
Badai meletakkan tasnya ke atas meja sehingga beberapa cewe langsung mendekati Badai seperti biasa. Salsa yang menyadarinya begitu kesal, ia ingin semuanya membenci saudara tirinya itu. Ia ingin sekali membuat Badai menderita sepertinya dulu.
"Kalian semua mau saja mendekati pria miskin itu?"
Semuanya menoleh pada Salsa. "Gue memang miskin tapi bukan orang kaya yang hanya mengambil harta orang, semua harta yang lo miliki itu adalah milik gue dan tenang saja, ada orang yang akan datang buat nagih hutang Papa gue. bisa jadi, kalian berdua bakalan hidup di jalanan," sinis Badai yang membuat beberapa siswi yang ada di dekat Badai tertawa mengejek kearah Salsa. "Harga diri kau sangatlah rendah dari seorang jala/ng,".
Badai tersenyum puas karena bisa mempermalukan saudara tak tau malu tersebut, karena semuanya menertawakan dirinya, Salsa langsung menuju bangkunya dengan perasaan kesal.
Tak lama, semuanya langsung menuju bangku masing-masing saat guru masuk. Badai tersenyum saat menyadari siapa yang akan mengajar yang membuatnya bersemangat. tatapannya terhenti saat melihat guru yang juga masuk.
"Selamat pagi anak-anak, Bapak bawa Buk Khaira sebagai pembimbing pembelajaran ini. kalian harus tertib karena sikap kalian bisa memperburuk nilai kalian," jelas Pak Zul membuat semuanya menganggukkan kepalanya. Air tak sengaja menoleh pada Badai yang menatap tajam kearah nya, sehingga wanita itu langsung duduk sambil mengotak-atik laptopnya.
Selama pelajaran, Badai hanya tidur-tiduran karena bosan melihat pasangan di depan kelas. "Badai, jangan tidur!" peringat Air sehingga Badai menoleh. "Bosan," ketus Badai kembali melanjutkan tidurnya sehingga Pak Zul mendekat.
"Badai, bangun atau kau keluar?!"
Badai menegakkan kepalanya lalu menatap sinis pada Pak Zul. "Alah! Bapak gak usah caper sama Buk Khaira, gak bakalan mempan tuh!" sinis Badai dingin yang membuat guru di hadapannya menahan marah. "Badai, Java ucapan kamu itu! saya menyuruh kamu memerhatikan pelajaran saya!" bentak Pak Zul membuat Badai menatap tajam.
Pemuda berseragam sekolah itu hanya bisa menahan marah saat ini, ia tak mungkin langsung melenyapkan guru yang ada di hadapannya ini. Pak Zul lalu ke depan kembali dan mengajarkan pembelajaran tentang Kimia yang dibantu oleh Air.
Badai lalu menemukan ide buat melenyapkan pria itu tanpa mengotori tangannya mengunakan darah. 'lihat saja pembalasan gue, Zulkifli!' batin Badai tersenyum miring.
Tak lama, pembelajaran membosankan pun beres sehingga semua murid langsung berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin. Badai lalu mendekati Air membuat guru itu takut. "Kamu akan melihat bagaimana pria itu tewas di tanganku," senyum Badai lalu pergi yang membuat Air kaget.
Wanita itu bergegas membereskan buku-bukunya dan mengejar Badai. "Badai, hentikan!" pinta Air sehingga Badai tersenyum tipis lalu menarik tangan Air untuk mengikutinya ke rooftop. "Badai, kau ngapain tarik saya!" kesal Air menarik tangannya sehingga Badai mencengkram kuat tangan Air.
Bug!
Air meringis saat Badai mendorongnya ke dinding rooftop. "Saya sangat menyukai tubuhmu, Sayang," senyum Badai mencium sekilas pipi Air. "Jangan macam-macam lagi, Badai! saya tak sudi kau sentuh!"
__ADS_1
Plak!
Air meringis kesakitan akibat tamparan kuat dari Badai. "Jangan meninggikan suara kamu kalau mengobrol dengan ku," jelas Badai mengusap pipi bekas tamparannya tadi. Badai mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Pak Zul supaya menemuinya ke rooftop.
setelah pesan terbaca, Badai langsung menghapusnya supaya tak di curigai orang-orang. "Jangan membu/nuh orang lagi, Badai," pinta Air terisak sehingga pemuda itu tersenyum sambil mengusap dagu wanita yang ada di hadapannya itu. "Saya akan melenyapkan pria yang mendekati mu," jelas Badai mengecup bibir Air lagi.
Wanita itu ingin memberontak tapi tubuhnya benar-benar di kunci oleh Badai, sehingga ia pasrah daripada dilenyapkan oleh Badai yang terkenal kejam. Badai lalu menatap wajah Wanita yang ada dihadapannya itu sudah memerah, membuatnya tersenyum.
"Bersikap manis lah, maka saya tak akan menyakitimu," senyum Badai kembali melakukan aksinya lagi, sama seperti tempo hari yang membuat Air menangis karena menyesal kembali bertemu dengan Badai, orang yang sangat ia benci.
"BADAI, HENTIKAN!"
Badai menoleh lalu tersenyum miring, sedangkan Pak Zul benar-benar kaget melihat kondisi Air yang acak-acakan karena ulah Badai. Wanita itu hanya menurut saat Badai membuka bajunya. "Why? Bapak cemburu? menyedihkan sekali," sinis Badai lalu mencium pipi Air. Badai lalu beranjak berdiri lalu mendekati pria muda yang mungkin, lebih tua beberapa tahun dari Air.
"Kau benar-benar tak tau sopan santun, Badai! dia guru kamu dan jangan mele/cehkan dia!"
"Saya tak peduli dia guru atau bukan, yang terpenting dia adalah milik saya dan kau ..., harus mati dulu," smirk Badai langsung menendang guru itu kuat sehingga Pak Zul terhuyung kebelakang.
Badai hanya tersenyum miring lalu melihat tepi balkon yang ada di belakang guru itu. "Kau akan tewas hari ini, selamat jalan!"
Dugh!
Guru itu langsung jatuh dari lantai tiga, Badai tersenyum puas saat melihat pria yang ia lenyapkan terbaring dengan kepala pecah. Ia lalu menjauh karena tak ingin di curigai oleh orang-orang. "Ayo kita lanjutkan, Baby," senyum Badai menarik tangan Air.
"Ja-Jangan, saya mohon jangan!" isak Air menggeleng sambil menutupi dadanya yang sudah terbuka akibat ulah Badai tadi. "Jangan membuat mood saya hancur saat mendengar suara tangisan kau itu!" bentak Badai yang membuat Air takut.
*
Air membuka matanya dan mendapati dirinya dipeluk oleh Badai yang sudah tertidur pulas, ia benar-benar merasa kesakitan di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Ia berusaha menghindarkan lengan Badai tapi pria itu malah mempererat pelukannya, membuat Air kesal. "Badai lepaskan!" pinta Air sehingga Badai membuka matanya. "Saya masih ngantuk, jangan ganggu saya," kesal Badai sambil menyembunyikan wajahnya di dada Air yang tak berbalut apapun itu.
Tiba-tiba, Air mendengar suara sirine polisi yang membuatnya kaget. "Badai, ada suara polisi!" panik Air sehingga Badai melepaskan pelukannya, membuat Air langsung memakai semua pakaiannya begitu juga dengan Badai.
Pemuda itu benar-benar kesal karena ada saja yang menganggu tidur nyenyaknya.
Keduanya lalu berjalan meninggalkan rooftop sebelum ada polisi yang mendatangi Rooftop, bisa-bisa mereka yang terkena masalah.
Air tampak kaget melihat kondisi mayat Pak Zul yang terkapar di halaman, kepala pria itu pecah dengan darah yang begitu banyak sekali, membuatnya ngeri.
***
Badai hanya menatap santai kearah beberapa petugas yang memeriksa TKP di rooftop maupun mengintrogasi beberapa guru, ia hanya tersenyum miring dan melihat beberapa polisi yang membicarakan kalau kematian Pak Zul murni bunvh diri.
"Lo ngapain senyum-senyum gitu, Bro?"
Badai menoleh pada temannya yang mendekat. "Bukan apa-apa," ketus Badai dingin sehingga Ferdi bingung dengan temannya yang terlalu dingin sekaligus misterius tersebut.
Ia benar-benar sulit mengetahui siapa jati diri sahabatnya itu, ia ingin bertanya tapi ia yakin bakalan di tolak mentah-mentah oleh Badai.
"Gue yakin ada yang sengaja lakuin itu pada tuh guru,"
Badai dan Ferdi menoleh pada Johan yang menatap sinis pada Badai. "Maksud lo?" tanya Fredi penasaran yang membuat Johan tertawa.
"Gue tau siapa yang membu/nuh Pak Zul,"
Badai menatap santai tanpa takut pada Johan yang lagi menatapnya tajam.
"Hei, kalian ngapain disini? silahkan pulang karena beberapa polisi masih menyelidiki kasus kematian ini,"
__ADS_1
Ketiganya lalu menuju kelas mereka untuk mengambil tas masing-masing.
Bersambung.....