Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#20 Badai Couvade Syndrome


__ADS_3

Badai tampak menarik kapak besar sambil mengikuti kemana arah mangsanya berlari, suasana malam begitu dingin dan mencekam. ia terus saja berjalan membuat Johan begitu kesulitan berlari akibat tangan kanan yang sudah terputus akibat kapak. Ditambah kakinya juga sempat terkena tembakan oleh Badai tadi.


"Mau lari kemana lo? Lo gak bakalan bisa bebas dari gue," smirk Badai membuat Johan ketakutan sekali.


"Badai, gue minta maaf! gue ngaku salah,"


"Maaf? itu udah basi, gue gak segan-segan bunuh lo yang udah berani melaporkan gue ke kantor polisi," sentak Badai melayangkan kapak besar itu, sehingga Johan ambruk dengan kaki patah akibat ulah Badai yang tepat sasaran.


"Ma-Maafin gu-gue," lirih Johan benar-benar kesakitan sekali, membuat Badai berjongkok dihadapan mantan sahabatnya yang sudah berlumuran darah segar.


"Gue gak bakalan maafin lo, selamat jalan mantan sahabat!"


Krek!


Badai tersenyum puas karena sudah membunuh Johan tersebut. Ia lalu pergi dari sana sambil membawa kapaknya itu supaya tak ditemukan oleh orang-orang.


"Ekhem!"


"POCONG LOMPAT!" pekik Badai kaget saat membuka pintu mobil yang tak jauh darinya. Ia menoleh pada istrinya yang melipat tangan di dada dan tak lupa menatap tajam kearah nya.


"Sa-Sayang, kenapa kamu bisa di mobil? bukannya kamu tadi tidur di masion?".


Air langsung menjewer telinga suaminya itu yang membuat Badai kesakitan sekali. "Kamu benar-benar gak ada perubahan, kenapa kamu senang sekali membunuh orang, hah? kamu mau dihukum mati oleh pihak berwajib?" bentak Air membuat Badai menggeleng, ia benar-benar tak suka di jewer oleh istrinya karena sakit sekali.


"Sayang, lepasin jeweran kamu," cicit Badai memohon.


"Nangis dulu," pinta Air yang membuat Badai menoleh.


"Gak ma-,"


Huweekk!


Badai bergegas keluar dari mobil dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya, entah kenapa sejak tadi sore ia mual sekali.


Huweekk!


"Badai kamu kenapa?"


"Ak-Aku gak papa kok," balas Badai kembali memasuki mobil dan menghidupkan mobilnya tersebut untuk meninggalkan lokasi tersebut.


"Beneran gak papa?"

__ADS_1


"Gak papa kok,"


"Biar aku yang bawa mobil biar kamu istirahat,"


"Gak boleh, ini sudah malam dan gak baik buat kamu membawa mobil," peringat Badai sehingga Air pasrah dengan perkataan suaminya itu daripada ia kena omel.


*


Pagi harinya, Air mendekati Badai yang terus saja mual di kamar mandi. "Badai, kalau kamu gak enak badan. gak usah kesekolah dulu," jelas Air sehingga Badai menggeleng pelan.


"Aku tetap sekolah atau kamu ingin berduaan dengan pria waktu itu?" tanya Badai membuat Air menatap dingin pada Badai. "Kamu aneh sekali, dia itu adalah adik kandung aku dan boleh dong, kalau aku dekat dengan adikku sendiri," jelas Air membuat Badai menggeleng kesal.


"Gak boleh pokoknya, kalau dia menyentuh kamu seujung kuku. aku pastikan dia tewas mengenaskan," kesal Badai memasuki kamar dan mengambil tas sekolahnya.


"Eh, jangan gitu! aku gak bakalan dekat dengan adik aku," kekeh Air juga mengambil tas yang berisi buku-buku bahan ajarnya nanti di kelas sebelas. Badai tak membalas dan memilih meninggalkan Air di kamar. "Posesif amat," kesal Air lalu mengikuti Badai menuju lantai bawah.


"Ayo kesekolah langsung," ajak Air menarik tangan Badai yang hendak menutup menutup resleting tasnya karena tadi memasukkan botol susu buat Air. "Sarapan dulu, biar ada tenaga buat mengajar," kesal Badai membuat Air menggeleng tak mau yang membuat Badai pasrah dan mengikuti istrinya memasuki mobil, Badai juga tak diperbolehkan membawa motor oleh istrinya karena takut akan mengalami kecelakaan apalagi kondisinya yang gak enak badan seperti ini.


Sesampai di sekolah, Badai langsung menuju kelasnya begitu juga dengan Air yang langsung menuju ruangannya.


Brukh!


"Awh, maafin aku," gagap wanita itu menoleh dan sontak bungkam melihat wajah Badai yang begitu tampan sekali. "Kalau punya mata itu dipakai," ketus Badai bergegas ke kelasnya. "Wah, dia bersebelahan dengan kelas gue. gue harus mendapatkannya," gumam wanita itu tersenyum senang.


"Gue gak tau, mual banget sejak kemarin sore," balas Badai jujur yang membuat Ferdi tertawa.


"Itu efek punya istri yang lagi hamil, sekarang lo yang mengalami masa mualnya,"


Badai yang mendengar itu baru sadar karena Dokter pernah bilang padanya kalau ia bisa saja mengalami mual seperti wanita hamil.


Huweekk!


Lagi-lagi Badai kembali mual, membuat Ferdi mengeluarkan botol mineral yang masih baru dari dalam tasnya. "Nih, minumlah! masih baru," jelas Ferdi sehingga Badai menerimanya dan meminum air tersebut hingga setengah.


"Bos, gue dengar cewe populer di kelas sebelah ngomongin lo," lapor anggota Badai, membuat Badai tak memperdulikannya. Kalau sudah melewatkan batas, ia tak segan-segan membunuh wanita itu dengan kejamnya.


Tak lama, guru yang mengajar pun datang sehingga semuanya langsung menuju bangku masing-masing. sedangkan Badai begitu tak mood belajar karena mualnya ini.


"BOS, BUK AIR NANGIS DITAMPAR OLEH PRIA ASING!!"


Badai yang mendengar itu langsung bergegas keluar dari kelas tersebut, ia tak peduli kalau hari ini hubungannya dengan istrinya terbongkar. beberapa geng Badai juga ikut berserta siswa maupun guru lainnya.

__ADS_1


Bugh!


Badai melayangkan sebuah bogeman keras pada guru yang mencengkram kuat tangan istrinya. "Hiks Badai, dia memaksa aku menikah dengannya karena hutang Paman ku yang dibandung," isak Air menangis membuat Badai kembali meninju orang itu lagi.


"KAU BERANI SEKALI MENYAKITINYA!" teriak Badai membogem wajah pria itu lagi.


Bugh!


Badai terduduk saat orang itu membalas pukulan terhadapnya. "Paman dia punya hutang dan saya sudah membeli wanita ini!" bentak Pria itu sehingga Badai beranjak berdiri sambil mengusap darah yang ada di sudut bibirnya, orang-orang tampak bisa apa-apa karena tau kalau Badai orang berpengaruh di kota ini.


"Lo harus dengar, dia sekarang adalah istri gue!" sentak Badai yang membuat semua orang kaget begitu juga dengan Air yang menangis itu. Air tak menyangka kalau Badai akan membeberkan hubungan mereka.


"Jangan ngehayal dasar bocah, wanita murahan ini sudah gue be-"


Bug!


Bug!


Bug!


"BADAI HENTIKAN!" teriak Air saat Badai sudah tersulut emosi, pria itu langsung menghabisi pria itu di depan umum. ia benar-benar tak suka saat istrinya di cap murahan oleh pria itu.


"BADAI HENTIKAN HIKS!"


Badai menghentikannya dan menatap pria itu sudah tewas dengan wajah berlumuran darah segar, membuat orang-orang takut sekali. "Buat kalian semua, kalau ada yang menyakiti istri gue. kalian bernasib sama dan awas saja aja yang berani umbar masalah ini," tekan Badai yang membuat semuanya bungkam.


"Telpon bawahan gue buat bereskan ini semua!"


"Baik, Bos!"


Badai lalu mengendong Air pergi dari sana sehingga beberapa orang meninggalkan lokasi tersebut untuk tidak terkena masalah.


Setiba di UKS, Air langsung turun dan menyuruh Badai buat duduk di brankar. "Biar aku obati memar kamu," jelas Air membuat Badai menoleh sambil tersenyum. "Gak perlu, nanti bakalan sembuh sendiri kok," kekeh Badai lalu memeluk Air.


"Harus diobati dulu!"


"Gak mau!"


"Badai!"


"Aku nangis nih?" ancam Badai yang memperlihatkan mata berkaca-kaca nya membuat Air bungkam. ia begitu tak paham dengan sikap suaminya yang suka berubah-ubah saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2