Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Hari Pertama Bekerja yang Sangat Berat


__ADS_3

Liora memakai setelan putih hitamnya untuk mengawali karirnya di sebuah perusahaan swasta terbesar di kota itu. ayahnya memang sudah cukup berusaha untuk segera mendapatkan pekerjaan bagi wanita itu.


Rainy ke luar dari kamarnya sudah dengan penampilan rapi, begitu juga dengan Mely. Keduanya memang akan ikut mengantarkan hari pertama Liora.


“Bunda, semangat untuk hari peltama bekel-janya. Semoga betah dan selalu kuat!”


Kalimat penyemangat yang ke luar dari mulut Rainy yang juga membuat senyuman wanita itu terpancar sempurna. Begitu juga dengan Mely yang mengulang ucapan anak kecil itu.


“Apa kalian belajar bersama-sama?” tanya Liora merasa sedikit geli.


“Iya. Omah culang. Padahal kan, aku sudah minta Omah pakai ucapan lain,” sewot Rainy merasa geram sekarang.


“Heh, siapa yang curang? Kan omah yang ajarin kamu, wajarlah kalau kita saling berbagi,” balas Mely tak ingin disalahkan.


“Ah, Omah culang. Aku tidak suka. Huh, aku malah!”


Kelakukan dua perempuan itu membuat Liora merasa geram. Ia segera mengangkat tubuh Rainy kemudian mendekapnya. Mely juga ikut melakukan hal yang sama.


“Iya-iya, omah minta maaf. Omah sudah curang. Itu sifat yang tidak boleh ya, Nak.”


“Huh, baiklah.” Mengangguk mengiyakan perkataan Mely yang tampaknya segera masuk dalam pikiran Rainy.


Tin! Klakson taksi online yang dipesan Mely sudah berada di depan rumah. Hal itu menjadi hal yang aneh bagi Liora. Hanya dengan kerutan di kening, Mely sudah mengerti akan pertanyaan di kepala wanita itu.


“Papah kamu ada meeting pagi ini. Jadi, kita berangkatnya pakai naksi saja ya, Sayang, ya.”


“Mah, kok gitu? Mobil yang satunya ke mana?”


“Sudah dijual. Kami menjualnya karena tidak ada yang pakai juga kan kemarin, makanya kami jual.”


“Itu kan mobilnya Bang Mike. Kalian kok jualin barang tanpa bilang-bilang dulu. begini kan, jadi susah sendiri, Mah.” Liora tentu saja kesal.


“Sudahlah, nanti kita bahas. Nanti sore. Sekarang kamu berangkat dulu, takut telat.”


Mely akhirnya berhasil membuat perhatian Liora teralihkan. Mereka bergerak menuju taksi tersebut.


Terlihat jika Jona juga menatap dari balkon yang tak disadari oleh ketiga wanita itu. ia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


***

__ADS_1


Lehon berangkat sepuluh menit lebih cepat dari biasanya. Ia yang juga berpenampilan lebih rapi dan terlihat berbeda itu tentu saja menarik atensi semua orang.


Sila segera mendekat sambil merapikan kemeja dan dasi putranya itu. ia tersenyum tipis yang entah apa sebabnya.


Roy juga ikut bergabung, pun memberikan senyuman yang sama, penuh arti.


“Mau ke mana pagi-pagi begini? Sepuluh menit lagi loh, kamu malah terburu-buru. Bahkan berangkat setengah jam lagi juga kamu tidak akan telat.” Sang Ayah memberikan sedikit komentar.


“Aku mau melakukan briefing di kantor nanti. Aku yang akan memimpin. Ada anak baru pula. Jadi, tidak adalah salahnya kalau datang lebih awal dari biasanya,” jelas Lehon yang tentu saja bersikap santai.


“Model rambut baru, minyak wanginya juga lebih soft, pakaian kerja yang nyentrik. Wih, anak papi memang ganteng, ya, Mi?” Roy meledek putranya yang membuat Lehon merasa aneh sendiri.


“Ya tentu saja, dong. Anak mami juga.” Sila malah ikut-ikutan.


Lehon yang sudah merasa tidak selamat, pun segera berpamitan dan berlalu dari sana.


Sesungguhnya, ia juga merasa aneh dengan perlakuannya sejak pagi. Ia yang biasanya lebih sering dibangunkan oleh ayah dan ibunya secara bergantian, kini bahkan bangun sendiri tanpa alarm.


Ia juga memilih pakaian sendiri, juga mencukur kumis yang padahal masih belum begitu panjang. Ah, entahlah, namun ia senang dan malah memuji diri sendiri sekarang.


“Selamat pagi, Pak.” Sapaan dari banyak orang yang segera ia balas dengan senyuman.


“Pagi juga.” Tak seorang pun ia lewatkan tanpa senyuman.


“Semua aman,” gumamnya lalu memulai aktivitas dengan membuat pesanan kopi terlebih dahulu kemudian membuka laptopnya.


“Selamat pagi, Pak. Ini kopinya,” ujar sang asisten yang masuk dengan membawakan satu cup kopi pahit.


“Kamu juga pakai warna yang sama dengan saya? Hahaha ...” Lehon terlihat senang sebab memakai pakaian yang senada dengan gadis itu.


Maria terlihat ikut tersenyum. Ia bahkan merasakan getaran di dadanya dan menjadi salah tingkah.


“Oh iya, Pak. Dua anak barunya sudah datang, ya.”


“Oh. Baguslah. Tepat waktu juga rupanya mereka.” Lehon menerima laporan itu. “Okey. Bawa mereka ke ruangan kamu. Lima menit lagi saya datang.”


“Baik, Pak.”


Maria berjalan santai menuju ruangannya yang sebenarnya sudah ada sepasang anak baru yang salah satunya adalah Liora. Ia terlihat mencoba santai, sangat santai walau merasakan ketakutan yang teramat sekarang.

__ADS_1


“Kalian masih single?” tanya Liora sekarang.


“Iya, Bu,” jawab keduanya santai.


“Okey, sebelumnya saya mau tau nama kalian. Biar tau manggilnya gimana. Soalnya kalian ini bisa masuk ke sini kan pakai orang dalam, jadi saya belum kenal sama sekali.” Maria terlihat ramah membuat Liora senang.


“Saya Reza Darmawangsa. Umur 24 tahun tepat di hari ini, Bu.”


“Wah, kebetulan yang sangat bagus, ya. saya ucapkan selamat ulang tahun. Kalau tidak salah, nanti pasti akan ada perayaan, tapi tau pasti. Jangan terlalu berharap dulu, Za.” Maria menyahut.


Liora tampak tersenyum ke arah Reza yang segera menyihir tatapan pria itu. ia seolah terhipnotis dengan senyuman manis Liora.


“Oh iya, giliran kamu ...” Maria memberi kesempatan juga untuk Liora.


“Liora Rainy. Umur 24 tahun, belum menikah ta-“


“Selamat pagi!” sapa Lehon yang sudah datang dan segera memotong pembicaraan Liora.


Liora segera menatap lurus ke arah Lehon yang berhasil membuat pandangan mereka saling bertemu. Kening keduanya juga mengerut dan larut dalam pandangan itu selama beberapa saat.


Liora segera menundukkan kepala yang berhasil membuat Lehon melakukan hal yang tak jauh berbeda. Ia memalingkan pandangannya.


“Siapa namanya? Liora dan siapa tadi?”


“Reza, Pak!” sahut Reza dengan lantang.


“Bapak kok bisa tau?” tanya Maria kepo.


“Ya taulah. Kan barusan dia ngomong. Saya masih punya telinga. Masih berfungsi dengan baik. Gimana sih kamu ini.” Lehon menjadi berubah sangat agresif.


Satu jam kemudian, acara pun selesai. Lehon memberi perintah agar Liora segera ke ruangannya.


Sebagai seorang wakil direktur, hal yang wajar untuk memberi perintah sehingga tidak menjadi bahan perbincangan bagi semua karyawan. Berbeda dengan Liora yang merasa canggung dan cemas sekarang.


Ia sungguh tidak menyangka akan bertemu pria itu di sana. Sebab yang ia dengar, ia meneruskan perusahaan keluarganya yang dirintis oleh Sila.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Liora ketika sudah berada di ruangan pria itu.


“Kamu masih ingat saya?” Sebuah pertanyaan yang segera dilayangkan untuk wanita itu.

__ADS_1


Terlihat jika keduanya tak saling bicara setelah itu. keduanya larut dalam acara saling menatap itu. hanya deru napas masing-masing yang terdengar.


***


__ADS_2