
Tin!
Badai yang baru membaringkan tubuhnya pun mengambil ponsel yang ada di atas meja di dekatnya, ia juga menoleh pada Air yang memeluk tubuhnya sehingga Badai langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh p0los sang istri. Ia kembali kembali menoleh kelayar ponsel dan melihat pesan dari nomor asing.
---
Kenalkan gue Erika Albertina,
Gue minta anda membunuh wanita yang ada di foto ini saat dia pulang dari luar negeri dan saya juga akan membayar berapapun bayarannya, kirimkan juga foto mayatnya pada gue.
---
Badai yang membaca pesan itu tersenyum miring, ia tak mungkin membunuh istrinya sendiri. Badai lalu meletakkan ponsel tersebut ke atas meja lalu membalas pelukan istrinya itu untuk ikut tidur, ia begitu mengantuk sekali saat menghadapi istrinya tadi.
Keesokan harinya, Badai mengandeng tangan Air menuju restauran sedangkan Erika mendengus kesal melihat pemandangan itu. Ia juga ingin di gandeng suaminya tapi pria itu malah membentaknya saat menuju restauran.
"Jangan bersikap kecentilan seperti itu, s i a l a n! gue benci lihat wanita kecentilan!" sentak Badai saat Erika ingin menyentuh tangannya buat duduk di samping wanita itu. Badai lalu duduk di sebelah Air dan memesan pesanan tersebut pada pelayan toko.
"Kau pesan apa?" tanya Badai memperlihatkan menu yang ada.
"Aku mau nasi goreng sama ayam goreng aja, minumannya air putih saja," jelas Air sehingga Badai tersenyum. "Kenapa itu saja? pesan yang lain juga," suruh Badai sehingga Air menggeleng tak mau.
"Aku gak mau makan banyak kek orang pertama kali ke restauran," jelas Air membuat Erika menoleh pada Air yang menatap tajam kearah nya. "Yasudah, nanti aku beliin kamu kalung emas nanti sebagai hadiah buat kamu," senyum Badai setelah menyuruh pelayan itu pergi.
"Aku bukan wanita matre yang suka emas gitu,"
"Kamu benar-benar istri kesayangan aku, jangan jadi wanita yang haus harta ya." senyum Badai memeluk istrinya itu sedangkan Erika hanya mendengus kesal karena selalu di sindir oleh pasangan tersebut.
Tak lama, pesanan mereka sampai sehingga Badai langsung memberikan sarapan buat istrinya. "Aku suapin ya," senyum Badai sehingga Air mengangguk pelan dan menerima suapan dari suaminya itu. "Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu,".
Air menoleh pada Badai yang bergegas pergi yang membuat Erika langsung menarik rambut Air. "Lepaskan aku!" kesal Air menahan rambutnya yang ditarik oleh Erika. "Gue minta lo jauhin suami gue, gue yakin kalau lo itu cuman dibayar buat pura-pura sebagai istri Badai, bukan?!" bentak Erika yang membuat Air kesakitan sekali. "Kalau lo ngomong macam-macam sama suami gue, lo yang gue bunuh!".
Air mengusap kepalanya yang sakit lalu pergi dari sana, membuat Erika tersenyum puas saat wanita itu berlari pergi.
"Mana istri gue?"
Erika menoleh pada Badai yang mendekat. "Istri kamu itu cuman aku dan wanita tadi kabur bersama pria lain," jelas Erika yang membuat Badai yakin kalau istrinya kabur karena ulah Erika.
Badai langsung berlari pergi tanpa menghiraukan teriakan Erika, yang ia harus pikirkan sekarang adalah Air. Ia takut wanita itu kenapa-napa.
Tatapannya teralih pada Air yang bersama seorang pria, membuatnya menahan marahnya lalu mendekati orang-orang itu.
"Air!"
Pria itu menoleh. "Apa anda keluarga wanita ini? wanita ini hampir tertabrak mobil," ungkap pria itu berdiri sehingga Badai kaget dan duduk di samping Air yang membuat wanita itu langsung memeluk Badai. "Makasih udah tolongin istri saya," jelas Badai yang membuat pria itu mengangguk lalu pamit pergi dari sana.
"Kamu kenapa? apa yang dilakukan wanita itu sehingga kamu kabur?"
"Hiks dia menarik rambutku terus ngatain aku j4lang, dan dia akan mengancam buat membunuhku," isak Air menambahkan sedikit bumbu kebohongan. "Sesampai di masion nanti, aku bakalan menghukum dia, sekarang jangan nangis," bujuk Badai sehingga Air mengangguk.
Badai langsung mengendong Air menuju sebuah restauran yang tak jauh dari restauran tadi, ia berniat untuk makan berdua dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Badai, aku mau makan di tepi jalan sana!"
"Baiklah,"
Badai langsung membawa istrinya menuju pedagang yang ada di tepi jalan. Air langsung memesan makanannya dan menoleh pada ponselnya, ia melihat beberapa pesan dari Erika padanya. wanita itu menginginkan Air tewas, ia tak peduli dengan pesan tersebut. Ia lalu meminta foto wanita tersebut untuk memastikan siapa Erika.
Tin!
Badai melihat foto Erika. 'Lihat saja nanti, Erika! kau bakalan tersiksa setelah mengatai istri gue,' batin Badai mematikan ponselnya lalu menoleh pada Air yang asik makan.
*
Cklek!
Erika yang asik memainkan ponsel di dalam kamar hotel pun menoleh pada Badai yang masuk, sehingga wanita itu langsung beranjak dari kasur mendekati Badai. "Kamu mau tidur disini?" tanya Erika sambil tersenyum yang membuat Badai langsung menutup pintu dan mencengkram rahang istrinya itu.
"Maksud lo ngatain istri gue j4lang apaan, hah?!"
"Ak-Aku gak ngatain dia j4lang kok, dia itu pembohong,"
Plak!
Badai menampar kuat pipi Erika yang membuat wanita itu tersungkur dilantai. "Gue lebih kenal siapa wanita gue, lo itu cuman wanita asing yang masuk ke kehidupan gue dan satu lagi, gue gak akan sudi mengakui Lo sebagai istri gue di depan publik! karena gue ingin publik istri pertama gue yang dikenal sebagai istri seorang CEO Asia," tekan Badai lalu pergi dari sana yang membuat Erika kesal.
"Gue bakalan buat wanita itu menderita, sehingga wanita itu pergi dan gue yang bakalan jadi istri yang dipublikasikan oleh Badai nantinya," lirih Erika mengusap pipinya yang sakit akibat tamparan Badai tadi.
Badai lalu memasuki kamar dan melihat Air yang mengotak-atik ponsel miliknya. "Kamu ingin membunuhku?" tanya Air memperlihatkan pesan dari Erika.
"Badai,"
"Ada apa, Sayang?"
"Aku pengen pulang dari sini, walau aku suka disini tetap saja aku ingin pulang," jelas Air membuat Badai mengusap perut rata Air. "Pasti permintaan dedeknya ya? Yasudah, kita pulang hari ini dan aku gak ingin calon anakku ileran kalau permintaannya tak dituruti," senyum Badai langsung mengambil koper dan memasukkan barang-barang kedalam tasnya.
"Badai,"
"Ada apa lagi?"
"Kenapa kamu gak menolak wanita itu saat di jodohkan denganmu?"
Badai yang mendengar itu terdiam lalu tersenyum. "Aku menerimanya karena terpaksa, kakekku itu orangnya nekat dan sudah tua. kalau saja dia gak nekat saat mengetahui kamu adalah istri aku, dia pasti akan membunuh kamu. aku juga ingin membunuh Kakek tapi aku sangat menyayanginya karena dia yang selalu menemani aku waktu kecil," ungkap Badai jujur yang membuat Air mengerti. "Ada yang ditanyakan lagi?".
"Owh iya, kalau Instagram dan aplikasi lainnya di download dari play store, play store di download dari mana?"
"Jangan menambah beban pikiranku," kesal Badai karena kesal dengan pertanyaan konyol istrinya itu.
"Kalau kuota terbuat dari mana?"
"Berhentilah bertanya hal-hal konyol seperti itu, aku gak mau jadi beban pikiran sama kamu,".
"Baiklah, aku akan berhenti bertanya,"
__ADS_1
***
Badai mengusap kasar wajahnya karena tak mengerti dengan tingkah istrinya yang sedang hamil itu, sejak pulang dari jalan-jalan. wanita itu langsung saja masuk kedalam masion tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya.
"Kenapa cepat pulangnya, Badai?" tanya Kakek sehingga Badai menoleh.
"Ak-"
"Badai tak mau honeymoon denganku, Kek. Badai juga membawa wanita itu dan mereka juga sudah menikah," lapor Erika yang membuat langkah Air terhenti menoleh.
"Aku punya suami dan gak mungkin aku menikah dengan saudara tiriku yang lebih muda dariku, aku kemarin juga ketempat Mamaku," jelas Air sehingga Badai tersenyum tipis dengan keberanian istrinya itu.
"Kalau kau memang punya suami, kenapa tinggal disini? ini masion milik Cucu saya dan harusnya kau tinggal dengan suami kamu itu!" bentak Kakek membuat Air terdiam karena tak menyukai di bentak oleh orang-orang.
"Kakek, udah! Kak Air tinggal disini beberapa bulan karena suaminya ke luar kota sedang kerja. lagian, yang dibilang Kak Air itu benar. usia kami berbeda dan gak mungkin juga aku nikah sama Kakak yang sudah aku anggap kakak sendiri," jelas Badai membuat pria tua itu mengangguk mempercayai ucapan cucunya itu.
"Kakek, Badai itu berbohong!"
"Cucu kakek gak pernah berbohong, Erika!" jelas Kakek membuat Erika mendengus kesal. "Badai, ajak istri kamu istirahat di kamar!".
Air menatap kesal saat Erika memegangi tangan suaminya yang membuatnya kesal lalu bergegas menuju kamar lantai atas dan tak lupa mengunci pintu kamar, sekaligus jendela kamar yang sudah di perbaiki oleh suruhan Badai. Ia tak ingin nanti malam suaminya itu mendekatinya.
Tak lama,
"Sayang, buka pintunya! kamu harus sarapan!" tutur Badai di luar sedangkan Air tak membalasnya dan memilih memakan ayam yang sempat ia beli di jalan tadi.
"Hei! kau itu lagi hamil dan harus makan! buka pintunya!"
"Aku gak mau makan!"
"Jangan menyiksa diri! Cepat buka pintunya atau aku dobrak!"
Air bergegas bersembunyi di bawah tempat tidur supaya tak di temukan oleh suaminya itu.
BRAK!!!
Badai memasuki kamar dan tidak menemukan wanitanya. 'Dia pasti sembunyi,' batin Badai tersenyum lalu merasakan ada yang mengintainya dari bawah tempat tidur.
"Keluarlah dari sana, disana pasti banyak tikus!"
Gubrak!
Badai yang mendengar suara benturan pun langsung bergegas melihat istrinya yang sudah memegangi kepala. "Astaga, cepat keluar!" panik Badai menarik tangan Air sehingga wanita itu keluar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Pemuda itu langsung mengusap kepala Air yang membentur tempat tidur. "Sakit?" tanya Badai lembut sehingga Air mengangguk sambil menggigit bibir menahan sakit di kepalanya. "Makanya jangan bandel, ayo ke bawah!".
Air hanya menurut sambil mengusap kepalanya yang masih kesakitan akibat terbentur tadi.
"Badai, suara apa tadi?" tanya Kakek saat mendengar suara dobrakan keras tadi.
"Tadi pintu kamar Kak Air susah di buka makanya Badai dobrak," jelas Badai sehingga Kakek mengangguk.
__ADS_1
Bersambung...