Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Kekecewaan yang Teramat Dalam


__ADS_3

Mely terdiam menatap barang-barang Liora yang sudah disiapkan sekarang. Ia sungguh tidak menyangka jika akan benar-benar berpisah dengan putrinya.


Mike yang memang telah ke luar dari pekerjaannya, pun memutuskan menjaga sang adik selama berada di luar negeri.


"Apa kita harus memberikan anak itu untuk diadopsi orang lain?" tanyanya pada sang ibu dan ayah yang tengah terbengong sekarang.


Keduanya masih sangat tidak rela jika harus berpisah dengan gadis itu.


"Aku yang akan merawatnya. Abang tidak perlu risau memikirkan hal itu. Aku juga janji akan bekerja dan menanggung sendiri hidup anakku." Liora datang dengan nada suara yang tinggi, namun raut wajah yang datar.


Mely, Jona, dan Mike terdiam sekarang. Ketiganya telah salah sebab berkata sembarangan.


Wanita setengah baya itu kemudian mendekat lalu memeluk putrinya. "Kita berempat tidur bareng malam ini," pintanya.


"Tentu." Mike setuju yang segera disusul anggukan oleh sang adik. "Aku pamit mau mandi dulu."


"Hm."


Jona juga ikut berlalu, ia meninggalkan istrinya yang masih tak bergeming dan memeluk putrinya itu sekarang. Keduanya larut dalam kesedihan dan rasa takut ketika akan berpisah selama beberapa waktu.


"Kamu tetaplah kuliah, kami yang akan mengurus segalanya. Kami percaya, otak kamu bisa diandalkan walau hanya belajar daring nantinya," ujar Mely memberikan ketenangan pada sang anak.


"Baik, Mah."


Mely bergegas bergerak merapikan ruangan TV sebagai ruangan tidur bersama mereka malam ini. Sementara Liora, ia tengah memperhatikan gerak-gerik ayahnya yang tampak mencurigakan sebab pergi ke luar rumah hanya untuk menjawab telepon.


"Liora, bantu mamah sini, sebentar," panggil Mely membuat niat Liora untuk mendekati ayahnya terpatahkan.


"Mah, kenapa ya Papah selalu sembunyi-sembunyi kalau telepon sama orang?" tanyanya mengeluarkan rasa curiganya.


"Heh, jangan bicara begitu. Mungkin aja papamu lagi ngomong sama orang penting."


"Mamah nggak curiga?"


Mely memberikan gelengan sebagai ganti jawaban tidak.


"Sama sekali?" sambung gadis itu dan masih mendapatkan respon yang sama dari sang ibu.


***


Alya menatap layar ponselnya yang ia tahu baru saja mendapatkan notif. Ia tersenyum kecut ketika membaca pesan itu dan segera mengangkat tangan untuk bisa ke luar dari ruangan belajar.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya dosen yang tengah mengajar sekarang.


"Aku mau ke toilet, sakit perut, Bu," jawab gadis itu.


"Hm, sana cepat."


Alya bergerak cepat sekarang. Ia berjalan dengan caranya yang sangat mencurigakan hingga satpam yang berjaga pun menyadari gerak-geriknya.


"Kamu mau ke mana, hei?" Suara yang berhasil mengagetkan Alya.


"Ini kampus kok ketat banget, sih," gumamnya merasa geram. "Mau ke toilet, Pak. Saya sakit perut." Memegangi perutnya yang padahal tidak kenapa-kenapa.


Tatkala satpamnya telah berlalu, ia segera melancarkan aksinya untuk bisa ke luar dari kampus. Kali ini, ia bahkan memanjat gerbang belakang untuk bisa ke luar tanpa ketahuan siapapun.


Ia tersenyum tipis hingga tak terlihat ketika melihat Mike di depan matanya.


"Bang," panggilnya dengan nada sedih.


"Maaf, ya, kamu harus aku tinggal dulu. Nanti bakal pulang lagi, kok. Kamu jaga diri baik-baik di sini, setelah pulang dari sana, kita menikah."


Mike memberikan kalimat yang tentu saja sangat menjanjikan posisi Alya yang akan segera ditinggal. Hubungan mereka yang selama ini begitu tersembunyi, sekarang malah lebih parah ketika harus berjauhan selama beberapa tahun lamanya.


"Jaga diri baik-baik juga di sana, Bang. Jaga Liora. Maaf karena belum bisa menjadi sahabat yang baik untuknya. Maaf."


Mike tersenyum geli. Ia tidak menyangka jika gadis ini bahkan masih bisa lebih ingat akan Liora dibanding hubungan mereka yang bahkan mungkin akan retak oleh karena jarak.


"Sana, kamu masuk lagi. Lain kali nggak usah pakai acara lompat pagar. Ini bukan SMA," ledeknya membuat Alya baru sadar akan sifat konyolnya.


"Terus, aku harus lewat mana? Lewat depan?"


"Lain kali aja, sekarang kamu masuk sana." Mike memasukkan sebuah kartu ATM miliknya ke dalam saku gadis itu. "Kamu harus lebih pintar menggunakan uang. Aku dan Liora udah nggak lagi bisa tolongin kamu sebebasnya, hemat-hemat, ya?"


"Siap. Makasih, Bang Mike." Semakin terisak.


***


"Sila, sebaiknya Riko tinggal di luar saja."


Ucapan Roy benar-benar membuat Sila terkejut. Ia juga merasa sakit hati tentunya.


"Mas, kamu sadar nggak sih ngomong begitu? Kamu nggak suka dengan anak yang aku bawa, it's okay aku bisa paham. Tapi, kamu juga nggak harus setega itu buat nyaranin Riko ke luar dari rumah ini-"

__ADS_1


"Masalahnya, anak itu sudah terlalu berbahaya. Dia sudah mau memperkosa anak orang. Hari ini, dia mau memperkosa, besok-besok mungkin akan memakan lebih banyak korban! Aku hanya tidak mau rumah ini menjadi neraka."


Sila yang tengah merapikan pakaian pun menghentikan aktivitasnya sekarang. Ia mendekat pada Roy dengan raut wajah penuh kekecewaan.


"Tau dari mana kamu?"


"Ini ..." Segera memberikan rekaman yang ternyata menunjukkan Riko memaksa Liora untuk masuk ke kamarnya.


Suara teriakan dari gadis itu juga begitu jelas membuat Sila pada akhirnya percaya sekarang. Ia akhirnya tau jika anaknya memang benar-benar bermasalah.


"Siapa yang selalu menghentikan perbuatan gila anakmu kalau bukan Lehon? Sudahlah, satu anak cukup untuk kita."


"Mas!"


"Jangan terlalu bodoh! Ini bukan tentang anak kandung dan anak tiri. Riko sudah dewasa, kita sudah berusaha keras. Kalau dia masih tidak bisa menerima, maka ke luar dari rumah ini adalah keputusan terbaik. Kita masih akan tetap membiayai dia."


"Tidak perlu." Riko segera masuk ke rumah.


Ternyata ia telah mendengar percakapan itu sejak tadi.


"Baguslah kalau kamu sadar," ujar Roy tak ingin membuat Riko merasa nyaman lagi berada di sana.


"Kalau dari awal, ibuku menganggapku sebagai-"


"Ini bukan soal ibumu, memang kamunya saja yang tidak tau diri. Kamu tidak pantas untuk disebut anak." Roy kembali bersuara.


"Hentikan!" teriak Sila sudah tidak tahan sekarang.


"Mami, aku juga sudah tidak mau disebut sebagai anakmu!" Riko berteriak dengan nada yang sama.


Sila segera mendekat kemudian menampar wajah putranya yang sangat disayangi selama ini. Ia bahkan memberikan perlakuan kasar itu dengan penuh amarah.


"Pergilah kalau mau pergi!" teriaknya menunjuk ke arah pintu ke luar. "Kamu memang sudah tidak pantas untuk disebut sebagai anakku. Untuk apa aku terus memperjuangkan seorang anak yang bahkan tidak menganggapku sebagai ibunya ..."


Riko segera membawa tas ranselnya kemudian berlalu dari sana.


Sila menahan rasa sedih yang teramat dan ingin menghentikannya, Roy segera menahannya sekarang.


"Kita ke rumah gadis itu, kita minta maaf ke keluarga itu," putusnya sebagai kepala rumah tangga yang baik.


***

__ADS_1


__ADS_2