Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#3 Tak Mau Makan


__ADS_3

Air menatap sekelilingnya untuk memastikan tak ada Badai, ia tak ingin bertemu dengan pria kejam tersebut. belum juga melangkah dari ruangannya, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.


Deg!


Wanita itu mendadak bungkam saat mengetahui siapa yang menahan tangannya, pemuda bermata setajam elang pun tersenyum miring padanya. membuat Air benar-benar ketakutan sekali. ia tak ingin bertemu dengan pria muda yang merupakan muridnya itu.


"Mau kabur? kau gak bakalan bisa,"


Air berusaha melepaskan genggaman tangan Badai, tetap saja ia kesulitan. "Ikut saya," pinta Badai menarik kasar guru nya itu, untung saja suasana sekolah sudah sepi sehingga ia bisa leluasa menarik guru tersebut.


"Lepaskan saya, Brengs3k!"


Plak!


Badai tak segan-segan menampar gurunya itu kuat, sehingga Air meringis kesakitan sekali. "Kalau kau ngomong kasar lagi, saya tak segan-segan melukai kau," jelas Badai kembali menarik tangan Air menuju mobil mewah yang terparkir di gerbang sekolah.


Ia langsung mendorong Air masuk dan barulah ia menyusul masuk sehingga sang sopir langsung menjalankan mobil tersebut meninggalkan area sekolah.


"Badai, lepaskan saya! saya mau pulang!"


"Diam!" bentak Badai yang membuat Air tak bisa berkata-kata lagi, ia begitu takut dan menyesal sekarang. harusnya ia tak mendatangi asal suara tersebut, sudah pasti sekarang ia tak akan terperangkap oleh jebakan singa.


"Besok kita menikah dan kau menurut!"


Deg!


Air tak ingin menikah dengan orang yang berstatus muridnya, ia juga tak sudi menikah dengan pria kejam seperti Badai.


"Saya gak mau! saya tak akan mau menikah dengan pria Br3ngs3k seperti kau!"


Plak!


Plak!


Sopir yang mengendarai mobil tak bisa menolong wanita yang di tampar oleh Tuan Mudanya. kalau ia menolong, sama saja ia menyerahkan nyawa pada malaikat maut. Air hanya menangis memegangi pipinya yang di tampar kuat oleh Badai, bibirnya juga mengeluarkan darah segar akibat kuatnya tamparan dari Badai.


Sedangkan Badai tak menghiraukan tangisan wanita di sampingnya itu, ia lebih memilih memainkan ponsel daripada harus marah.


Tak lama, mobil mereka sampai di sebuah hotel yang sudah di hias karena acara pembukaan hotel ternama milik Badai yang akan diresmikan oleh banyak tamu undangan nantinya. Ia lalu menarik tangan Air untuk mengikutinya menuju kamar VIP milik Badai.


"Hiks lepasin saya hiks!"


"Diamlah!"


Air berusaha menarik tangannya dari Badai. namun, pemuda itu malah memperkuatnya sehingga Air kesulitan buat melepaskan genggaman Badai.

__ADS_1


Brukh!


Badai langsung mendorong wanita itu keranjang yang membuat Air meringis saat lengannya terkena sudut ranjang. Pemuda tersebut langsung mencari sesuatu di lemari dan mendekati Air, ia langsung memborgol tangan wanita itu ke kepala tempat tidur, membuat Air memberontak.


Badai tersenyum puas dan mengusap pelan bibir Air yang terdapat darah kering. "Tenanglah, besok kau akan menjadi istriku," kekeh Badai membuat Air menatap tak suka pada pria itu. "Jangan menatap ku seperti itu! atau, mau melakukannya dengan ku lagi?".


"Lepasin gue! gue gak sudi menikah dengan pria tukang bunvh orang!"


Badai langsung mencengkram kuat rahang Air, membuat wanita itu menoleh. "Saya gak suka di bentak seperti itu," tekan Badai membuat Air mengerakkan kepalanya sehingga cengkraman Badai terlepas.


Tin!


Badai mengeluarkan ponselnya dan ia melihat sebuah pesan dari seseorang untuk membunvh orang lagi, apalagi melihat nominal uang yang cukup besar buatnya. Ia sudah tak sabar untuk melenyapkan seorang pemimpin kota ini.


"Kau jangan kemana-mana, kalau kau berani kabur! kau akan saya hukum!"


Air tak menghiraukan perkataan pria itu dan memilih mengalihkan pandangannya dari pria tersebut. tak lama, ia melirik Badai yang sudah pergi yang membuatnya lega sekali. Air juga bingung memikirkan cara buat melepaskan borgol yang ada di kedua tangannya.


Disisi lain, Badai mengotak-atik ponsel sambil berjalan menuju parkiran. "Kita ke alamat****," jelas Badai setelah memasuki mobil.


"Baik, Tuan!"


*


Ia juga menatap sekelilingnya untuk memastikan tak ada yang melihatnya masuk.


"Sia ... Argh!"


"Menganggu," ketus Badai sambil memasang penutup kepalanya lalu memasuki masion tanpa menghiraukan satpam yang sudah tewas akibat ia tusuk di bagian dada.


"Hei! siapa kau?!"


Badai menoleh pada pria paruh paya yang baru keluar dari kamar. Ia lalu memperlihatkan pisau yang sudah berlumuran darah segar, membuat pria paruh baya itu ketakutan sekali.


"Kau harus saya bunvh, Tuan!"


Badai mendekati pria itu secara perlahan, sehingga orang itu langsung melempar guci kearah Badai. Tapi ...,


"Hentikan! jangan bunvh suami saya!"


Badai menoleh pada orang yang mendekatinya, langsung saja Badai membuka penutup wajahnya yang membuat pasangan itu kaget. "Halo, Mama kandung! sudah lama kita gak bertemu," senyum Badai membuat wanita itu kaget sekali. "Pantesan Mama gak pulang-pulang dan ceraikan Papa tiba-tiba. ternyata memilih pria ini,".


"Ba-Badai, i-ini ga-gak ...,"


"Berhentilah bicara, Nyonya. saya gak petlu mendengarkan penjelasan anda lagi karena saya tak menganggap anda sebagai Mama kandung saya," ketus Badai dingin.

__ADS_1


Srek!


"MAS!"


Badai tersenyum puas karena ia sengaja membuat pria itu lengah, sehingga ia bisa membunvh nya tanpa susah-susah. Ia lalu menelpon seseorang.


"Musuh anda sudah saya bunvh, kirimkan uangnya dan saya akan memberikan buktinya langsung!"


[Baiklah, saya akan mengirimkan semua uangnya dan terima kasih sudah membunvh musuh saya,]


"Sama-sama,"


Panggilan selesai, ia langsung mengambil foto lalu mengirimkannya pada kliennya itu. Badai juga tersenyum puas karena melihat nominal 2M terkirim padanya.


Plak!


"Dasar anak tak tau diri! kau membunvh suami saya demi uang?!" bentak wanita itu yang membuat Badai tertawa dan membuang sembarangan bekas permen tersebut ke lantai.


"Ini adalah pekerjaan saya, Nyonya. melenyapkan dan menghasilkan uang," kekeh Badai langsung menusuk perut Mama kandungnya, sehingga wanita itu kesakitan sekali.


Badai tersenyum puas melihat Mama kandungnya itu terkapar kesakitan. Ia langsung meletakkan sebuah bom di dekat dinding.


"Selamat tinggal,"


Pemuda itu langsung bergegas pergi sehingga Bom tersebut meledak, yang membuat masion itu hancur akibat ledakan kuat tersebut.


***


"Nona, ayo saya suapin!"


Air menoleh dengan tatapan dinginnya pada seorang wanita yang merupakan petugas hotel tersebut. "Saya gak mau dan berhentilah memaksa saya," ketus Air dingin.


"Nona, ini sudah perintah Tuan Muda. saya tak ingin tewas karena lalai menjalankan tugas," lirih wanita itu jujur.


"Buang saja makanan itu dan pergi dari sini!"


"Ta-Tapi ...,"


"Keluar!"


"Ba-Baik, Nona!"


Petugas hotel itu langsung bergegas pergi dari hadapannya, membuat Air benar-benar kesal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2