Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

Tiga tahun kemudian, Liora tampak terlihat di depan rumahnya. Ia melakukan gerakan yang sama dengan putrinya, Rainy. Mely tertawa geli melihatnya.


Jona yang baru saja bangun segera membuka dan memainkan ponselnya, seolah tidak peduli dengan siapapun di hadapannya. Padahal, Rainy bahkan hanya melihat kakeknya melalui panggilan video sejauh ini.


Mely menjadi sedikit kesal lalu menarik anak itu mendekati suaminya. Ia membuat pendekatan sementara Liora memasak untuk mereka.


“Ngerjain apa, sih, Mas? Kamu tidak tau siapa ini? Ini nih cucumu yang paling manis dan cantik.” Memuji Rainy dan memberikan kecupan di pipi kiri kanan kiri anak itu.


“Omah, sudah gosok gigi?” sewot Rainy membuat Mely tergelak tidak menyangka.


“Kenapa memang? Kenapa kalau omah cium banyak-banyak?” balas Mely segera memberi serangan ciuman sebanyak yang ia bisa.


Hal itu membuat Rainy sedikit kesal namun tetap menerimanya. Bagaimana pun, ia sadar jika itu adalah bentuk kasih sayang dari neneknya.


“Lagi membahas soal pekerjaan baru untuk Liora. Sepertinya perusahaan itu menerima anak kita tanpa interview. Besok sudah bisa masuk kerja,” terang Jona yang membuat Mely segera duduk di sampingnya.


“Syukurlah. Liora bisa segera sibuk.”


“Omah, aku mau sekolah dong. Di mana dan kapan?” tanya Rainy yang sangat penasaran sekarang.


“Tunggu, Sayang. Kami masih mencari sekolah untuk anak berumur tiga tahun. Mungkin saja tidak ada. Bagaimana itu?”


“Omah, hm ...” Memasang bibir manyunnya yang sungguh tak sanggup membuat Mely ingin memeluknya lagi.


Namun, kali ini senyuman di wajahnya berubah datar ketika tak sengaja melihat notif masuk dari Helena. Ajakan untuk segera bertemu.


Padahal yang ia tahu, Helena tak lagi bekerja di perusahaan tempat suaminya bekerja sejak masalah dulu. ketika Mike memberi pilihan padanya untuk segera mendatangi mereka di luar negeri atau pria itu akan mencari tahu segala yang dilakukan olehnya.


Mely yang masih sangat mencintai suaminya tentu tidak membiarkan pria itu terluka. Ia memilih untuk pulang dan mengemban semua tanggungjawab pada Mike yang hingga sekarang belum juga kembali bersama-sama dengan kedua wanita ini.


“Kita sarapan dulu!” panggil Liora.


Jona bergerak cepat, ia mengajak Rainy dan berjalan beriringan bersamanya. Berbeda dengan Mely yang masih ingin melakukan aktivitas lain. Raut wajahnya juga murung. Entah apa yang terjadi.


“Di mana Mamah?” tanya Liora, tentu saja.


“Masih ke toilet. Mungkin sebentar lagi juga menyusul. Dia bilangin kita sarapan duluan tadi,” jawab Jona berbohong.


***


Riko dengan tampilan barunya, pun mendatangi Yana dan Alya yang sekarang tinggal di sebuah kontrakan. Walau sudah sangat lama tidak bertemu, kata pisah memang tidak pernah terucap di antara keduanya.


Hal itulah yang membuat kedatangan Riko kali itu merupakan sebuah kewajaran. Ia juga tampak segera menarik tangan Yana dengan lembut yang bahkan membuat Alya tak banyak berkomentar.

__ADS_1


Ia memberi ruang untuk keduanya tanpa ikut terlibat.


“Yan, aku datang untuk melamarmu.”


Sebuah kalimat yang hampir membuat detak jantung Yana berhenti saat itu juga. Ia bahkan tidak berkedip membuat Riko panik, segera memukul pelan bahu gadis itu.


“Kamu kenapa? Kok malah bengong begitu? Tidak bagus tau.”


“Ko, kamu nyata tidak, sih?” Yana menyentuh hidung, wajah, dan tangan pria itu kemudian menempelkannya ke wajahnya sendiri.


“Kenapa, sih, Yan? Kamu tidak percaya kalau aku datang untuk menepati janjiku? Aku sudah sukses sekarang.”


Pernyataan itu semakin mengundang kebingungan. Air matanya juga menetes tak sanggup menahan rasa rindu yang sudah sangat lama ia tahankan.


Sampai saat ini, ia bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun sebab masih kekeh dengan kepercayaannya jika Riko memang akan kembali padanya.


Hal itu membuat Riko sadar akan kesalahannya selama ini. Ia segera menggapai tangan Yana kembali dan mengecupnya. Ia menjujuri segala sesuatu yang terjadi padanya yang membuatnya juga tersiksa.


“Tapi, aku datang untuk membahagiakanmu sejak sekarang, Yan. Aku-“


“Aku tidak mau dilamar sekarang, Ko. Aku ingin melakukan perjalanan impianku bersamamu dulu.”


“Apa itu?” tanya Riko sambil menahan agar gadis itu tidak mengungkapkannya. Ia tampak berusaha mengingat. “Aku ingat sekarang.”


“Camping sambil liburan. Itu, kan?”


Yana segera mengangguk memberi jawaban persetujuan membuat Riko merasa bangga pada diri sendiri. Ia sungguh tidak menyangka jika ingatan-ingatan tentang Yana begitu melekat dalam pikirannya.


“Seminggu lagi aku datang ke sini, kita berangkat. Mau?”


“Boleh.” Yana kembali mengangguk untuk memberi jawaban.


“Masukkan nomor ponselmu agar aku bisa menghubungimu nanti.”


“Ko, aku masuk dulu. jangan lupa untuk membuktikan perkataanmu tadi.” Gadis itu tersenyum lebar kemudian berlari masuk ke kamarnya.


Masih terdengar jelas teriakan heboh gadis itu. ia tampak masih sangat bahagia, mungkin bercampur dengan haru hingga tangisannya juga tak bisa dielakkan.


“Kamu nangis atau ketawa sih sebenarnya?” tanya Alya yang merasa heran dengan sikap temannya itu.


***


Morgan tersenyum lebar melihat postingan Liora setelah sekian lama. ini pertama kalinya gadis itu update tentangnya di media sosial lagi.

__ADS_1


“Welcome,” gumamnya merasa sangat senang sekarang.


Ia juga tertawa lebar setelahnya menarik atensi sang ibu yang memperhatikannya tadi dari balik pintu kaca. Ia mendekat lalu masuk. Anehnya, pria itu segera menutup laptopnya.


“Kamu lagi ngerjain proyek rahasia, ya?”


“Anggap saja begitu, Bun. Aku mau memberi pelajaran untuk seseorang nanti.”


“Lanjutkan saja, Nak. Kamu akan menjadi dosen terbarik se antero nusantara ini,” balas wanita itu kemudian berlalu dari sana.


“Dasar ibu yang sangat aneh. Kamu bahkan tidak tau apa-apa tentang anakmu. ****! Aku sangat membencinya.” Memutar kursi untuk kembali fokus dengan pekerjaan yang sedang ia lakukan.


“Aku memang akan memberi pelajaran untuk seseorang, tapi bukan sebagai dosen. Kita lihat saja pertunjukannya nanti.”


Setelahnya, ia mengambil kunci, mengunci ruangan kerjanya lalu ke luar rumah dengan mobilnya. Ia benar-benar menikmati suasana sore itu.


Tatkala masih berputar-putar di sepanjang jalan, ia tak sengaja melihat sebuah pemandangan di taman yang ia kira adalah Liora dan Rainy. Ia berhenti untuk sesaat dan mendekati mereka.


“Apa kalian ini adalah ibu dan anak?” tanyanya ramah.


“Apa urusanmu, Om?” balas anak kecil itu membuat Morgan terhenyak selama beberapa saat.


“Nak, tidak boleh seperti itu. biar Mama saja yang bicara. Kamu main dulu sana, gih.”


“Maaf, Mbak. Saya hanya tertarik dengan kedekatan kalian. Apalagi baju couplenya.” Morgan memuji dengan nada tidak enakan.


“Iya, tidak apa-apa, Mas. Ucapan anak saya tadi tolong dimaafkan, ya. maklum anak sekarang mah gitu.”


Morgan terdiam sesaat. Ia membayangkan anak Liora begitu rewel dan akan sangat mengganggunya.


Tidak ingin terlalu memikirkannya, Morgan mengeluarkan kameranya.


“Apa kalian berdua mau difoto? Tampak punggung saja, tapi dengan gaya sama dan sangat konyol, ya? saya akan bayar 100 ribu per fotonya.”


“Seriusan?” tanya wanita itu tampak seperti seorang yang mata duitan.


“Kalau nampak wajah dapat sejuta per fotonya.”


“Mau, mau dong, Mas.”


‘Kuotanya sedang tidak ada. Proyek kali ini saja dulu,” lanjut pria itu selayaknya fotographer handal.


***

__ADS_1


__ADS_2