Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#23 Pindah


__ADS_3

Berbulan-bulan berlalu...


Air yang sudah hamil besar pun mendekati Badai yang memegangi surat kelulusan nya. pria itu tampak bahagia sekali saat mendapatkan nilai yang sangat memuaskan buatnya.


"Selamat ya!"


Badai menoleh dan langsung memeluk istrinya itu. "Aku senang bisa lulus dengan nilai bagus, aku akan kuliah sungguh-sungguh supaya aku bisa menjadi ayah yang pintar buat calon anakku," senyum Badai mengusap perut Air yang sudah berusia lima bulan tersebut.


"Cie yang udah keterima di universitas impian,"


Badai melepaskan pelukannya dan melihat beberapa anggotanya mendekat. "Iya," balas Badai terkekeh kecil.


"Lo jangan lupain kami semua ya! Lo tetap jadi Bos kami saat lo ke-indonesia lagi. nih, kami bawakan hadiah karena kalian hari ini langsung berangkat keluar negeri," kekeh Ferdi memberikan beberapa paperbag. "Thanks ya," balas Badai menerimanya.


"Ini hadiah buat Buk Air, makasih udah ajarin saya belajar walau saya sering dapat tatapan maut dari suami anda." kekeh Agung memberikan sebuah kereta bayi dan beberapa pakaian bayi berwarna biru, karena jenis kelamin calon anak Air adalah laki-laki.


"Ah, makasih!" senyum Air menerima hadiah tersebut.


Tak lama, sebuah mobil mewah mendekat yang membuat semua yang ada di sekolah menoleh.


"Kami pamit dulu,"


"Jagain ponakan kami semua! awas lo gak ke Indonesia lagi, Bos!" teriak beberapa anggota sehingga Badai terkekeh dan memasuki mobil buat pergi menuju bandara karena helikopter pribadinya sudah stand by disana.


"Kalau kuliah disana, kau jangan ganjen sama cewek cakep disana,"


Badai menoleh. "Gak bakalan kok, aku orangnya setia dan gak bakalan tergoda sedikitpun," balas Badai memeluk Air dan mengusap lembut perut istrinya tersebut. "Aku gak sabar jadi Papa diusia muda,".


Air hanya menatap perutnya yang diusap oleh Badai, ia begitu nyaman sekali kalau Badai mengusap perut buncitnya itu, benar-benar nyaman sekali.


"Sekarang kamu tidur di pelukan aku saja, nanti kamu kecapekan apalagi perjalanannya bakalan jauh," jelas Badai sehingga Air memejamkan mata di pelukan hangat Badai.


*


Sesampai di sebuah apartemen yang tak jauh dari kampusnya, Badai langsung mengendong Air dengan susah payah karena ia sekarang berusaha mengendong dua orang sekaligus. Badai lalu membaringkan tubuh istrinya ke kasur empuk tersebut.


Ia lalu menarik selimut dan menyelimuti wanita itu dengan hati-hati sehingga Air menggeliat kecil dan memeluk guling.


Langsung saja Badai mengambil bantal kecil dan meletakkannya di punggung Air supaya tak membuat wanita itu kesakitan.

__ADS_1


Badai lalu membereskan semua barang-barangnya tersebut karena tak ingin istrinya melakukannya besok pagi, lebih baik ia yang melakukannya. Badai takut istrinya kecapekan dan mendadak sakit.


Dreett!


Badai langsung mengeluarkan ponselnya dan melihat nomor asing yang menelponnya, ia lalu mengangkat panggilan tersebut karena penasaran sekali.


"Siapa?"


{Ini gue, lo bisa keluar dari apartemen lo? gue diluar sekarang,}


"Masuk saja, gue gak bisa keluar dari kamar sekarang!"


{Baiklah,}


Panggilan pun terputus sehingga Badai kembali melanjutkan aktivitasnya meletakkan pakaian mereka kedalam lemari.


Krek!


Badai menoleh pada pria yang masuk. "Ada apa lo nelpon gue?" tanya Badai dengan entengnya sedangkan pria itu menoleh pada wanita yang tengah tertidur lelap di dalam selimut tebal tersebut. "Lo jangan lihat istri gue kek gitu!".


"Eh, maaf! kenapa lo bawa dia kesini?"


"Iya juga sih, owh iya! gue udah dapatkan toko kue di dekat kampus kita dan anak-anak kampus juga sering belanja kue di toko tersebut, tokonya juga sedikit kecil," jelas Rangga jujur.


"Apa gak ada toko kue yang lain?"


"Ada sih, tapi agak jauh dari kampus."


"Huft, gue gak suka istri gue punya toko kecil tapi gak papa, gue juga bisa datang setiap saat,"


Rangga yang mendengar itu mengangguk setuju, keduanya sama-sama menoleh pada Air yang mulai bangun. "Badai," lirih Air membuat Badai langsung mendorong Rangga buat keluar sehingga pria yang didorong itu kebingungan. "Istri gue kalau bangun bisa ngamuk, lo pulang saja besok gue kasih bayaran buat lo,".


Cklek!


"Aneh," gumam Rangga bergegas pergi dari sana.


Disisi lain, Badai mendekati Air yang sudah membuka matanya. "Kenapa bangun? lapar?" tanya Badai lembut sehingga Air menoleh. "Lapar," balas Air sehingga Badai langsung mendudukkan Air sedangkan wanita itu hanya menurut.


"Bentar ya, aku beli sarapan dulu," senyum Badai bergegas pergi yang membuat Air menoleh, wanita itu juga beranjak dari kasur dan berjalan mendekati balkon, ia benar-benar kagum melihat pemandangan dari lantai tujuh tersebut.

__ADS_1


Air lalu menoleh kearah langit yang dihiasi taburan bintang dan sebuah cahaya rembulan yang indah sekali. Ia benar-benar bahagia melihatnya walau ia tak menghiraukan udara dingin yang menyentuhnya.


Tatapannya beralih ke arah jalan dan melihat Badai yang berjalan melintasi jalanan yang begitu ramai akan kendaraan. Air lalu berjalan menuju bangku yang ada di dekat pagar balkon, ia juga menopang dagunya di pagar tersebut untuk menatap pemandangan yang benar-benar indah itu.


Air juga menoleh kearah kanannya dan melihat sebuah universitas yang begitu besar, tempat dimana suaminya akan kuliah beberapa minggu lagi. Ia juga heran karena suaminya baru lulus SMA dan dua minggu lagi sudah mulai memasuki kuliah, sangat berbeda dengannya yang lulus SMA dan harus menunggu beberapa bulan buat masuk kuliah.


Tak lama..


"Ekhem!"


Air tersentak kaget sehingga Badai langsung memeluknya. "Kaget banget ya?" panik Badai sehingga Air mengangguk pelan. "Kenapa disini? kau bisa kedinginan ditambah ini masih jam lima subuh,".


"Jangan marah-marah, mana makanannya? aku lapar!"


"Nih, makan di dalam!"


"Gak mau, aku mau makan disini sambil lihat pemandangan,"


"Ck, baiklah," pasrah Badai melepaskan jaket dan memasangkannya pada Air supaya wanita itu tak kedinginan akibat cuaca subuh ini.


***


Badai tampak berjalan santai menuju kampusnya tersebut untuk menyerahkan data-data identitasnya, ia tak memperdulikan beberapa mahasiswi menatap kagum padanya.


"Hai, kamu calon mahasiswa baru disini ya?"


Badai menghentikan langkahnya pada beberapa mahasiswi mendekatinya. "Iya, saya juga baru datang dari Indonesia. kalian bisa antar saya ke kantor dosen?" tanya Badai sehingga keduanya mengangguk setuju.


Mereka lalu pergi menuju ruangan yang akan dikunjungi. "Nama kamu siapa dan masih jomblo kah?" tanya salah satu dari mereka penasaran.


Badai tak membalasnya dan memilih memasang headphone nya untuk mendengarkan musik, membuat kedua wanita itu kagum dengan Badai yang terkenal dingin.


Mereka hanya melihat sifat dingin Badai, belum lagi melihat sikap kejam Badai. yang sudah dipastikan bakalan membuat kedua wanita itu akan trauma mendekati Badai.


Disisi lain, Air tampak senang membuat kue bersama karyawannya. Ia benar-benar bahagia saat Badai memberikannya sebuah toko kue untuk mengusir rasa bosan nya.


"Masukin ke oven ya,"


"Baik, Nyonya!" balas pekerja tersebut membawa cetakan kue tersebut. Air lalu membantu karyawan nya buat melayani beberapa pembeli yang menginginkan kue.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2