Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#21 Badai Marah


__ADS_3

Setelah memarnya diobati, Badai lalu memasuki kelasnya tanpa menghiraukan beberapa temannya yang takut padanya. Ia juga kembali melanjutkan belajarnya karena ingin lulus dengan nilai terbaik sehingga ia bisa melanjutkan kuliah di universitas pilihannya.


Soal Air, ia akan tetap membawa wanita itu keluar negeri dan mencari rumah yang dekat dengan tempat kuliah dan tak hanya itu, Badai akan membeli toko kue untuk sang istri supaya bisa berjualan daripada bosan.


Tak lama, jam istirahat pun berbunyi sehingga Badai langsung mengeluarkan botol yang berisi susu tersebut. "Calon Papa muda rajin banget bawa susu," ejek anggota Geng Badai membuat semua menahan tawa masing-masing begitu juga dengan guru yang mengajar.


"Biar calon anak gue sehat," ketus Badai lalu keluar kelas dan langkahnya terhenti saat seorang siswi menghadangnya. "Hai, boleh kenalan?" senyum wanita itu mengulurkan tangannya yang membuat Badai menatap dingin. "Bisa kasih gue jalan?" jelas Badai dengan dinginnya.


"Aku pengen kenalan sama kamu dulu," senyum wanita itu, yang belum tau siapa Badai sebenarnya karena kejadian tadi tak semua orang disekolah yang melihatnya.


Badai tak membalas lalu pergi menuju kelas sebelas yang diikuti oleh wanita itu, sedangkan Badai tak peduli sama sekali. tatapannya teralih pada sang istri yang masih mengajar sehingga ia terpaksa menunggu sang istri keluar dari kelas tersebut.


"Lo ngapain ikut sama gue?"


"Aku pokoknya ikuti kamu, sampai kita berkenalan," senyum wanita itu membuat Badai jijik sekali, ia lalu menoleh kearah beberapa adik kelasnya yang sudah beranjak keluar buat istirahat sehingga Badai mendekati Air yang membereskan buku-buku pelajarannya.


"Nih!"


Air menoleh pada suaminya yang menyodorkan susu buatnya. tapi, Air menoleh pada siswi yang juga mengikuti Badai. Badai yang tau tatapan istrinya pun langsung memeluk Air. "Mau ke kantin bersama aku? atau, aku peluk terus?" tawar Badai membuat Air menoleh lalu menggeleng.


Badai mengendong Air dan mendudukkannya di atas meja. "Sayang, kenapa cemberut?" tanya Badai membuat Air hanya diam, Badai paham kalau sikap istrinya itu kadang berubah-ubah ditambah ia begitu sensitif saat melihat dirinya bersama wanita lain.


"lo ngapain masih disini? gue udah bilang kalau gue gak mau berkenalan sama lo," sinis Badai tajam membuat wanita itu kesal lalu pergi dari kelas tersebut. "Sayang, aku mau ngomong sesuatu, boleh? harusnya aku ngomong ini dari awal kita nikah,".


"Apaan? kamu akan menikah lagi?" selidik Air dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan gitu, lima bulan lagi aku akan lulus sekolah dan aku ingin kuliah keluar negeri tapi...,"


"Aku pokoknya ikut dan gak mau ditinggalin," jelas Air langsung memeluk erat tubuh Badai, membuat Badai tertawa pelan. "Kamu bakalan ikut kok, aku juga bakalan sewa rumah di dekat kampus impian aku sehingga aku bisa pulang tiap hari dan aku juga beliin kamu toko kue, kamu mau?" tawar Badai melepaskan pelukan Air, sedangkan wanita itu mengangguk setuju. "Yasudah, ayo ke kantin!".


Air lalu turun dan mengikuti suaminya itu keluar kelas, sedangkan Badai membawa tas berserta buku-buku milik istrinya karena ia tak ingin istrinya kecapekan.


"Eh, lo! bawa semua ini ke ruangan istri gue!" pinta Badai pada Ferdi yang hendak ke kelas.


"Iya," pasrah Ferdi membawa semua barang-barang milik Buk Bos nya itu.


Air lalu mengikuti Badai menuju kantin, beberapa siswa yang di kantin tampak bingung melihat Badai berjalan bersama guru mereka, ditambah Air duduk dihadapan Badai. mungkin mereka semua belum tau hubungan Badai dengan guru BK yang terkenal manis dan cantik tersebut.


Ada juga beberapa siswa yang menyukai Air hanya bisa menahan iri terhadap Badai, yang bisa dekat dengan Air.


"Aku ke toilet bentar, kalau mau pesan makanan silahkan dan jangan pedas-pedas," jelas Badai beranjak berdiri dan bergegas pergi karena ingin buang air kecil sedangkan Air mengambil botol susu di dekat Badai dan meminumnya karena haus.

__ADS_1


Ia juga tak peduli saat orang-orang menatapnya penuh tanda tanya, karena berani meminum susu yang dibawa Badai tadi.


"Ibuk ada hubungan apaan dengan Badai sih? saya bisa saja bilang sama Papa saya buat memecat Ibuk jadi guru, karena Papa saya Kepsek disini!"


Air menoleh pada wanita yang bersama suaminya tadi. "Urusannya sama kamu apaan? kalau mau lapor, laporin saja!" sinis Air.


Byur!


Air menatap kearah bajunya yang basah akibat terkena tumpahan susu. membuat suasana makin panas karena tak bisa membayangkan kalau Badai sampai tau.


Plak!


"Kamu apakan dia, hah?" bentak seorang pria paruh baya yang menampar wanita bernama Sonia tersebut.


"Papa kenapa tampar Sonia? Sonia juga gak sengaja siram tuh guru, atau Papa suka sama nih guru yang memiliki hubungan dengan muridnya sendiri?" tuduh Sonia membuat kepsek itu mengusap wajah kasar, anaknya itu benar-benar keras kepala sejak kecil. Ia takut kalau anaknya membuat Badai marah yang bisa berakibat Fatal, ditambah putrinya sudah berani menyiram istrinya Badai. "Kenapa Papa diam? tebakan aku benarkan?".


"DIAM SONIA?! YANG KAMU HADAPI SETELAH INI ADALAH BAHAYA!" sentak Kepsek itu tajam yang membuat Sonia dan orang yang dikantin itu terdiam beberapa saat.


"Kenapa kalian di meja saya?"


Semuanya mendadak bungkam saat kedatangan Badai, Badai yang bingung pun menoleh kearah istrinya yang menunduk sambil membersihkan baju nya yang sudah basah. Badai lalu menatap dua orang yang berdiri di dekat istrinya dengan tatapan tajam.


"Badai, ini kesalahan aku kok. aku gak sengaja tumpahin susu ke baju aku saat minum," kekeh Air membuat Badai menoleh kearah istrinya tersebut. Badai merasa ada yang aneh lalu mendekati seorang wanita yang duduk di dekat istrinya.


"Bilang apa yang terjadi atau lo yang gue bunuh!" tekan Badai membuat wanita itu memucat karena takut.


"Sa-Saya gak tau apa-apa," gagap wanita itu yang membuat Badai tersenyum miring lalu mengambil garpu, membuat wanita itu benar-benar dilanda ketakutan sekali.


"gue bisa nekat mengunakan garpu ini buat membunuh lo"


"So-Sonia mendorong botol susu dan membasahi pakaian Buk Air," ungkap wanita itu cepat sehingga Pak Kepsek ketakutan begitu juga dengan Sonia. Badai kembali meletakkan garpu itu dan berjalan mendekati meja istrinya.


"Berani berbohong padaku, Khaira?" ucap Badai tajam yang membuat Air menunduk ketakutan sekali.


"Ba-Badai, jangan apa-apakan putri saya," panik Kepsek saat Badai mengambil pisau di dekat tumpukan sendok.


"Saya ingin menghukumnya sedikit, Pak Kepsek." jelas Badai menarik kasar tangan Sonia membuat Sonia ketakutan sekali. terlebih Air tak bisa apa-apa karena ia juga takut dikasari oleh Badai, karena berbohong padanya.


"Le-Lepasin aku! aku khilaf membasahinya," panik Sonia saat Badai mendekatkan pisau ke lengan Sonia. Badai menatap tajam sehingga Sonia benar-benar ketakutan sekali.


Srek!

__ADS_1


Srek!


Srek!


"ARGH! SAKIT!" teriak Sonia histeris saat Badai menyayat lengan Sonia dengan dalam dan tentunya tak sampai ke nadi wanita itu. tiga sayatan itu langsung dibanjiri darah segar membuat semuanya ketakutan sekali begitu juga dengan Pak Kepsek yang tak tega melihat putrinya terluka.


"Sekali lagi lo mencari masalah,lo habis ditangan gue. sayatan itu masih hukuman kecil buat lo. gue bisa saja membunuh lo detik ini juga, sekarang bawa dia pergi dari sini!" ketus Badai sehingga Pak Kepsek itu langsung membawa putrinya itu ke rumah sakit terdekat. "Hukuman apa yang pantas buat pembohong seperti kamu?".


Air seketika memucat lalu menoleh sekilas pada Badai yang duduk di hadapannya. suasana kantin mendadak hening karena masih syok dengan kejadian tadi, membuat semuanya tak berani membuat Air menangis ataupun yang lainnya, bisa-bisa mereka bernasib sama dengan Sonia.


"Ak-Aku minta maaf," lirih Air membuat Badai terus saja menatap tajam yang membuat Air benar-benar ketakutan sekali.


"Apa kau ingin aku menghukum kamu mengunakan pisau ini?" tanya Badai dengan dinginnya sambil memperlihatkan pisau yang berlumuran darah tersebut. "Hiks aku minta maaf hiks," tangis Air karena tak bisa menahan air matanya lagi.


"Mendekatlah!"


Air mengusap air matanya lalu mendekati Badai sehingga pria menyuruh Air berjongkok di sudut kantin sehingga wanita itu menurut.


"Kalian semua jangan menatap kesini! kalau kalian berani, kalian akan menanggung akibatnya!" ujar Bagai membuat semuanya langsung membelakangi Badai, tak ada yang berani menoleh kearah Badai sedangkan salah satu siswa yang di dekat pintu langsung menutup pintu kantin.


Badai lalu membuka Hoodie yang ia pakai, ia lalu menyuruh Air buat membuka baju tersebut sehingga air menurut. setelah itu, Badai langsung memakaikan Hoodie ke tubuh mungil istrinya itu, Air lalu berdiri yang membuat tubuh mungilnya di tutupi Hoodie kebesaran Badai. "Mengemaskan," kekeh Badai sedangkan Air hanya diam sambil memanyunkan bibirnya kesal.


***


Sekarang Air tampak begitu malas berada di kelas Badai, karena pria itu memintanya untuk duduk di samping Badai yang asik belajar.


"Badai, aku ada kelas di kelas IPA,"


Badai menoleh sekilas lalu menggeleng yang membuat Air kesal sekali. "Jangan kemana-mana karena kamu itu hanya memakai Hoodie saja," jelas Badai membuat Air hanya pasrah.


"Anak-anak, kita kedatangan murid baru dan silahkan kenalkan dirimu!"


Air menoleh kearah pria dihadapannya dan ia kembali memasang topi Hoodie untuk melanjutkan tidur nya sehingga Badai menoleh pada istrinya yang sudah mulai memejamkan mata.


"Silahkan kalian tukar pakaian olahraga, sekarang adalah jam pengambilan nilai bola besar,"


Badai beranjak berdiri mengambil baju olahraganya. "Ayo ikut aku!" ajak Badai sehingga Air membuka matanya. "Baiklah," pasrah Air lalu mengikuti suaminya itu sambil menutupi pahanya, apalagi ia hanya memakai celana pendek dan Hoodie kebesaran, membuat Air malu sekali.


Ia merasa seperti anak SMP daripada guru, karena itu Badai selalu menyuruhnya ikut daripada disangka anak SMP berkeliaran di SMA.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2