Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Cuti Kuliah dan Pertemanan


__ADS_3

Sila masih berdiam di tempatnya. Ia tak ingin melakukan apapun sekarang, rasanya sangat berat. Pagi itu, ia hanya membuatkan teh untuk suami dan membuat pesanan delivery sarapan mereka pagi itu.


Lehon yang adalah anak pertama di rumah itu tentu saja cukup mengerti perasaan sang ibu yang sebenarnya cukup ia sayangi itu. kini, ia mencoba mendekat dan memberi pengertian.


“Mami, nanti aku cari posisi Riko, ya?”


“Ehem!” Roy segera datang dan mendekat. ia bahkan membawa gelasnya yang masih berisi air. “Untuk apa kamu nyariin dia? Emang ada gunanya?”


Sila semakin terdiam sekarang. Ia sadar jika memang suaminya sangat tidak menyukai anak kandung satu-satunya itu karena ulahnya sendiri. Riko memang begitu sulit diarahkan, berbanding terbalik dengan Lehon yang berperilaku baik dan terkesan penurut itu.


“Tidak usah, Nak. Mami cuma butuh istirahat sebentar, nanti juga hilang.” Sila memberi sahutan.


“Papi kok bicara seperti itu? aku kan nggak minta bantuan dari Papi, aku bisa sendiri, kok.” Lehon bersuara.


“Ck! Kalau papi bilang tidak ya tidak. Kamu belajar yang benar, jangan seperti anak itu. untung saja kamu tidak sekelas dengannya, kalau tidak ... bisa hancur semuanya.” Roy berucap dengan sangat benar yang tentu saja membuat hati istrinya sedikit terluka.


“Aku ke dapur dulu,” pamit wanita itu kemudian.


“Aku juga mau siap-siap ngampus.” Lehon malah ikut-ikutan meninggalkan sang ayah.


Rasanya ia bertindak cukup baik untuk menjadi penengah dalam ketegangan di keluarganya.


Roy tidak begitu peduli. Ia tengan mencari-cari keberadaan anak tiri yang selalu membuatnya kesal itu dengan mengunjungi profil teman-teman Riko yang nyatanya tidak memosting apapun.


“Ke mana dia,” gumamnya yang ternyata memendam sedikit keresahan.


***


sementara Riko baru saja melakukan pertemuan dengan keempat sahabatnya. Namun, ia terlihat berbeda dari biasanya. Pria itu lebih banyak diam dan tidak ikut dengan candaan-candaan juga perbincangan di antara mereka.


Hal itu tentu saja dirasa cukup aneh, apalagi ketika Riko sibuk dengan coretan penanya di kertas buram. Entah apa yang sedang ia lakukan sekarang.


“Ko, ngapain?” tanya keempat temannya setelah Riko menyelesaikan kesibukannya.


Ia terdiam dan tersenyum simpul.

__ADS_1


“Kenapa kalian penasaran?” balasnya yang kembali diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini. ‘Bagaimana aku akan menggunakan uang lima juta ini untuk mendapat banyak untung? Bagaimana pun, aku harus membayarnya kepada Yana nantinya,’ batinnya.


Keempat temannya pun bangkit dari duduk mereka saat ini, membuat pesanan makanan mewah yang tentu saja bukan lagi passion Riko. Rasanya lebih baik mundur sekarang daripada nanti harus terjebak semakin jauh.


“Guys, aku mau ambil cuti,” putusnya.


“Hah? Cuti apaan?”


“Cuti melahirkan?”


“Hahaha ...”


Candaan dari teman-temannya yang tak lagi terdengar sebagai candaan bagi Riko sebab ia tengah bicara serius saat ini. Segera saja pria itu memasang tatapan tajamnya seperti ciri khasnya sebagai bos gang tersebut.


“Kamu ada masalah?” tanya salah satu dari mereka yang tidak segera dijawab oleh Riko.


Teringat bagaimana ia tidak diterima menginap di hari pertama oleh mereka. Ia bahkan tidak mendapat bantuan sedikit pun. Hal itulah yang sebenarnya telah membuat otaknya berputar sekarang.


“Aku mau cuti kuliah dan pertemanan kita. Aku mau buat aturan. Di mana pun kita bertemu, tolong jangan anggap kenal denganku. Tolong ...”


“Ko, mau ke mana emang?”


“Tidak ke mana-mana.” Menjawab dengan sangat singkat membuat teman-temannya itu sadar jika ia memang serius sekarang. “Aku pamit, ya. Pesanan tadi silakan kalian makan sendiri, aku tidak ikut mesan.”


Pria itu juga berlalu dari sana dengan cara yang sangat tidak pantas membuat teman-temannya kesal dan menganggap Riko sebagai bajingan.


“Kenapa dia? Kesal banget kalau dia berbuat semaunya saja. Ditanya kenapa malah tidak jujur,” ketus Leo.


Ia menjadi tidak nafsu untuk makan sekarang.


“Iya, ada apa dengannya? Apa dia sudah jatuh miskin sekarang dan merasa minder dengan kita?”


Pada akhirnya, kesulitan pria itu menjadi candaan. Tanpa mereka sadari, Riko masih berada di tempat itu dan tengah mengawasi mereka. Pria itu tersenyum simpul, cukup tau akan sifat asli teman-temannya.


***

__ADS_1


Mely yang baru saja menyelesaikan panggilan video dengan kedua anaknya mencoba berpikir tenang. Ia masih teringat dengan percakapan suaminya dengan Helena yang masih tak bisa ia percayai.


Mungkinkah ia telah salah dengar? Mungkinkah ia harus menaruh curiga dan mencari tahu? Namun, suaminya terlihat begitu tulus mencintainya. Apalagi ketika pria itu tidak pernah mengeluh untuk sesuatu yang kurang dalam diri Mely.


Hal itu membuatnya sangat gundah sekarang. Ia bahkan mencari-cari informasi tentang Helena yang masih belum menikah dan sekarang ada hubungan kerja dengan Jona.


Hal kecil itu membuatnya sedikit penasaran yang pada akhirnya memutuskan mencari tahu. Ia memeriksa ruangan kerja suaminya dan masih beberapa menit, ia sudah mendapatkan informasi yang sangat mencengangkan. Segera saja ia pergi ke sana sekarang.


Kakinya sudah berdiri di depan sebuah hotel. Yang ia tahu, pemilik hotel itu adalah temannya sendiri, juga resepsionis di sana. Sebuah keyakinan ia pegang teguh untuk memberanikan diri mengorek informasi.


“Maaf, Mel. Tapi tidak ada hotel yang memperkenankan untuk memberi informasi tentang tamunya,” jawab wanita yang berpenampilan sangat menarik itu.


Deg! Jantung Mely berdetak sangat kencang yang membuatnya lemas seketika. Bagaimana tidak, ini masih awal misi, namun sebuah kesulitan sudah menerpanya.


“Ada apa ini?” tanya pemilik hotel tersebut yang kebetulan lewat dan menyaksikan ketegangan itu.


“Ini loh, Bob. Mely datang buat nanyain informasi tentang tamu yang sering berkunjung ke sini,” jawab Risa.


“Siapa?” balas Bob yang sepertinya sadar akan tingkah wanita itu.


Belum sempat menjawab, Risa sudah diperintahkan untuk mengikuti Bobby saat ini. Ketiga orang dewasa itu berjalan beriringan hingga akhirnya tiba kafe di seberang jalan.


“Risa, sebaiknya kamu jujur saja tentang apa yang kamu tau soal masalah yang ditanyakan Mely. Aku tau, kamu menutupi sesuatu.” Bobby berucap dengan tegas yang membuat Mely begitu terkejut.


Bagaimana pria ini bisa tau?


“Mel?” panggil Risa dengan nada getir. “Suami kamu memang sering berkunjung dan menginap di hotel kami. Dia juga sering bersama wanita, tapi mereka hanya sebatas teman kerja, kok.”


Mely terlihat sudah pasrah sekarang. “Ris, apa wanita itu adalah wanita yang sama?”


Pertanyaan itu membuat Risa terdiam. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah seolah tidak ingin menjawab pertanyaan itu.


“Risa, aku hanya ingin kamu jujur. Apa wanita itu adalah wanita yang sama? Apa wanita itu adalah orang yang kita kenal dan terlihat sangat baik selama ini?” Mely menitikkan air matanya tanpa sadar.


***

__ADS_1


__ADS_2