
Air tampak berusaha duduk di kursi roda yang dibantu oleh suruhan suaminya, ia berniat untuk pulang karena sudah bosan di rumah sakit terus. wanita itu mendadak bingung saat dirinya hendak dimasukkan kedalam mobil.
"Eh, kalian kenapa membawa saya ke mobil? padahal hotel nya dekat dari sini," jelas Air kebingungan sekali, membuat kedua pria itu tertawa puas setelah masuk kedalam mobil.
"Suami anda itu begitu bodoh mencari penjaga, kami adalah musuh suamimu itu," smirk salah satunya yang membuat Air kaget sekali, ia mencoba membuka pintu mobil tapi tak kunjung bisa karena sudah dikunci oleh pria itu.
"Kau gak bakalan bisa kabur, Nona." kekeh mereka melajukan mobil tersebut meninggalkan lokasi rumah sakit.
"Lepasin saya! atau saya laporkan pada suami saya?!"
"Laporkan saya karena ponsel anda berada di saya," ungkap salah satunya yang membuat Air panik sekali. tapi, ia menahan senyumnya saat mengingat pelacak yang pernah di pasang suaminya di gelangnya, ia langsung menekan sebuah tombol supaya suaminya merespon tanda darurat tersebut.
'Badai, bantu aku!' batin Air menahan tangisnya, ia langsung memukul kaca mobil saat hendak melewati kampus suaminya.
"TOLONG! TOLONGIN SAYA!" teriak Air terus saja memukul kaca mobil tersebut sehingga beberapa mahasiswa menoleh kearah mobil hitam yang melaju cepat. Caca menuju kaca belakang dan berusaha mengetuk kaca supaya orang-orang itu membantunya.
Bug!
Pandangan Air memudar saat sebuah pukulan kuat di pundaknya, wanita hamil itu ambruk tak sadarkan diri. "Kita buang saja nih wanita hamil ke kota lain, biar Badai merasakan apa arti kehilangan karena sudah melenyapkan keluarga kita," jelas pria yang mengendarai mobil.
"Ide bagus,"
Setelah menempuh jalan yang begitu melelahkan, keduanya langsung mengeluarkan Air dan meletakkannya di sebuah pohon.
Tak lupa juga mereka mengikat wanita itu supaya dimakan oleh hewan buas di hutan tersebut. setelah semuanya selesai, mereka langsung bergegas meninggalkan lokasi itu sebelum di ketahui oleh siapapun.
Air yang sebenarnya sudah sadar pun membuka matanya, ia tersenyum sinis karena sempat menghidupkan sebuah bom yang kebetulan ada di bangku belakang.
Tak butuh lama, ia mendengar suara ledakan yang begitu kuat di ujung jalan. Air menatap jalanan yang begitu sepi sekali, wanita itu juga tak bisa membuka ikatan di tubuhnya tersebut karena tangannya juga diikat di pohon.
"Tolong! ada orang kah?!" teriak Air menatap sekelilingnya untuk mencari bantuan supaya ada yang membebaskannya dari sini, ia benar-benar kesakitan di bagian perutnya yang terkena ikatan yang kuat.
Kepalanya benar-benar pusing sekali karena belum sarapan dari tadi siang dan sekarang sudah sore, ia berharap suaminya itu menemukannya disini.
Disisi lain, Badai tak henti-hentinya mencari keberadaan istrinya yang entah dimana. beberapa anggota gengnya sudah berpencar buat mencari keberadaan Air yang tiba-tiba menghilang, ia melirik kearah ponsel yang di letakkan di depan nya dan tanda merah itu tiba-tiba hilang, yang otomatis ia tak akan bisa mencari keberadaan istrinya yang tengah hamil.
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana?" lirih Badai yang terus mencari keberadaan istrinya, ia tak peduli kalau dirinya belum sarapan sejak mencari keberadaan istrinya yang entah dimana saat ini.
yang ia pikirkan dimana istrinya dan dengan siapa wanita itu sekarang, ia berharap ada orang baik yang menemukannya dan memberikannya perlindungan buat istrinya yang lagi hamil.
ia benar-benar tak menyangka kalau orang yang ia suruh menjaga istrinya malah menculik Air, ia tak akan memaafkan kedua orang itu sampai kapanpun.
Gratak!
Badai menoleh kearah Langit yang mulai gelap dan tak lama hujan pun mulai turun lebat sehingga ia terpaksa berteduh dulu di sebuah cafe terdekat bersama yang lain.
"Moga saja istri lo baik-baik saja, Bos!"
"Gue berharap begitu," lirih Badai menatap keluar kaca cafe yang menampilkan hujan yang turun begitu lebat sekali dan tak lupa dengan suara petir sekaligus sambaran kilat yang benar-benar terang.
'Sayang, aku janji akan mencari keberadaan kamu sampai ketemu dan aku harap kamu berserta anak kita baik-baik saja disana,' batin Badai menahan tangisnya saat ini.
Dua jam sudah berlalu dan tanda-tanda akan berhenti hujan pun tak ada yang membuat Badai benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya tersebut, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau tak menemukan istrinya yang sedang hamil.
Ia benar-benar merasa menjadi suami yang tak becus menjaga istri nya saat ini.
"Hujannya deras banget," jelas Agung menatap hujan yang makin lebat tersebut.
"Lo harus sabar dulu, hujan masih lebat dan angin juga bertiup kencang," peringat Ferdi membuat Badai menoleh kearah luar.
"Benar tuh Bos! kalau Bos tetap keluar bawa motor, kalau terjadi kecelakaan gimana? terus amnesia dan lupa sama kehidupan Bos," jelas Riko membuat semuanya menatap tajam kearah Riko yang nyengir kecil.
"Gue khawatir sama keberadaan istri gue, gue takut dia kedinginan ataupun kelaparan. dia pasti gak bawa apapun selain pakaian yang melekat ditubuhnya," jelas Badai kesal membuat semuanya menghela nafas panjang.
"Kita tunggu sebentar lagi, kalau hujan sudah reda kita semua bakalan cari istri lo lagi," jelas Wandi sehingga Badai bisa pasrah dan kembali duduk di kursinya lagi.
***
Hari-hari berlalu dan tahun pun juga ikut berganti, Badai hanya menatap foto istrinya yang tersenyum di ponselnya. ini sudah 7 tahun ia kehilangan istrinya yang entah dimana saat ini.
Ia benar-benar tak pernah putus asa mencari keberadaan istrinya yang pergi entah kemana, membuat nya yakin kalau istrinya itu masih hidup.
__ADS_1
"Sayang, pasti putra kita mirip banget sama aku ya?" lirih Badai tersenyum manis.
Tok!
Tok!
"Masuklah!"
Cklek!
"Maaf menganggu, Tuan. hari ini jadwal kita ke Indonesia buat mendatangi klien," jelas sekretaris Badai, ya sekarang Badai sudah sukses dan memiliki berbagai perusahaan berkembang dan tak hanya itu, Ia juga masuk kedalam kategori Mafia paling kejam.
Karena saking kaya dan kejamnya, tak ada yang berani membantah perintah nya hingga sekarang kecuali..
Cklek!
"Badai, aku bawakan kamu sarapan!"
Badai menoleh pada wanita cantik itu masuk tanpa permisi, membuat Badai mengusap dada karena gak tau harus bilang apa sama wanita itu untuk berhenti mendekatinya. Ia bisa saja membunuh wanita itu tapi ia tak bisa mengambil resiko, ia ingin menjadikan wanita itu sebagai alat buat menghancurkan keluarga wanita itu.
"Karin, bisakah kau jangan mendekati saya?! saya sudah bilang kalau saya sudah menikah!" bentak Badai membuat wanita itu terkekeh kecil.
"Badai, aku gak percaya sama kamu karena kalau iya kamu punya istri, mana istri kamu itu?" tanya Karin membuat Badai beranjak berdiri membuat para bawahannya langsung menundukkan kepala.
"Sekarang kau keluar atau saya usir pakai kekerasan?" tanya Badai tajam yang membuat wanita itu mendengus kesal lalu pergi dari ruangannya. "Buang sampah ini!".
"Baik, Tuan." balas salah satu pria mendekat dan mengambil kotak bekal tersebut lalu membuangnya ke tong sampah.
Brak!
Semua pria berbadan kekar itu langsung menodongkan pistol kearah pintu yang membuat nyali beberapa pria berjas kantor menciut. "Turunkan senjata kalian semua," suruh Badai sehingga semuanya menurunkan pistol masing-masing.
"Ketat amat penjagaan lo, Bos!" ungkap Ferdi ngeri sedangkan Badai mendekat.
"Siapa suruh dobrak pintu gue, ngapain kesini?" selidik Badai dingin.
__ADS_1
"Jajan diluar yok! kangen jajan di pinggir jalan kayak pas kuliah dulu," ajak Riko sehingga Badai mengangguk dan pergi bersama teman-temannya meninggalkan kantor tersebut.
Bersambung.......