Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#18 Waria


__ADS_3

Air mengusap tubuhnya yang benar-benar kedinginan, suasana di gudang itu juga begitu gelap sekali.


Cklek!


"Hei,lo sudah tidur?"


"Ada apa?" tanya Air melihat sekilas orang yang mendekat. "Gue bakalan bebasin lo dan lo harus berjalan ke sebelah Utara dari sini, gue juga kasih foto orang yang menculik lo. gue mohon, bantu gue disini buat nyelamatin Mama dan Papa gue. gue harap lo ketemu sama Badai," jelas Ridho membuka jeruji besi tersebut.


"Ta-Tapi aku takut gelap,"


"Didalam tas ada 3 buah senter sekaligus makanan buat lo dijalan. cepat gue antar ke jendela," ajak Ridho menarik tangan Air sehingga wanita itu mengikuti Ridho buat pergi dari sana.


Pria itu langsung membantu Air turun supaya selamat, ia tak ingin Air ketauan sama orang-orang itu. "Bantuin gue buat keluar dari sini ya," pinta Ridho sehingga Air menoleh. "Baiklah, kamu hati-hati dan aku bakalan cari suamiku dulu," jelas Air bergegas pergi dari sana sambil menyandang tas di punggungnya.


Ia berjalan hati-hati melewati hutan yang begitu gelap sekali, ia lalu mengeluarkan senter dan terus berjalan sesuai arah yang ditunjuk oleh Ridho tadi.


"Badai, jemput aku," lirih Air yang terus berjalan menelusuri hutan tersebut supaya bisa jauh dari markas orang-orang itu. Air memegangi perutnya yang kembali sakit. namun ia terus saja berjalan supaya tak ditemukan oleh orang-orang tersebut.


Setelah lama berjalan, ia menghela nafas lega karena bisa menemukan jalan raya. Wanita itu mencoba mencari bantuan untuk kabur dari sinis.


Tiba-tiba ia menatap sekumpulan kendaraan dari arah kanan yang membuatnya takut, ia langsung bersembunyi di balik pohon karena tak ingin di tangkap orang-orang suruhan pria itu


Tin!


Air menutup mulutnya saat mendengar suara motor yang berhenti di dekatnya. "Bos, tadi perasaaan gue lihat orang disini pakai senter," lapor salah satu pria yang membuat Air ketakutan sekali.


"Sepertinya disini sepi, kita harus mencari keberadaan istri saya!"


Deg!


"Badai," lirih Air keluar dari persembunyiannya. "Badai, itu kamu?"


Semua pengendara itu menoleh ke asal suara. "Sayang!" senang salah satu pria yang melihat seorang wanita yang ia rindukan keluar, Badai langsung turun dan bergegas memeluk Air erat. "Hiks aku takut sekali," tangis Air memeluk Badai erat. "Aku sekarang disini, siapa yang menculik kamu?" tanya Badai mengusap air mata istrinya.


"Hiks aku gak tau. Ta-Tapi, salah satu bawahannya memberikan aku foto dan dia bilang dia juga minta tolong dibebaskan dari sana berserta orang tuanya," jelas Air mengeluarkan sebuah foto dari saku bajunya. Badai lalu melihat foto tersebut di cahaya motor.


"Bos, kayaknya ini musuh kita," jelas salah satu geng Badai yang kenal orang yang ada di foto tersebut. Badai menahan marahnya saat ini. "Kalian berdua, antar istri saya ke markas dan jangan sampai istri saya lecet sedikitpun. sedangkan yang lain, kita hajar orang-orang itu," jelas Badai emosi.


"Baik!" balas semuanya.


"Sayang, pulang sama mereka dulu ya! aku bereskan ini semua dulu, mereka gak boleh bahagia," jelas Badai membantu Air menaiki motor anggotanya. setelah memastikan istrinya pergi, semuanya langsung bergegas memasuki hutan buat menyerbu orang yang berani menculik istrinya itu.

__ADS_1


"Kalian semua bawa pistol, kan?"


"Iya," balas semuanya sehingga Badai melanjutkan jalannya.


"Hei, semuanya kesini!"


Badai yang lain menoleh kearah pria yang menghidupkan senter kearah mereka sehingga Badai mendekati pria itu. "lo siapa?" tanya Badai dingin. "Gue Ridho, sahabat istri Lo waktu SMA dan gue yang bantu Air keluar dari sana. tolong bantu gue buat bebasin orang tua gue, kebetulan orang yang nyekap Air tadi sudah tertidur," jelas Ridho.


"Ck, Baiklah," balas Badai lalu menyuruh anggotanya buat mengikuti Ridho menuju markas yang cukup jauh darinya.


"Hei! siapa kalian?!"


Semuanya menoleh ke asal suara dan langsung saja Badai menembak orang itu, membuat para musuh keluar.


"Serang!" titah Badai sehingga semuanya langsung menembak kearah musuh tersebut secara bruntal, sedangkan Badai dan Ridho langsung memasuki markas tersebut untuk menyelamatkan orang tua Ridho yang disekap.


"Hati-hati, dia bisa saja memasang cctv," jelas Ridho sehingga Badai terdiam beberapa saat, sambil menatap sekelilingnya untuk memastikan tak ada yang mencurigakan.


"Wah, akhirnya kau datang juga, Badai?"


Badai menoleh pada seorang pria bertopeng mendekat. "Sudah lama kita gak bertemu, Fikri!" sinis Badai membuat pria itu membuka topengnya dan memperlihatkan sebelah wajahnya yang sudah hancur. "lo penghianat, Ridho! berani-beraninya lo melepaskan tahanan gue," bentak Fikri pada Ridho.


"Sekarang lepaskan orang tua lo, gue mau nyusul geng gue diluar," ketus Badai lalu pergi dari sana sedangkan Ridho bergegas pergi menuju tempat orang tuanya di sekap selama 5 bulan ini.


*


Cklek!


Yang ada di dalam markas itu pun menoleh kearah pintu dan melihat Badai yang baru datang bersama yang lain, semuanya hanya mengalami luka ringan saat berkelahi tadi.


"Bos, lo kok gak bilang kalau istri lo lagi hamil, sih?!"


Semua yang baru datang pun menoleh. "Hahaha, waria baru!" tawa semuanya sedangkan Badai hanya bisa menahan tawa melihat kedua anggotanya itu sudah di jailin oleh istrinya. rambut kedua pria itu sudah berkepang dua.


"Badai!" senang Air berlari dan memeluk suaminya itu. "Jangan takut lagi ya, aku pasti menyelamatkan kamu," jelas Badai mencium kening Air, membuat wanita tersebut tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di leher Badai. "Sekarang kita nginap disini ya, besok pagi kita pulang,".


"Baiklah," balas Air mengikuti suaminya menuju sebuah ruangan.


Badai lalu membantu istrinya itu berbaring dan menyelimuti tubuh Air.


Srek!

__ADS_1


Badai menoleh kearah bajunya yang di robek istrinya, ia tak maksud bumil itu merobek bajunya. entah dapat ide darimana wanita itu selalu main robek pakaiannya. "Apa lagi? mau tubuhku?" tanya Badai saat Air kembali merobek bajunya lagi. "Iya, pengen aja," jelas Air membuat Badai mengecup sekilas pipi Air.


"Sayang, ini bukan di masion. ruangan ini gak pakai penyadap suara, bisa kedengaran sampai keluar," jelas Badai jujur membuat Air memanyunkan bibirnya kesal.


"Aku gak mau tau, kalau dedeknya lahir ileran terus kepala nya kotak kayak adudu terus galak kek Kak Ros dan jelek kayak Badai," kesal Air menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Eh, jangan diniatkan seperti itu! yasudah, ayo lakuin nya sekarang dan jangan berisik," bujuk Badai menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. "Aku udah gak minat!" balas Air membuat Badai panik karena tak mau anaknya ileran apalagi membayangkan kepala anaknya seperti adudu.


"Sayang, aku udah mau nih! aku gak mau anak aku ileran," panik Badai menarik selimut sehingga menampilkan wajah istrinya yang menatap tajam kearah nya. "Ayo! nanti aku nangis nih!" ancam Badai yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Gak mau lagi, mendingan belikan aku martabak,"


"Hiks tapi nanti aku layani kamu ya, aku gak mau anak aku ileran," isak Badai mengusap air matanya pelan.


"Belikan martabak dulu!"


"Iya," balas Badai mengambil jaketnya lalu pergi dari ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.


***


Air keluar dari kamar karena suaminya belum pulang membawakannya martabak. Ia hendak mendekati anggota geng suaminya, malah semuanya berhamburan berlari pergi karena tak mau jadi korban dari bumil.


Udah seperti mengagetkan anak ayam saja.


Tap!


Tap!


"Kenapa kebingungan gitu?"


Air menoleh pada suaminya itu. "Aku mau dekati anggota kamu eh malah kabur kayak anak ayam ketemu musang," polosnya membuat Badai tertawa pelan. "Mereka takut dijailin kamu, ayo ke kamar," ajak Badai sehingga Air mengangguk.


"Hidupkan musik yang keras, soalnya gue sibuk!"


"Baik, Bos!" balas semuanya yang paham akan kode dari ketua mereka tersebut dan langsung saja menghidupkan musik sekeras mungkin, karena gak bakalan ada yang berani mengusik geng mereka.


"Musiknya keras banget,"


"Gak papa, Sayang. biar mereka gak dengar suara kita nanti," senyum Badai mengunci pintu kamar tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2