Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#15 Istri Badai


__ADS_3

Semuanya lalu menyantap makanan masing-masing tanpa ada yang berniat membuka suara. "Badai, tolongin ambilin aku ayam," pinta Erika sehingga Badai mengambilnya membuat Erika senang. Namun, senyumannya mendadak memudar saat melihat Badai memberikan satu potong ayam ke piring Air.


"Badai, kenapa dikasih sama wanita itu? bukannya istri kamu yang minta?" tanya Kakek penasaran sehingga Badai menoleh. "Erika sudah mengambil ayam sedangkan Kak Air belum, Badai gak suka sama wanita rakus," sinis Badai membuat Erika menahan kesal saat ini.


Sedangkan Air hanya menunduk saat ditatap tajam oleh Kakek suaminya itu. "Kak Air makanlah! biar kandungan Kak Air sehat terus," jelas Badai sehingga Air mengangguk.


Tak lama,


"Setelah sarapan, cuci semua piring ini karena saya tak ingin menantu saya capek-capek," ketus pria tua itu membuat Badai menahan kesal, ingin sekali ia bilang pada Kakeknya kalau Air adalah istrinya juga dan sekarang mengandung cucunya. tapi, ia juga tak ingin kakeknya itu sakit jantung saat mendengar penjelasannya nanti.


Ia berharap kalau kakeknya itu cepat meninggal sehingga ia bisa bersama wanita yang ia cintai, tanpa di ganggu oleh Erika.


"Kakek, Kak Air lagi hamil muda. Kak Air gak boleh capek-capek," jelas Badai jujur.


Brak!


Semuanya sontak terdiam. "Dia itu cuman pendatang disini dan cuman numpang tidur di masion ini! kenapa kamu membela wanita asing itu terus?! Istri sah kamu gak pernah kamu bela!" bentak Kakek membuat Badai menunduk, ia benar-benar tak sanggup melawan kakek yang sudah merawatnya.


"Gak papa kok, aku saja yang nanti cuci piring," balas Air yang membuat Badai menoleh pada Air yang membersihkan meja makan.


"Lo cuci piring sana, tugas istri itu bereskan semua! bukan cuman duduk manis saja!" tekan Badai yang membuat Kakek menggeleng. "Dia gak boleh membersihkan hal rendahan seperti itu. Lagian, ada pembantu gratis," jelas Kakek yang membuat Badai menahan kesalnya saat ini.


"Biar aku saja yang bersihin, Kakak duduk saja di sana!" sedihnya membuat Air menoleh. "Gak usah, aku bisa kok," jelas Air tersenyum membuat Badai langsung mencuci piring tersebut.


Prang!


Badai yang sudah tak bisa menahan marahnya pun menghempas piring itu ke lantai, membuat semuanya kaget. "Badai, kamu tenang," lirih Air memeluk Badai sedangkan Badai tak peduli.


"Badai tak suka kalau ada yang menyuruh istri Badai bekerja layaknya pembantu! Dia lagi hamil anaknya Badai!" tekan Badai tajam.


"Ap-Apa?"


"Dia adalah istri Badai dan pernikahan Badai masih privasi karena Badai masih sekolah! dan kau, Erika! kau menyuruh orang buat membunuh istri gue, bukan? yang lo suruh itu adalah gue, gue pembunuh bayaran itu!" jelas Badai yang membuat kedua orang itu kaget. "Badai sudah gak sanggup pura-pura lagi, Badai gak suka kalian seenaknya pada istri Badai yang lagi hamil!".


"Badai hiks udah," isak Air membuat Badai mengusap kepala istrinya lembut.


"Kalian keluar dari masion saya dan jangan pernah kembali kesini lagi," suruh Badai dengan dinginnya membuat Erika menggeleng.


"Aku gak mau, Badai! aku istri kamu!" isak Erika sedangkan pria paruh baya itu terdiam.


"Badai, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sudah menikah pada Kakek. kalau kakek tau, Kakek gak bakalan menyuruh kamu menikah lagi," jelas Kakek jujur, membuat Badai menoleh. "Badai takut Kakek jatuh sakit kalau Badai menolaknya," jelas Badai jujur.

__ADS_1


"Maafkan Kakek ya, Kakek gak tau kalau kamu adalah menantu Kakek. Kakek bakalan menembus semuanya, apapun yang kamu minta bakalan Kakek turuti, Kakek sudah lama pengen mengendong anak dari cucu Kakek," jelas Kakek sehingga Erika benar-benar kesal sekali.


"Aku ga-gak butuh apa-apa," isak Air yang masih memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Kakek, aku ini juga istrinya Badai! Kakek lupa janji Kakek pada keluarga aku?" kesal wanita itu membuat Badai melepaskan pelukan istrinya itu dan mendekati Erika, ia langsung mencengkram kuat leher wanita itu sehingga Erika kesulitan bernafas.


"Kau akan tewas di tanganku, Erika!" smirk Badai menyeret wanita itu menuju gudang.


"Badai, jangan bunuh orang lagi!"


"Tenanglah, Sayang! kamu duduk manis saja karena gak bakalan ada yang ganggu rumah tangga kita lagi," jelas Badai tersenyum lalu pergi dari sana.


Brukh!


Badai menghempaskan tubuh Erika ke dinding gudang, membuat wanita itu meringis kesakitan sekali. "Gue udah gak sabar melihat darah dari tubuh lo, Erika. pasti darahnya banyak, bukan?" smirk Badai mengambil sebuah pisau yang tak jauh darinya.


"Hiks jangan apa-apakan aku hiks, aku ini istri kamu juga," isak Erika menangis sehingga Badai langsung menarik kuat rambut Erika, membuat wanita itu menoleh padanya.


"Gue gak pernah anggap lo sebagai istri dan lo harus ingat, istri gue itu hanya Khaira! bukan sampah kayak lo! ogah banget gue pungut krikil kek lo," sinis Badai penuh penekanan.


"Hiks lepasin aku,"


Srekk!


Badai tersenyum sinis saat melihat darah segar mengalir deras dari pipi wanita itu.


Brak!


Pemuda itu menoleh pada Air yang membawa sapu dengan wajah memerah menahan marah. "Balik ke kamar!" kesal Air menarik telinga Badai, membuat pria itu meringis kesakitan sekali. "Sayang, aku baru saja ingin bermain dengan wanita itu," jelas Badai kesakitan. Air mengambil sebuah guci besar dan mengambilnya.


Bukh!


Air dengan entengnya menghempaskan guci itu ke kepala Erika. "Mainannya udah mati, ayo ke kamar!" kesal Air menarik telinga suaminya. "Hentikan! telingaku sakit," ringis Badai sedangkan Air langsung memukulkan sapu itu ke bok/ong suaminya itu.


"Rasain, enak di marahin sama istri,"


Badai menoleh pada Kakeknya yang mengejeknya. "Jangan mengejekku, Kek!" kesal Badai sedangkan Air terus saja menarik suaminya itu menuju kamar. "Sayang, ngapain kita ke kamar terlalu awal? ini masih jam tujuh malam," jelas Badai kesal. "Jangan-jangan kamu mau memper/kosa aku ya? jangan ya, aku lagi capek buat layani kamu,".


"Temani aku tidur dan kamu gak boleh pakai baju,"


"Celana juga gak boleh?"

__ADS_1


"Kalau celana harus kamu pakai, aku hanya meminta kamu gak pakai baju saja," ketus Air membuat Badai memanyunkan bibirnya kesal.


"Nanti kasih Kiss malam aku,"


"Gak boleh!"


Badai langsung duduk di lantai, membuat Air menoleh pada suaminya itu. "Dasar cewek," sinis Air menarik tangan Badai.


"Kasih dulu kiss malam aku!"


"Iya-iya, cepat ke kasur!"


Badai langsung bergegas menuju ranjang dan membuka bajunya saja, supaya wanita itu puas memeluk sekaligus mencium wangi tubuhnya. Ia juga senang karena mendapatkan kiss malamnya.


***


Huweekk!


Huweekk!


Badai yang tertidur pulas pun membuka matanya dan tidak melihat istrinya berada di sampingnya.


Cklek!


"Kamu kenapa?"


"Mual banget," lirih Air sehingga Badai memakai baju kaosnya lalu langsung mendekati istrinya dan memeluk Air supaya lebih nyaman. "Ayo ke luar, aku bikinin teh panas buat kamu," jelas Badai sehingga Air mengangguk, membuat Badai langsung mengendong wanita nya tersebut.


Sesampai di dapur, Badai langsung mendudukkan Air di sebuah bangku dan bergegas membuatkan teh panas buat Air supaya wanita itu tak mual lagi.


"Nih, minumlah!"


Air lalu menerima gelas tersebut dan meminumnya pelan supaya tak kepanasan.


"Badai, aku juga ingin makan mie pedas, buatin ya,"


"Tapi kamu lagi hamil muda, aku tak mengizinkannya!"


"Ini anak kamu yang memintanya,"


"Baiklah," pasrah Badai lalu membuatkan sarapan mie buat bumil meresahkan tersebut daripada wanita itu menangis dan mengancamnya buat tidur di lantai lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2