Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Jahatnya Jona


__ADS_3

“Aku anterin kamu pulang, ya,” tawar Lehon ketika Liora kebingungan dengan langkah kepulangannya.


Ia yang memang diharuskan Maria membawakan banyak barang. Ia menggeleng sebagai tanda penolakan.


Namun, begitulah Lehon yang terus menyodorkan diri. Rasa tidak suka berubah menjadi sebuah kekesalan. Wanita itu segera mencampakkan semua barang yang ada di tangannya.


“Ini tuh berat banget. Bisa nggak sih, kamu nggak ganggu kayak gitu. Capek tau!”


“He-he. Namanya juga mau bantu. Yuk, kita pulang. Mending kamu ikut aku saja, ini sudah mau turun hujan sebentar lagi.”


Pasrah sebab tak ingin menjadi bahan tontonan orang lain, Liora hanya menurut. Walau ia sedikit merasa tidak diuntungkan dalam hal ini.


Sepanjang perjalanan mereka diam. Tak terasa ini sudah 10 menit. Lehon juga kebingungan harus memulai percakapan dari mana.


Secara tiba-tiba sebuah mobil di depan mereka mengerem mendadak, ya tentunya mereka juga. Hal itu membuat Liora yang tidak mengenakan sabuk pengaman hampir terluka.


“Ck! Kamu sih kenapa nggak pakai seat belt? Mau cari mati? Di sini nggak ada yang namanya mati ya, Bu. Adanya masa depan.”


Entahlah ucapan itu sedang serius atau malah bercanda. Tapi yang jelas, Lehon segera meminggirkan mobilnya dan kali ini memasang langsung seat belt wanita yang masih terbengong itu.


“Sudah, gapapa. Kita aman, kok.” Pria itu berusaha menenangkan.


Liora yang sadar jika wajah mereka sangat dekat sekarang, pun segera mendorong tubuh Lehon.


“Sssh ... jangan cari-cari kesempatan ya kamu!”


“Hah?” Bingung.


Singkatnya, mereka sudah tiba di rumah sekarang. Keduanya sibuk mengeluarkan barang-barang bawaan Liora.


Namun, wanita itu tak segera masuk ke dalam rumah yang membuat Lehon juga diam dan menunggu dengan sabar di sana.


Perlahan tapi pasti, langkah wanita itu bergerak mendekati area rumah yang memang tidak mendapat pencahayaan lampu.


“Mah, ngapain di sini? Mamah, ‘kan?” Mendekat dan suara tangisan itu terdengar jelas sekarang.


Mely tengah meringkuk menahan dingin di luar. Wanita itu juga segera memeluk putrinya dan menangis sejadi-jadinya.


“Papah kamu, Nak. Dia selingkuh. Dia selingkuh ...” Tangisan itu menjadi sangat sedih sekarang.


Lehon segera sigap tatkala Mely akan tumbang. Ia menangkup tubuh itu dan membantu masuk ke dalam rumah.


“Em ... terima kasih dua kali untuk bantuannya. Tapi sebaiknya Anda pulang saja sekarang. Saya bisa mengatasi ini semua, kok.”

__ADS_1


Lehon sebenarnya cukup kecewa sebab dirinya diusir secara halus. Namun, mau tidak mau ia harus melakukannya demi kenyamanan bersama.


Tatkala langkah kakinya baru memasuki pintu, terlihat Jona yang datang bersama seorang wanita di sampingnya. Pria itu malah marah-marah dan membentak seluruh isi rumah sekarang.


“Kalian semua nggak pernah kasih aku kebahagiaan. Bagaimana bisa aku menahannya sendirian? Mely, jadi maumu apa sekarang? Cerai? Ok!”


Segampang itu? Ya, kenyataannya memang segampang itu Jona berucap.


“Pah, ada apa ini? Dan kenapa Tante Yohana juga dibawa pulang?” Liora mendekat menarik tangan ayahnya.


“Kamu juga sama. Nggak guna! Hamil di luar nikah, entah apa yang harus aku banggakan.”


“Iya tuh, Mas. Mending kita pergi saja dari sini. Nggak usah berlama-lama di sini. Keluarga kamu nggak ada-“ Ucapan Yohana terpotong tatkala Liora mendorong wanita itu.


“Kamu nggak ada hak untuk-“ Ucapan wanita itu yang juga terpotong sekarang.


Plakk! Tamparan keras mendarat di wajahnya. Lehon yang menyaksikan itu semua sungguh tak habis pikir.


Ia berlari untuk mendekat. namun, ia malah segera mendekap anak yang ternyata Rainy. Anak kecil itu menangis sesenggukan. Mungkin tidurnya telah terganggu karena keributan yang teramat jelas di lantai satu.


“Mah, yuk!” Liora menarik tangan ibunya sekencang mungkin.


Beruntung sekali, wanita itu menurut saja sekarang. Mereka masuk ke mobil Lehon dan tak bicara terlalu banyak sepanjang perjalanan.


“Jadi, kita mau ke mana ini?” tanya Lehon.


Nyatanya ia telah menangis dalam diam sejak tadi.


***


Alya melakukan panggilan video dengan kekasihnya, Mike. Lagi-lagi gadis itu memberikan alasan yang sedikit menyelekit untuk dapat meminta asupan dari pria itu.


Sesungguhnya, Mike sudah menanggung curiga. Namun, ia tetap menahannya.


“Bang, sebenarnya gajimu berapa, sih? Kalau aku minta segini terus, memangnya abang masih bisa biayain hidup abang di sana?”


Mike segera kepikiran akan niat buruk gadis ini. Mungkinkah Alya ingin menghabiskan semua uangnya agar menghambat keinginannya pulang? Ah tidak, untuk apa dia melakukan hal itu?


“Bang, kok diam saja? Ini aku Alya, pacarmu ...”


Mike kemudian menyantap makanannya lagi walau tak begitu berselera. Sesungguhnya, ia ingin segera mengakhiri panggilan itu dan bicara pada keluarganya. Namun, Alya tetap menahannya.


“Temani aku, Bang. Setidaknya sampai ketiduran,” katanya merebahkan tubuh di kasur.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu membuat Alya tampak panik. Ia buru-buru mengubah panggilan itu menjadi hening, namun tidak mematikanya sama sekali.


“Kakak sudah makan?” tanya seorang pria yang ternyata adalah Reza.


“Sudah. Kenapa memang?”


“Ada paket tuh. Katanya sih dari gebetan Kakak. Gimana, aku kasih izin dia masuk?” tanya Reza yang sebenarnya sudah sangat biasa dengan kelakuan gadis ini.


“Gebetan yang mana?” Dan seperti pertanyaannya, terlalu banyak pria yang mendekatinya dan diberi lampu hijau.


“Kak, cepat kasih jawaban. Aku ngantuk loh, entar aku usir dia tuh.”


“Bilang saja sudah tidur. Kecapekan. Jangan lupa mintain tuh makanannya, masukin ke dalam kulkas. Lumayan buat sarapan kamu besok.”


“McD loh, Kak?”


“Hm. Ambil saja.”


Setelahnya, Alya tak tau lagi apa yang terjadi setelahnya. Yang pasti, ia segera kembali ke posisinya.


Mike yang adalah tipe pria baik hati, pun percaya-percaya saja dengan alasan yang diberikan gadis itu.


“Nggak sengaja tadi, Bang. Kepencet tombol diamnya. Sudah selesai makannya?”


***


Riko bersikap acuh tak acuh, bahkan tidak begitu peduli dengan kehadiran kedua orang tuanya sekarang. Ia yang memang sudah punya segalanya tak begitu membutuhkan mereka.


“Aku bisa kok bayarin orang buat jagain Yana,” katanya.


Sila yang merasa putranya tak juga berubah, pun menarik pria itu ke luar dari sana.


“Kamu jangan keras kepala begitu, Riko! Kamu lebih percaya orang lain daripada kita orang tua kamu?”


“Iya. Aku memang lebih percaya sama orang lain. Gimana?” Pria itu bahkan tak menunjukkan penyesalan di wajahnya.


Sila tak habis pikir dibuatnya. Hampir saja ia menampar pria itu jika Roy tak segera menahannya.


“Sayang, jangan bertindak bodoh seperti itu. kita ikuti saja maunya Riko,” ujar pria itu dengan lembut.


“Mami sama Papi yang akan jagain Yana selama kamu nggak ada di sini. Kami sudah bicara langsung dengan orang tuanya nanti. Jangan sampai karena ini hubungan kalian terhalang,” putus Sila kemudian kembali masuk ke ruangan Yana dirawat.

__ADS_1


“Sepeduli itu?” gumam Riko tak habis pikir. Roy hanya menepuk pelan bahu pria itu tanpa memberikan jawaban.


***


__ADS_2