Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Dekapan Hangat Lehon


__ADS_3

“Apa penyakit ibu saya?” tanya Mike tatkala dokter memanggilnya menuju ruangan kerjanya.


Pria itu menunjukkan wajah sedihnya, jelas hal itu membuat si penanya semakin bertanya-tanya. Ia masih menunggu sebuah penjelasan yang diharap akan berisi sebuah ketenangan.


“Bu Mely menderita penyakit diabetes,” terangnya.


“Apaan sih, Dok? Kirain yang berlebihan begitu, ternyata-“


“Juga penyakit kanker. Lebih tepatnya kanker otak.”


Jleb! Mike yang mendengar kenyataan itu dibuat tersentak. Jelas ketakutan segera terpancar di wajahnya.


“Dokter serius? Ini bukan candaan, kan? Anda-“


“Bapak Mike, saya bicara serius. Dan sudah menduduki tahap stadium 4. Sebelumnya, Bu Mely sudah pernah periksa tapi bukan ke rumah sakit ini. Dia mungkin telah merahasiakannya dari kalian.”


Keterangan itu semakin membuat Mike tak tenang. Ia bingung dan linglung.


Kejadian itu masih berlangsung hingga ia ke luar dari ruangan itu. perlahan mendekat ke arah Liora yang tampak sadar.


“Bang ...” tangisnya membuat Mike semakin sedih.


Walau begitu, ia tepat menjelaskannya dengan tenang. Tak ingin membuat wanita itu terlalu penasaran nantinya.


“Bang, nggak mungkin, ‘kan?” Wanita itu semakin menangis lalu memeluk sang abang dengan sangat erat.


Mike kemudian mengecup kening ibunya yang tengah terbaring lemah di ranjang. Ia juga memeluknya dengan erat.


“Mah, harus sehat, ya? harus sembuh. Kita berjuang sama-sama. Jangan bikin kami merasa takut. Jujur, kami belum bisa hidup tanpa arahan Mamah.”


Seketika keheningan pecah. Tangis keduanya beriring-iringan walau tidak dengan menangis sesenggukan. Rainy yang sedang tertidur masih mereka pedulikan.


Mike sadar jika keluarga adalah satu-satunya hal yang ia punya dan yang akan selalu ada untuknya. Alya, seorang gadis yang sangat ia cintai dan perlakukan bak ratu bahkan meninggalkannya sendirian sekarang.


Gadis itu terlalu egois jika hanya memikirkan masalah pekerjaan. Namun, tak terlalu memedulikannya lagi, pria itu memilih fokus pada keluarganya sekaran.


“Kamu jagain Mamah dulu, aku masih ada pekerjaan di luar. Jaga Mamah ya, Dek?”


Liora hanya manggut-manggut sebab tak dapat bersuara lebih banyak. Ia takut tangisnya pecah dan menimbulkan keributan ke mana-mana.


Langkah kepergian pria itu tak pasti. Ia terus melajukan mobilnya hingga berhenti di depan rumahnya sekarang. Masuk semakin dalam.


Melihat keheningan rumah, kemegahannya tak berarti lagi. Pengisinya telah bubar oleh karena kesalahan yang diperbuat oleh sang ayah. Kini, tatkala Mely jatuh sakit, pria itu masih bisa hidup dengan tenang.

__ADS_1


Mike yang sudah gelap mata, pun bergerak menuju ruangan penting. Ia mengambil surat-surat berharga yang dirasa berpotensi membuat Jona jatuh miskin nantinya.


“Tuan Mike, mau dibawa ke mana surat-surat penting itu?” tanya penjaga rumah yang memang sudah sangat dipercaya sejak dulu.


Pria itu adalah sepupu Jona dan sudah dipekerjakan sejak lama. mike tentu tak peduli. Ia berjalan menuju mobilnya lalu pergi dengan kecepatan tinggi.


“Mike datang dan membawa surat-surat penting dari rumah,” terang pekerja itu kemudian kembali ke hunian kecilnya di samping rumah.


***


“Emh ...” Yana masih bingung dengan keberadaannya di sana.


Ini sudah seminggu dan barulah ia benar-benar sadarkan diri. Ia tentu bingung dengan pemandangan di hadapannya.


Tentang keberadaan Roy dan Sila yang tentu tak ia harapkan. Keningnya mengerut tatkala tak mendapati keberadaan Riko di sana.


Mungkinkah pria itu kembali meninggalkannya? Ia panik setengah mati kemudian bergerak cepat untuk pergi mencari hingga gerakannya tertahan oleh jarum infus yang masih terpasang di tangannya.


“Mau ke mana kamu, Nak?” tanya Sila tatkala suaminya memanggil dokter sekarang.


Gadis itu tak menjawab, sama sekali. Ia meratapi nasibnya yang mungkin telah ditinggalkan oleh Riko lagi.


Gadis itu bahkan tak mencari keberadaan orang tuanya sama sekali. Hal itu membuat Sila sadar jika gadis itu telah sangat jatuh cinta pada seorang Riko.


“Riko sedang bekerja, Nak. Ada urusan mendadak dan sangat penting. Tapi yakin deh, dia pasti akan segera kembali dan melanjutkan urusan kalian.” Wanita itu menerangkan membuat Yana sedikit tenang.


“Kapan dia pulang, Tan?”


“Sebentar lagi. Kamu yang tenang, ya. pikirkan kesehatanmu dulu. kalau kamu masih di sini, kasihan dia juga, jadi tidak bersemangat.”


Gadis itu mengangguk mengiyakan perkataan calon mertuanya itu. bagaimana pun, isi kalimat itu memang benar adanya.


“Keadaan pasien sudah membaik. Kapan dia pulang akan segera dipastikan setelah pemeriksaan selanjutnya,” kata dokter menerangkan.


Kalimat itu membuat Roy dan Sila bersyukur. Mereka hanya perlu membantu kesehatan gadis ini sekarang.


Tatkala keadaan sudah kembali menyepi, Lehon datang dengan membawakan makanan untuk orang tuanya. Ia cukup kaget sekaligus senang dengan sadarnya gadis itu.


“Kapan dia akan pulang, Mami?” tanya pria itu pada sang ibu tatkala mereka sedang makan bersama.


“Nggak tau juga tuh. Dia sama sekali nggak ngabarin, dihubungi juga nggak bisa. Bingung kami, Nak.” Sila menjadi sedih.


Roy tak bersanding. Ia memang sangat tidak suka berbicara ketika makan. Sekarang ia hanya fokus menikmati suapan demi suapan makanan favoritnya itu.

__ADS_1


“Papi?” panggil Lehon merengek tatkala menyadari ayahnya yang hanya diam sejak tadi.


“Makan du-“ Roy bersuara.


“Ssst ... makan, makan, makan. Iya, aku baru ingat, Papi. Aku akan diam.” Lehon berbicara sangat cepat hingga sekarang tersedak.


Kejadian itu tak dapat membuat tawa Roy dan Sila tertahan. Keduanya saling menatap kemudian tergelak.


“Makan dulu!” tegas Roy sekali lagi.


***


Keesokan harinya, hari-hari Liora tak lagi sama. Ia tak terlalu menikmati pekerjaannya. Yang ada, ia hanya fokus menunggu sore untuk memastikan keadaan sang ibu.


Lehon yang sadar akan hal itu lantas memanggilnya ke ruangan. Keduanya saling diam sampai Liora menanyakan perihal dia yang dipanggil.


“Kamu ada masalah apa, Liora?”


Hal itu membuat Liora kesal. Bagaimana tidak, pria ini selalu saja kepo dengan urusannya. Tentang perubahan sikap atau moodnya, itu adalah haknya.


Ingin berjalan ke luar, namun Lehon menahannya. Ia bangkit dari kursinya, bergerak cepat untuk menangkap tubuh gadis itu dan mendekapnya erat.


Liora tentu kesal. Ia merasa dilecehkan sebab ini bukanlah inginnya. Tatkala sedang memberontak, pria itu mengelus kepalanya.


“Saya tau kamu banyak masalah, banyak beban. nggak semua orang bisa mengerti keadaan kamu, termasuk saya. Tapi kamu tidak boleh terus menahannya, selalu bersikap bahagia dan baik-baik saja. Menangislah.”


Kata demi kata yang ke luar dari bibir Lehon terdengar sangat lembut membuat Liora terenyuh. Ia segera mengingat semua rasa sesak di dadanya.


Hidungnya memerah dan panas sebelum akhirnya menangis. Ia tak lagi dapat menahannya. Tangisan itu semakin tak tertahankan tatkala pria itu mengambil tisu sambil terus menahannya.


“Ternyata kamu menangis seperti anak kecil, kencang sekali.” Lehon berkomentar dan menggesekkan tisu ke kemejanya.


Ya, pria itu tak berniat memberikannya pada Liora.


‘Sialan! Nangisnya jadi kentang, nggak puas sama sekali,’ batin wanita itu kesal.


“Menangislah lagi. Kamu harus puaskan sekarang, berpura-pura bahagia di depan putramu adalah keharusan.”


Mendengar hal itu, Liora kembali bersedih dan melanjutkan tangisannya sekarang. Setelah itu, ia juga mendapatkan pesan dari sang abang perihal kedatangan Jona.


“Aku harus pergi!” tegas wanita itu berlari cepat ke luar dari bangunan besar itu.


Semua orang yang masih bekerja tengah menatap heran padanya, namun tak ia pedulikan.

__ADS_1


***


__ADS_2