
Liora memperhatikan keadaan sekitar, sadar jika tidak ada siapa-siapa, ia pun bergegas ke luar sekarang. Kali ini, ia akan bertemu Riko kembali dengan harapan jika bayinya akan dipertanggungjawabkan oleh pria itu.
Ia bahkan harus menahan lelahnya tatkala harus berjalan cepat menuju simpang yang lumayan berjarak dari rumahnya. Ia memang sengaja meminta dijemput di sana sebab tidak mau menyebabkan masalah baru.
Riko yang berada di dalam mobil hanya bisa tersenyum licik sambil sesekali menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka jika gadis itu masih akan tetap percaya padanya.
Mencoba bersikap manis, ia membuka pintu sekarang dan mempersilakan Liora masuk. Gadis itu tersenyum tipis menahan rasa senangnya.
"Jadi gimana?" tanyanya dengan segera.
"Santai dong. Kamu, ya ... dalam keadaan capek juga masih saja maksain diri. Jangan dong," ujar Riko dengan nada santai lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Liora yang segera menaruh rasa curiga sekarang.
"Kita ke rumahku dulu, aku mau kenalin kamu ke Mami. Dengan begitu, semuanya akan lebih mudah. Nanti, Mami akan datang ke rumahmu untuk bertemu Om dan Tante."
Mendengar penjelasan itu tentu saja membuat gadis itu cukup tenang. Ia percaya dan tidak lagi menaruh rasa curiga. Ia yang belum pernah ke tempat itu sebelumnya namun tau alamatnya pun mulai berselancar di maps.
Gadis itu manggut-manggut senang tatkala jalan yang mereka tuju memang benar.
Singkatnya, perjalanan mereka berujung sekarang. Keduanya telah tiba dan segera menuju garasi. Riko memanggil nama ibunya, namun tidak ada sahutan.
Ia pun terdiam sekarang sembari mengecek ponselnya.
"Sayang, Mami lagi ke luar, nih. Lagi belanja kebutuhan dapur katanya. Tidak apa-apa, kan, kalau kita tunggu saja?"
Liora mengangguk setuju. Ia menghela napas panjang sambil menyusun kata-katanya untuk memperkenalkan diri pada wanita itu nantinya. Ia juga mulai mempersiapkan mental jika mungkin akan dicecar nantinya.
Dua puluh menit lamanya, keduanya berbincang dan sudah mulai bosan sebab yang ditunggu tak kunjung pulang.
"Kita ke dalam, yuk?" ajak pria itu sekarang.
"Ah di sini saja, tidak enakan aku mah. Katamu pembantu juga lagi pulang kampung, sepi."
Liora menolak dengan tenang.
"Aku tidak bisa buatin minum sendiri. Kamu juga haus, kan? Gimana kalau kita buatin sama-sama saja?" tawar pria itu kali ini membuat gadis itu luluh.
Keduanya masuk dan Liora bisa merasakan kesejukan yang teramat dari pendingin di tempat itu.
"Ah," desisnya menikmati suasana.
Singkatnya, keduanya sibuk di dapur. Sampai akhirnya, Riko menarik paksa gadis itu dan mulai mengancamnya dengan gunting.
__ADS_1
"Kamu ikut aku sekarang atau perutmu aku kempeskan?"
Kedua mata gadis itu terbelalak kaget. Ia sungguh tidak percaya jika Riko kembali berubah bagaikan monster yang sangat menakutkan.
"Ayolah, ikut aku saja."
"Tidak, Riko. Tolong ... tolong ... tolong lepaskan dan biarkan aku pergi."
"Cuih." Menyemburkan air ludahnya di wajah gadis lugu itu.
"Apa maumu?" tanya gadis itu dalam tangis penuh ketakutan sekarang.
"Hehe ..." Tertawa santai. "Aku ingin melakukannya dengan wanita hamil, apa salah?"
Senyuman jahat itu membuat Liora semakin takut sekarang. "Jangan lakukan itu, kumohon. Biarkan aku pergi."
Tak lagi peduli, Riko segera menarik paksa gadis itu lalu melemparkan ke kamarnya sendiri. Ia juga buru-buru melepaskan pakaiannya sekarang.
"Tidak!" teriak Liora memberontak menahan rasa takut yang teramat.
Tatkala seluruh pakaian pria itu telah terbuka sekarang, pakaian gadis itu juga mulai dilucuti sampai akhirnya ketika bagian atasnya sudah terekspos, sebuah tinju segera menyerang wajah Riko. Brugh!
Lehon datang tepat pada waktunya.
"Ko, apa yang kau lakukan?"
Ia bahkan lupa untuk mengenakan pakaian yang dapat menutupi ***********.
Liora mengernyit ketakutan dan refleks bersembunyi di balik tubuh Lehon.
"Sial, sial," geram Riko sebab merasa dirinya diabaikan.
"Cukup, Ko. Sebentar lagi Papi sama Mami pulang, jangan membuat masalah baru," tegas Lehon membuat Riko menghentikan niat jahatnya.
Pria itu kemudian membawa Liora menjauh dari sana.
"Kamu rapikan penampilanmu di sana saja," tuturnya menunjuk toilet di rumah itu.
Liora berlalu tanpa berkata apa-apa. Ia masih merasakan gemetar yang teramat sekarang.
Beberapa saat kemudian, ia ke luar dari sana, Mike sudah menunggu di jalan di depan rumah yang megah itu. Dengan segera, gadis itu berlari kencang sambil menangis terisak.
"Bang, cepat pergi dari sini ... ayo," pekiknya.
__ADS_1
Mike yang masih tidak mengerti, pun hanya menggapai tangan sang adik kemudian membantunya masuk ke dalam mobil.
"Bang, aku mau, aku mau ... aku mau pergi ke luar negeri," katanya dengan nada getir dan sangat cepat.
"Ada apa?" tanya Mike, gadis itu menggeleng dan memilih untuk tidak bercerita.
***
Alya dan Yana tengah menahan panas di bawah teriknya matahari. Keduanya terduduk di bawah pohon dipinggir jalan.
"Tunggu sebentar ih, aku capek," keluh Yana yang memang cukup mudah lelah.
"Padahal beberapa meter lagi nyampe loh," balas Alya seraya menatap ke arah gramedia yang sudah ada di depan mata.
"Tunggulah. Aku capek."
Alya pun menurut. Ia mengeluarkan ponselnya dari tote bag yang memang hanya berisikan ponsel dan uang lima ribuan.
"Coba saja Liora ada di sini, kita pasti diantar Tante Mely," ujarnya mengingat kemudahan hidupnya ketika ada gadis itu di tengah-tengah mereka.
"Tapi dia sedang ada masalah," balas Yana sembari menyeka keringat yang bahkan sudah membanjiri seluruh bagian tubuhnya sekarang. "Ah, sial," pekiknya lagi.
Alya tertawa kecil dengan kebiasaan sahabatnya itu sembari mengarahkan ponselnya ke sembarang arah untuk mendapatkan angle yang bagus.
Keningnya mengerut ketika merekam mobil Jona—ayah Liora yang berlalu dan tengah menyupiri seorang wanita di dalamnya.
"Loh, loh, bukannya itu Om Jona? Kok dia sama cewek lain?"
"Iya benar," jawab Yana santai. "Mungkin rekan kerjanya."
"Tidak mungkinlah. Dia kan si paling cemburuan. Tante Mely tidak pernah diberi izin untuk berurusan dengan pria lain, kenapa dia sendiri malah melanggarnya?"
"Namanya juga hidup, Ya. Mungkin terpaksa."
Alya terdiam sembari memperhatikan video di ponselnya yang ternyata didak menyorot wajah wanita itu. Ia berdecak kesal sekarang.
Padahal, ia bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk bisa datang ke rumah Liora dan memeriksa keadaan gadis itu.
"Ya udah, yuk. Kita go sekarang," ajak Yana yang akhirnya merasa lega dengan keadaannya.
"Dia selingkuh nggak, sih?" tanya Alya yang benar-benar penasaran sekarang.
"Hush! Kamu jangan asal sembarangan ngomong, Yak!" geram sahabatnya.
__ADS_1
"Namanya juga insting ... buat jaga-jaga."
***