Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#4 Makan Malam Di Restauran


__ADS_3

Badai menuruni mobilnya yang membuat seorang petugas hotel mendekatinya dengan tergesa-gesa. "Kau sudah menyuruhnya sarapan?" tanya Badai dengan tatapan dinginnya, membuat wanita itu menggeleng pelan. "Say-Saya sudah paksa, Tuan. tapi, dia tak mau," ungkapnya jujur, membuat Badai langsung berjalan menuju kamarnya.


Ckelk!


Ia menoleh pada Air yang sedang duduk sambil berusaha melepaskan diri dari borgol tersebut. "Makanlah!" suruh Badai membuat Air menoleh.


"Saya gak mau, sebelum kau melepaskan saya dari sini!"


Plak!


Air meringis saat Badai kembali menamparnya kuat, wanita itu hanya menangis karena sudah tak sanggup seperti ini terus. "Sekarang kau sarapan atau gue paksa?" ancam Badai mencengkram kuat leher Air, membuat wanita itu kesulitan bernafas.


Ia menoleh pada Badai yang menatapnya tajam. "Ke-Kenapa kau gak bunvh saya langsung, ha?" gagap Air menatap tajam kearah Badai, sehingga pemuda itu tertawa lalu melepaskan cengkeramannya. "Saya bisa saja membunvh kamu langsung saat malam itu, tetapi saya tertarik sama kamu," kekeh Badai jujur.


"Sekarang lepaskan saya! Saya tak ingin berada disini!"


"Saya gak bakalan melepaskan kamu, kau itu milik gue!!"


"Awh,"


Badai menoleh pada Air yang meringis kesakitan memegangi perut. "Mendingan kau sarapan daripada tersiksa menahan sakit di perut, buka mulutnya!" suruh Badai mengulurkan segelas air putih pada Air.


"Saya gak sudi!"


Pria itu menoleh sekilas lalu meletakkan makanan itu ke atas meja kembali, ia ingin melihat wanita itu sampai kapan bertahan saat perutnya sudah sakit akibat mag. "Yasudah kalau begitu," balas Badai lalu beranjak berbaring di sebelah Air karena mengantuk sekali, ia juga menghadap kearah Air sambil memeluk guling.


'Aduh, perutku sakit sekali,' batin Air kesakitan sekali, ia juga baru ingat kalau belum makan sejak tadi karena terlalu sibuk mengurus anak-anak bermasalah ditambah kejadian di rooftop. Ia menoleh pada Badai yang memeluk guling, pemuda itu sudah mulai mendengkur halus.


Air memejamkan mata untuk berusaha menahan sakit di perutnya, ia begitu tak tahan lagi saat sakit menjalar di perutnya.


Badai yang pura-pura tidur pun membuka matanya, ia menoleh pada Air yang sudah menangis karena kesakitan sekali. membuatnya begitu kasihan sekali, ia beranjak dari tidurnya lalu mengambil gelas yang ada di atas meja.


"Sekarang menurutlah! minum ini!"


Air menoleh pada Badai, sehingga wanita itu perlahan meminum air tersebut karena haus. setelah itu, langsung saja Badai mengambil sarapan dan menyuapi Air. sedangkan Air hanya pasrah karena tak tahan dengan perutnya yang sakit sekali.


"Setelah ini kau menurut dan jangan berniat meninggalkan kamar ini," ketus Badai yang sibuk menyuapi Air, Air hanya diam karena begitu lapar sekali. 'Kalau kau menurut, gue gak bakalan kasar,' batin Badai menatap Air yang mengunyah sarapannya.


setelah wanita itu sarapan, Badai langsung meletakkan piring ke atas meja. Ia juga membuka salah satu borgol yang membuat Air kebingungan.


"Nih! kalau bosan menonton lah!" ketus Badai memberikan remote pada Air, pemuda itu membaringkan Air dan memeluk wanita itu untuk melanjutkan tidurnya lagi.

__ADS_1


'Kenapa dia mendadak baik gini? aku gak boleh terpengaruh dengan perlakuannya, bisa jadi aku akan dibunvh tiba-tiba,' batin Air lalu menghidupkan televisi.


Deg!


Air menoleh pada Badai yang membuka kancing bajunya. "Kau jangan macam-macam lagi!" panik Air menahan tangan Badai. "Diamlah!" kesal Badai menjauhkan tangan Air lalu menarik selimut hingga menutupi leher Air, wanita itu mengigit bibir pria itu dengan seenak jidat menyus* padanya. Kalau ia punya keberanian, ia sudah membunvh pria di dekatnya ini.


Air berharap ada seseorang yang membantunya bebas dari tempat ini. Ia ingin sekali bebas dari tempat ini tanpa ada kekerasan terhadapnya, sudah cukup ia menderita sedari kecil.


setelah lama menonton, Air mematikan televisi lalu memejamkan mata untuk tidur. tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup saat ini. sedangkan Badai, sudah tertidur pulas di dalam selimut.


*


Air membuka matanya dan menoleh kearah sampingnya, wanita itu tak menemukan Badai di dekatnya.


Cklek!


"Kau mau mandi?"


Wanita itu menoleh dan langsung mengalihkan pandangannya dari Badai yang hanya berbalut handuk. jujur, pemuda itu begitu tampan saat ini.


"Kau bisa gak, kalau pakai baju di kamar mandi saja?"


Badai tertawa pelan. "Kamu sudah melihat semuanya, buat apaan malu gitu?" tawa Badai membuat wajah Air memerah. "Sana mandi, nih!"


"Sana mandi! mau gue mandiin?"


"Aku bisa sendiri!" ketus Air bergegas memasuki kamar mandi yang membuat pemuda itu tersenyum tipis, ia lalu membuka lemari untuk memakai pakaiannya.


Tok!


Tok!


Badai menggerutu kesal lalu berjalan menuju pintu kamarnya. "Maaf menganggu, Tuan. ini semua pakaian yang di pesan," lirih wanita itu menunduk karena tak sanggup melihat wajah pemilik hotel tersebut. Badai menerima paperbag tersebut lalu menutup pintu tanpa berkata apapun.


"Benar-benar pria yang irit bicara," gumam wanita itu bergegas pergi dari sana.


Pemuda itu langsung meletakkan paperbag tersebut ke atas ranjang dan kembali mengambil pakaiannya lalu memakainya.


20 menit kemudian ...,


"Wanita itu lama sekali mandinya, apa yang dilakukannya sampai selama ini?" gumam Badai lalu menuju pintu kamar mandi. Baru saja ia ingin mengetuk, pintu itu terbuka yang menampilkan Air yang berbalut handuk.

__ADS_1


"Ngapain kau?"


"Kenapa mandinya lama sekali? kau ingin sakit?" bentak Badai membuat Air menunduk ketakutan sekali, Badai menghela nafas lalu memeluk Air yang membuat wanita itu bungkam. "Gue gak ingin kau sakit," lirih Badai mencium kening Air dan melepaskan pelukannya. "Tuh pakai baju yang gue beliin,".


Air lalu mendekati tempat tidur dan melihat banyak sekali pakaian bagus buatnya termasuk ... pakaian dalam wanita.


"Kau yang memilih pakaian ini? kenapa hitam semua?"


"Bukan gue yang beli, dan soal warna. gue suka warna hitam," jawab Badai dengan entengnya. "Pakai pakaian bagus dan bermake-up, kita makan malam di luar,".


"Kenapa kau tiba-tiba baik gini?" selidik Air penasaran yang membuat Badai menoleh.


"Kalau kau gak berniat kabur dan penurut, gue bakalan bersikap baik. kalau kau kabur, jangankan gue tampar. kau bisa gue siksa sepuas gue," tekan Badai yang membuat Air benar-benar takut sekali.


***


Sekarang, keduanya sampai di sebuah restauran yang begitu mewah sekali.


Brukh!


"Awh," ringis Air sehingga Badai langsung menolong Air, ia juga menoleh pada wanita yang berlalu saja tanpa merasa bersalah "Kau gak papa?" tanya Badai sehingga Air menggeleng.


"Aku gak papa,"


"Wanita itu harus gue bunvh!"


"Jangan, aku baik-baik saja," isak Air menahan tangan Badai.


"Dia sudah membuatmu terluka dan menangis, yang boleh membuat kau menangis cuman gue!" bentak Badai lalu bergegas mengejar wanita itu, membuat Air menatap kepergian pria itu.


Tak lama, Badai kembali setelah melenyapkan wanita yang menabrak wanitanya. ia juga khawatir kalau Air kabur darinya karena wanita itu ia biarkan sendiri. Tatapannya teralih pada seorang wanita yang duduk di bangku sambil mengobati luka di kakinya.


"Masih sakit?"


Air menoleh pada Badai lalu menggeleng, Badai lalu mengendong Air menuju restauran. pemuda itu juga dengan santainya mengendong tubuh mungil Air yang tak terlalu berat baginya.


"Kenapa gak berniat kabur tadi? kau bebas,"


"Yasudah, turunkan aku dan aku bakalan kabur," kesal Air yang membuat Badai tertawa pelan.


"Jangan," balas Badai mendudukkan Air di sebuah bangku restauran. Badai lalu memanggil pelayan untuk mencatatkan pesanannya karena ia sudah lapar sekali saat ini.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2