
Badai membuka matanya secara perlahan dan melihat istrinya yang sudah tertidur lelap memeluk tubuhnya, membuat Badai tersenyum lalu mengusap pelan pipi istrinya itu.
Entah kenapa ia tak pernah bosan untuk memandang wajah natural istrinya dari wanita lain. walau bagi orang, lebih cantikan wanita bermake-up. Badai lebih suka wanita natural, entah kenapa ia benar-benar menyukainya.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang, ia tak menyangka akan tidur selama itu karena ulah istrinya tersebut.
"Hei, bangun! waktunya sarapan siang!"
"Aku ngantuk sekali, kamu diamlah!" kesal Air kembali memeluk tubuh Badai ala guling.
"Kau harus sarapan dan minum susu, biar kandungan kamu sehat!"
"Aku gak peduli!"
"Apa kau bilang?!"
"Aku bercanda, aku hanya masih ngantuk sekali" jelas Air ketakutan, ia tak ingin suaminya itu kembali marah-marah padanya. "Aku gak suka candaan kamu itu," kesal Badai dingin. membuat Air terkekeh kecil lalu memeluk Badai langsung.
Badai lalu menghela nafas panjang dan membalas pelukan istrinya tersebut buat sarapan yang dibawakan oleh istrinya.
Pemuda itu lalu bangun dan mengendong Air untuk mencuci mencuci wajah di toilet kamar tamu, setelah itu langsung menuju dapur buat sarapan.
"Kau mau sarapan pakai apa?"
"Ayam sama cumi aja,"
tanpa membalas, Badai langsung mengambil sarapan untuk istrinya sehingga Air tersenyum senang, melihat Badai mengambil beberapa cumi buatnya. "Makanlah," suruhnya sehingga Arumi mengangguk pelan.
Wanita itu langsung menyantap makanannya dengan lahap sehingga Badai tersenyum tipis melihatnya, pemuda itu senang melihat Air yang makan dengan lahap.
Dreet!
Badai kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dari suruhannya, "Aku ada urusan sebentar, kau jangan kemana-mana," jelas Badai bergegas pergi dari sana.
Air hanya diam menatap Badai yang sudah pergi meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
Disisi lain, Badai melajukan mobilnya menuju markasnya. ia benar-benar emosi saat mengetahui kalau Salsa bisa kabur dari penjara yang membuat Badai gak bakalan tenang.
Sesampai di Markas, pemuda itu menatap tajam kearah Salsa yang terbaring di atas meja dengan keadaan terikat. "Berani kabur juga," sinis Badai membuat Salsa menoleh.
"Lepasin gue, Badai! lepasin!"
"Gak bakalan gue lepasin, sebelum gue puas menyiksa lo," smirk Badai mengambil pisau.
"Ja-Jangan!"
Srek!
"Akh!"
Badai menatap darah yang mengalir segar di pipi wanita itu, ia juga tak menghiraukan teriakan Salsa dan memilih kembali menyayat tubuh salsa dengan bruntal nya.
Ia juga menyayat perut Salsa mengunakan pisau berkarat, membuat wanita itu berteriak kesakitan sekali. ia benar-benar senang menatap darah segar yang mulai mengalir.
Jleb!
Sedangkan Badai menusukkan pisau tersebut ke dada Salsa secara bruntal, membuat cipratan darah mengenai wajahnya yang putih.
Setelah semuanya selesai, Badai menghentikan aktivitas nya dan menatap korbannya yang sudah mengenaskan sekali.
Ia lalu menyuruh beberapa bodyguard untuk membereskan semuanya itu dan iapun segera bergegas menuju ruangan pribadi untuk mengganti bajunya sekaligus mencuci wajahnya.
Karena tak memungkinkan ia pulang dengan keadaan kacau seperti ini, cipratan darah dimana-mana yang bisa membuat orang-orang curiga apalagi istrinya yang lagi hamil.
Tin!
Badai menoleh kearah ponselnya dan langsung mengambil ponselnya tersebut, pemuda itu mendadak diam menatap pesan dari kakeknya tersebut. Kakeknya itu memintanya buat menemuinya hari ini sehingga Badai hanya bisa pasrah.
***
Sesampai di masion milik Kakeknya, ia pun langsung masuk dan melihat Kakeknya sedang mengobrol dengan beberapa orang yang sama sekali tak ia kenal.
__ADS_1
"Nah, ini Cucu saya," senyum pria tua itu saat Badai datang sehingga semuanya menoleh pada Badai.
"Wah, tampan sekali. benar-benar cocok dengan putri saya,"
Badai yang mendengar itu kaget. "Badai, kenalkan gadis itu adalah Erika, calon istrimu." jelas Kakek membuat Badai menoleh.
"Badai gak mau, Badai gak mau nikah dengan dia!" tolak Badai membuat semuanya menoleh pada Badai. "Turuti permintaan Kakek, Kakek ingin melihat kamu menikah dengan wanita pilihan Kakek," jelas Kakek yang membuat Badai terdiam, ia juga gak tega dengan Kakeknya yang sudah tua tersebut.
Ia juga sudah memiliki istri yang tengah hamil dan gak mungkin ia menikah lagi.r
"Badai, turuti permintaan terakhir Kakek. mau ya?"
Badai bungkam karena sibuk berperang dengan akal sehatnya, ia tak mau menduakan istrinya dan dia juga tak mau membuat Kakeknya sedih.
"Baiklah, Badai akan menikah dengannya 2 hari lagi. Badai permisi buat pulang," jelas Badai lalu pergi membuat wanita bernama Erika itu tersenyum penuh kemenangan karena bisa mendapatkan pria bernama Badai yang terkenal tampan dan kaya.
"S i a l a n, gue harus apa sekarang?" gumamnya setelah masuk kedalam mobil, pikirannya benar-benar kacau sekali sekarang.
Dret
Badai mengeluarkan ponselnya dan melihat nama istrinya yang terpampang di layar ponsel, langsung saja ia mengangkatnya.
"Ada apa lagi?*
{Pengen bakso di pinggir jalan, kenapa suara kamu aneh gitu? ada masalah?}
Badai menghela nafas.
"Aku baik-baik saja kok, aku akan beli bakso dulu dan kamu duduk manis saja menunggu kedatanganku,"
{Heleh, aku akan menunggu kedatangan bakso!}
Tut!
Badai melihat panggilan terputus secara sepihak, ia benar-benar bingung dengan mood wanita hamil tersebut. langsung saja ia menghidupkan ponsel dan langsung meninggalkan masion itu untuk segera mencari pedagang bakso di pinggir jalan.
__ADS_1
Bersambung...