
Waktu terus berjalan, begitu juga dengan kehidupan. Liora yang terus berjuang dan memperjuangkan kuliahnya. Ia memang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan.
Sesekali ia menahan sakit untuk melewati kuliah onlinenya dengan baik. Takut apabila nanti akan ketinggalan dan harus mengulang.
“Aduh, sakit sekali ...” Ia meringis kesakitan. Keringatnya bahkan mengucur deras sekarang.
Berusaha menghubungi sang abang yang nyatanya tidak menjawab, sepertinya pria itu tengah sangat sibuk. Ia menjadi sangat bingung sekarang.
Di tengah-tengah kepanikannya, akhirnya Liora memutuskan untuk ke luar dan mencoba peruntungan meminta pertolongan.
“Liora?” panggil seseorang yang ternyata adalah Morgan.
“Pak?” balas Liora sedikit kaget namun segera merasakan rasa sakit yang teramat lagi.
“Kamu kenapa?”
“Tolong, Pak. Tolong saya ... rasanya sakit sekali.” Gadis itu menarik dan membuang napas berkali-kali. ia benar-benar mengikuti saran dokter yang diterimanya selama ini.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ajak Morgan yang segera mengangkat tubuh gadis itu.
Liora benar-benar tidak dapat menahannya. Air matanya menetes sekarang. Ia bahkan teringat bagaimana Riko memaksanya dulu. Bagaimana ia yang akhirnya menurut walau tidak menikmatinya sama sekali.
Ya, penyesalan itu memang ada. Dosa besar yang ia lakukan juga memberi hukuman yang teramat. Sungguh, ia akan mengajarkan anaknya jauh dari perbuatan dosa ini.
***
Lehon tampak memperhatikan seisi perpustakaan. Ia memang cukup mengerti bahasa asing di negara itu walau dengan konyolnya ia membawa seorang penerjemah.
“Kenapa kamu mengajak saya kalau membaca buku saja bisa?”
“Hehehe ... buat jaga-jaga saja, Pak. Mana tau butuh, mana tau ...”
Pria yang berprofesi sebagai penerjemah itu pun menjauh. Ia memilih untuk sibuk dengan urusannya sendiri dan akan datang saat dibutuhkan oleh Lehon.
Lehon menjauh dari tempatnya ketika mendapat panggilan dari dosen yang meninggalkannya beberapa waktu yang lalu.
“Eh, eh, tolong antarkan saya ke rumah sakit sekarang, kita ke rumah sakit, Pak!” ajak Lehon dengan raut wajah panik.
“Siapa yang sakit?” tanya si penerjemah sambil berjalan cepat mengarahkan Lehon untuk mengikutinya.
“Sepertinya Sir Morgan.”
“Hmph ... ternyata benar. Kekhawatiranmu berguna juga. Saya kamu butuhkan di saat-saat seperti ini.”
Keduanya bergegas menuju rumah sakit saat itu juga.
__ADS_1
***
Yana benar-benar manyun. Sudah beberapa bulan ini ia tak mendapat kabar dari Riko-pria yang benar-benar membuatnya jatuh hati.
Ia bahkan masih berharap hingga detik ini. Alya berkali-kali memberikannya gambaran bahagia apabila ia move on dan berinteraksi dengan pria lain.
Ia yang telah benar-benar jatuh terlalu dalam tak lagi peduli. Harapan dan keyakinannya untuk menunggu Riko kembali masih begitu kokoh.
Alya yang tengah mengelus-elus bahu sahabatnya itu mendapat panggilan dari Mike. Segera saja ia menjauh sekarang.
“Siapa?” tanya Yana yang merasa penasaran dan ikut mendekat.
Alya semakin menjauh sekarang. Tentu saja ia tidak ingin ketahuan.
“Bagaimana keadaan Liora sekarang, Bang?” tanyanya setelah dirasa aman.
“Dia dalam proses persalinan, Yak. Doakan yang terbaik untuk Liora. Abang baru saja pulang dari tempat kerja. Dari tadi abang sibuk di kantor.”
Keterangan itu cukup membuat Alya merasa khawatir. Bagaimana tidak, ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.
“Bagaimana dengan Tante, apa beliau sudah tiba di sana?” decit Alya.
“Masih dalam perjalanan. Mungkin sejam lagi.”
“Amin. Iya, tidak apa-apa. Yang penting kamu juga tetap jaga kesehatan di sana. Jangan buat abang khawatir di sini,” ujar Mike yang akhirnya bisa tersenyum sejak tadi.
Beberapa detik kemudian, Yana menarik Alya dan menampakkan diri di layar. Tampak jika penampilan gadis itu cukup kacau. Ia bahkan malas mengurus diri.
“Yak, kita cari Riko, yuk?”
“Yan, aku lagi tidak mood, ya. Tolong jangan paksa aku dulu. Mau tidur saja.” Alya menolak dengan tegas.
“Ya sudah, besok kita cari dia, apapun yang terjadi.”
“Hm ....”
***
Lehon tampak kaget melihat keadaan dosennya yang baik-baik saja, namun ia tetap bersyukur. Namun, ia juga merasa bingung sebab pria itu tengah sibuk mengisi data tentang pasien.
Panggilan masuk di ponsel Morgan benar-benar mengganggunya. Itu berasal dari sang ibu yang memang begitu khawatir sebab dirinya belum sempat memberi kabar.
“Hon, tolong saya ... isikan datanya, ya. Saya mau jawab telepon Bunda dulu.”
Lehon merasa kaget sesaat. Ia sungguh tidak menyangka jika pria itu adalah tipe orang penurut pada orang tua.
__ADS_1
Tak mau menghabiskan waktu berlama-lama, ia memfokuskan diri pada apa yang baru saja diperintahkan padanya.
“Nama Anda di isi di sini dan tanda tangani,” ujar perawat membuat Lehon sungguh kaget.
“T-tapi, saya bukan suaminya.” Menjawab dengan nada bingung sebab ia bahkan tidak mengenal wanita yang ada di dalam sana.
“Kami tidak bisa bertindak sebelum mendapat persetujuan dari keluarganya. Jadi, tolong disegerakan.”
Perkataan itu membuat Lehon bingung, apalagi setelah ia mencari-cari keberadaan Morgan yang entah di mana sekarang. Ah, kegundahan itu memaksanya untuk segera membuat keputusan.
“Bagus. Kamu membuat keputusan yang benar,” ujar si penerjemah sebelum akhirnya berlalu dari sana sebab juga waktunya bekerja sudah habis.
Lehon yang tak habis pikir itu juga mendapat panggilan untuk segera masuk ke ruang persalinan untuk mendampingi Liora. Merasa tak beres, Lehon segera berlari ke sana ke mari mencari Morgan yang tetap saja mendapat kekecewaan.
“Di mana dia?”
“Bagaimana, Pak? Apa masih ada orang yang harus kita tunggu?”
Lehon pada akhirnya menurut dan ikut pada sang dokter. Ia yang datang ke sini untuk study tour malah study menjadi seorang suami dan ayah.
Beberapa saat kemudian, Mike juga tiba di sana. Ia bertanya pada Morgan yang baru saja ke luar dari toilet yang juga memasang wajah bingung.
“Stop, Mike. Sebaiknya kita tanyakan pada perawatnya saja. Aku baru saja menjawab panggilan Bunda.”
Mike berlari menghampiri perawat yang segera memberi jawaban dan membuatnya cukup tenang. Tampaknya ia tidak terlalu keberatan dengan posisi Lehon yang menggantikannya sekarang.
“Bang, Sir ...” Lehon ke luar untuk sesaat. Entah apa yang ia lakukan di sana.
“Lehon, apa sesuatu telah terjadi?” tanya kedua pria itu bersamaan dengan wajah cemas.
“Dia ... dia s-sudah melahirkan. Ada bayi yang ke luar dari perutnya. Bayinya cantik sekali.” Terduduk lemas di kursi tunggu dengan keringat yang membasahi keningnya.
Beberapa perawat juga ke luar dari ruang persalinan dan memberi kabar baik itu.
“Ibu dan bayinya baik-baik saja. Selamat untuk keluarganya ...”
“Di mana adikku sekarang?” tanya Mike yang sangat penasaran.
“Masih istirahat, ya, Pak. Mohon ditunggu dulu. nanti akan kami beri kabar untuk kunjungan.”
Mike sangat terharu mendengarnya. Berbeda dengan Lehon yang bahkan merasa sangat lelah sekarang.
“Sepertinya itu sakit sekali,” gumamnya memejamkan matanya.
***
__ADS_1