
Yona terlihat hadir di acara makan malam keluarga yang membuat Lehon merasa tidak enakan untuk sesaat. Ia merasa tidak punya ruang privasi dari gadis itu sebab ibunya selalu mengundang dan menunggu kehadirannya.
Tak berbeda dengan kali ini. Ia yang baru saja pulang setelah sebulan berjauhan dari keluarga malah tidak mendapatkan perhatian cukup.
Yona memang berasal dari keluarga berada dan merupakan satu-satunya perempuan dari lima bersaudara itu membuatnya bersifat manja. Semua yang ia perlukan selalu terbutuhi dengan cepat dan hanya dengan memerintah.
Hal itulah yang sebenarnya membuat Lehon merasa tidak sepadan dengan gadis itu sehingga perasaannya seolah terblokir begitu saja. Pun tak menaruh rasa di atas kasih sayang pada sahabatnya.
“Mami, kupasin ker-“
Ucapan yang segera terpotong tatkala Yona meminta untuk duduk lebih dekat dengan Sila.
“Tante, aku duduk di samping, ya.”
“Silakan, Sayang.”
“Terima kasih, Tan.” Segera berpindah kemudian menatap ke arah Lehon. “Hon, tadi ngomong apa kamu? Maaf jadi kepotong, hehe ....”
“Sudah biasa. Kalian lanjutkan saja dulu acara makannya, aku mau ke toilet sebentar.”
Pria itu segera berlalu dari sana. Entah mengapa kepalanya segera dipenuhi bayang-bayang Liora dan Rainy yang benar-benar membuatnya tidak tenang. Ia merasa jika tak seharusnya dirinya berada di sini. Kedua perempuan itu lebih membutuhkan keberadaannya.
Berdiam cukup lama di depan kaca toilet hingga nada dering ponselnya berbunyi dan mengganggu.
“Ada apa, Yon?”
“Aku sudah menunggu di depan toilet. Dari tadi. Kamu di mana?”
Segera saja pria itu menutup panggilan lalu ke luar dari toilet. Tatapannya datar ketika melihat keberadaan gadis itu di hadapannya. Tak ada yang berubah sebab pikirannya masih tentang Liora dan Rainy.
Keduanya segera bergerak menuju meja makan kembali sebab Sila dan Roy memang sudah menunggu.
“Kamu masih lanjut makan atau cukup?” tanya Sila dengan sikapnya yang cukup peduli.
“Cukup deh, Mi. Aku sudah kenyang.”
“Hm. Baguslah. Sekarang Papi mau bicara deh sama kalian berdua.” Roy angkat bicara setelah meneguk minuman dingin dan sejuknya itu.
__ADS_1
Lehon yang seolah curiga tak begitu bersemangat. Entah mengapa, ia merasa tidak akan diuntungkan dalam hal ini. Sungguh ia pasrah sekarang.
“Kalian berdua sudah pada punya pacar belum?”
“Belum, Om. Masih berniat fokus mengejar karier.” Yona menjawab dengan sangat bersemangat.
“Bagus. Bagaimana dengan kamu, Lehon?”
“Hm. Sama.”
“Hm, kamu nih, ya ... Papi serius loh nanyain kamu.” Roy sedikit kesal sebab putranya itu tengah sibuk sendiri dengan ponselnya sekarang.
“Memangnya ada yang meremehkan ucapan Papi? Aku sudah menjawab dengan jujur dan serius sekarang.”
“Mas?” panggil Sila bermaksud menenangkan suaminya agar tidak marah-marah.
Yona juga memberikan isyarat agar Lehon menjawab dengan baik.
“Langsung saja ke intinya, Pi. Aku masih banyak hal yang harus diurus. Ini juga masalah kuliah. Nanti kalau nilaiku turun, Papi juga yang stres, tidak tenang.” Lehon benar-benar menunjukkan ketidaksenangannya.
“Langsung ke intinya saja. Papi mau kalian berdua pacaran saja. Dari kecil kan, kalian berdua ini sudah-“
“Dengarkan Papi selesai bicara dulu!” tegas Roy. “Kalian berdua sudah saling kenal dari kecil, bahkan selalu bersama. Papi rasa yang kalian suka juga pasti sama. Jadi ...”
“Maaf, Pi. Aku tidak bisa. Jangan dipaksa.”
Lehon berlalu dengan memesan ojek online. Ia juga mengirimkan pesan pada Yona agar tidak mengejarnya. Ia butuh waktu sendiri.
***
Tak jauh berbeda dengan keadaan Liora. Ia yang tengah sibuk mengurusi putrinya itu terlihat manyun mengingat-ingat Lehon sekarang. Dulu, ketika Rainy rewel maka Lehon akan selalu ada untuk membantunya.
Ia juga melihat foto-foto kebersamaan mereka yang diambil olehnya secara diam-diam. Tak sadar, sebuah senyuman lebar melengkung di bibirnya.
“Kamu lagi ngapain, Liora? Mamah mau bicara sama kamu sekarang.”
Melly berjalan dengan cepat memasuki ruangan itu membuat Liora bergegas menutup laptopnya. Ia tersenyum kecut, takut jika harus ketahuan oleh sang ibu yang pasti akan murka padanya nanti.
__ADS_1
“Kenapa kamu harus menolak dia, Liora? Apa lagi yang kurang dari seorang Morgan? Kamu tuh, ya. rugi tau!”
“Mah, please hargai keputusanku. Aku ingin hidup sendiri untuk saat ini. Dan aku rasa, aku berhak untuk memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidupku nanti.”
Jawaban itu membuat Melly geram sekarang. Ia tidak terima jika pemikirannya ditolak begitu saja.
“Kamu tidak lupa, kan, siapa kamu sekarang ini? Atau kamu belum memikirkan bagaimana masa depan kamu nantinya?”
“Mah, aku masih sedang kuliah sekarang. Nanti setelah pendidikanku selesai, bakal tetap cari pekerjaan yang layak, kok. Aku akan gunakan ijazahku untuk mencari pekerjaan.”
Lagi, Liora berhasil membuat ibunya merasa sangat geram sekarang. Gadis itu memang selalu berhasil membuatnya terintimidasi tatkala Melly berniat memakai pemikirannya sendiri.
Wanita setengah baya itu mendekat sekarang. Sebuah roket nyamuk tampak berada di tangannya. Ia juga berniat menyerang Liora yang segera ditahan Mike yang untungnya datang sekarang.
“Mamah apa-apaan, sih? Aku sudah bilang berkali-kali, jika memang adikku menjadi beban untuk kalian, silakan pulang dan biarkan aku melakukannya. Jangan paksaan kehendakmu terus menerus. Selama ini kami selalu menghormatimu sebagai orang tua, bukan berarti kami bodoh untuk selalu menurut.” Pria itu merasa geram sekarang.
“Apa maksudmu, Mike? Apa kamu tidak tau kalau anak ini sangat bodoh? Dia menyia-nyiakan pria baik dan berhati mulia seperti Morgan. Bagaimana bisa dia mendapatkan pria yang lebih baik dari itu.”
Mely masih tetap dengan pemikirannya yang padahal memang salah. Hal itulah yang membuat Mike sering tidak dapat menahan emosi dan berdebat panjang dengan orang tuanya. Hal itu jugalah yang membuatnya terkesan seperti anak yang pembangkang.
Liora terdiam menatap bagaimana abangnya tetap mendukungnya. Ia baru sadar jika pria itu benar-benar sayang dan peduli walau tak jarang memperlakukannya dengan sangat tegas. Namun, ia juga tau jika itu demi kebaikannya.
“Mah, tolong hargai keputusanku.” Liora berucap dengan nada pelan dan pasrah.
Hal itu membuat Mely seketika sadar dan luluh. Ia juga segera duduk di samping putrinya dan memberikan pelukan sekarang. Ia juga tak lupa mengelus puncak kepala gadis itu sehingga lebih tenang.
“Mamah minta maaf, Sayang.” Memberikan sebuah kecupan di ujungnya.
“Mah, aku tau kalau kalian sedang ada masalah, kan? Aku tidak mau tau, dalam seminggu ini akan segera pulang dan memaksa Papah ikut ke sini. Dia sudah terlalu kejam.”
Mike ternganga tidak percaya jika putranya juga tau mengenai dirinya. Ia menjadi sangat sedih sekarang.
“Masalah apa, Mamah? Kenapa tidak pernah bercerita pada kami?” tanya Liora yang sangat penasaran.
“Biasa, masalah orang dewasa, Dek. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu.” Mike menyahut cepat.
Mely terdiam menatap wajah sang anak. entahlah Mike sudah tau masalah yang sebenarnya atau belum masih menjadi misteri sebab ia pun tidak ingin menceritakannya pada Mike dan Liora.
__ADS_1
***