
Jona Yalefa terlihat sedang membujuk Helena yang masih tak mau ke luar dari rumahnya. Sudah beberapa hari ini juga hubungan mereka renggang. Sejak kekerasan yang ia terima kemarin, wanita itu seolah menolak untuk lebih dekat dengannya.
Helena juga menjaga jarak di kantor yang membuat pria itu semakin merasa bingung. Ia yang bahkan memaksakan diri untuk berjauhan dengan wanita itu ketika Helena meminta untuk resign. Tentu saja Jona menolak. Ia membuat pertimbangan dan akhirnya menggantikan posisi wanita itu dengan anak baru.
Kini, ia masih berusaha untuk lebih dekat, menunggu di depan apartemen walau malam sudah semakin dalam. Hampir jam 2 dini hari, akhirnya wanita itu ke luar dan melihat Jona yang masih berada di sana.
Ia menjadi merasa sangat bersalah kemudian memintanya masuk sekarang. Jona yang terlihat sudah sangat kedinginan itu sedikit tersenyum sebelum akhirnya ambruk di atas kasur.
Helena memberikan selimut tebal sekarang. Ia juga memberikan pelukan hangat dan kasih sayang yang bisa ia berikan. Ingin sekali ia menggantikan kesalahannya beberapa waktu yang lalu.
“Mas, apa masih sangat kedinginan?” tanyanya merasa gundah.
“Tidak. Bagaimana bisa aku kedinginan kalau kamu sudah ada di sini.” Jona menarik wanita itu untuk lebih dekat dengannya.
Keduanya mencoba terlelap sekarang. Helena yang merasa sangat nyaman itu hampir saja ikut ketiduran, tapi ia coba tahankan dan ke luar dari sana.
Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebagai anak baru yang berkali-kali dipindahtugaskan. Walau ia sendiri pun tahu jika itu adalah ulah Jona, namun, yang namanya pekerjaan haruslah tetap ia emban dan tuntaskan.
Masih mencoba mengerjakan hingga akhirnya ia mendengar suara keluhan Jona. Ia yang memanggil-manggil nama istrinya itu membuat rasa cemburu Helena seketika terbakar.
“Mely, aku sungguh menyesal. Aku tidak pernah menyangka kalau semuanya akan seburuk ini. Aku sangat mencintai keluarga kita. Aku tidak akan pernah meninggalkan keluarga ini. Tolong jangan marah padaku lagi, aku tidak tahan. Sayang ... sayang ...”
Panggilan itu kian keras membuat Helena pun ikut semakin kesal. Bagaimana tidak, ia yang baru saja memberi maaf pada pria itu harus menahan rasa amarah yang menggebu-gebu sekarang.
Jona terbangun dan sadar jika Helena sudah berada di hadapannya. Ia mencoba mengingat-ingat mimpinya.
“Enak mimpinya, Mas? Seru juga, ya?”
Berlalu dari hadapan Jona untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang segera disusul oleh pria itu beberapa saat kemudian. Terlihat jika Jona kembali meminta maaf dengan sangat. Tentu saja ia pun takut kehilangan Helena.
Berlulut adalah cara terakhir yang mungkin paling ampuh.
Helena yang sedari tadi sudah menitikkan air mata pun akhirnya luluh. Ia semakin larut dalam tangisan kemudian menikmati pelukan sang kekasih.
__ADS_1
“Ujian cinta kita terlalu berat, Mas. Aku tidak mau kalau harus berpisah.”
“Tentu saja, Helena. Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu juga. Aku sangat mencintaimu.” Jona memberikan kecupan di kening wanita itu.
“Aku masih pantas percaya, kalau suatu hari nanti akan dinomorsatukan?”
***
Alya menghubungi kekasihnya sekarang. Walau berjauhan, ia tetap mengandalkan pria itu dalam segala hal. Tangisannya pecah dan benar-benar menyakiti perasaan Mike.
Ia yang tengah berada dalam masalah besar itu mulai menceritakan persoalannya. Hal itu membuat Mike semakin geram dan ingin segera menuntaskannya.
“Kamu sih, ngapain ke bar? Memangnya tidak ada tempat lain untuk bersenang-senang? Biasanya juga beli jajan banyak dan ngehabisin waktu di kos. Ada apa? Kenapa sekarang beda? Kamu sudah mulai tidak nyaman berpacaran jarak jauh denganku?”
Pertanyaan itu membuat Alya semakin menangis. Bagaimana tidak, ada rasa penyesalan yang amat dalam. Ia merasa sangat takut sekarang.
“Bang, aku minta maaf. Waktu itu, aku dan Yana hanya iseng pergi ke sana. Tak lebih dari itu.”
“Kamu tidak ada niatan untuk cari penggantiku?”
Ia juga diam untuk beberapa waktu, mencoba berpikir untuk menemukan jalan ke luar. Ia juga terlihat mengeluarkan sebuah buku dan mempelajarinya.
“Aku akan datang besok,” ungkap pria itu membuat kedua bola mata Alya terbelalak.
Ia sungguh tidak menyangka, namun tidak terlalu menganggap jika hal itu serius. Ia tentu saja merasa tidak enakan.
“Kamu tunggu di sana dan berhati-hatilah. Aku akan tuntaskan dia. Berani sekali dia mengganggu wanitaku.” Berucap dengan sangat geram, seolah sebuah kasih sayangnya pada Alya yang amat dalam.
“Bang, tolong jangan dan tidak usah. Liora lebih butuh Abang di sana. Aku janji akan lebih berhati-hati dan-“
“Diam dan tunggu aku. Kamu sudah terlanjur membuat perasaan ini tidak tenang. Masalah Liora, masih ada Mamah di sini. Dia aman.”
Alya tentu saja tidak lupa jika Mike bukanlah tipe laki-laki yang bisa dilawan keputusannya ketika hal itu sangat penting. Ia akhirnya pasrah sekarang.
__ADS_1
Walau ada rasa bahagia, namun khawatirnya pun lebih besar dari itu. ia takut jika kedatangan Mike nanti akan menimbulkan masalah baru untuk keluarga pria itu.
“Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu. aku akan segera datang ya, Sayang. Tungguin ....”
Alya mengangguk mengiyakan. Ia juga maklum dengan rasa khawatir pria itu oleh karena rasa cinta di antara mereka yang sudah cukup dalam.
***
Liora yang beberapa kali sudah memberanikan diri ke luar sendiri dari apartemen, membeli banyak perlengkapan bayinya yang dirasa kurang di supermarket di seberang jalan. Ia cukup menikmati me time yang padahal hanya beberapa waktu saja.
Ia tersenyum ketika membeli banyak perlengkapan yang berwarna pink dan biru muda itu. senyumannya mengembang, tak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata dan pemiliknya yang terus mengikuti pergerakannya.
Hal itu juga sudah kerap kali terjadi, namun tetap masih tak ia sadari.
“Kamu kenapa lama sekali? Mamah jadi khawatir loh,” keluh Mely yang sudah menjemputnya di depan apartemen.
Liora tampak tersenyum sambil memperlihatkan barang belanjaannya yang sebenarnya tidak begitu banyak.
“Mamah tinggalin Rainy di dalam sendirian?” tanya gadis itu kembali dengan perasaan kalut. Ia khawatir sekarang.
“Abang kamu ada di sana. Memangnya Mamah stres apa tega ninggalin Rainy sendirian. Sudah, cepatkan langkahmu. Kita harus segera. Abang kamu mau bicara sesuatu.”
Liora menurut tanpa banyak berkomentar. Ia juga mendengarkan perkataan abangnya dengan serius tanpa banyak berkomentar.
“Kapan Abang pulang ke sini? Memangnya sepenting apa masalah yang harus diselesaikan itu sampai harus pulang tiba-tiba begini?” tanya Liora mencoba mendalami.
“Abang juga mau bicara serius dengan Papah. Dia sudah keterlaluan membiarkan kita begini. Memangnya kita sudah tidak penting lagi baginya?” balas Mike membuat Mely merasa curiga.
Masalah suaminya telah dinomor duakan. Lalu siapa yang sebenarnya masalah terutama yang dikhawatirkan oleh pria itu sekarang.
“Kamu jangan melakukan hal-hal aneh di sana. Segeralah pulang dan jangan terlalu kecapekan.” Mely memberi peringatan yang segera diiyakan Mike. “Juga jangan menimbulkan masalah yang terlalu besar dengan papahmu.”
“Baik, Mah. Aman terkendali.”
__ADS_1
***