
"Kamu tunggu disini atau ikut masuk?"
Air menoleh pada Badai yang menatapnya. "Disini saja," balas Air sehingga Badai langsung masuk sedangkan Air hanya bersandar di dinding.
"Eh, Buk Air kenapa di depan toilet cowok?"
Wanita itu menoleh pada beberapa cowok yang mendekat untuk menukar pakaian. "Lagi nungguin Badai yang lagi tukar baju," jelas Air tersenyum sehingga semuanya mengangguk dan memilih masuk ke toilet yang lainnya daripada kena masalah dengan pawang guru mereka itu.
Cklek!
"Bicara sama siapa tadi?" tanya Badai sehingga Air menoleh. "Cuman teman-teman kelas kamu, ayo!" ajak Air menarik tangan Badai sedangkan Badai hanya mengikuti Air dari belakang sambil mengacak-acak rambut nya tersebut.
"Tunggu aku di lapangan, jangan panas-panas!"
"Baiklah," pasrah Air bergegas ke lapangan dan melihat beberapa wanita mendekati murid baru tersebut. Air lalu duduk di tempat yang tak panas, tatapannya teralih pada pria yang mendekatinya.
"Hai, cantik! boleh kenalan?"
Air hanya menggeleng. "Woi, lo jangan dekati Buk Air!" peringat yang lain pada pria itu. "Buk? dia guru?" tanya Wahyu penasaran sehingga semuanya mengangguk. "Mendingan jauhi Buk Air, pawangnya nyeremin," peringat salah satu siswa membuat Air hanya diam.
"Nyeremin gimana?" tanya Wahyu penasaran.
"Pawangnya it...,"
"Ekhem!"
Semuanya sontak menoleh dan kaget melihat Badai. "Eh, kami cuman nyapa Buk Air aja, Badai! Ayo!" ajak yang lain menarik tangan Wahyu buat pergi dari sana. "Kalian ini kenapa, sih? buat apaan takut sama dia?" kesal Wahyu kebingungan. "Lo kalau sayang nyawa jangan buat masalah!" peringat yang lain sehingga Wahyu pasrah mengikuti teman-teman nya itu.
"Mereka ngapain?" tanya Badai penasaran sehingga Air menoleh. "Gak tau, tadi mereka nyapa aku dan setelah kamu datang, mereka kabur," jelas Air jujur membuat Badai duduk di sebelah Air. "Kalau kamu disakiti orang-orang, siapapun itu. kamu harus bilang sama aku," jelas Badai sehingga Air mengangguk patuh.
"Nih cemilan buat kagak bosan," tutur Badai memberikan cemilan sehingga Air menerimanya. wanita itu juga langsung memeluk Badai membuat pria itu tersenyum dan mengusap lembut kepala Air.
"Kamu harus jaga kesehatan ya, gak boleh capek-capek biar dedeknya baik-baik saja," senyum Badai sehingga Air mengangguk tanpa membalas dengan perkataan. "Aku Olahraga dulu, jangan kemana-mana,".
Air menoleh pada Badai yang bergegas menuju lapangan, tatapannya teralih pada murid baru yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan yang membuatnya takut sekali.
"Buk Air, bantu jelasin tugas ini!" teriak beberapa murid yang mendekatinya. "Coba lihat," senyum Air menerima buku itu sehingga yang lain duduk di dekat Air. Air lalu menjelaskan rumus matematika itu pada muridnya tersebut. Walau ia hanyalah guru BK, ia juga bisa mengajar Matematika, Fisika maupun Kimia.
"Ibuk, apa Badai itu selalu kasar sama Ibuk?"
__ADS_1
Air menoleh sambil tersenyum. "Waktu pertama kali bertemu dia memang kasar dan dingin, sampai-sampai main tangan. tapi, sejak saya berusaha menurut dia pun gak pernah kasar lagi," jelas Air jujur membuat beberapa muridnya itu mengangguk paham.
"Apa Badai romantis? soalnya disekolah orangnya dingin dan kaku," kekeh salah satu siswi.
"Lumayan romantis kalau ada moodnya saja, kadang suka dingin tapi perhatian," jawab Air sehingga semuanya mengerti. "Posesif juga ya," tawa yang lain nya sehingga Air mengangguk sambil tertawa pelan. Setelah mengajar keempat muridnya itu, mereka semua pun berlari menuju kelas mereka.
"Ferdi sini!"
Pemuda yang terpanggil pun menoleh pada Air yabg tersenyum. 'Dahlah,' batin Ferdi lalu mendekati bumil tersebut. "Duduk sini!" suruh Air membuat Ferdi menurut daripada bumil itu nangis, bisa gawat ia kena ngamuk oleh bosnya.
"Eh, Buk! jangan ikat rambut saya," pinta Ferdi saat Air mengikat rambutnya.
"Bentar," balas Air yang membuat Ferdi pasrah.
"BOS! HELP ME!" teriak Ferdi sehingga semuanya menoleh termasuk Badai, semuanya hanya tertawa sedangkan Badai sama sekali tak bereaksi yang membuat Ferdi kesal sekali.
Disisi lain, Badai hanya diam walau dalam hati ia tertawa puas melihat kesengsaraan sahabatnya itu. Ia ingin tertawa tapi ia urungkan, langsung saja ia bergegas mendekati istinya yang asik mengikat rambut Ferdi tersebut.
Air sontak menoleh pada Badai yang menahan tangannya, sehingga Air pasrah dan melepaskan Ferdi sedangkan Ferdi langsung bergegas pergi dari sana karena tak ingin di kerjai oleh Air lagi.
"Jangan kelewatan lagi, kamu gak kasihan dia dibully seperti itu?" tanya Badai yang membuat Air menunduk. Badai lalu berjongkok di hadapan Air sehingga pemuda itu bisa melihat istrinya yang terisak pelan. "Kenapa nangis? aku hanya ngomong baik-baik,".
"Badai,"
"Ada apa?"
"Murid baru itu kenapa selalu menoleh padaku?"
Badai yang mendengarnya sontak langsung mencari murid baru tersebut dan benar saja, pria itu menoleh kearahnya lalu mengalihkan pandangannya. "Kalau dia macam-macam, aku akan membalasnya," bujuk Badai melepaskan pelukan Air sehingga wanita itu mengangguk pelan. "Sekarang duduk yang manis karena sebentar lagi aku ambil nilai," jelas Badai lalu pergi yang membuat Air menoleh.
Air tersenyum. walau suaminya itu dingin dan kejam, dalam hatinya pemuda itu begitu baik sekali walau hanya ditutupi dengan wajah menyebalkan tersebut.
Setelah lama menunggu, Badai lalu mendekat sehingga Air memberikan botol mineral yang sempat ia beli dikantin tadi. Pria itu langsung menerimanya dan meminumnya sekaligus membasahi wajah karena kepanasan.
Para siswi yang melihat itu hanya kagum dalam diam karena mereka tau, mereka gak bakalan bisa mendekati Badai yang terkenal kejam dan ditambah pria yang mereka idolakan itu sudah memiliki istri. Mereka hanya bisa pasrah dan lebih baik mundur sebelum kena masalah dengan Badai.
"Ayo temani aku tukar baju," ajak Badai sehingga Air mengangguk lalu mengikuti Badai menuju toilet pria. Badai hanya menatap gemes pada istrinya yang terlihat seperti bocah SMP, walau aslinya adalah guru SMA.
Sesampai di pintu toilet, Badai langsung bergegas masuk sehingga Air hanya menunggu di luar. Air mengusap tengkuknya yang mendadak merinding sehingga ia menoleh kesakitan nya. Ia terdiam saat melihat sepasang mata tengah mengintip nya dari jauh, membuat Air bergegas membuka pintu toilet dan masuk.
__ADS_1
Drep!
Badai yang hendak membuka baju pun menoleh pada Air yang memeluknya. "Sayang, kenapa kamu masuk?" bingung Badai membuat Air mengeratkan pelukannya. "Hiks tadi aku lihat sepasang mata yang tengah mengintai aku dari jauh, aku takut!" isak Air membuat Badai penasaran siapa yang ingin mengintai istrinya.
"Kamu tenang dulu, aku mau tukar baju,"
Air mengangguk lalu membelakangi Badai yang membuat Badai bingung. "Kenapa membelakangi aku?" selidik Badai penasaran. "Gak baik lihat Aurora cowok," balas Air dengan entengnya.
"Tapi kau sudah melihatnya,"
"Owh iya, silahkan lanjut lagi," balas Air berbalik yang membuat Badai hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu, yang kelewat pelupa.
***
Badai menoleh pada Air yang sudah tertidur di sebelahnya, wanita itu benar-benar kecapekan selalu kecapekan. Ia tau kalau Air lagi hamil makanya lebih sering tidur.
"Sekarang pilih kelompok masing-masing!" suruh guru IPS tersebut sehingga semuanya langsung menuju kelompok masing-masing, sedangkan kelompok Badai hanya diisi oleh Ferdi, Raka dan Agung saja. selebihnya tak ada yang berani mendekati Badai karena takut.
"Kalian bertiga jangan berisik khususnya lo," tekan Badai pada Agung yang terkenal suka heboh.
"Gak bakalan kok," cicit Agung sehingga Badai mengeluarkan buku paket sekaligus sebuah buku tulis untuk menyalin beberapa kalimat dari buku paket tersebut.
Mereka berempat langsung mengerjakan soal-soal tersebut, sesekali Badai mengusap pundak Air karena wanita itu hendak bangun karena terganggu sedikit.
Brak!
Air yang tertidur pun tersentak kaget lalu menoleh pada guru yang terkenal killer tersebut. Suasana kelas mendadak hening sedangkan Badai menatap tajam pria tua yang ada dihadapannya ini. Dia belum tau kekejaman Badai kalau diganggu, karena guru yang killer itu baru pulang dari luar kota.
"Punya nyawa berapa kamu sehingga berani menggebrak meja, hah?!" sentak Badai beranjak berdiri.
Plak!
"Berani sekali kamu membentak saya! saya tanya sama kamu, kenapa kamu melukai keponakan saya, Sonia?!" bentak guru itu setelah menampar Badai kuat. Badai mengusap darah di sudut bibirnya lalu terkekeh pelan. "Berani juga kamu heh," sinis Badai sedangkan Air menahan tangan Badai.
"Badai, kamu duduk atau aku bakalan ngambek!" ancam Air sehingga Badai menoleh kearah istrinya itu. "Duduk!" kesal Air membuat Badai tak mau duduk. Air yang kesal pun berdiri dan langsung menjewer telinga Badai sehingga semuanya kagum dengan keberanian guru mereka.
"Iya, aku duduk!" ringis Badai kembali duduk sehingga Air ikut duduk. Badai hanya mendengus kesal sambil mengusap telinganya yang merah akibat di jewer oleh sang istri.
"tunggu pembalasan gue nanti," ketus Badai menatap tajam kearah guru yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
Bersambung...