Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Diteror Empat Orang Aneh


__ADS_3

“Kok kita lama sekali ya nyampenya. Seharusnya kan sudah, Ko. Kita tidak terlalu lama rehatnya. Ini sudah jam lima sore, tapi kok masih belum nyampe, ya.” keluhan yang ke luar dari mulut Yana.


Mereka juga berhenti sesaat untuk melihat peta yang mereka punya. Tidak ada yang salah dengan itu, namun perjalanan seolah masih cukup jauh.


“Kamu sudah sangat lelah? Aku gendong, ya?” tawar Riko yang merasa tidak enakan sekarang.


“Lelah sih lelah, tapi kamu tidak mungkin melakukan itu, Ko. Nanti energimu terkuras habis, kita jadi semakin kesulitan. Aku masih bisa, kok. Masih kuat.”


Perkataan Yana membuat Riko semakin merasa bersalah. Ia sangat takut apabila gadis ini kenapa-kenapa nantinya.


“Sepertinya perjalanan kita memakan waktu satu jam lagi, Yan. Gimana menurut kamu?”


“Kita lanjutkan saja, deh. Di sini sepertinya tidak terlalu aman. Aku tidak merasa nyaman di sini.”


“Tapi, kata penjaga posnya tadi, kalau lewat dari jam setengah enam, gelap gulita akan segera datang. Kita akan kesulitan juga nantinya.” Riko menambahkan.


Yana berpikir sesaat. Ia yakin jika melanjutkan perjalanan adalah pilihan terbaik, sebab akan mendapatkan tempat ternyaman nantinya. Dengan begitu, Riko pun setuju.


Kini, keduanya melangkah dengan menggunakan senter. Yana sesungguhnya merasakan rasa takut dan cemas sebab dirinya tidak pernah menyukai kegelapan. Keningnya mengerut tatkala mendengar suara jejak kaki yang ternyata adalah musang yang berkeliaran.


“Masih lama tidak, Ko?” tanyanya dengan air mata yang sudah menetes.


Riko segera menggenggam tangan gadis itu.


“kita sudah sampai, Yan, makanya aku berhenti. Kita sudah sampai, tenang, ya. jangan takut dan cemas lagi.”


“Benarkah?” tanya Yana dengan mata berbinar.


Riko mengangguk setuju. Ia membantu Yana menurunkan tasnya. Juga mengumpulkan ranting-ranting kayu yang tampaknya berserakan di sana.


Sementara gadis itu akan mendirikan tenda mereka. Ia merasa senang dan tenang sebab akhirnya tiba di tujuan. Rasa takutnya sirna begitu saja.


“Kamu lapar?” tanya Riko sambil mengeluarkan makanan.


“Hm.” Mengangguk pelan.


“Kita mandinya besok pagi saja, ya. sekarang sudah malam, susah cari sumber air.”


“Iya, Ko. Kita cukup ganti baju saja malam ini.”


Keduanya kemudian menghabiskan makan malam mereka sambil berbincang hangat. Ada tawa kecil yang menyelip dalam percakapan itu sebab Riko yang selalu berusaha menghiburnya.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak sadar jika di atas pohon ada empat pasang mata yang tengah mengawasi. Entahlah malapetaka yang akan menghampiri mereka atau malah sebaliknya.


***


Alya tampak cemas sebab dirinya masih tak mendapat kabar dari Yana sejak keberangkatannya. Ia merasa geram jika memang penyebabnya karena gadis itu lupa. Apakah Riko sudah menjadi segalanya bagi Yana saat ini?


Merasa kesal, ia pun segera melimpahkan segala ceritanya pada Mike yang tentu saja akan mendengarkan ceritanya. Pria itu tersenyum tipis.


“Tapi, kamu tetap siaga saja. Kita kan tidak tau apa yang terjadi. Kalau sampai besok kamu belum dapat kabar dari dia, susul saja mereka setidaknya sampai ke pos penjagaan tempat itu. tanyakan dan minta laporan akan keberadaan mereka.”


Mike memberikan saran yang akhirnya bisa membuat Alya bisa bernapas lega. Ia juga menutup panggilan sebab pria itu yang harus segera melanjutkan pekerjaannya.


Sesaat, Alya terdiam. Ia mengingat kisah perjalanan cinta mereka yang sudah cukup panjang namun masih ditutupi dari semua orang. Itu memang keputusannya. Berkali-kali, Mike berniat untuk segera mengumumkan hubungan mereka, namun sebanyak itu pula ia menolak.


Helaan napas panjangnya segera berubah senyum lebar tatkala menonton video lucu yang lewat di laman instagramnya.


“Ada-ada saja,” pekiknya kemudian tertawa lebar setelahnya.


***


Pagi itu, Riko dan Yana bangun. Keduanya memang membuat jarak walaupun tidur dalam satu tenda. Yana tidak ingin mereka bersentuhan atau sekadar berpelukan ketika terlelap, begitu juga dengan Riko yang menghargai keputusan gadis itu.


“Aish. Astaga! Kamu ngagetin aku, Yan!” pekik pria itu lalu ke luar.


Yana tertawa kecil kemudian menyusul pria itu. ia sama sekali tidak merasakan dingin, malah sejuk yang ia dapat. Senyumannya juga melebar ketika gadis itu segera mendapatkan air minum hangat.


“Dari mana? Kamu yang masak?”


“Aku isiin termos kecil ini tadi malam. Kamu lapar?” balas Riko santai.


“Belum. Aku mau mandi. kita cari sumber air, yuk? Tapi, please kamu jagain aku. Jangan ditinggal. Aku takut.”


Raut wajah Yana terlihat sangat serius. Hal itu membuat Riko kebingungan. Yang ia tahu, Yana bukanlah gadis penakut. Namun di lain sisi, gadis itu juga tidak mungkin sedang menggodanya.


Tak ingin terlalu jauh mengkhayal, ia memutuskan untuk setuju-setuju saja. Keduanya juga membawa pakaian masing-masing.


Setelah berjalan hampir setengah jam lamanya, akhirnya mereka mendapatkan apa yang sangat diinginkan sekarang. Yang segera turun dan menyentuh air yang ternyata begitu menusuk kulitnya.


“Astaga, dingin sekali. Sepertinya ini dari sumber gunungnya asli,” ujar Yana tersenyum.


Riko juga melakukan hal yang sama. Ia mendekat kemudian menyentuh air itu. kini keduanya pun mandi bersama walau dengan pakaian yang tetap melekat di tubuh masing-masing.

__ADS_1


Singkatnya, keduanya kembali ke tenda untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Keduanya memasang tatapan sama, heran. Semua makanan tersisa yang mereka punya, sudah berserakan di mana-mana.


Tak hanya itu, tas mereka juga bergelantungan di ranting pohon yang cukup tinggi. Hal itu membuat Riko sungguh tak habis pikir.


Yang ia tahu, tidak ada binatang buas di hutan ini, ia pun sudah memastikan itu dengan penjaga hutan itu. Dan jika memang binatang, mungkinkah mereka seusil itu untuk mengerjai manusia.


“Kita pulang saja, ya?” ujarnya yang nyatanya tidak disetujui oleh Yana.


“Ko, please ... ponselnya penting. Kita harus mendapatkannya. Kita beri kabar sama semua orang. Aku-“


“Aku akan segera memanjat. Kamu jaga-jaga, ya?” kata pria itu segera memulai perjuangannya sekarang.


Entah nasib malang apa yang sedang menimpa atau malah sudah dijebak. Kaki Yana tiba-tiba tertarik hingga terseret ke jalan. Kulit perutnya terasa sangat perih sekarang.


Riko yang juga sudah mendapatkan tasnya, segera ditarik oleh sesuatu. Ia baru sadar jika tubuhnya sudah terikat dan ditarik paksa menuruni pohon. Wajah dan perutnya terluka.


Walau begitu, ia segera membawa barang bawaan itu mendekat pada Yana yang segera ditolongnya sekarang.


Gadis itu masih bertahan walau cairan kental sudah ke luar dari lututnya.


“Yan, bagian mana yang sakit?” tanyanya ketika Yana menariknya tiba-tiba.


Ternyata sebuah kayu balok dilemparkan ke arah Riko yang untung saja masih dapat dihindari.


“Ko, kenapa ini? Kita diteror?” tanya gadis itu mulai meringis kesakitan. Ia baru sadar dengan ceceran darah yang merembes dari bajunya.


Ternyata perutnya telah tertusuk kayu tajam. Merasa terancam, Riko segera berteriak kencang memaksa manusia-manusia jahat itu ke luar dan berhadapan langsung dengannya.


“Sialan kalian!” umpatnya segera mengikat tubuh gadis itu sehingga dapat menutupi lukanya.


Tak berselang lama, empat orang yang bertopeng itu pun ke luar dan mendekat pada mereka. Riko sama sekali tak gentar, namun ia juga merasa khawatir dengan keadaan Yana sekarang.


“Maju sini!” teriak salah seorang dari mereka yang segera menarik tubuh Riko hingga kakinya tergores benda tajam yang ternyata juga sudah disiapkan di sana.


Ringisan kesakitan itu tak lagi dapat dielakkan, Yana juga sudah tidak sadarkan diri. Keempat orang yang sepertinya hanya ingin bermain-main itu pun segera menghilang dalam hitungan menit, tanpa jejak.


Riko yang merasa sangat cemas pun segera membawa Yana pulang dengan langkah tertatih dan rasa sakit yang teramat sambil berusaha mengirim pesan meminta bantuan. Ia bahkan berjalan tanpa alas kaki, semua barang mereka telah hilang.


“Yana ....” pekiknya menahan rasa sedih dan cemas.


***

__ADS_1


__ADS_2