
Belajar online bukanlah hal yang mudah sebab Liora harus berusaha menyesuaikan diri secepat mungkin. Ia juga dituntut untuk dapat menangkap pelajaran dengan cepat.
Ia yang sebenarnya tidak merasa nyaman, apalagi dengan salah satu dosen online, harus menurunkan ego ketika mengingat upaya yang telah dilakukan oleh sang abang. Pria itu bahkan rela ke luar dari pekerjaan yang selama ini sangat ia banggakan sebab memang masuk ke sana bukanlah hal yang mudah.
Kini bahkan pria itu harus bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan kecil dan terkadang mengisi kekosongan waktunya sebagai freelancer. Liora sadar jika pria itu berusaha keras untuk membuatnya bahagia.
“Abang, maafkan aku,” gumamnya merasa sangat sedih sekarang.
“Okey, Liora. Kelas kita hari ini telah selesai. Kalau boleh tau, di mana abangmu sekarang?” sapa Morgan tampak merapikan tampilannya di depan layar.
Ia meletakkan kacamatanya di atas meja kemudian menatap fokus pada Liora sekarang.
“Ada apa memang, Pak? Apa masalahnya di saya? Jelaskan pada saya saja.”
“Tidak. Saya ingin bicara dengan abang kamu saja, Liora.”
Gadis itu tampak memasang wajah tidak sukanya. Ia sangat tidak nyaman ketika pria ini selalu melaporkan kekurangannya pada sang abang yang padahal masih bisa diperbaiki sendiri olehnya.
“Liora, ini kan sudah di luar kelas kita. Kamu boleh panggil saya abang saja.” Morgan tampak ragu namun tetap mengutarakannya.
“Saya lebih nyaman dengan panggilan itu,” jawab Liora ketus pada teman abangnya itu yang memang sudah menaruh rasa padanya sejak lama.
Gadis itu menutup layar laptopnya kemudian mengembuskan napas dengan kasar. Ia juga menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4, sesaat lagi Mike akan pulang dari bekerja.
Gadis yang tengah hamil itu pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Ya, jadwal makan mereka memang sangat teratur.
Tak lupa, ia memasang lagu dengan menyambungkannya ke speaker yang membuat semangatnya segera meningkat. Ah, bahagianya sesederhana itu sekarang.
***
Sesuai perkataannya pada sang ibu tirinya, Lehon tengah menemui saudaranya sekarang. Riko tampak sangat tidak senang dengan kehadiran pria itu, apalagi posisinya tengah makan.
“Ah, kau membuat selera makanku hilang begitu saja. Pergilah dari sini, sialan!”
Lehon tak bergeming dari tempatnya. Ia masih berdiam di sana sambil menyaksikan bagaimana Riko menghabiskan makanannya yang padahal baru saja mengaku tidak berselera.
__ADS_1
Ia kemudian mendekat pada pria itu dan membuang sampah pada tempatnya. Ia juga membiarkan Riko untuk bicara terlebih dahulu.
“Pergilah dari sini. Melihatmu membuatku merasa semakin hancur dan muak pada diri sendiri.”
“Ko, setelah tau kejadian itu, tidak mungkin jika Mami dan Papi tidak kecewa. Tapi, mereka juga tidak mungkin tidak memaafkanmu. Itu sudah menjadi kewajiban mereka sebagai orang tua.”
“Tau apa kamu soal kecewa? Lehon, aku sudah katakan ini berkali-kali, jika Mami tidak menikah lagi, aku tidak akan pernah sekecewa ini padanya.”
“Ko, kamu tidak boleh egois. Mami butuh suami, butuh pendamping untuk melindungi kamu sebagai putranya. Bagaimana pun, walau Mami terlihat kuat, tidak ada yang tahu luka batinnya. Kamu harusnya mengerti.”
Pada akhirnya, Lehon menyatakan ketidaksetujuannya dengan pendapat Riko.
“Masalahnya adalah ... dia menikah dengan orang yang salah. Kenapa Mami harus menikah dengan Roy? Ayahmu adalah orang yang paling tidak berperasaan. Mami menerimamu dengan baik dan tulus, lalu bagaimana dengan dia?”
Riko juga mengutarakan isi kepalanya yang kali ini membuat Lehon terdiam. Ingin sekali rasanya ia berdebat lagi, namun kepulangan Riko begitu penting untuknya saat ini.
“Riko?” Panggilan yang segera membuat pria itu bergerak pindah sekarang.
Lehon masih sabar untuk menanti di tempatnya hingga beberapa saat kemudian, terlihat jika beberapa orang mendatanginya. Mereka menyeret keluar Lehon yang padahal sudah berteriak-teriak memanggil Riko.
“Dari tadi kek!”
“Aku tidak peduli padamu!” geram Lehon sekarang.
***
Jona menatap ponselnya yang baru saja mendapat pesan dari istrinya. Wanita itu tampaknya begitu kesepian sehingga mengiriminya pesan agar segera pulang.
Sepertinya ia cukup mengerti sebab dirinya pun merasakan hal yang sama setelah Mike dan Liora tak lagi tinggal bersama-sama dengan mereka. Ia mencoba berpikir sejenak lalu memanggil Helena.
Wanita itu segera duduk di pangkuannya, menyentuh lehernya sebagai bentuk dari caranya menggoda. Hampir saja Jona terlena jika ia tidak segera mendapat pemandangan pesan itu lagi di layar ponselnya.
“Madu, selama dua minggu ini ... aku mau pulang cepat, ya. Jadi tidak singgah ke apartemenmu dulu. Nanti, akan aku transfer, jadi belanjalah dulu sendirian, sesukamu.”
Sebagai wanita yang juga ingin dimanja dan selalu mendapat kehangatan dari pasangannya, rasanya itu tak akan cukup. Ia tetap ingin berada di sisi Jona. Ia menjadi sangat egois sekarang, berbeda dari biasanya.
__ADS_1
“Maduku, jangan lama-lama. Dua hari saja, ya?”
“Ck! Aku sudah putuskan selama dua minggu saja. Kamu jangan pakai acara tawar menawar lagi. Semua akan berlalu dengan cepat nanti.”
“Tapi ...” Wanita itu memasang wajah sedihnya. Ia juga merapikan warna gincu di bibirnya membuat Jona tergoda.
Ah, ia begitu lemah dengan tampilan dan bentuk tubuh wanita itu.
Sadar jika Jona menginginkannya, segera saja ia mengunci pintu dari dalam dan mematikan lampu. Menarik pria itu ke ruang kecil yang seharusnya digunakan untuk istirahat.
“Mas, jangan pulang cepat hari ini. Kita saling memuaskan saja dulu. Aku tidak akan tahan kalau harus tiba-tiba begini ...”
Terlena, Jona akhirnya mengangguk. Ia membiarkan wanita itu melakukan apapun yang dapat memuaskannya saat itu juga. Ia bahkan menurut untuk mengangkat tubuh ringan Helena menuju kamar.
“Mas, sadarlah jika rasa cintamu tidak akan bisa dibagi lagi. Hanya untukku. Hanya untukku.”
Perkataan itu sebenarnya sempat membuat Jona berpikir sejenak. Namun, tangan nakal Helena segera memberikan sentuhan yang benar-benar membuatnya terbuai. Ia tak bisa menggambarkan perasaannya sekarang.
Namun, sesering apapun ia bertemu dan melakukan hal itu dengan Helena, tak pernah ia merasa bosan. Ia bahkan selalu memuji wanita itu secara langsung dan melalui pesan singkat. Ia seperti seorang pria yang jatuh cinta kedua kalinya layaknya di masa-masa remaja.
Dua jam sudah mereka berada di sana. Kantor bahkan sudah menyepi sekarang. Jona mengecup pelan kening Helena.
“Terima kasih, Madu.” Tentu saja, ia tidak akan lupa untuk kebiasaan itu.
Helena merasa bahagia sebab bisa menyenangkan pria itu. ingin sekali ia mengajak pria itu ke apartemennya lagi, namun ia sadar jika tidak boleh terlalu egois saat ini.
“Mas, tapi tidak lebih dari dua minggu, ya?”
“Iya, Madu. Tenang saja. Apalagi sekarang, sudah tidak ada anak-anak lagi di rumah. Aku semakin bebas untuk melakukannya.”
Helena yang sudah sempat berdiri segera menurunkan tubuhnya lagi dan memberikan sedikit kenikmatan untuk mengakhiri permainan mereka malam itu.
“Terima kasih, Madu ....”
***
__ADS_1