. Rasanya malu sekali bermusuhan dengan saudara sendiri.”
“Kamu takut?”
Lehon tidak peduli dengan seruan itu, sebab dirinya sudah mendapat jemputan kedua orang tuanya. Tinggallah Riko sendiri yang hanya bisa memandang dari jauh.
Namun, ia juga cukup tenang sebab saudara tirinya itu tidak asal bicara dengan membocorkan keberadaannya.
“Kamu sibuk apa di sana? Sudah makan?” tanya Roy yang sangat penasaran.
“Tidak ada kesibukan apa-apa, Papi. Tadi cuma haus saja. Botol minumku sudah kosong, jadinya singgah sebentar, deh. Apa tidak boleh?”
“Boleh dong. Kamu jangan langsung marah begitu sama papimu. Kalian tuh harus saling menerima dong satu sama lain. Mami memang akan selalu menjadi penengah, tapi apa salahnya kalau kalian akur-akur saja?” sela Sila yang merasa lelah dengan sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan oleh keduanya.
“Sila, kamu sendiri juga tadi nanyain, ngapain dia ke sana. Sekarang kok malah balik nyerang aku, sih?” Roy tentu saja tidak terima.
“Mas, jangan sensi begitu. Baru saja juga dibilangin. Apa salahnya kalau kita saling akur saja. Yang tidak baik mari kita perbaiki,” balas wanita itu dengan sabar.
“Iyalah tuh.” Roy menutup perbicangan di antara mereka sampai benar-benar tiba di rumah.
“Kita makan siang bareng!” seru Sila sekali lagi tatkala kedua pria itu masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
“Siap, Mami!” jawab keduanya kompak tak ingin mendapat omelan nantinya.
***