Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Tangisan Bayi yang Berhasil Ditenangkan Lehon


__ADS_3

Morgan dan Lehon bergerak menuju apartemen Liora setelah mereka menyelesaikan acara pindahan. Mely yang membuka pintu pun segera menyambut keduanya dengan sikap yang berbeda.


Wanita itu tersenyum ramah pada Morgan, namun tidak pada Lehon. Ia bahkan berjalan beriringan bersama Morgan dan meninggalkan pria muda itu di belakangnya.


Liora yang bergerak sendiri ke dapur untuk mengambil air minum sempat tertegun menatap kedatangan Lehon. Ia teringat bagaimana dulu pria itu memberikan semangat dan kekuatan untuknya ketika proses persalinan.


“Liora, sop baik untukmu. Saya buatkan, ya?” Morgan menawarkan.


“Apapun baik untukku. Tidak usah minta izin segala, Pak.” Gadis itu kembali menunjukkan sikap juteknya yang berhasil membuat Lehon memperhatikannya.


“Liora, kamu bisa sopan sedikit tidak? Morgan tamu kita ... dia juga dosen yang seharusnya kamu hormati.”


“Memang siapa yang tidak hormat padanya? Dianya saja yang terlalu berlebihan. Alay sekali,” gumam gadis itu kemudian berlalu dari sana.


Lehon menatap kepergian Liora yang sadar jika gadis itu tidak menyukai Morgan. Ah, tak ingin memikirkan permasalahan masing-masing pribadi di rumah itu, ia mulai menyuarakan idenya agar segera memulai acara memasak.


Ketiga orang itu benar-benar sibuk sekarang. Mely yang sebenarnya hanya mencicipi tetap terlihat sibuk sebab dirinya juga berperan untuk bersih-bersih dan beberes.


Tangisan suara bayi yang amat kencang membuat suasana tercairkan. Beruntung acara memasak telah usai, mereka butuh istirahat sebelum membersihkan diri nantinya.


Terlihat jika Liora turun membawa putrinya. Ia juga memasang wajah sedih dan khawatir. Mely bergerak untuk memeriksa.


“Tidak ada yang salah. Kenapa anak ini cengeng, ya.” ia mengambil anak itu dan mencoba menenangkannya.


Hampir lima menit lamanya, tetap juga tidak ada perubahan membuat Morgan yang sangat penasaran mencoba menawarkan diri. Namun naas, tidak ada perubahan yang terjadi.


Anak itu malah menangis sambil memutar pandangannya ke arah Lehon. Hal itu membuat sebuah ide muncul di kepala Morgan.


“Hon, coba kamu yang tenangin anak ini,” ujarnya santai.


“Tidak us-“ Mely mencoba melarang yang segera dihentikan oleh Liora tatkala tangisan anaknya berhenti ketika sudah berada dalam gendongan Lehon. “Bagaimana bisa?” gumam wanita setengah baya itu tidak percaya.


“Tolong selama beberapa saat saja, kasihan dia dari tadi capek nangis.” Liora kemudian bergerak untuk mengambilkan air minum lagi.

__ADS_1


“Sepertinya kamu butuh botol minum yang lebih besar dan dapat menahan kehangatan airnya. Nanti boleh kami belikan dulu sebelum ke sini,” saran Lehon membuat Morgan merasa sedikit risih sebab dirinya seolah tidak berperan.


“Iya boleh juga tuh, saya juga berpikir seperti itu tadi.” Pria itu menyahut membuat Mely merasa senang.


“Kamu tuh ya benar-benar peduli dengan Liora. Gimana saya tidak semakin senang sama kamu coba.” Wanita itu memuji sikap Morgan yang padahal belum bertindak apa-apa.


Liora hanya bisa menggelengkan kepala sebab tidak ingin bersuara yang bisa saja mendatangkan perdebatan di antara mereka. Ia yang sudah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan tak lagi ingin berbuat buruk.


***


Roy menjadi sangat kesal tatkala mendapat ancaman dari Jona. Ia sungguh tidak menyangka jika pria itu akan seburuk itu.


Dengan segera, ia bergegas menuju kediaman pria itu sekarang. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi ia sudah gelap mata dan ingin menuntaskan rasa kesalnya.


Terlihat jika Helena sudah berada di ujung pintu. Ia tersenyum lebar dan sedikit menjauh dari pantauan CCTV yang baru saja dipasang oleh Jona.


“Ada apa, Orang asing? Apa kamu ikut tertarik denganku? Maaf, aku menolak.”


“Apa kamu bilang? Kamu berani menjelek-jelekkan aku? Istri kamu tuh gendut, tua-“


“Ssst ... ssst ... panggil saja suamimu ke sini sekarang. Saya tidak ada waktu bicara dengan wanita murahan seperti anda. Dasar pelakor.”


Roy menutup mulutnya setelah itu tatkala berpikir sudah terlalu berlebihan dalam berucap. Namun, ia juga merasa puas setelah mengatai Helena yang beberapa waktu lalu telah berani menggodanya.


Tin! Tin! Terlihat jika mobil Jona memasuki area rumah dengna laju cepat. Ia yang melihat keberadaan Roy menjadi naik darah, berpikir jika pria itu telah berani mengganggu Helena.


Tanpa aba-aba, Jona mendekat lalu memberikan pukulan yang tentu saja segera dibalas oleh Roy. Ia tentu tidak terima diperlakukan tidak adil.


“Apa? Kenapa kamu memukul saya? Mau saya laporin kamu ke polisi?”


“Hei, ngapain kamu ke sini? Ada urusan apa saya sama kamu? Memangnya perbuatan saya ada ngerugiin kamu? Tidak, kan? Jadi pergilah sebelum kuhabisi sekarang juga,” ancam Jona dengan nada tinggi.


“Kamu pikir saya takut? Sepertinya kuasa kamu tak lebih hebat dari saya. Jadi jaga bicara kamu!” balas Roy yang segera melemparkan barang ancaman yang ia dapatkan.

__ADS_1


Jona menatap Helena dengan perasaan geram. Wanita itulah yang telah mengundang masalah dalam hidup mereka seperti sekarang.


“Mas, aku cuma takut kalau nanti mereka laporin kita sama Mely. Memangnya Mas mau kita ketahuan?” Helena mencoba membela diri yang tak mendapat pengampunan dari pria itu.


“Masuk. Masuk sekarang juga. Masuklah! Segera!” teriak Jona dengan nada lantang. “Sialan!” umpatnya merasa sangat kesal.


Roy tersenyum menyeringai. Ia menilai Jona lebih buruk dari Riko.


“Ternyata anak tiriku tak lebih buruk dari pada kamu, Bro. Riko masih ada di usia labil. Mungkin dia juga masih ada kemungkinan memadu kasih kembali dengan putrimu nanti. Tapi kamu, mungkin akan kehilangan keluargamu setelah kebusukanmu terungkap ke dunia. Tapi jangan terlalu khawatir, aku tidak akan pernah mengurusi kehidupanmu. Itu memang bukan bagianku.”


Roy kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Jona yang seolah tak bisa bernapas dengan normal oleh karena kejadian barusan. Ia sungguh tak habis pikir dengan perbuatan istrinya.


Sesaat ia mencoba tenang, namun rasa kesalnya kian memuncak oleh rasa takut karena ucapan Roy. Kehilangan keluarganya? Tentu saja ia tidak akan pernah rela.


Langkah kakinya yang besar menuju Helena yang tengah membuatkannya teh. Wanita itu juga mencoba ramah dengan menyapa dan membawakannya teh yang baru saja diseduh.


Dalam satu hentakan, suara bantingan itu terdengar jelas. Pecahan kaca gelas itu terlihat berserakan di mana-mana.


“Mas, aku minta maaf kalau salah. Aku melakukan itu demi cinta kita.”


“Cinta katamu?” balas Jona yang kian semakin kesal kemudian memberikan tamparan sebanyak sepuluh kali banyaknya.


“Mas!” teriak Helena tidak percaya dengan perlakuan yang baru saja ia dapatkan.


Wanita itu berlari ke luar dari rumah itu dan dibiarkan begitu saja oleh Jona. Pria itu tidak ada niatan untuk menghentikannya.


Sementara Helena masih berharap akan dibujuk, ia bahkan mengulur waktu dengan berkali-kali menyalakan lalu mematikan mesin mobilnya.


“Kamu tega, kamu jahat, Mas,” gumamnya kemudian melaju dengan kecepatan tinggi berlalu dari sana.


Roy yang masih ada di ujung jalan terlihat tertawa menonton drama yang baru saja ia saksikan. Ia merasa geli dengan tontonan yang diperankan orang dewasa itu.


***

__ADS_1


__ADS_2