Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#8 Di Culik


__ADS_3

Air lalu duduk di samping Badai, membuat pria itu tersenyum dan melirik sekilas pada Salsa yang menatap kesal kearah mereka.


"Astaga, Air! kamu ngilang mulu, ayo pulang!" ajak Rika sehingga Air menurut sedangkan Badai hanya terkekeh kecil melihat tingkah istrinya yang sudah pergi.


"Badai, kenapa gak diminum minumannya?"


"Iya, balas Badai mengambil minum itu dan pura-pura meminumnya, ia juga melirik Salsa yang juga ikut minum yang membuatnya tersenyum tipis. Badai lalu meletakkan gelas itu lalu beranjak berdiri sebelum ia yang kena.


"Gue ke toilet duluan, biar pesanannya gue yang bayar," jelas Badai pergi, pemuda itu langsung mencari seorang pria yang terlihat seperti preman.


"Lo butuh wanita gratis, gak?" tawar Badai pada dua preman yang asik bicara.


"Emang ada yang gratis?" tanya salah satunya penasaran. "Lihat itu, wanita itu cocok buat kalian. saya sudah kasih dia obat dosis tinggi, cepat kesana! kalau dia nuntut, saya bisa bebaskan kalian berdua," suruh Badai sehingga kedua preman itu mengangguk. "yang kasar,".


"Baik,"


Badai melirik kedua preman itu menggoda Salsa dan kebetulan suasana terlihat sepi, ia hanya tersenyum miring melihat Salsa yang sudah memeluk pria itu.


"Badai!"


"Emak gue pargoy!" pekik Badai kaget lalu menoleh pada Air yang sudah tertawa bersama Rika, membuat wajah Badai memerah menahan malunya. "Kamu mengemaskan sekali!" tawa Air memeluk tubuh Badai sehingga Badai hanya bisa mengumpat di dalam hati, image nya mendadak buruk saat ini gara-gara istrinya.


Badai langsung mengendong Air meninggalkan Kafe dan ia juga sudah memberikan uang pada pelayan. "Kau membuatku malu saja," kesal Badai membuat Air mengalungkan tangannya di leher Badai. "Kan gak ada orang, cuman ada Rika saja," jelas Air kesal.


Pemuda itu langsung menyandarkan Air di mobil tanpa berniat menurunkan istrinya itu dari gendongan nya. "Tetap saja saya malu," jelas Badai langsung mencium wanita nya itu, pemuda itu sempat kaget saat Air membalasnya. Badai lalu melepaskan nya sehingga wanita itu menoleh padanya. "Udah pandai juga ya," kekeh Badai mencubit gemes pipi Air.


"Kau yang mengajarkannya,"


"Baiklah, aku yang mengajarkannya semuanya. ayo pulang dan aku akan menghukum kamu karena sudah membuatmu kaget," jelas Badai menurunkan Air.


"Hukum apaan?"


"Kau gak tau aku saja, masuk!"


"Ak-Aku kabur saja!" panik Air kabur yang membuat Badai langsung mengejar istrinya itu, ia tau kalau Air tak serius kabur darinya karena wanita itu takut dengan hukuman darinya saja.


"Aku gak mau di hukum lagi!"


"Jangan lari-larian! kau lagi hamil!" kesal Badai mengejar istrinya itu, ia sontak menghentikan langkahnya saat Air berhenti. "Mau martabak itu!" pinta Air menunjuk kearah pedagang Martabak, membuat pemuda itu menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Air.


"Yasudah, kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana,"


"Baiklah,"

__ADS_1


Badai langsung bergegas menuju pedagang martabak untuk permintaan istrinya yang tengah hamil tersebut.


"Emmgh!"


Air kaget saat seseorang membekap mulutnya dan menariknya pergi dari sana. "Akhirnya kita dapatkan wanita yang dekat dengan pria itu," kekeh salah satunya.


"Lepasin saya!" kesal Air memukul punggung pria itu karena mengendongnya ala karung beras.


"Mendingan kau diam saja, Nona cantik!" tawa yang lain sehingga Air benar-benar kesal sekali.


Semuanya langsung mengikat tubuh Air di sebuah kursi dan tak lupa menutup mulut Air supaya gak berteriak, bisa-bisa ada orang yang mencurigai mereka semua. sedangkan Air menatap ke lima pria itu dengan tatapan tajam, ia juga berdoa supaya suaminya datang menyelamatkan nya.


"Mulus juga kulitnya," kekeh seseorang menyentuh pipinya, membuat Air memberontak karena tak suka di sentuh pria lain kecuali suaminya.


Brak!


Semuanya menoleh kearah pintu markas yang di dobrak, mereka menatap Badai yang menatap tajam sambil membawa kapak besar di tangan kanannya.


"Berani-beraninya kalian menculik istri gue," kesal Badai mendekat sehingga suara kapak yang tertarik oleh Badai.


"Hiks dia menyentuh pipi ku dan menyentuh tubuhku!" jelas Air setelah mengeluarkan kain yang ada di mulutnya.


Badai yang mendengar itu makin marah, ia menatap satu persatu preman yang berani menculik istrinya dan untung saja ada yang melapor padanya tadi.


Air benar-benar kaget saat Badai menghajar orang-orang itu dan juga melayangkan kapak besar itu ke kepala Preman tersebut hingga putus.


Wanita itu memejamkan mata karena tak sanggup melihat Badai menghabisi orang-orang itu secara bruntal.


Tak lama, Badai melepaskan kapak yang ada di tangannya dan tak lupa membuka sarung tangan yang sempat ia pakai karena tak ingin meninggalkan bukti.


"Kamu gak papa? yang mana saja di sentuhnya?"


Air membuka matanya lalu memeluk Badai setelah ikatannya terlepas. "Hiks takut," isak Air membuat Badai mengusap kepala wanitanya itu. "Sekarang diam, sudah ada aku," jelas Badai lalu mengendong Air buat pergi dari gudang tersebut.


"Martabaknya mana?"


"Aku letakkan di mobil," jelas Badai sehingga Air terdiam. tak butuh lama, keduanya sampai di mobil yang terparkir di tepi jalan.


*


Badai lalu membaringkan Air yang sudah terlelap akibat makan martabak saat menuju hotel, pemuda tersebut tersenyum lalu mengambil tissue buat membersihkan mulut Air yang belepotan.


"Mengemaskan sekali," kekeh Badai lalu menuju kamar mandi buat membersihkan diri yang terkena cipratan darah, ia juga tak ingin istrinya tiba-tiba mual saat mencium bau darah di tubuhnya.

__ADS_1


Lebih baik ia mandi sebentar daripada kena usir buat tidur di sofa, karena tak tahan dengan bau tubuhnya yang penuh percikan darah segar.


setelah ritual mandi nya selesai, ia cepat-cepat mengambil pakaian dan memakainya, ia juga tak lupa memakai lotion malam supaya kulitnya terawat. ia langsung bergegas berbaring di sebelah Air yang sudah memeluk guling.


"Astaga, gue lupa belum siapkan tugas sekolah," gumam Badai kembali beranjak dari kasur menuju meja belajar dan mengambil buku tugasnya. Walau ia bandel, ia juga rajin membuat tugas sekolahnya karena ingin lulus dengan nilai terbaik.


Ia juga kesal karena tugasnya benar-benar banyak sekali, ditambah tugas matematika yang akan di kumpulkan pagi. membuatnya benar-benar kesal sekali.


Huweek!


Badai menoleh pada Air yang duduk sambil menutup mulutnya. "Mual lagi?" tanya Badai sehingga Air menggeleng lemah, wanita itu mendekati Badai lalu duduk di pangkuan Badai sambil memeluk tubuh Badai.


Badai hanya pasrah sambil mengusap punggung Air supaya wanita itu tertidur nyaman dipelukannya. Ia kembali melanjutkan tugas sekolah nya lagi.


***


Pagi harinya, Badai sudah sampai disekolah dengan tergesa-gesa karena kesiangan dan untung saja gerbang belum di tutup oleh satpam sehingga ia lega sekali.


Brukh!


"Awh,"


Badai menoleh pada seorang wanita berseragam beda. "Ck, lemah," sinis Badai lalu pergi, membuat wanita itu menoleh pada Badai yang menjauh.


"Tampan banget sih, beruntung aku sekolah disini," senang wanita itu beranjak berdiri.


Disisi lain, Badai memasuki kelas dengan santainya tanpa menghiraukan orang-orang yang sudah masuk. Guru yang mengajar hanya pasrah dengan kebandelan muridnya yang satu itu.


"Mana tugas kamu, Badai?"


Badai mengeluarkan tugas sekolahnya dari dalam tas dan kembali berjalan mendekati meja guru. pemuda itu benar-benar tak menghiraukan tatapan beberapa siswi yang menatapnya.


Ia lalu mengancingkan kancing seragamnya yang terbuka, ia baru tau kalau beberapa siswi menatapnya karena ia lupa mengancingkan dua kancing seragamnya sehingga menampilkan dada bidangnya.


Tak lama, Badai melirik siswi yang tak sengaja ia tabrak tadi masuk. ia juga tak peduli dan memilih mengeluarkan bukunya.


"Boleh aku duduk disini?"


"Gak," ketus Badai tanpa menoleh yang membuat wanita bernama Mutia itu kesal.


"Badai, biarkan dia duduk di samping kamu cuman bangku itu saja yang kosong!"


Badai pasrah lalu mengeset bangku maupun meja menjauhinya. "Jangan berani-berani mendekati gue," ketus Badai dingin membuat wanita itu pasrah lalu duduk.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2