Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#12 Menikah Lagi


__ADS_3

Setelah membelikan bakso buat istrinya, ia pun langsung pulang dan melihat istrinya yang sudah duduk di ruang tamu dengan mangkok kosong di atas meja, ia tau kalau istrinya itu menginginkan bakso.


"Ini baksonya,"


Air menoleh dan langsung menerima bakso tersebut dengan senang, membuat Badai benar-benar gemes sekali. "Aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Badai yang ingin bilang tentang pernikahan keduanya pada sang istri.


"Apaan?"


"Aku akan menikah lagi,"


Deg!


Air menoleh pada Badai yang menunduk. "Ka-Kamu akan menikah lagi? kenapa?" tanya Air kaget membuat Badai menoleh. "Dengarkan aku dulu, ini permintaan Kakek aku dan kamu tenang saja, setelah aku menikah. aku akan membawa wanita itu kemari dan kita akan menyiksanya berdua, kamu mau?" tawar Badai membuat Air terdiam.


"Argh! kau jahat hiks!" tangis Air menarik kasar rambut Badai, membuat Badai meringis kesakitan sekali. "Ampun, jangan tarik rambutku!" rintih Badai kesakitan sekali. "Hiks kau berani-beraninya memberikan aku madu hiks, dan malah ingin berniat membawanya kesini hiks!" tangis Air sedangkan Badai langsung menahan kedua tangan wanita itu.


"Dengar, aku tak mencintainya! aku menerima pernikahan itu supaya Kakek aku senang dan setelah Kakek aku meninggal, aku akan membunuhnya,"


"Hiks kalau wanita itu jahat, gimana? aku lagi hamil," isak Air membuat Badai tersenyum.


"Aku akan selalu menjaga kamu dan calon anak kita," jelas Badai mengusap perut rata Air. "Sekarang makanlah bakso kamu,".


Air hanya mengangguk dan melihat Badai yang membuka bungkus bakso lalu menuangkannya ke dalam mangkok. 'Gue gak bakalan buat lo menangis lagi, pernikahan ini mungkin akan bertahan sementara,' batin Badai menatap istrinya yang asik makan bakso.


"Permisi, Tuan!"


Badai maupun Air menoleh dan melihat empat pria mendekati mereka. "Pasangkan cctv di setiap ruangan dan jangan sampai ada yang kelihatan," pinta Badai yang ingin memasang cctv supaya bisa memantau wanita yang akan menjadi istri barunya, ia tak ingin terjadi hal-hal aneh pada Air yang tengah mengandung.


"Baik, Tuan!"


Semuanya langsung bergegas mulai bekerja memasangkan cctv di setiap sudut ruangan.


"Kenapa kau pasang cctv?"


"Biar aku tau apa yang bakalan di rencanakan nya, aku takut saat aku ke kamar mandi, dia bersikap aneh-aneh sama kamu. aku takut kamu dan calon anakku kenapa-napa," ungkap Badai jujur lalu sedikit menunduk kearah perut Air dan langsung mencium perut istrinya.


"Baik-baik disana ya," kekeh Badai kembali mencium perut Air.


'Ternyata dia manja juga. tapi, kalau sudah marah bisa menakutkan sekali,' batin Air jujur.


Air lalu kembali menyantap baksonya tanpa menghiraukan Badai yang ber-bantal di pahanya sambil mengusap perut nya. ia juga tak bisa melarang pria itu karena takut bakalan dimarahi.


"Hei!" kesal Air saat Badai memasukkan kepalanya kedalam baju Air. "Diamlah! aku cuman pengen tidur di perutmu!" ungkap Badai langsung memeluk istrinya itu tanpa berniat mengeluarkan kepalanya dari dalam baju sang istri.

__ADS_1


4 jam kemudian, semua pekerja sudah selesai memasang cctv sedangkan Badai sekarang sudah asik menonton tv.


"Badai, Kakek datang!"


Deg!


Badai menoleh pada istrinya. "Maafin aku kalau aku pura-pura gak anggap kamu ya, kamu sabar dulu," jelas Badai sehingga Air mengangguk pelan. Ia lalu menoleh pada beberapa orang yang masuk dan termasuk seorang wanita muda yang membuat ia yakin kalau itu adalah calon istrinya Badai.


"Kakek, ngapain Kakek kesini?"


"Kami semua bakalan menginap disini karena acara pernikahannya akan dilaksakan hari ini juga,"


Badai yang mendengar itu kaget sekali. "Kenapa sekarang? Badai bukannya minta 2 hari lagi?" tanya Badai kesal. "Maaf kan kami, kami besok pagi harus berangkat ke luar negeri sehingga Erika ada yang jagain," jelas Papa nya Erika sopan yang membuat Badai bungkam.


"Wanita itu siapa, Badai? jangan bilang kalau wanita itu kekasih kamu?"


"Dia anaknya tirinya Papa," bohongnya sedangkan Air hanya tersenyum ramah pada Kakeknya Badai, walau hanya dibalas tatapan sinis oleh pria tua itu.


"Sebaiknya kamu usir dia dari sini dan Kakek takut kalau wanita itu akan merusak pernikahan kamu nanti," jelas Kakek sehingga Badai menggeleng. "Badai gak mau, Kek! dia sudah seperti Kakak kandung aku," jelas Badai tak terima kalau Air di usir dari masion ini.


"Permisi!"


semuanya menoleh pada pria berpakaian rapi. "Penghulunya sudah datang," jelas Kakek yang membuat Badai menoleh pada Air yang menunduk, wanita itu langsung menuju lantai atas yang membuat Badai takut kalau istrinya menangis. "Badai, ayo!".


Badai lalu mengangguk dan mengikuti orang-orang itu. 'Kau gak bakalan bertahan lama sama gue, Erika,' batin Badai menahan marahnya saat ini.


Ia lalu tersenyum sinis lalu mengusap perutnya. "Maafkan Mama kalau nanti kamu ikut membantu Mama ya, Mama juga minta maaf saat mengkambinghitamkan kamu nanti," jelas Air mengusap perutnya tersebut.


*


Malam harinya, Air menuruni tangga lalu menuju meja makan dan melihat semuanya tengah asik mengobrol kecuali Badai yang hanya diam, walau sudah di ajak bicara oleh Erika.


"Eh, ngapain kamu duduk disini? kamu itu bukan keluarga saya dan kamu hanya pendatang disini!" bentak Kakek sehingga Badai menoleh pada istrinya yang di bentak. "Kakek, bagaimanapun dia adalah Kakak aku dan dia tentu boleh ikut makan bersama," jelas Badai menarik tangan Air untuk duduk di sebelahnya.


Badai langsung mengambil sarapan buat Air dan tak lupa ayam goreng kesukaan istri tercintanya.


"Badai, aku juga mau ayam dong," pinta Erika yang juga duduk di samping Badai.


"Ambil sendiri, kau punya tangan!" ketus Badai lalu menuangkan beberapa sendok sayur ke piring Air. "Banyak-banyak makan sayur, biar sehat!".


"Badai, Etika itu istri kamu dan kamu harusnya memperlakukan nya dengan baik, buat apaan kamu manjain kakak tiri kamu itu," sinis Kakek dingin.


"Badai gak kenal sama Erika dan lebih baik, Badai menolong Kak Air," balas Badai dengan entengnya, membuat Erika benar-benar cemburu.

__ADS_1


"Kalau gak kenal, kamu bisa mengobrol dengannya!" sentak Kakek yang membuat Badai menahan marahnya saat ini.


Ia lalu mengambil ayam dan meletakkannya ke piring Erika dengan tindakan tak ikhlas, kalau Kakeknya pulang seperti orang tua Erika. sudah pasti ia bisa menyiksa Erika habis-habisan.


Badai lalu melanjutkan sarapannya sedangkan Air hanya diam karena takut di tatap tajam oleh Kakeknya Badai.


Setelah sarapan, "Bereskan semua piring-piring kotor ini dan sekalian Cuci," ketus Kakek sehingga Badai tak terima kalau istrinya di suruh cuci piring. "Erika, cuci semua piring ini!" suruh Badai pada Erika. "Kenapa kamu menyuruh Erika?" tanya Kakek bingung sekali.


"Lah? bukannya tugas istri itu beres-beres, yasudah Erika yang bereskan semuanya," balas Badai dengan entengnya.


"Badai, tapi aku gak mau dan malam ini bukannya malam pengantin kita?" kesal Erika.


"Tugas istri itu beres-beres rumah dan gak usah jadi ratu disini, gue gak suka wanita pemalas," ketus Badai lalu menyuruh Air buat istirahat. Erika mendengus kesal lalu membereskan semua piring tersebut sehingga Kakek dan Badai pergi dari dapur.


***


Air perlahan membuka matanya dan kaget melihat Badai yang tidur memeluknya saat ini.


"Good morning," sapa Badai membuka matanya sambil tersenyum.


"Kenapa kau disini? bukannya kamu harus tidur di kamar Erika?"


"Gak mau, mendingan tidur bareng kamu. semalam kamu gak bukain aku balkon sehingga aku pecahin deh," balas Badai yang semalam memasuki kamar Air melewati balkon kamar. "Kasih aku ciuman lagi seperti biasa,".


"Gak mau, sana mandi!"


"Aku gak bakalan mau, kalau gak dikasih ciuman pagiku," balas Badai kembali menarik selimut dan memeluk Air lagi.


"Badai! kau harus mandi pagi, sana!".


"Hiks gak mau!"


Eh?


Air menoleh pada Badai yang menangis di pelukannya saat ini. "Badai, kau menangis?" tanya Air hati-hati sehingga Badai menoleh dengan mata yang sudah basah akibat air mata.


"Hiks bukan! aku sedang bernyanyi!" tangis Badai membuat Air menyentuh kening Bagai yang tak panas.


Ia juga baru kali ini melihat Badai yang terkenal dingin mendadak jadi manja dan cengeng.


Apa ini efek dari kehamilanku yang pindah padanya?


Sepertinya iya!

__ADS_1


"Jangan menangis lagi," bujuk Air sehingga Badai mengusap air matanya. "Ciuman pagi aku," pinta Badai menunjuk kearah bibirnya sendiri. Air terpaksa mencium pria itu sebelum Badai kembali menangis karena di tolak. Sedangkan Badai tampak senang lalu membalas ciuman dari Air.


Bersambung...


__ADS_2