Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#28 Kafka Arkananta Dirgantara


__ADS_3

Keesokan harinya, Badai mengandeng tangan putranya menuju kantor yang membuat beberapa karyawan berdiri dan menundukkan kepalanya, membuat Air begitu kagum dengan keramahan karyawan suaminya. Ia juga mendadak bungkam saat melewati banyak pria berbadan kekar bersenjata berbaris rapi.


"Badai!"


Badai tak menghiraukan panggilan itu dan seseorang langsung menahan tangannya yang membuat salah satu bawahan Badai langsung menarik wanita itu untuk menjauh. Badai menghentikan langkahnya dan menatap Karin.


"Ada perlu apa?" tanya Badai dengan dinginnya.


"Badai, siapa wanita itu?" tanya Karin penasaran sehingga Badai merangkul pinggang istrinya sambil tersenyum kearah Air yang hanya diam. "Istri saya yang menghilang 7 tahun ini dan ini putra saya," balas Badai yang membuat Karin kaget.


"Kamu berbohong, bukan? kamu pasti mau nutupi status kamu karena dikejar-kejar wanita termasuk aku, bukan?"


"Ferdi, publikasikan status gue ke publik dan alasannya," suruh Badai sehingga Ferdi mengangguk setuju dan bergegas pergi dari hadapan Badai. "Ayo Sayang," ajak Badai menarik istrinya sekaligus putranya.


Karin benar-benar kesal karena gagal mendapatkan pria yang sangat kaya, ingin bertindak tapi ia tau kalau tindakannya bakalan diketahui oleh penjaga Badai yang super ketat. Bisa-bisa ia bakalan kehilangan nyawa buat dekati Badai, ia hanya pasrah karena tak bisa memiliki Badai lagi.


Badai duduk di bangkunya dan mengeluarkan sebuah laptop sedangkan Air tampak takut saat beberapa pria bersenjata menjaga Badai di dalam ruangan, itu semua dilakukan karena Badai orang berpengaruh dan bisa saja ada yang mencelakainya.


Badai juga pernah hampir tertembak dari arah balkon dan untung saja Badai sempat mengelak, lalu membunuh musuhnya itu.


"Badai, kenapa banyak penjaga kamu kayak gini?" tanya Air sehingga Badai terkekeh kecil.


"Kamu risi?"


Air mengangguk sehingga Badai menyuruh penjaganya itu segera keluar dari ruangannya, membuat Air menoleh kearah pintu yang sudah tutup.


"Alvin mau jajan?" tanya Badai sehingga Alvin menoleh lalu mengangguk, kapan lagi ia dibelanjakan oleh Papa kandungnya. Alvin lalu mendekat dan melihat Papanya mengeluarkan sebuah kartu hitam.


"Nih, pakai kartu ini dan belanja sepuas kamu di mall okey,"

__ADS_1


"Apapun itu?"


"Iya, beli apapun yang kamu mau," senyum Badai yang membuat Albin senang. "Suruh Paman diluar buat temani kamu ke mall ya,".


"Baik, Pa!" balas Alvin segera menuju keluar ruangan. Ia menatap banyak sekali pria yang berjaga di luar.


"Paman, temani Alvin belanja di mall, boleh? soalnya Papa bilang temani Alvin," pinta Alvin sehingga salah satu pria menoleh.


"Baik, Tuan Muda," balas pria itu lalu mengajak tiga rekannya buat ikuti Alvin menuju Mall yang tak jauh dari kantor, bocah itu juga menolak buat naik mobil karena lebih suka jalan kaki. Beberapa orang yang melewatinya kagum melihat bocah kecil yang dikawal oleh beberapa pria bersenjata.


Sesampai di mall, langsung saja Alvin menuju toko kue dan membeli kue kesukaan buat Mamanya.


Disisi lain, Air tampak duduk di pangkuan Badai. Wanita itu tampak asik mengotak-atik ponsel miliki Badai sedangkan Badai sibuk menyiapkan berkas kantornya.


Air menatap sebuah berita yang menyatakan Badai sudah menemukan istrinya setelah lama menghilang dan beberapa kisah yang dibuat oleh Ferdi. "Badai, beritanya sudah viral loh! padahal baru tadi dibuat ama Ferdi," jelas Air sehingga Badai menerima ponsel dari Air.


"Baguslah kalau tersebar hingga gak bakalan ada yang kejar-kejar aku lagi," senyum Badai mencium leher putih istrinya itu. "Boleh aku minta hak aku lagi?".


"Ayang, boleh ya! satu kali aja," pinta Badai tersenyum manis yang membuat Air menggeleng tak mau. "Kamu gak mau ngasih adek buat Alvin? pasti dia kesepian jadi anak tunggal,".


"Gak mau!"


Badai langsung menelpon seseorang dibalik pintu untuk menjaga pintu ruangan nya supaya tak dibuka oleh orang termasuk putranya. Ia lalu mengendong Air menuju kamar pribadinya tersebut yang membuat Air memberontak.


Brukh!


Air tersentak saat Badai menjatuhkan tubuh mereka ke kasur empuk tersebut, Badai langsung menaiki tubuh istrinya sambil melonggarkan dasi yang melilit lehernya. "Badai, jangan macam-macam ya!" kesal Air sedangkan Badai menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring.


"Waktunya bermain, Baby!"

__ADS_1


***


1 tahun kemudian...


Badai tampak khawatir dengan istrinya yang berada di ruangan persalinan, ia ingin menemani istrinya tapi Alvin tak ingin ditinggal.


"Oeeeekk! Oeeekkk!"


Badai menghela nafas lega. "Yes! Dedeknya Alvin lahir!" senang Alvin membuat Badai langsung menangis bahagia karena kehadiran putra bungsunya.


Cklek!


"Dok, gimana keadaan istri dan anak saya?"


"Selamat ya, putra anda lahir dengan selamat dan sehat bersama istri anda, silahkan masuk!"


Badai langsung masuk dan menatap Air yang terbaring lemas di ranjang. "Makasih, kau memberikan putra kecil buat ku lagi," senang Badai mencium seluruh wajah istrinya yang membuat Air tersenyum tipis.


"Permisi, ini bayinya dan silahkan diberikan ASI pertama,"


Badai melepaskan pelukannya dan melihat Suster itu meletakkan bayi mungil itu di dada Air, tak lupa juga Badai membantu istrinya buat memberikan ASI pada putranya itu.


"Dedek tampan banget," senang Alvin mengusap pipi adiknya yang merah. "Papa, dedeknya dikasih nama siapa?".


"Gimana kalau Kafka Arkananta Dirgantara," jelas Badai yang membuat Air tersenyum.


"Nama yang bagus," senyum Air sehingga semuanya tertawa, Badai begitu senang karena ia bisa menemukan istrinya dan kini, ditambah satu anggota keluarga yang hadir membawa kebahagiaan.


"Selamat datang, Kafka," senyum Air mengusap kepala putra kecilnya itu lembut, ia tersenyum melihat anaknya yang terlelap di tubuhnya. sedangkan Alvin menatap adiknya yang asik meminum ASI

__ADS_1


TAMAT!!!!


__ADS_2