Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Masih Ingin Dianggap Sebagai Korban?


__ADS_3

Liora tersenyum pahit memandang foto teman-temannya. Ada rasa rindu yang tak dapat ia bendung namun harus tetap ia pertahankan.


Terlihat jika Lehon kembali mendatanginya sekarang. Pria itu terlihat sangat canggung sebab tidak ada Mely di sana.


“Sudah, tidak apa-apa, masuk saja. Lagian, aku tau kok, kamu tidak nyaman kalau ada Mamah di sini.”


Lehon hanya diam dan menurut sebab tak ingin terlalu banyak bicara. Ia juga duduk di meja belajar dan mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan.


“Ini spidolnya. Tunggu sebentar, aku jemput Rainy dulu.” Liora bergegas menaiki anak tangga dan menenangkan putrinya yang tengah menangis sekarang.


“Sayang, kamu mau mandi, ya? gerah, ya?” tanyanya kemudian sigap mengurus bayi perempuan itu.


Terlihat jika Lehon bergerak menuju dapur. Ia juga ingin memuaskan dahaganya yang tak lagi dapat ia tahankan.


Secarik kertas ia dapatkan yang segera membuatnya bingung dan menatap ke arah anak tangga. ‘Tolong perbaiki kabel lemari pendinginnya.’


Tanpa berpikir panjang, ia segera melakukan itu. bagaimana pun, ia melakukannya untuk membantu, pun niatnya ke sini adalah untuk itu.


Ia melakukannya hanya beberapa menit hingga akhirnya ia bisa memuaskan dahaganya setelah air di dalam kulkas menjadi dingin, memberi rasa segar di tenggorokan. Terlihat juga jika Liora datang bersama Rainy.


“Aku sudah mandikan dia tapi masih menangis hingga sekarang. Jadi, tolong bantuin lagi dong.”


Meminta dengan nada memelas yang membuat Lehon kembali membantu. Sesungguhnya, ingin sekali rasanya ia menolak sebab tujuannya datang bukanlah menjadi penjaga anak atau semacamnya.


Hanya dalam beberapa menit, Rainy sudah terlelap dalam dekapan pria itu. Ia berniat memindahkan anak itu ke tempat yang seharusnya namun digagalkan oleh kepekaan anak itu. ia menangis sekarang.


“Tidak, tidak ... aku akan menggendongmu, Rainy,” sebutnya membuat Liora tersenyum senang.


Gadis itu menjauh dan masuk ke dapur untuk menyembunyikan rasa senangnya. Dan setelah tangisan itu berhenti, ia ke luar dari sana dengan membawakan beberapa snack.


“Boleh tidak untuk hari ini tidak belajar dulu? aku mau ngobrol sama kamu,” ujar Liora bersikap seolah-olah menguasai keadaan.


Lehon mengangguk setuju. “Tapi jangan berisik, kasihan anak ini. Nanti terbangun dan menangis lagi.”


“Hm.”


Terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya Liora kembali angkat suara. Ia memang ingin memuaskan rasa sesak yang ada di dadanya.


“Kamu adalah saudara tirinya Riko? Jadi, kalian bersaudara?”

__ADS_1


“Iya, benar.”


“Kamu tau tidak, apa yang sudah dilakukan si pria bajingan itu? dia bahkan sengaja menjebakku masuk ke rumahmu lagi untuk memperkosa aku.”


“Liora, tolong hentikan. Apa kamu juga tau seberapa tersiksanya kami oleh perbuatan Riko? Dia sekarang menghilang entah ke mana. Mami tersiksa nyariin, mikirin dia setiap hari. Jadi-“


“Hei, kamu pernah ngerasain jadi aku? Pernah ada di posisi yang sama seperti aku?”


“Okey. Aku dan keluarga meminta maaf atas perbuatan itu. tapi, kamu juga tidak boleh hidup terus-terusan dalam bayang-bayang masa lalu. Memangnya tujuan kamu datang ke sini, apa? Kamu tidak ingin maju? Masih ingin berharap pada kesalahan yang ingin terulang lagi?”


Liora terdiam. Ia menjadi sangat kesal. Ia yang seharusnya menjadi korban malah disudutkan.


“Kamu masih ingin dianggap sebagai korban dan dikasihani? Yakinlah, kamu tidak akan pernah maju.”


Ungkapan Lehon kali ini benar-benar berhasil membuat Liora terdiam. Ia sungguh tidak menyangka jika pria itu akan tahu arah pemikirannya.


“Kita mulai pelajarannya sekarang,” lanjut Lehon setelah ia berhasil memindahkan anak itu ke tempat tidurnya.


***


Alya dan Yana tengah terlihat bersama namun tak saling bicara. Kedua sahabat itu memang sedang diterpa masalah serius oleh karena kebodohan Yana.


Tangisan itu membuat Alya tak tega kemudian memberikan pelukan.


“Sudah, lupakan saja. Kita tidak boleh terpaku dalam satu masalah. Kita cari kesenangan, yuk?”


“Yak, maafin aku dulu.” melebarkan kedua tangannya yang segera dibalas Alya dengan pelukan.


Keduanya berbaikan di detik itu juga.


Alya kemudian memamerkan layar ponselnya yang menunjukkan saldo rekening yang cukup banyak untuk anak kos seperti mereka. Yana tersenyum lebar walau setelahnya mengerutkan kening.


“Dari mana? Kamu nipu?”


“Sembarangan kalau ngomong. Aku tidak pernah menipu siapapun, ya. ini dari orang baik dan uang baik-baik. Jadi, kita bisa pakai untuk menghilangkan rasa jenuh, yuk?” Alya menarik tangan Yana yang masih menolak.


“Kasih tau dulu, dari siapa?”


Alya tersenyum kecut. Ia memang belum bisa memberitahunya sekarang sebab akan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang tak bisa ia prediksi.

__ADS_1


“Ada waktunya kamu bakal tau nanti.”


“Siapa dulu, Yak?!”


“Kamu mau aku jajanin tidak? Kalau tidak biar aku simpan saja uangnya buat bayar kos bulan depan.”


“Hayuk!” seru Yana yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


Ia juga berpikir sejenak dan mendapatkan ide gila yang segera disampaikan pada Alya. Kedua gadis itu tampak bingung namun tetap bersemangat.


“Bagus sekali memang. Kita ke klub untuk pertama kalinya. Semoga di sana, kamu segera ketemu cowok baik-baik dan tajir melintir.”


“Lah, memangnya kamu tidak mau, Yak?” balas Yana yang merasa kesal dan tidak terima.


“Aku mah, nanti saja.”


Alya tersenyum tipis kemudian bergerak menuju halte. Mereka akan menunggu angkot di sana.


***


Jona terlihat sedang termenung di depan rumahnya yang amat sangat berantakan. Ia mengingat kejadian buruk yang mengorbakan kepercayaan Helena terhadapnya.


Ia juga merasa bingung dengan sikap buruk itu yang entah mengapa bisa ke luar begitu saja. Padahal selama ia berumah tangga dengan Mely dan sudah memiliki keluarga yang utuh, tidak pernah ada kejadian seperti itu.


Mungkinkah ia mengalami tekanan yang amat berat setelah bersama Helena? Ah, tapi tidak. Wanita itu malah selalu berhasil membuat senyum semangatnya ke luar ketika mereka berjalan bersama.


Senyuman itu semakin murung ketika ia mencoba menghubungi Mely namun tidak ada jawaban, begitu juga dengan Mike yang tentu saja tengah bekerja.


Liora adalah satu-satunya orang yang pantas baginya sebagai teman cerita, namun rasanya sangat malu apalagi ketika mengingat perbuatannya. Ia merasa berdosa sebab telah mengkhiati keluarga itu.


Seorang tetangga pun datang, menekan bel berkali-kali membuatnya bergerak untuk membukakan. Di sana terlihat beberapa makanan dan bahan-bahan yang segera ia terima.


“Terima kasih banyak. Ada acara apa sampai bisa belanjain orang sebanyak ini?” tanyanya.


“Eh, bukan. Jangan salah paham, Pak. Itu titipan Bu Mely. Beliau menghubungi saya berkali-kali, terlalu mengkhawatirkan anda. Nah, karena sekarang sudah beres ... saya mau mengambil foto bapak. Boleh tidak?”


Mendengar kenyataan itu membuat hati Jona tersentuh. Ia sungguh tidak menyangka jika rasa sayang istrinya tak luntur walau mereka sudah berjauhan seperti sekarang.


Tanpa berpikir panjang, ia akhirnya setuju untuk diambil foto. Senyumannya juga melebar.

__ADS_1


***


__ADS_2