Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#7 Cemburu


__ADS_3

1 bulan berlalu ...,


Badai menatap guru yang asik mengajar, setelah kasus tentang kematian guru bukan lalu ditutup karena sudah yakin itu adalah tindakan murni. semuanya tampak senang karena bisa ke sekolah lagi, sedangkan Badai tak begitu fokus belajar karena memikirkan istrinya yang tengah mengajar di hadapannya.


Tak lama, jam istirahat pun berbunyi sehingga semuanya langsung berhamburan keluar kelas.


"Habiskan," ketus Badai memberikan botol yang berisikan susu hamil, setelah itu langsung saja Badai pergi dari hadapan Air, membuat wanita itu terdiam.


Ia memaklumi sifat suaminya yang terkenal dingin tersebut. tapi, ia juga suka dengan sifat pedulinya terhadapnya.


Suka? mungkin saja.


Air lalu keluar dari kelas untuk menuju ruangannya, tatapannya teralih pada Badai yang di peluk seseorang dan tak hanya itu, wanita itu dengan entengnya mencium suaminya. Ia langsung saja pergi tanpa membuat kedua orang itu curiga.


Ia begitu sesak saat suaminya tak berniat melepaskan ciuman dari wanita tadi, di saat ia mulai mencintai Badai. kenapa ia harus mendapatkan cobaan seperti ini. Air lalu menghentikan taksi saat sampai di depan gerbang, wanita itu berniat untuk pulang ke hotel lagi.


Air juga tak akan bicara lagi dengan suaminya, tak akan!


Tak lama, ia pun turun dari angkot lalu membayar ongkos nya, wanita itu langsing saja bergegas ke hotel karena ingin cepat-cepat tidur di kamar dan tak ingin bertemu dengan Badai.


2 jam kemudian...


Cklek!


Air yang asik tiduran pun tak ingin membuka matanya karena tau siapa yang datang. orang itu perlahan mengusap pipi Air pelan. "Kau membuat gue khawatir saja, gue kira kau kabur eh malah tidur disini." kekeh Badai lalu mencium kening istrinya itu sekilas. "Baik-baik disana," senyum Badai mengusap perut Air lembut.


Namun, pemuda itu menoleh pada Air yang menghempas tangan nya supaya tak menyentuh perutnya. "Kenapa kasar begitu?" tanya Badai bingung.


"Gak boleh sentuh lagi, sana sentuh cewe tadi! pasti enak ya, di cium wanita tadi," sinis Air menarik selimut menutupi tubuhnya, Badai terkekeh lalu meletakkan sebuah plastik besar di lantai.


"Lihatlah itu!"


Air yang kepo pun langsung beranjak duduk, ia penasaran apa isi plastik hitam tersebut. "Jangan kaget ya," kekeh Badai membuat Air benar-benar penasaran sekali.


"Huwa!" pekik Air langsung memeluk Badai erat. Ia benar-benar kaget saat melihat sebuah kepala berada di plastik tersebut, ia sudah tau siapa pemiliknya. Ini adalah wanita yang mencium Badai tadi.


"Lihat! gue membunuh orang yang mendekati gue dan dia adalah mantan gue," jelas Badai dengan entengnya, membuat Air menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Hiks tapi kau mau saja di cium oleh nya," isak Air sehingga Badai menoleh.

__ADS_1


"Cemburu ya? tenanglah, gue bukan tipe pria yang suka selingkuh,"


"Kalau iya, gimana? aku akan membunuhmu!" isak Air membuat Badai tertawa pelan.


"Sudah mencintai gue?"


"Dikit, tapi kau pria dingin!"


"Baiklah, aku akan menjadi pria hangat pada kau saja,"


"Kosa katanya?"


"Iya, Ak-Aku bakalan coba," gagap Badai yang membuat Air tertawa. "Jangan ketawa!"


Air tetap saja tertawa sehingga Badai langsung mencium wanita itu, membuat Air kaget sekali. Badai melepaskannya lalu menatap wajah Air yang begitu dekat dengannya saat ini. "Masih mau menertawakan aku lagi," tanya Badai dengan suara parau nya, membuat Air kagum.


"Suara Badai bagus banget,"


"Bagus?"


Brukh!


Badai hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepala istrinya itu, ia benar-benar sangat mencintai Air. ia juga tak bisa seperti suami yang di luar sana yang bisa romantis pada pasangan masing-masing, ia terlalu kaku buat romantis dengan Air.


Tak lama, Badai mendengar dengkuran halus dari istrinya, membuat Badai tersenyum tipis. Ia lalu ikut memejamkan mata untuk ikutan tidur, ia juga lelah sekali belajar di sekolah di tambah kesana-kemari mencari istrinya yang hilang entah kemana. tapi, ia juga bersyukur kalau istrinya baik-baik saja dan hanya kabur ke hotel.


Baru saja ingin tidur, tiba-tiba ponselnya berbunyi yang membuat Badai kembali membuka matanya dan mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya.


"Ada apa?"


{Kau bisa bertemu dengan ku nanti malam? Aku mau bilang sesuatu sama kamu,}


"Baiklah, kirim alamatnya nanti!"


Badai memutuskan panggilan dari saudara tirinya itu. "Kau kira gue gak tau rencana nanti," sinis Badai lalu menelpon seseorang.


{Ada apa, Tuan?}

__ADS_1


"Bisakah kau membawakan saya obat perang/sang dosis tinggi? saya butuh itu buat kerjain orang,"


{Baik, Tuan. saya akan membawakannya sekarang,}


"Baiklah,"


***


Hari yang di tunggu pun tiba, Badai lalu berjalan menuju sebuah cafe dan melihat Salsa yang sudah tiba. Sedangkan istrinya, ia sudah menitipkan wanita hamil itu pada Rika, sahabat istrinya.


"Ada apaan, nelpon gue buat kesini?"


"Gu-Gue cuman minta maaf sama lo dan gue gak ada niat lain kok, Mama juga demam dan meminta kamu buat kembali, sekaligus mau nyerahin semua warisan kamu," jelas Salsa yang membuat Badai hanya menatap malas.


"Gue gak bakalan pergi ke sana, bodo amat gue," ketus Badai begitu dingin.


"Ck, baiklah."


"Mau aku pesanin minuman?"


"Hm..," Badai hanya membalasnya dengan deheman saja. "Gue mau angkat telpon bentar,"


Badai bergegas pergi dari sana, supaya terlihat ingin menerima telepon dari seseorang. Pemuda itu ingin melihat apa yang akan dilakukan wanita itu.


Tak lama, seorang pelayan datang membawakan dua minuman. Badai hanya tersenyum miring melihat Salsa menuang sesuatu ke minumannya.


Badai lalu mendatangi meja meja sehingga Salsa menoleh. "Siapa yang nelpon?" tanya Salsa seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Sekretaris gue," jelas Badai mengaduk minumannya.


"Badai!"


Salsa menoleh pada Air yang tak jauh dari mereka, sedangkan Badai langsung menuang obat itu ke minuman Salsa sebelum wanita itu menyadarinya.


"Ada apa?" tanya Badai menoleh sambil tersenyum.


"Haus," jelas Air sehingga Badai memesan air mineral saja. "Nanti kita pulang, biar kamu gak sakit," jelas Badai sehingga Air mengangguk patuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2