
Selama pelajaran berlangsung, Badai hanya fokus belajar tanpa berniat mengajak wanita di sampingnya buat bicara. tak lama, istrinya masuk sehingga Badai tampak bersemangat buat belajar. istrinya benar-benar mengemaskan dan sedikit..., menggoda imannya.
"Selamat siang semuanya, hari ini saya akan mengantikan Buk Maryam buat mengajar biologi," jelas Air tersenyum sehingga yang lain mengangguk setuju.
Tatapan Air terhenti pada Badai yang duduk dengan murid baru, Badai yang tau maksud tatapan Air pun langsung mendorong meja wanita itu menjauhinya.
"Jangan mendekati meja gue, kenapa masih lo dekati!" kesal Badai membuat Mutia menoleh.
"Badai, kita satu bangku seperti yang lain. kenapa kau menyuruhku menjauh?"
"Gue alergi sama wanita kek lo,"
Badai lalu menoleh ke depan dan melihat sang istri tengah menulis di papan tulis, wanita itu benar-benar cantik dari belakang yang membuat Badai makin cinta.
Huweek!
Pemuda itu sontak berdiri saat melihat Air terduduk. Ia langsung mengambil botol susu lalu mendekati Air dan mengendong wanita itu keluar dari kelas. Ia juga tak menghiraukan tatapan guru-guru ataupun teman sekolahnya yang menatapnya.
"Masih mual lagi?" tanya Badai penasaran, membuat Air mengusap perutnya pelan.
Sesampai di UKS, Badai langsung mendudukkan Air di ranjang UKS. "Nih, minum susunya," suruh Badai menyodorkan botol tersebut sehingga Air meminumnya, setelah minum susu itu. Air langsung memeluk Badai, membuat pemuda itu pasrah dan mengusap punggung istrinya itu.
"Istirahatlah,"
"Gak mau," lirih Air sehingga Badai menoleh pada Air yang memejamkan mata.
Huweekk!
Lagi-lagi Air kembali mual, membuat Badai khawatir sekali. "Badai, aku pengen makan di kantin. temani aku!" pinta Air turun dari ranjang tersebut sehingga Badai mengangguk pelan.
Keduanya berjalan menuju kantin sedangkan Badai juga membawa botol susu milik istrinya itu.
"Bibi, satu mangkok bakso pedas ya!" pinta Air membuat Badai menoleh. "Jangan yang pedas-pedas, kau lagi hamil muda," peringat Badai dengan suara pelannya, membuat Air memanyunkan bibirnya kesal.
Badai lalu menyuruh Air buat duduk, membuat wanita itu pasrah. tak lama, pesanan Air sudah sampai sehingga wanita itu langsung mengaduk banyak bakso nya.
"Boleh aku duduk disini?"
Badai menoleh pada Mutia yang tersenyum kearahnya, ia juga menatap orang-orang yang mulai berdatangan. "Gak boleh," ketus Badai lalu menoleh pada Air yang begitu lahap makannya.
Air lalu menoleh pada Mutia yang tampak kesal. "Duduklah," senyum Air sehingga Mutia mengangguk dan duduk di sebelah Air. "Pindahan dari mana?".
"Dari London, Buk." senyum Mutia sedangkan Badai mendengus kesal karena tak suka ada yang menganggu nya saat bersama istrinya. Badai langsung mengambil sambal saat Air hendak mengambil sambal tersebut, ia tak ingin wanita itu sakit perut.
"Kembalikan!"
__ADS_1
"Gak," ketus Badai sehingga Air menoleh dengan mata berkaca-kaca yang membuat Badai kesal sekali, wanita itu sering sekali menangis yang membuat Badai tak bisa apa-apa.
"Nih, awas banyak-banyak," ketus Badai sehingga Air menerimanya dan menuangkan beberapa sendok sambal. Badai lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya, ditambah ia tak suka di tatap terus oleh murid baru yang duduk di samping istrinya itu.
Disisi lain, Salsa menangis saat menyadari kalau dirinya sudah di nodai oleh dua preman yang menyeramkan. wanita itu tak tau harus berbuat apa saat ini, ia tak mau bicarakan masalah ini pada Mamanya.
Rencananya benar-benar gagal!
Cklek!
"Kenapa kau menangis lagi? bagus dong kalau Badai menyentuh kamu," jelas wanita itu memberikan segelas minuman pada putrinya, sedangkan Salsa hanya diam tak bersuara.
"Hiks tapi bukan Badai yang nyentuh aku, Ma. aku di sentuh oleh dua preman hiks!"
Wanita paruh baya itu benar-benar kaget saat mendengar perkataan putrinya. "Kamu serius?" kaget wanita itu sehingga Salsa mengangguk pelan. "Rencana kita gagap buat ngejebak Badai, kita gak bakalan kaya kalau begini caranya," kesal wanita itu membuat Salsa menangis.
"Kita harus laporkan tindakan kedua preman itu, kau masih ingat wajahnya?"
"Masih, Ma."
"Kita ke kantor polisi sekarang biar preman itu di hukum di penjara seumur hidup,"
Keduanya lalu bersiap-siap ke kantor polisi untuk melaporkan tindakan pelec*han tersebut.
*
Badai yang baru siap olahraga pun mengeluarkan ponselnya fan melihat nomor asing masuk, langsung saja ia mengangkatnya.
{Tuan, bantu kami! kami di tangkap karena sudah menodai wanita semalam,}
"Baiklah, kalian tenang saja dan saya akan ke kantor polisi itu. kirim alamatnya,"
{Baik,}
Ia langsung memutuskan telpon dan bergegas menuju ruangan istrinya. "Aku mau ke kantor polisi dan kamu jangan kemana-mana sebelum aku jemput," jelas Badai sehingga Air menoleh. "Ikut, pokoknya aku harus ikut! Nolak? tidur di lantai," ancam Air sehingga Badai mengangguk pasrah.
Keduanya lalu bergegas menuju mobil milik Badai yang terparkir tak jauh dari mereka.
Tak lama, keduanya sampai di kantor polisi dan melihat dua preman kemarin malam duduk di hadapan polisi.
"Pak, mereka tak bersalah dan mereka semalam menjaga masion saya!"
Semuanya menoleh pada Badai yang mendekat. "Benar Pak, saya seharian bekerja sama dia dan gak mungkin kalau kami melakukannya pada wanita itu," timpal salah satu dari preman tersebut.
"Mereka bohong, Pak! mereka yang melec*hkan saya tadi malam! saya ingat wajah keduanya!" sentak Salsa menunjuk kearah kedua preman itu.
__ADS_1
"Mereka bekerja di masion gue, gak mungkin mereka berkeliaran di saat gue nyuruh mereka buat jaga Buk Air yang tengah mengandung," sinis Badai membuat kedua polisi itu kebingungan saat ini. "Emangnya ada bukti kalau mereka yang lakuin? gak kan?!".
"Pak, lepaskan saya!" pinta kedua preman itu.
"Baiklah, kalian berdua di lepaskan,"
Kedua preman itu senang sekali. "Sekalian, Pak! saya ingin menutut kedua wanita itu yang berani-beraninya mengambil semua harta milik papa saya, mereka juga memalsukan sertifikat sehingga saya di usir dari rumah saya sendiri, lihat!" jelas Badai menyodorkan ponselnya karena ia mempunyai semua bukti kelicikan kedua wanita itu.
"Tangkap kedua wanita itu!"
Badai hanya tersenyum miring melihat kedua wanita itu memberontak saat di tangkap. "Makasih, Tuan. karena sudah bebaskan kami," jelas kedua preman itu sehingga Badai mengeluarkan sesuatu.
"Nih, alamat saya. kalian datang ke masion saya besok pagi dan bekerja bersama saya,"
"Baik, kami akan datang!"
Badai hanya diam lalu menarik tangan Air meninggalkan kantor polisi tersebut.
***
Keesokan paginya, kedua preman itu mendatangi masion milik Badai karena keduanya senang bisa bekerja. mereka tak akan lagi bekerja begal buat mendapatkan uang lagi, bisa-bisa mereka di kejar oleh polisi.
"Kalian pakai pakaian ini dan nanti malam saya mau bunuh orang, kalian harus ikut!"
"Baik, Tuan."
Badai lalu menyuruh kedua orang itu pergi sehingga Badai bergegas mendekati istrinya yang asik ngemil.
"Suapin!"
Wanita tersebut menoleh lalu menggeleng karena tak mau menyuapi Badai. "Buatin rujak!" pinta Air tanpa menoleh pada Badai.
"Rujak? ini masih pagi,"
"Yasudah, kalau anak kamu ileran. aku gak mau tau,"
"Baiklah, rujak apaan?"
"Mangga muda terus campur kedondong," balas Air sambil tersenyum membuat Badai ngeri dengan buah yang di sebutkan oleh istrinya barusan. Apalagi hari ini masih pagi dan malah minta buah yang extra ..., you know aja.
"Tunggu sebentar, aku cari buah itu dulu di kebun belakang,"
Air hanya mengangguk dan kembali menonton film kesukaannya.
Bersambung...
__ADS_1