Terpaksa Menjadi Single Mom

Terpaksa Menjadi Single Mom
Kepergian Liora


__ADS_3

"Anak kami sudah tidak di sini lagi." Jona berucap dengan nada yang sangat datar.


Hal itu membuat Roy sadar jika kesalahan putra mereka memang sudahlah sangat besar.


"Kami datang ke sini mau meminta maaf dengan setulus-tulusnya. Semoga apa yang dilakukan oleh anak kami tidak membekas di hati putri kalian dan tidak menjadi trauma mendalam," ujar pria itu dengan nada tulus.


Kening Mely tampak mengerut sekarang. Ia seolah baru menyadari satu hal. Mungkinkah hal besar yang membuat putrinya segera setuju untuk ke luar negeri adalah perbuatan Riko?


"Dia apakan putri saya? Dia apakan?" teriak wanita itu menggila. Ia mendekat pada Sila yang tidak siap dan segera menjambak rambut wanita itu.


Tarikan kencang itu bahkan berhasil membuat sekumpulan rambut menjadi rontok dan terkumpul di tangannya sekarang. Sila menjadi semakin terpukul oleh perbuatan Riko.


Ia merendahkan dirinya sekarang, terduduk lemas di hadapan wanita itu.


"Saya tidak pernah mengajari anak saya berbuat seperti itu. Seperti yang telah dikatakan oleh suami saya, kedatangan kami adalah untuk meminta maaf dengan setulus-tulusnya."


Tetesan air mata itu segera membuat Jona iba dan menerima permintaan maaf itu. Berbeda dengan Mely yang pikirannya masih dipenuhi amarah. Ia masih tidak terima.


"Apa salah putri saya sampai anak kalian tega berbuat seperti itu? Dia adalah korban tapi dia yang harus pergi. Dia bahkan harus membesarkana naknya sendirian. Sialan!" ungkap Mely dengan nada getir.


Ia menjadi sangat lemas sekarang. Sila semakin tak kuasa. Ia berlari ke luar dari sana yang segera disusul oleh Roy.


"Sudah, kita pulang sekarang. Kamu jangan pikirkan sikap anak itu lagi. Semoga ini adalah ulah terakhirnya, sudah cukup."


Sila tampak senang sebab suaminya masih memperhatikannya seperti sedia kala. Roy bahkan tidak membeda-bedakan anak mereka sekarang.


***


Yona mulai menangis sekarang. Ayah dan ibunya terus mencerca sebab nilainya yang masih saja tidak meningkat, padahal menurut pengakuannya ia telah berusaha keras.


Sebagai sahabat, Lehon tentu saja ada sebagai penghibur. Ia tidak segan untuk menyediakan bahu sebagai sandaran gadis itu.


"Seperti yang kalian lihat, aku udah berjuang banyak, Hon. Selama ini, aku nggak pernah main-main. Yang aku lakukan belajar dan terus belajar." Air matanya semakin banjir.


"Iya, aku juga tau itu." Lehon menepuk bahu gadis itu hingga Yona benar-benar diam dan memilih terbengong dengan posisi yang sama.

__ADS_1


Sementara Lehon, ia mulai mencoret jurnalnya yang salah dengan pulpen. Entah apa yang akan ia gambar di sana. Pria itu memang sangat gemar melukis.


Yona memilih diam sebab merasa jika yang akan digambar oleh Lehon adalah mereka berdua dengan posisi yang sama seperti sekarang. Tunggu punya tunggu, ia masih tetap sabar hingga akhirnya hasilnya pun muncul.


Lukisan itu berakhir dengan hasil Lehon yang tengah memberikan bahunya untuk sandaran seorang gadis. Namun, bukan Yona. Hal itu membuatnya sangat terluka.


Dia yang berambut pendek, sementara yang ada dalam lukisan adalah gadis berambut panjang. Hal itu membuatnya merasa geram sendiri sekarang.


"Kamu lukisin siapa?" tanyanya.


Lehon tampak bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sekarang.


"Aku juga bingung. Nggak tau siapa."


"Demi apa nggak tau?" tanya Yona tampak curiga.


"Aku benar-benar nggak tau ini siapa, Yona ..." Pria itu segera bangkit dan menjauh. Ia tengah teringat dengan Liora—mantan kekasih saudara tirinya itu.


***


Riko merasa frustasi sebab tidak tau harus ke mana sekarang. Ia bahkan sangat gengsi jika harus meminta tolong pada keluarganya.


Sisa uang yang ia punya hanya sanggup memesan minuman di sana. Mungkin dengan begitu, ia bisa berpikir jernih dan mendapatkan jalan ke luar untuk masalahnya sekarang.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang tidak begitu tua lewat dari hadapannya. Wanita itu terlihat tengah membawa tas. Sebuah ide muncul di otaknya.


Ia dengan penampilannya yang tidak begitu buruk, pun memutuskan untuk melancarkan aksinya di sebuah butik. Sepertinya itu adalah pilihan yang paling tepat sekarang.


Melihat begitu banyak orang yang lalu lalng membeli pakaian membuatnya semakin bersemangat. Riko mulai memasang ancang-ancang agar bisa mendapatkan kesempatan baik untuk mencopet di sana.


Senyumannya mengambang tatkala seorang gadis yang berjalan sendirian baru ke luar dari sana. Gadis itu tampak berjalan menuju taksi online yang sepertinya sudah ia pesankan sebelumnya. Ia melancarkan aksinya sekarang.


"Lepaskan!" geram Riko sebab tas gadis itu malah dipegang sangat erat.


"Riko?" panggil Alya membuat lelaki itu begitu terkejut.

__ADS_1


"Ah, sial! Kenapa juga harus ketemu kamu di sini? Apes, apes ... orang susah malah ketemu orang miskin. Sial!"


Riko melepaskan mangsanya, bermaksud pergi dari sana yang segera ditahan oleh gadis itu.


"Yana akan segera sampai. Dia pasti bantuin kamu, secara kan kalian pernah pacaran. Yana juga masih sayang banget deh keknya sama kamu."


Riko tidak begitu tertarik dengan pernyataan itu. Ia malah ingin melanjutkan langkah kepergiannya yang segera dihentikan oleh suara Yana.


"Kamu kenapa, Ko? Kok kelihatan kucel dan lusuh banget." Gadis itu menyentuh tangan Riko yang segera membuat lelaki itu luluh.


Ia bahkan berhasil dibawa ke sebuah rumah makan kecil yang ada di tepian jalan. Sesungguhnya, pria itu benar-benar merasa jijik sekarang. Namun, ia juga terpaksa harus menurut sebab perutnya juga masih perlu diisi.


"Aku diusir," ujarnya memberitahukan masalah terberatnya sekarang.


"Makanya kamu tuh jangan kebanyakan buat masalah deh, Ko. Sesekali berbuat yang benar aja napa." Yana sewot.


Riko tidak peduli. Ia menunduk dan mulai mengikat tali sepatunya dengan Yana dan Alya sekarang. Setelahnya memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Aku udah ikat tali sepatu kita, jadi kalian berdua harus bayarin makanan ini. Bagi dua aja."


Alya dan Yana saling menatap. Riko yang selama ini dikenal sangat gengsian sekarang tampak berbeda. Pria itu bahkan merendahkan dirinya di depan kedua gadis yang padahal dikenal sangat sederhana dan kekurangan dalam hal finansial.


"Kalian tau ke mana Liora?"


Alya segera menggeleng cepat, memilih untuk sibuk dengan urusannya sendiri.


"Dapat uang dari mana kamu sebanyak ini? Bisa beli baju di butik lagi. Kamu maling, ya?" tanya pria itu menuduh.


"Kamu yang maling, jelas-jelas tadi mau niat copet aku, kan?" kesal Alya merasa geram.


"Oh, jangan-jangan kamu tidur sama om-om, ya? Kok kamu mau, sih? Gimana rasanya, enak?"


"Sialan!" umpat Alya segera menyiram wajah pria itu dengan air yang ada di hadapannya kemudian berlalu dari sana dengan meninggalkan sebelah sepatunya.


"Kamu tinggal samaku aja dulu selama beberapa waktu," usul Yana membuat lelaki itu kegirangan.

__ADS_1


'Sudah kuduga,' batin Riko kesenangan.


***


__ADS_2