
Hari-hari berlalu, Liora mulai mampu menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini. Hubungannya dengan Lehon pun kian semakin dekat di kantor. Hal itu membuat Maria semakin tidak menyenanginya.
Apalagi ketika gadis itu mendapat perhatian dari banyak orang. Walau begitu, tidak sedikit juga yang tidak suka padanya.
Reza sebagai teman seperjuangan mencoba mengingatkan agar lebih berhati-hati.
“Kamu jangan terlalu dekat dengan orang-orang di sini. Mereka tuh pada jahat. Suka menusuk dari belakang.”
“Iya, Za. Kamu juga harus hati-hati jangan sampai jatuh. Tuh di depan kamu ada tangga.” Liora menanggapi hal itu dengan santai bahkan masih bisa bercanda.
Hal itu membuat Reza mendapat ketertarikan yang tak dapat ia jelaskan. Ia juga merasa nyaman dengan Liora, berbanding terbalik dengan rekan kerja lainnya.
“Liora, kamu bantuin saya dong,” titah Maria sambil menunjukkan berkas-berkas lama yang tersusun sangat banyak.
Reza segera tahu tujuan wanita itu. Ia dengan segala keberaniannya mencoba menyodorkan diri walau ia tahu akan mendapat teguran.
“Loh, yang saya panggil kan Liora, bukan kamu. Mau sok baik di depan saya? Cari muka nggak segitunya, Za.” Maria berkomentar.
“Niat saya mau bantu doang, Bu. Nggak lebih dan kurang dari itu. ini kan berkasnya banyak banget, nggak mungkin bisa dibawa sama satu orang, apalagi cewek.”
“Kamu mau debat sama saya? Memangnya siapa yang bilang kalau ini akan dibawa sama satu orang? Kan dia bisa bawa setengahnya dulu.”
“Tapi saya bisa bawa ini dalam sekali antar. Jadi, lebih menghemat waktu, Bu.” Reza masih dengan pendapatnya.
Hal itu bahkan berhasil menarik perhatian semua orang. Dari kejadian itu, mereka dapat menyimpulkan jika Reza telah menaruh rasa pada Liora yang bahkan telah berkorban sekarang.
“Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?” tanya Lehon yang segera ke luar dari ruangannya tatkala memperhatikan keadaan yang tidak begitu kondusif sejak tadi.
“Kembali bekerja!” titah Maria segera menutup perdebatan itu. “Tidak ada apa-apa, Pak. Apa mau saya buatkan kopi?” tawarnya pada Lehon yang tampak mencari keberadaan Liora.
“Liora, buatkan saya kopi. Segera, ya!”
Fyuh! Liora bisa lepas dari beban itu sekarang. Gadis itu tersenyum membalas perintah Lehon yang membuat Maria semakin kesal.
‘Aku akan memberimu pelajaran lain kali. tunggu saja,’ batinnya merasa sangat kesal.
***
Roy dan Sila tampak masih berjaga di ruangan Riko. Sudah tiga hari mereka berada di sana setelah Lehon mengabari dan meminta dengan tegas.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan keadaan Yana yang masih tak sadarkan diri hingga saat ini. Kedua orang tuanya bahkan dengan setia menjaga anak itu hingga akhirnya sang ayah terlihat memasuki ruangan dokter.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali untuk memberi kabar.
“Bu, kita bisa bawa Yana ke kampung. Dia akan diurus di rumah sakit terdekat. Jadi, kita bisa jaga anak-anak di rumah dan tidak terlalu terkendala untuk bekerja.”
Sila yang tak sengaja mendengar percakapan itu tentu saja sangat terkejut. Ia segera menemui suaminya dan menyampaikan kabar itu.
“Kenapa pula mereka setega itu?” protes Roy segera masuk ke ruangan Yana. “Kenapa, Pak? Kenapa, Bu? Rumah sakit di sini kan jauh lebih baik daripada-“
“Saya lebih tau yang mana yang lebih baik untuk keluarga saya. Kalau kami terus-terusan berada di sini, siapa yang akan mencari nafkah untuk anak-anak kami di rumah? Memangnya kalian bisa membiayai biaya hidup kami?” balas Reno.
Roy terdiam. Ia menatap ke arah istrinya yang memelas penuh harap. Ia tentu saja mengerti. Riko akan sangat kecewa ketika bangun nanti dan tidak mendapatkan Yana di sisinya.
“Kami yang akan menjaga Yana di sini. Kalian tenang saja. Kebutuhan Yana akan kami tanggung jawabi.” Roy membuat keputusan yang membuat Sila bisa bernapas lega.
“Dengan apa kalian bisa menjamin itu?” tanya Ratih, ibu Yana.
“Kalian bisa melaporkan kami, kalau sampai hal yang tidak diinginkan terjadi. Kemungkinan besarnya, Yana akan segera siuman. Sudah ada perkembangan pesat dari kemarin.” Sila memberi penuturan yang lebih bisa membuat tenang sepasang suami istri itu.
“Baiklah. Kami terima permintaan kalian.” Reno dan Ratih berucap dengan tegas.
Keduanya juga segera berpamitan. Hal itu memang harus dilakukan sebab ada tanggungjawab yang harus dipenuhi. Sila cukup paham sebab dirinya pun pernah mengalami hal yang sama.
***
Tak sengaja, ia melihat Jona yang tengah memasuki sebuah kafe yang hanya buka dari sore hingga jam sepuluh malam. Tentu saja ia hafal dengan tempat-tempat di daerah itu.
Terlihat jika pria itu tengah digandeng oleh seorang wanita. Ia seolah tidak percaya dan memutuskan untuk mengikuti keduanya.
“Rainy, kamu jangan rewel ya, Nak. Omah mau menangkap penjahat. Okey?”
“Di mana, Omah?” balas Rainy bersemangat.
“Di dalam sana. Jadi, kamu jangan berisik, okey?”
“Yah ...” Memasang wajah sedih. “Aku halus apa kalau penculinya teltangkap?”
“Kamu tinggal tutup mata. Ini misi penting. Omah mohon ya, Nak?”
__ADS_1
“Hm. Baiklah, Omah.” Rainy akhirnya setuju dengan statement yang diberikan sang nenek.
Keduanya bergerak mengikuti langkah Jona sekarang. Mely segera memberi perintah agar Rainy menutup mata dan telinga.
Ia mencoba menghubungi suaminya itu. ia bisa melihat dengan jelas, jika pria itu merasa sangat keberatan.
“Mas, kamu di mana? Aku mau minta tolong dibeliin susu Rainy, nih.”
“Masih di kantor. Aku lembur malam ini. Mungkin juga nggak akan pulang.” Menjawab dengan nada tegas seolah panggilan dari istrinya itu terasa sangat mengganggu.
“Sibuk sekali ya, Mas?” tanyanya lagi.
“Memangnya kamu nggak dengar aku bilang apa barusan?!” bentak pria itu kemudian menutup panggilan secara sepihak.
Mely menitikkan air matanya. Ia terisak. Rainy yang sadar akan keadaan neneknya itu memilih diam. Ia sudah berjanji akan menutup mata dan telinga sampai neneknya memberi perintah untuk membukanya.
“Wah! Kalian berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Boleh saya minta sedekahnya?” ujar wanita itu tatkala Helena berada di pangkuan pria itu.
Kedua wajah sepasang manusia yang tidak tahu malu itu juga tengah menempel. Hal itu membuat Mely semakin murka dan merasa jijik.
“Kami tidak punya-“ Ucapan Helena terhenti. Ia sadar siapa yang ada di hadapannya sekarang dan segera memperbaiki pakaiannya tatkala Jona sudah sempat menyentuh bagian dadanya.
“Selama ini, aku sudah menerima kamu apa adanya, Mas. Aku menuruti semua ... semua permintaan kamu. Aku tutupi semua kekurangan kamu di depan anak-anak dan bahkan semua orang. Tapi ini balasannya. Kamu hebat, Mas.” Berucap dengan nada tegas walau air matanya terurai sekarang.
Jona melihat ke sekitar dan menyadari keberadaan Rainy di sana. Anak itu jongkok dan masih menutup mata dan telinganya.
“Mely, sudah, sudah. Kita pulang dan selesaikan masalah ini di rumah. Rainy bisa ketakutan nanti.” Jona mencoba mengingatkan Mely.
Sedih yang teramat tak lagi mampu membuat dirinya sadar. Kekecewaan dan amarah telah memenuhi pikirannya.
“Semua orang harus tau kebusukan kalian berdua, Mas! Seorang suami yang sudah mempunyai anak bahkan cucu tega berselingkuh dengan perempuan ******. Perempuan ****** itu pernah menjadi sahabat istrinya. Helena!”
Plakk! Tamparan itu mendarat di pipi Mely. Sangat keras dan nyaring. Semua pandangan mengarah pada mereka.
Helena tidak merasa malu, ia malah merasa puas sekarang. Merasa senang karena tidak sempat menyerang Mely yang mungkin akan bernasib sama dengan wanita itu.
“Okey, Mas. Terima kasih.” Segera sadar dan berlari menghampiri Rainy yang juga ikut menangis. “Kita berhasil, Sayang. Jangan takut. Kita adalah pahlawan. Kita menang. Yes!”
serunya.
__ADS_1
Rainy membuka mata dan telinga. Ia menangis sambil tersenyum. “Yes!” serunya bangga walau dengan raut wajah kebingungan.
***