
Badai menatap pohon mangga yang begitu lebat sekali, ia begitu tak suka memanjat pohon ditambah tak ada tingkat buat mengambil buah mangga tersebut. Ia menatap sekelilingnya dan tak menemukan satu orang pun untuk minta tolong.
"Gue harus panjat, demi calon anak gue," gumam Badai langsung menggulung lengan bajunya dan langsung memanjat pohon tersebut, Badai langsung saja mengambil 3 buah fan menjatuhkannya ke bawah.
Krek!
Gubrak!
"Astaga, bok/ong gua!" ringis Badai mengusap bokongnya yang mencium tanah, ia juga kesal karena tak sengaja menginjak dahan kecil yang membuatnya jatuh.
Ia ingin mengumpat semuanya tapi ia harus sabar, karena mengingat ini adalah permintaan Bumil meresahkan tersebut.
Dengan hati-hati, pemuda itu beranjak berdiri walau bok/ong nya masih sakit akibat terjatuh tadi. ia lalu mengambil tiga tangkai mangga tersebut dan langsung mencari pohon kedondong.
Saat pohon tersebut ketemu, pemuda itu hanya menelan saliva dengan susah payah melihat pohon tersebut sangatlah tinggi,
ia tak bisa memanjat pohon tersebut seperti ia memanjat pohon mangga tadi. bisa-bisa, ia bakalan tinggal nama kalau sudah jatuh dari atas sana. Ia lalu mengambil kayu dan melempar kearah buah tersebut supaya jatuh.
Dugh!
"Aduh!" pekik Badai saat buah-buah yang jatuh itu mengenai kepalanya. "S i a l! gini amat perjuangan gue!" umpat Badai mengusap kepalanya yang ngilu akibat terkena kedondong.
Ia langsung mengambil semua buah kedondong dan bergegas ke masion, baru saja sampai di dapur. Badai mencium bau menyengat yang dibuat istrinya tersebut, bau pedas!
"Kamu buat apaan?" tanya Badai mengibaskan tangannya di dekat hidung karena gak tahan dengan bau tersebut.
"Bumbu rujaknya, mana buahnya? biar aku kupasan," senyum Air sehingga Badai menggeleng tak mau
"Biar aku saja, nanti kau terluka," ketus Badai lalu mengambil pisau untuk mengupas kulit buah itu. Air hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali melanjutkan membuat bahan rujaknya nanti, sesekali ia mencicipi buatan nya itu.
"Kurang pedas," gumam Air kembali menambahkan cabe rawit supaya lebih pas dengan seleranya, sedangkan Badai hanya ngeri melihat tumpukan sambal dengan bau menyengat tersebut.
Ia berharap sambal itu tak membuat calon anaknya kenapa-napa. kalau terjadi sesuatu terhadap anaknya, ia akan mengutuk hal-hal yang berbau rujak ini! camkan itu, huh!
"Yes, bumbunya udah siap!" senang Air sehingga Badai menoleh sekilas lalu kembali mengupas kulit kedondong tersebut.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Badai lalu meletakkan buah yang sudah di kupas itu keatas meja sehingga Air bergegas duduk.
Pemuda itu hanya bisa menatap horor pada Air yang begitu lahap memakan rujak tersebut, ditambah sekarang masih pagi buat menyantap rujak.
"Mau coba?"
"Ak-Aku mau ke kamar buat ke toilet," bohongnya sehingga Air memanyunkan bibirnya kesal.
"Yasudah, kalau anak kamu ileran. itu salah kamu!"
Deg!
Badai hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal untuk memikirkan cara terhindar dari rujak tersebut. Ia juga tak mau anaknya ileran, benar-benar menjijikkan sekali.
"Ba-Baiklah, aku bakalan makan dikit,"
Air tersenyum lalu menyuapi buah mangga pada Badai, membuat Badai ketakutan buat mengunyah makanan tersebut.
"Ayo!"
"Udah dulu ya, aku gak boleh makan rujak banyak-banyak nanti aku sakit, gimana?"
"Yasudah, di antar langsung saja ke rumah sakit biar cepat sembuh," balas Air dengan entengnya membuat Badai menghela nafas pasrah. 'Sabar, orang sabar di sayang janda,' batin Badai kesal.
'Eh, ralat! gue gak suka janda!'.
Badai lalu menoleh pada Air yang masih saja makan rujak tanpa merasakan apapun, entah terbuat dari apa perut wanita itu sampai bertahan memakan rujak pedas tersebut sepagi ini. Ia juga khawatir nasib anaknya yang lagi bersemayam di rahim istrinya itu.
Brak!
Gubrak!
Air langsung menoleh pada Badai yang jatuh bersamaan dengan kursi. "Ngapain jatuh?" tanya Air bingung melihat Badai yang meringis kesakitan.
"Ngapain sih, pakai acara pukul meja! buat aku jantungan saja!" kesal Badai berusaha bangkit sambil menarik kursinya supaya berdiri. "Soalnya semut ganggu aku terus," jelas Air dengan entengnya.
__ADS_1
"Apakah salahku," lirih Badai menahan kesal, ia benar-benar kena s i a l sejak tadi, jatuh dari pohon, kena timpuk oleh kedondong dan sekarang, ia hampir jantungan oleh istrinya itu.
Sabar?
Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang karena tak mungkin kasar terhadap istrinya yang sedang hamil anaknya. kalau tak hamil, sudah pasti ia puas membentak wanita itu tajam.
Setelah menghabiskan rujak tersebut, lagi-lagi Badai di suruh oleh Air untuk memijat tubuh wanita itu. Padahal, ia pengen sekali buat tidur karena capek sekali.
"Disini!"
Badai hanya menurut lalu memijat pundak Air secara lembut supaya wanita itu tak meringis kesakitan, bisa-bisa wanita itu menangis yang membuatnya kebingungan.
"Udah pas?"
"Belum, kebawah dikit lagi," pinta Air sehingga Badai memijat punggung Air sehingga wanita itu mengancungkan jempol padanya.
"Nanti aku boleh tidur?"
"Gak boleh, kamu harus buatin aku soup daging,"
"Aku capek sekali, cuman satu jam saja kok," pinta Badai memohon sehingga Air menggeleng tak mau. "Baiklah, nanti aku boleh tidur ya!".
"Iya," balas Air sehingga Badai senang.
'Emang enak aku kerjain,' batin Air menahan tawanya saat ini, ia benar-benar ingin membuat pria itu kelelahan melayani nya. masa ia terus yang harus capek melayaninya terus tiap malam, gak tiap malam juga sih,.
***
Sekarang, Air menyelimuti tubuh suaminya yang sudah terkapar di lantai karena kecapekan sekali. pemuda itu benar-benar mengemaskan sekali saat lelah seperti ini, tanpa tau kalau pria itu tidur di lantai ruang tamu karena saking capeknya.
Wanita tersebut lalu ikut berbaring di sebelah Badai dan memeluk pemuda itu erat, ia juga begitu mengantuk sekali sejak hamil saat ini.
Disisi lain, beberapa maid hanya tersenyum melihat pasangan tersebut tertidur di ruang tamu karena capek sekali.
Ditambah Badai yang selalu kena suruh oleh Air sejak tadi. disuruh memasak, mencuci, ngepel lantai dan gak lupa push up lima puluh kali. Bukannya protes, Tuan Muda mereka itu hanya pasrah di suruh-suruh oleh Air tanpa ada rasa marah sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung...