Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Patah Hati Morgan


__ADS_3

“Mau ke mana?” seru Lehon yang tengah mengejar saudara tirinya itu.


Riko tidak peduli. Ia masih terus berlari membuat Lehon merasa kesal kemudian mengejarnya. Ia yang sudah bersusah payah mencari keberadaannya.


Tak kenal lelah, keduanya saling menguatkan tujuannya. Riko yang kekeh untuk terus melakukan pelarian, sementara Lehon yang ingin mendapatkan Riko.


Beberapa saat kemudian, lelaki itu berhenti di sebuah gang sempit yang ia rasa dapat menjadi tempat persembunyiannya. Ia cukup lama berdiam di sana dan mulai mengatur napas. Perasaannya cukup lega hingga yang tak diinginkan pun terjadi.


Lehon berjalan di atas atap bangunan kosong itu kemudian melompat menimpa tubuh Riko yang hendak berniat kabur.


“Mau ke mana lagi sekarang?” kesalnya segera memukul kepala Riko dengan botol minumnya.


“Apa-apaan? Lepasin!” Riko yang merasa tidak aman dan memberontak.


“Kamu tidak akan bisa ke mana-mana, diam dan santailah. Aku hanya ingin bicara sebentar. Hahaha ...” geram Lehon yang sudah kehabisan napas.


Begitu juga dengan Riko yang sekarang ikut menyerah, duduk, dan bersender ke dinding yang kotor.


“Apa ini masalah Mami?”


“Cuih! Kukira tidak akan pernah menanyakan soal Mami. Tenang ... dia baik-baik saja, kok.”


Diam. Riko tampak lebih tenang sekarang.


“Gadis itu sudah melahirkan anakmu. Liora sudah melahirkan bayi perempuan.”


Riko terhenyak. Ia terdiam, sungguh tidak mengerti disambung dengan raut wajah tidak percaya. Ia sungguh tidak menyangka jika Liora akan mempertahankan kandungannya.


“Apa dia memintamu datang ke sini?” tanyanya dengan senyum menyeringai. “Kenapa dia masih berharap?”


“Jangan asal bicara. Aku datang ke sini hanya untuk memperingatkan dirimu, Ko. Apapun yang terjadi kedepannya, tolong jangan ganggu lagi kehidupan Liora. Dia pantas bahagia bersama siapapun yang akan menjadi pilihannya nanti.”


“Tunggu ... tunggu ... bukan kamu, kan?”


“Bisa saja, sih.” Lehon tersenyum tipis kemudian bangkit lalu membersihkan di celana bagian pantat.

__ADS_1


“Dasar penikmat bekas seorang Riko!”


“Tapi jangan salah, Ko. Dia itu mahal. Mereka akan menjadi ibu dan anak yang sangat mahal dan berharga. Tidak sembarang pria yang bisa mendekatinya. Wah, keren.”


Memuji dengan sangat menyanjung Liora membuat Riko merasa kesal. Ia ingin menguji Riko yang mungkin masih menyimpan rasa dan menunjukkan kecemburuannya.


“Aku mau kembali bekerja. Jangan bahas hal tidak penting seperti itu lagi padaku. Tidak penting.”


Lehon memastikan sikap itu dan sungguh tidak menyangka. Perkataan Liora memang tidaklah salah. Riko hanya mencari wanita yang bisa memuaskan hasratnya yang entah kapan akan berhenti.


“Apa kebiasaan burukmu masih sampai sekarang?”


Pertanyaan itu membuat langkah Riko berhenti. Ia bahkan memutar tubuhnya.


“Tidak. Dulu dan sekarang berbeda. Selesaikanlah pendidikanmu. Aku akan datang nanti!”


Riko berlalu dengan raut wajah datar. Lehon termangu melihatnya. Seolah ada yang berbeda di diri Riko. Entahlah dia sudah lebih baik dan dewasa dari sebelumnya.


***


Padahal sudah waktunya untuk pria itu segera kembali ke negara asalnya dan melanjutkan kegiatannya seperti biasa.


Ia bahkan merasa risih sebab Morgan selalu menatapnya secara terang-terangan. Padahal, ia juga sudah memberi peringatan untuk tidak menerima perasaan siapapun untuk saat itu.


Ke luar dari ruang keluarga, Liora membawa putrinya ke luar rumah dan duduk di taman. Ia menikmati suasana sambil menyusui bayi itu.


Morgan juga ikut muncul dan segera duduk beberapa meter jarak darinya. Kejadian itu cukup mengagetkannya. Segera ia menutupi bagian dadanya sekarang.


“Liora, saya mau ngomong sesuatu sama kamu.”


“Hm.” Menyahut dengan nada singkat sambil memasang wajah tidak sukanya.


“Saya mau menjadi ayah dari anak ini. Saya tidak akan memaksa apapun sama kamu. Yang penting saya selalu ada untuk kamu dan menjaga kamu dari gangguan apapun.”


“Tidak usah deh, Pak. Saya masih bisa kok menjaga diri sendiri. Tenang saja, saya tidak akan memberatkan Bapak.”

__ADS_1


Jawaban itu cukup berhasil membuat Morgan merasa down, namun ia belum ingin menyerah. Trik terakhirnya ia keluarkan.


Sebuah cincin bermata berlian ia berikan dan dekatkan ke tangan Liora yang tentu saja tidak terima. Ia memasang wajah murung sekarang.


“Pak, tolong terima keputusan saya. Saya ingin hubungan kita sebatas dosen dengan mahasiswanya saja. Jika pun dari Bang Mike, saya ingin menganggap bapak sebagai abang saya.”


Perkataan itu berhasil membuat nyali Morgan menciut. Ia memasang wajah Liora dengan perasaan tidak percaya.


Tak terasa, air matanya menetes walau segera ia seka. Bagaimana tidak, Liora adalah wanita yang ia cintai setulus itu. ia bahkan menerima gadis itu dengan sejuta masa lalu yang mungkin bisa saja menjadi bahan pertimbangan.


Ia bahkan menerima Rainy untuk menjadi anaknya. Entah apa lagi yang kurang. Bantuan dari segala hal selalu ia usahakan, apalagi dalam hal akademik.


“Saya juga sudah dengar bunda Pak Morgan bicara di telepon. Dia mengatai saya wanita ******, kan? Bahkan jika itu benar, saya tidak pernah menyesal melahirkan anak ini. Seharusnya kalian menghujam saya dengan nilai buruk ketika saya berusaha menyakiti Rainy. Tapi tak apa ...” Berhenti sesaat.


“Karena saya juga tidak akan pernah masuk ke dalam keluarga kalian. Keluarga kita tidak akan pernah bersatu, aku bisa pastikan itu. jika memang Pak Morgan berniat untuk mencabut semua bantuan yang ada selama ini, silakan. Mengulang semester juga tidak masalah bagi saya,” lanjutnya.


Kalimat demi kalimat tersusun yang ke luar dari mulut Liora memang benar adanya. Morgan benar-benar tak kuasa untuk menyahut.


Ia juga menjadi kesal sendiri dengan perbuatan ibunya yang telah menyakiti Liora. Masih berusaha untuk membuat pertimbangan sekarang.


“Itu kan Bunda bukan saya, Liora. Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti kamu.”


“Saya masih bisa mendengar dengan jelas kok, Pak. Anda tidak menyanggah sama sekali, itu memang benar adanya. Dan soal janji, saya tidak percaya janji. Siapapun ... tidak ada yang bisa saya percayai saat ini. Jadi, ini sudah menjadi keputusan saya.”


“Liora, berikan saya kesempatan. Saya yang akan menemani kamu meruntuhkan keyakinan itu. Saya akan menemani kamu merubah trauma itu.” Morgan benar-benar memohon pada gadis yang traumanya sudah amat teramat besar ini.


Liora menjadi was-was sekarang. Ia memposisikan putrinya dengan benar kemudian bergerak masuk ke rumah sambil mengirimkan pesan pada sang abang yang untung saja telah pulang sekarang.


Pria itu membawakannya buah yang kali ini segera dikupas sendiri oleh Liora. Ia tak lagi meminta dan menerima bantuan dari Morgan yang mungkin tengah merasa sangat tersakiti sekarang.


Mike berbisik pelan tentang Morgan yang masih berjongkok di taman sekarang. Keadaannya tampak kacau dan sangat buruk. Pria itu seolah telah kehilangan akal sehat.


“Kamu menolak dia, Dek?” tanyanya pada Liora yang hanya mengangkat kedua bahunya.


Ia juga memakan buah tanpa peduli dengan pemandangan di luar sana. Morgan benar-benar patah hati.

__ADS_1


***


__ADS_2