Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Pertemuan Haru dengan Sahabat


__ADS_3

“Liora, ke ruangan saya sekarang!” perintah Lehon dengan nada tegas membuat semua orang keheranan.


“Bu, apa saya ada kesalahan?” tanya Liora yang terlihat sangat takut.


“Ya, mana saya tau. Mungkin saja karena kamu nggak itu ke perayaan ultah si Reza tadi malam. Sudah, sana gerak cepat ke ruangan Pak Lehon,” titah Maria dengan nada kesal. “Kenapa dia terlihat bodoh sekali,” gumamnya tidak senang.


“Liora, santai saja. Kamu jangan terlalu panik. Semangat!” Reza mencoba memberi semangat.


Mau tidak mau, Liora harus segera memenuhi panggilan atasannya saat ini. Terlihat jika Lehon memasang wajah datar. Sesungguhnya itu sudah cukup membuat Liora tenang sebab pria itu tidak sedang marah.


“Ada apa, ya, Pak?”


“Kamu ikut saya pagi ini. Riko dan Yana kecelakaan, kamu harus jenguk teman kamu itu.”


Kening wanita itu seketika mengerut. Ia tidak senang dengan perintah yang membawa-bawa masalah pribadi di pekerjaannya. Tentu saja ia memilih diam.


“Hei, Liora, kamu dengar saya tidak?”


“Em ... Bapak duluan saja. Saya masih mau cari sara-“


“Sarapan? Ini, sudah saya siapkan. Jadi, kamu tidak akan pingsan di jalan.”


Liora berpikir keras untuk menolak ajakan itu. ia akan mendapat kesulitan dalam kenyamanan apabila ia harus ikut. Berhubungan langsung dengan Lehon dan bertemu dengan teman lamanya yang sudah lama sekali tak berkabar dengannya.


“Kamu harus tau, Liora. Di sini tidak ada yang boleh menentang perintah saya selagi itu tidak merugikan karyawan. Jadi, kamu ambil tas, kita berangkat sekarang.”


“Tapi, Pak-“


“Sekarang!”


Liora menjadi sangat kesal. Masih di posisinya, matanya melirik tajam ke arah Lehon yang juga tengah menatap ke arahnya. Ah sial, keduanya malah saling bertatapan sekarang.


Tak ada pilihan, wanita itu memilih patuh lalu bergerak sekarang. Semua orang menatap heran ke arahnya. Bagaimana bisa Pak Lehon bisa memiliki hubungan sedekat itu dengan Liora? Tentu saja, itulah pertanyaan yang ada di kepala masing-masing.


“Hei, Bu Maria. Jangan-jangan orang yang masukin Liora kerja di sini adalah Pak Lehon. Mungkin?” tanya rekan kerja Maria yang tak dijawab.


Wanita itu merasakan api cemburu dan kekesalan yang terdalam. Sejak hari itu, ia membuat tanda permusuhan dengan Liora.


***


Riko dan Yana masih tak sadarkan diri hingga saat itu. hal itu membuat Alya yang sudah berjaga sejak kemarin menjadi kewalahan. Bagaimana tidak, ia harus berganti ke sana ke mari untuk memastikan keadaan keduanya.

__ADS_1


Merasa tak ada penolong, ia akhirnya bercerita pada Mike yang tentu saja dengan senang memberi bantuan dan jalan ke luar. Namun, tampaknya bukan itu yang diinginkan oleh gadis itu.


“Kamu kapan pulang, Bang? Aku sudah nggak mau kalau hanya dikirimin uang. Aku butuh kehadiran Abang sekarang. Aku juga sudah punya pekerjaan sendiri, jadi kita bisa memulai dengan mandiri sekarang.”


Pernyataan yang berhasil membuat Mike terdiam. Ia memang sudah merencanakan hal yang sama.


“Itulah yang aku harapkan, Alya. Aku jadi sangat bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaan di sini dan segera kembali ke sana. Tunggu abang, ya?”


“Um ... lama.” Memasang bibir manyunnya.


Hal itu membuat Mike menjadi sangat gemas dan tak sabar untuk segera bertemu dengan pujaan hatinya. Namun, untuk saat ini ia hanya bisa membantu dengan materi.


“Abang kirimkan uang untuk perawat. Bayari saja perawat untuk menjaga mereka sampai agak membaik,” saran Mike yang tak sempat dijawab oleh gadis itu tatkala ia kedatangan tamu sekarang.


“Lehon, Riko ada di ruangan sebelah.” Alya segera mengarahkan pria itu.


“Tunggu sebentar. Aku ingin bicara.”


Alya mengangguk setuju. Ia juga duduk di sisi Yana yang masih tak sadarkan diri. Ia mencoba melirik ke arah sosok yang berdiri di belakang Lehon.


“Pacar barunya, ya?” tanyanya segera bangkit untuk menyapa dan mendekat.


“Yak?” panggil Liora lirih dan akhirnya meneteskan air mata.


Ia tak ingin ini terjadi, itulah sebabnya mengapa ia ingin sekali menolak kunjungan ini. Melihat Alya yang masih terdiam membuatnya sedih. Mungkin gadis itu telah sangat membencinya.


“Liora?” panggil Alya ketika Liora hendak berlalu dari sana.


“Kalian pasti saling merindukan,” ujar Lehon yang bahkan juga hanyut dalam suasana sedih itu.


“Ke mana saja, ha? Dari mana saja kamu?” tanya gadis itu sungguh tak lagi dapat menahan kesedihan.


Ia memeluk Liora dengan sangat erat. air matanya tumpah bersamaan dengan isak tangis Liora yang tak dapat ditahan. Lehon ingin mendekat dan ikut berpelukan. Hal itu berhasil membuat keduanya terhibur.


“Sialan kamu! Sana!” usir Alya kesal.


“Hehe ... bagaimana kabar si Riko? Aku pikir dia sudah tidak ada di dunia ini lagi,” celetuk Lehon.


“Sudah, pastikan sendiri sana,” usir Alya sambil menyeka air matanya.


“Terima kasih, Pak.” Liora menundukkan kepalanya sebagai pertanda hormat.

__ADS_1


“Sama-sama.”


“Pak? Gimana, gimana? Coba jelaskan.” Alya yang sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya.


Dengan sigap, Lehon menjelaskan kondisinya secara singkat. Alya menganga tak percaya. Ia menjadi sedikit kesal pada gadis itu sebab tidak berkabar padanya.


“Ya maaf, Yak. Aku juga ke sini niatnya mau nyari kerjaan. Kalau semisal nggak ketemu, ya kabur lagi. Hihihi ...” Liora menyeka air mata sahabatnya itu. “Maaf.”


“Maaf-maaf.” Alya tertawa kecil sembari menyaksikan kepergian Lehon untuk melihat keadaan adik tirinya itu.


“Kamu kelihatan capek sekali, Yak.”


“Iya. Orang tua Yana baru bisa dihubungi tadi pagi. Besok baru nyampe di sini. Aku kewalahan jagain manusia ini berdua. Sumpah.” Alya segera merebahkan tubuh di atas tikar yang ia gelar sejak kemarin.


“Kamu kan bisa minta bantuan perawat, Yak!”


“Aku sudah nggak yakin dengan perawat. Orang ini berdua kena teror,” sambung Alya yang akhirnya bercerita panjang lebar.


Liora menganga sungguh tak percaya akan terjadi hal semacam itu yang menimpa sahabatnya itu.


***


Morgan meringis kesakitan, ia memperlihatkan bibirnya yang masih mengeluarkan sedikit darah kental. Hal itu sungguh membuat ibunya murka.


“Lagian kamu ngapain sih ngurusin wanita ****** seperti dia. Kamu tuh ganteng, berprestasi, mandiri, punya kehidupan yang layak, dan masa depan yang cerah. Masa iya masih ngurusin kehidupan wanita yang hamil di luar nikah seperti dia,” ujar sang ibu.


“Bunda, aku tuh nggak sengaja ketemu dia. Sumpah nggak sengaja. Dianya saja yang berlebihan. Emang sudah dari sononya mungkin. Teriak nggak jelas, ujungnya aku yang kena. Untung sempat kabur.”


Wanita itu sedikit menaruh curiga dengan keterangan sang anak.


“Kenapa juga kamu harus kabur kalau memang tidak bersalah?”


“Ya, namanya juga hampir dikeroyok, Bun. Aku mau membalas perbuatannya lah. Mulai hari ini, aku mau latihan tinju. Suatu hari nanti, akan ada pertumpahan darah.”


“Morgan, lakukan sesukamu. Tapi bunda nggak suka dengar kabar kekalahan dari kamu. Harus menang, bagaimanapun caranya.”


“Siap, Bunda!” seru pria itu merasa senang tatkala tindakannya mendapat dukungan dari sang ibu.


‘Haha ... tunggu saja, Liora. Aku akan membuatmu menderita. Sama seperti yang telah kamu lakukan,’ batinnya dengan senyum menyeringai.


***

__ADS_1


__ADS_2