Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Mely Jatuh Sakit


__ADS_3

Memang sudah waktunya bagi Mike untuk pulang. Ia sudah berada di bandara sekarang.


Niatnya ingin memberi kejutan bagi semua orang, ia realisasikan. Pria itu memesan sebuah kamar hotel kemudian bersiap sesegar mungkin untuk menemui sang kekasih.


Ya, gadis itu menjadi impian terbesarnya saat ini. Senyuman juga tak lekang dari bibirnya.


Langkah kakinya sudah berada di depan tempat tinggal gadis itu. ia memang mendapatnya secara tak sengaja beberapa waktu yang lalu. Itulah sebabnya, ia tak begitu yakin ketika mendatangi tempat ini.


Namun, melihat gadis itu yang baru ke luar dari rumah dan tengah bersiap pergi, ia sangat bersemangat.


“Ehem!” dehemnya dari balik masker di wajahnya.


Gadis itu memegangi tas jinjingnya kemudian berbalik untuk memastikan siapa yang datang. Ia sama sekali tak bersuara.


“Ehem!” dehem pria itu sekali lagi.


“Ehem ehem mulu dari tadi, Mas. Ada perlu apa, ya? langsung bilang saja, jangan bikin saya kesal!” bentaknya dengan nada suara yang sangat lantang.


“Ada apa?” tanya Reza yang baru ke luar dan mengunci pintu sekarang.


Mike menjadi sangat terkejut, sungguh tak dapat menahan rasa kagetnya.


“Alya, kamu selingkuh?” tanyanya.


Kening gadis itu mengerut. Ia mencoba menerka. Memastikan dengan mendekatkan wajahnya. Ia seolah mengenalinya.


Suara teriakan heboh yang sangat kencang tak dapat dihentikan. Gadis itu melompat kegirangan dan memeluk Mike sangat kencang.


“Bang ... kamu pulang?” tanyanya sangat terharu bahkan menitikkan air mata, bahagia.


Pria itu lantas membalas pelukan itu, namun lidahnya kelu tak dapat berkata-kata.


Topi dan maskernya ia singkirkan sekarang.


“Yak, siapa dia ... coba jelaskan.” Berucap dengan nada lemas kemudian terduduk di lantai.


Alya kemudian memberikan tatapan tajam pada sepupunya itu. reza tampak mengerti kemudian mendekat.


“Bang? Pacarnya Kak Alya, ya? aku Reza ... adik sepupunya.”


Perkenalan itu membuat Mike salah tingkah. Ia seolah tidak percaya.


“Masih nggak percaya, Bang? Kami memang sepupuan dan tinggal bersama untuk menghemat biaya. Ini juga lagi cari anak kost cewek buat mengurangi biaya sewa,” jelas Alya panjang lebar.


“Tapi kenapa kamu nggak jelasin dari awal saja, Alya?” sungut pria itu terlihat kesal.


Ia menjadi tidak bersemangat. Menyesali perbuatannya kali ini yang bahkan sudah menomor duakan keluarganya.

__ADS_1


“Maaf, Bang. Aku lupa buat ngasih tau sebelumnya.” Alya kembali mendekatkan tubuhnya dan memeluk pria itu, sangat erat.


“Hm. Kalian mau ke mana, lanjutkan saja. Aku mau ke rumah dulu, mau temuin orang di sana,” ucap Mike dengan nada datar.


Kalimat itu membuat Alya sadar jika ia telah sangat dipentingkan. Ada penyesalan yang teramat besar sebab kejutan yang direncanakan pria itu menjadi sangat hampa.


Otaknya kemudian berputar untuk menemukan sebuah pengalihan. Ia tentu tidak mau menjadi orang yang sangat disalahkan untuk mood jelek ini.


“Bang, sebenarnya lagi ada masalah. Om ketahuan selingkuh sama Tante.”


“Hah?” balas Mike kaget. Ia bahkan tersentak mendengar hal itu.


Pria itu melangkah dengan sangat besar sekarang. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan permintaan gadis itu untuk ikut. Pada akhirnya, Alya dan Reza menyusul dengan motor mereka.


“Kak, ngapain sih ngejelasin dengan kalimat begitu? Jadi makin ribet kan, nih,” gerutu Reza sangat kesal.


***


Sepulang membeli makanan sore itu sebab tak mungkin terus-terusan meminta tolong pada Lehon, Liora memasuki kamar hotelnya.


Ia dibuat sangat kaget dengan keadaan putrinya yang terus menangis tersedu-sedu. Suaranya bahkan sudah hampir hilang.


“Rainy, kamu kenapa? Jawab mama, Nak ...”


Anak kecil itu tak menjawab dan hanya menunjuk ke arah lantai di seberang sana.


“Mah? Mamah?” panggilnya dengan tangisan yang tanpa suara.


Tangannya gemetaran menghubungi ambulans. Ia butuh bantuan. Keringat dingin memenuhi tubuhnya sekarang.


Beberapa saat kemudian, terlihat Liora dan Rainy yang sedang berpelukan dalam isak tangis. Keduanya mengkhawatirkan keadaan wanita itu.


Dari jauh terlihat gerak langkah kaki yang sangat cepat. Pemiliknya juga segera memeluk keduanya.


“Om?”


“Bang?”


Keduanya memekik kaget kemudian menangis bersama-sama. Ketiganya terisak sekarang. Sungguh, kesedihan terpancar di wajah masing-masing.


Terhenti, hanya sisa-sisa sesenggukan yang ada. Mike mendekap keponakannya itu.


“Kasihan anak om, masih kecil sudah ikutan sedih saja,” katanya sembari menyeka air mata gadis kecil itu.


Alya dan Reza juga mendekat. keadaan menjadi lebih kondusif ketika gadis itu diminta untuk membawa Rainy bebersih.


Sementara Liora dan Mike tengah berbincang hangat sekarang. Keduanya saling jujur tentang apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini.

__ADS_1


“Aku yakin, Dek. Mereka pasti sudah lama berselingkuh. Aku juga sudah curiga sejak awal, tapi ya mau gimana ... permainan mereka sangat bagus. Tidak ada yang bisa menebak.”


“Bang, jadi kita harus gimana? Kasihan Mamah.”


Mike menggeleng. “Aku capek seharian, Dek. Seharian mutar sana sini. Untuk sekarang, kita nggak usah pikirin yang lain-lain dulu. yang penting adalah kesehatan Mamah dulu.”


Wanita itu tampak tidak begitu setuju. Bagaimana tidak, ia sangat tidak terima jika ibunya harus menderita sendirian sedangkan Jona malah bahagia bersama wanita lain sekarang.


“Di mana hati nuraninya? Aku jadi trauma, Bang. Sumpah, aku nggak bisa percaya sama cowok.”


Liora berucap serius yang ternyata didengar oleh Reza. Pria itu baru datang dan membawakan dua botol air minum.


“Kamu nggak boleh bicara seperti itu, Dek. Aku, kamu, dan Rainy punya masa depan. Kalau kamu belum ketemu pasangan yang baik, abang nggak akan pernah menikah.”


Mike memberikan balasan yang benar-benar mengagetkan wanita itu. ia tahu jika pria ini sangat menyayanginya, namun tidak dengan harus merelakan kebahagiaannya juga.


“Kalian bicara dulu, abang ke toilet sebentar,” kata pria itu tatkala menyadari adiknya yang hendak bicara.


***


Jona Yalefa tak merasakan penyesalan sedikit pun. Ia bisa menikmati kehidupannya, malah dengan sebebasnya.


Saat ini, ia bahkan masih bisa fokus dengan pekerjaannya tanpa memikirkan apapun. Yohana yang selalu ada untuknya membuat kebahagiaan itu semakin nyata.


“Mas, kamu tau yang terjadi nggak, sih?” tanya wanita itu tatkala keduanya tengah bersantai.


“Yang mana? Mely masuk rumah sakit?”


“Hm.”


“Taulah. Apa peduliku, biarin dia mati sekalian. Nggak ada gunanya juga dia hidup. Dari awal juga sudah aku jelaskan untuk jangan bertindak terlalu jauh.”


Yohana dibuat terkejut. Ia memang senang jika pria itu hanya mencintainya. Namun, ada rasa yang mengganjal di hatinya.


Tentang bagaimana nanti jika dirinya ada di posisi itu? apakah ketika ia sakit, Jona akan memperlakukannya sama?


“Mas, dia kan ibu dari anak-anakmu. Kalau Mas nggak mau peduli sama Mely, setidaknya ingat wajah anak dan cucumu. Bagaimana perasaan mereka kalau kamu nggak ada di sana.”


“Jadi, apa maksudmu, Yohana?” balas pria itu terlihat sangat cuek.


“Jenguk Mely, Mas. Aku nggak bisa datang ke sana. Yang ada nanti malah memperkeruh suasana. Mas sendiri saja yang ke sana.”


Jona segera menggeleng setelah mendengar permintaan itu. tegas sekali penolakan itu.


“Aku mau-mau saja diatur sama kamu. Tapi untuk masalah ini, kalau kamu nggak ikut, mending nggak usah. Masalah ini adalah masalah kita berdua, sakitnya Mely karena kamu juga. Jadi, kamu ikut ... aku pergi.”


Sebuah keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Pria itu melenggok berjalan menjauh untuk mencari sinyal di ponselnya agar lebih lancar ketika bermain game.

__ADS_1


***


__ADS_2