
Hujan mulai membasahi jalanan kota, ditambah suasana begitu sepi saat ia pulang dari mengajar.
Bagi orang-orang hujan adalah hal yang menyenangkan bagi setiap orang, berbeda dengannya yang selalu menganggap hujan itu adalah hal pembawa petaka.
Ia hanya bisa menunggu hujan reda karena tak memungkinkan dirinya berlari menuju kosan yang terletak cukup jauh dari sekolah.
"Air, kau belum pulang?"
Ya, namanya Khaira Almahusni. gadis berusia 20 tahun yang bekerja sebagai guru BK di sebuah sekolah. "Masih hujan, takutnya basah kuyup ke kosan," kekeh Air jujur yang membuat guru olahraga itu mengangguk pelan. pria itu lalu duduk di sebelah Air karena ingin menunggu angkot.
Air menghela nafas panjang sambil melirik Arlojinya yang ada di tangan kanannya, hari sudah menunjukkan pukul empat sore yang membuatnya kesal karena ingin melanjutkan membuat kue pesanan orang-orang untuk 3 hari lagi.
"Pak, saya duluan ya. ada irisan di kosan,"
"Baiklah, hati-hati di jalan!"
Air mengangguk dan bergegas meninggalkan halte karena ingin cepat-cepat sampai di kosan.
"Argh! Hentikan!"
Deg!
Air menoleh ke hutan yang ada di sebelahnya, wanita itu ingin pergi tapi entah kenapa ia begitu penasaran sekali. dengan langkah hati-hati, wanita itu mendekati asal suara teriakan kesakitan tersebut.
Matanya membulat saat melihat seorang pria dengan kejamnya, membu/nuh seorang wanita tanpa rasa ia sedikitpun. Air sontak menutup mulutnya mengunakan kedua telapak tangannya karena hampir saja berteriak karena kaget.
Krek!
Mampuz!
"Siapa disana?!"
Air langsung berbalik tapi tangannya langsung di cengkraman kuat, ia sontak menoleh pada pria yang wajahnya tak terlalu jelas ia lihat. "Kau melihatnya ternyata," smirk pria itu menarik tangan Air.
"Lepasin aku! kau jangan macam-macam!"
Brukh!
Air meringis saat pria itu mendorongnya kesebuah pohon. "Ja-Jangan sakiti aku!" tangis Air membuat pemuda itu tersenyum sinis lalu mencengkram kuat rahang wanita itu.
"Kau milikku, Khaira!"
Deg!
Srek!
Pria itu langsung saja merobek pakaian yang digunakan Air. "Hiks jangan!" tangis Air membuat pria itu tersenyum miring dan kembali melakukan aksinya. membuat Air pasrah saat pria itu mendorongnya ke tanah, ia mencoba memberontak tapi pria itu malah menamparnya begitu kuat. Air hanya bisa menangis saat pria itu mulai menyentuh tubuh p0losnya.
"Ja-Jangan hiks,"
"Berhentilah menangis, Baby! nikmati saja,"
***
__ADS_1
Air menggosok tubuhnya secara kasar, wanita itu benar-benar begitu jijik dengan tubuhnya yang sudah di sentuh oleh pria yang sama sekali tak ia kenal. Ia menatap lehernya yang penuh dengan bercak kemerahan, membuatnya benar-benar hancur.
Kehormatan yang selama ini ia jaga malah direbut paksa oleh pria semalam. saat ia sadar, ia menemukan tubuhnya terbaring di sebuah sofa lusuh dan dirinya sudah memakai baju kebesaran entah punya siapa. Ia langsung saja pergi meninggalkan gedung itu tanpa menghiraukan sakit yang dideritanya.
Setelah tubuhnya kedinginan, Air menghentikan aktivitas nya dan langsung mengeringkan tubuhnya mengunakan handuk.
Ia hanya bisa menyesal. percuma ia menangis, karena tak mungkin kehormatan nya kembali lagi seperti dulu. Air hanya bisa pasrah dengan apa yang menimpanya saat ini, ia merasa tak pantas memiliki kebahagian sedari kecil.
Disisi lain, seorang pemuda masuki gedung dan tak menemukan wanita yang semalam ia tiduri. ia tersenyum miring saat melihat bercak keran di sebuah kain yang tempat alas saat mereka melakukannya di hutan kemarin.
"Tuan Muda, ada yang saya bantu?"
Pemuda itu menoleh pada pria berpakaian serba hitam. "Cari dimana wanita yang saya bawa semalam, kau harus menemukan dimana dia mengajar ataupun tempat tinggalnya," suruh nya membuat pria itu terdiam beberapa saat.
"Tuan, wanita yang Tuan bawa semalam adalah guru di sekolah Anda sendiri dan soal tempat tinggal, saya sering melihat wanita itu memasuki gang tempat biasa orang-orang kosan," ungkap nya jujur, membuat pemuda yang dihadapannya tersenyum senang.
"Baguslah, sekarang kau pergi!"
"Baik, Tuan Muda!"
"Saya tak menyangka kalau dia adalah guru di sekolahku," kekeh nya tersenyum penuh kemenangan karena mendapatkan targetnya.
Tok!
Tok!
"Masuklah!"
Tiba-tiba seorang pria masuk yang membuat nya menoleh. "Gimana? kau sudah membu/nuh orang itu, Badai?" tanya pria itu penasaran.
Badai lalu memastikannya dan benar saja banyak sekali uang di dalamnya. "Terimakasih atas pembayarannya, kalau Tuan membutuhkan saya. telpon saja," kekeh Badai sehingga pria itu mengangguk pelan.
"Saya permisi dulu, saya tak bisa berlama-lama disini,"
Badai hanya mengangguk lalu melihat orang itu pergi, ia lalu mengambil jaket dan bergegas untuk pulang ke rumahnya. walau sebenarnya ia enggan buat pulang tapi apalah daya.
*
Badai menghela nafas kasar saat sampai di sebuah masion mewah. Ia lalu melangkah kaki menuju masion tersebut, belum sempat ia masuk. sebuah koper besar terlempar kearahnya sehingga Badai menoleh pada Mama tirinya yang sudah membu/nuh papanya.
"Kau sekarang gak boleh tinggal disini dan semua harta papa kamu adalah milik putri saya," tekan wanita itu sehingga Badai menoleh pada wanita yang merupakan saudara tirinya.
"Terus, Badai bakalan tinggal dimana?"
"Ma, kasih saja apartemen yang hampir roboh itu padanya," kekeh wanita itu membuat Badai menahan marahnya. "Jangan sayang, biarkan saja dia tinggal dijalanan. lagian, gak ada yang peduli sama dia," kekeh wanita itu sedangkan Badai hanya diam, walau di diusir di tetap memiliki banyak perusahaan berkembang sekaligus berbagai cabang hotel dengan usahanya sendiri.
"Berikan kunci motor kamu itu," pinta wanita itu merebut kunci motor milik Badai. "Sana pergi!".
Badai mengambil kopernya lalu pergi dari sana yang membuat wanita-wanita itu tertawa melihatnya di usir dari rumah sendiri. Badai mengeluarkan ponselnya untuk menelpon sopirnya buat menjemputnya disini.
"Jemput saya!"
Setelah mengatakan itu, Badai langsung mematikan ponselnya untuk menunggu bawahannya.
__ADS_1
Tak lama, sebuah mobil hitam mewah berhenti di hadapannya sehingga ia langsung memasuki mobil itu dengan perasaan kesal. "Antarkan saya ke apartemen yang dekat dengan sekolah," suruh Badai sehingga pria itu mengangguk dan bergegas pergi.
***
Keesokan paginya, Badai keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki sekolahnya. Ia hanya diam saat melihat wanita yang memenuhi pikirannya sejak kejadian tempo hari, Badai mengepalkan tangannya saat seorang pria berpakaian guru mendekati wanita incarannya.
"Cie, udah miskin sekarang ya!"
Badai menoleh pada Salsa, wanita populer di sekolah sekaligus saudara tirinya itu. "Pria populer di sekolah ini ternyata udah miskin toh," tawa sahabat Salsa sedangkan Badai hanya menatap dingin.
"Gue gak papa miskin, dari pada lo yang ngambil semua harta gue dan gak punya harga diri!" tekan Badai yang membuat Salsa bungkam menahan marahnya. "Lo ambil saja semua harta bokap gue dan lo harus ingat, harta bokap gue itu masih debu bagi gue," sinis Badai lagi lalu pergi dari sana, membuat wajah Salsa memerah menahan marah.
Badai lalu menarik tangan Air yang membuat wanita itu menoleh padanya. "Badai, kenapa tarik saya?" tanya Air sehingga Badai menyudutkan Air, sehingga wanita itu bungkam.
"Ayo menikah!"
Deg!
"Ap-Apa yang kau bicarakan, Badai? kau itu siswa saya," kekeh Air berusaha melepaskan cengkraman kuat dari Badai. "Apa salahnya saya siswa Anda? Kita beda dua tahun dan ..., emangnya ada pria yang mau menerima wanita yang sudah tak pera/wan?" bisik Badai membuat Air menoleh.
"Ka-Kau,"
Badai tersenyum. "Kita bertemu lagi, Khaira," senyum Badai sambil mencium sekilas bibir Aira.
Plak!
Pemuda itu memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan kuat dari wanita yang ada dihadapannya. Ia lalu mengusap bibirnya yang berdarah akibat tamparan keras oleh Air.
"Kau benar-benar brengs*k, Badai!"
"Saya memang pria brengs*k, Cantik! saya ingin kau menikah dengan saya," senyum Badai mencengkram kuat leher Air, membuat wanita itu sesak akibat kekurangan oksigen.
"Sa-Saya tak mau menikah dengan kau!"
Badai tersenyum lalu menatap tajam pada guru itu. "Mau tewas seperti wanita waktu itu?" tanya Badai makin memperkuat cengkraman nya yang membuat wajah Aira memerah. Badai tak memperdulikan tangannya yang terluka akibat cakaran Air.
"Lep-Lepaskan, Sa-Saya!"
"Turuti permintaan saya,"
"Ba-Baiklah,"
Brukh!
Air terduduk karena begitu lemas karena kekurangan oksigen, ia tak menyangka kalau orang yang merusaknya adalah muridnya sendiri, murid pembu/nuh. "Jangan berani mendekati pria lain atau mereka yang saya habisi," bisik Badai berjongkok di hadapan Air yang hanya bisa menangis.
Ia tak menyangka akan terperangkap ke jebakan Badai, ia menyesal mendekati hutan itu untuk melihat teriakan kesakitan itu. Ia benar-benar menyesal!.
"Buk Khaira, Ibuk kenapa?"
Air menoleh dan tidak menemukan Badai yang ada di hadapannya. "Ibuk kenapa nangis?" tanya beberapa siswi membuat Air menggeleng lalu beranjak berdiri. "Saya permisi dulu," senyum Air lalu pergi sehingga beberapa siswi bingung.
Disisi lain, Badai hanya tersenyum miring di balik tembok menatap kepergian Air, ia lalu beranjak pergi dari sana untuk menuju kelasnya.
__ADS_1
Bersambung...