
Keesokan paginya, Badai berjalan menuju kampus sedangkan istrinya dijaga oleh suruhannya supaya bisa memantau istrinya yang bandel.
"Akhirnya lo datang juga, Bos!" lega yang lain mendekat sehingga Badai tersenyum tipis.
"Bos, gue mau bilang sesuatu penting!" panik Agung sehingga Badai menoleh.
"Apaan?"
"Gini, gue dengar salah satu teman dan katanya kita kedatangan dosen baru," jelas Agung yang membuat semuanya langsung bersorak sinis pada sahabat mereka itu. "Dasar! gue kira penting dan darurat," sinis Ferdi membuat Agung terkekeh pelan.
"Selamat pagi, Badai!"
Badai menoleh dan terhenti melihat mata biru milik Aurel yang membuat wanita itu tersenyum penuh arti. "Ayo ke kelas," ajak Aurel mengulurkan tangan kanannya sehingga Badai menerima uluran tangan tersebut.
"Bos, lo ngapain pegang wanita itu!" tanya Agung menarik tangan Badai, Badai menoleh dan langsung mendorong sahabatnya itu. semuanya mendadak bingung dengan perubahan Bos mereka tersebut.
"Ayo sayang!" ajak Aurel mengalungkan tangannya di lengan Badai sehingga pria itu tersenyum dan pergi dari sana membuat semua anggota Badai melongo.
"AWAS LO YA, BOS! GUE LAPORIN SAMA SINGA BETINA LO! BIAR MBAK SINGA NINGGALIN LO!" teriak Riko tajam sedangkan Badai tak membalasnya, membuat semuanya kebingungan.
"Badai, kamu mencintai aku kan?" tanya Aurel memeluk Badai sehingga pria itu menoleh pada Aurel. "Iya, aku mencintaimu," senyum Badai yang membuat Aurel senang karena rencananya sudah berhasil, sekarang ia sudah mendapatkan Badai yang ia incar sejak awal bertemu.
"Lo benar-benar ya, mau aja sama krikil seperti dia," sinis beberapa anggota Badai yang pergi begitu saja, semuanya sudah tak mood buat bicara lagi dengan Badai setelah ini.
Tin!
Badai mengeluarkan ponselnya dan melihat nomor dari istrinya.
"kamu keterlaluan badai, aku membencimu!.
"Badai, kamu kenapa?"
Badai menoleh pada Aurel yang masih mengalungkan tangan di lengannya. "Aku harus pergi dulu, adikku sakit lagi," jelas Badai bergegas pergi sedangkan Aurel hanya tersenyum tipis. "Gue yakin kalau Badai gak bakalan terbebas dari pelet gue," gumam Aurel lalu pergi dari sana.
Disisi lain, Badai sudah sampai di rumah sakit tempat istrinya dirawat. Ia berlari ke rumah sakit karena jaraknya tak terlalu jauh dari kampus. Ia langsung memasuki ruangan istrinya dan melihat Air yang menatap tajam dengannya.
"Sayang, peluk!" pinta Badai mengulurkan kedua tangannya pada Air.
__ADS_1
"Gak mau! peluk saja wanita itu," ketus Air membuat Badai menghela nafas panjang.
"Sayang, dengarin aku dulu! kamu salah paham, aku sebenarnya pura-pura terkena pelet dia. aku udah lama gak bunuh orang," kekeh Badai membuat Air menoleh.
"Beneran?"
"Iya sayang, buat apaan aku berbohong sama kamu. peluk aku sekarang! tubuhku di peluk wanita lain," jelas Badai mengulurkan kedua tangannya pada sang istri nya itu.
"Gak mau, pasti bau parfumnya buat aku risi,"
Badai langsung mencium bau tubuhnya dan benar saya, tubuhnya benar-benar terkena parfum wanita itu. "Tapi, peluk aku dulu," rengek Badai sehingga Air menarik suaminya itu dan memeluknya sehingga Badai senang sekali. "Awas saja lebih dari pelukan sama wanita itu, bird kamu aku potong," bisik Air membuat Badai menelan saliva dengan susah payah.
"Jangan sayang, kalau aku mau bikin adek buat anak kita nanti gimana?" jelas Badai menoleh pada Air, pemuda itu benar-benar pucat karena mendengar ancaman dari istrinya yang tak main-main.
"Aku nikah lagi," balas Air yang membuat Badai membulatkan mata lalu menggeleng cepat.
"Gak boleh, langkahi dulu aku," kesal Badai yang membuat Air tertawa dengan wajah kesal suaminya itu. "Mengemaskan sekali," kekeh Air mencubit pipi Badai.
"Kalau gemes, cium aku nya," pinta Badai membuat Air menutup mulut suaminya itu mengunakan telapak tangannya.
Badai langsung menarik tangan istrinya itu dan bergegas mencium bibir Air, belum sempat menempel sempurna. wanita itu malah mengalihkan pandangannya, sehingga Badai mencium pipi Air.
"Hahaha, ampun!" tawa Air menggeliatkan tubuhnya karena geli. "Ini hukuman karena menolakku!" kesal Badai membuat wajah Air memerah karena tak tahan dengan geli di pinggangnya.
"Am-Ampun hahah," tawa Air sehingga Badai menghentikannya lalu memeluk tubuh istrinya itu sehingga menghadap kearahnya. "Kamu makin cantik kalau udah ketawa," senyum Badai mencium bibir Air sekilas, membuat Air kesal karena selalu diciumi oleh suaminya itu terus.
"Sana berangkat ke kampus! nanti telat!"
"Aku belum puas memeluk kamu,"
"Setiap malam kamu memelukku, gak puas juga?"
"Enggak," jawab Badai dengan polosnya membuat Air mencubit pipi suaminya itu gemes.
"Sana pergi nanti telat!"
"Okey, Sayang! jelasin sama teman-teman aku ya, kalau aku pura-pura terpengaruh,"
__ADS_1
"Iya-iya," pasrah Air sehingga Badai langsung pergi dengan perasaan lega karena sudah menjelaskan tujuan nya, sebenarnya ia sudah mendengar niat Aurel saat pulang dari kampus kemarin. Ia juga gak bakalan terpengaruh akan hal-hal sesat seperti itu karena moyangnya selalu melindunginya setiap saat.
***
"Sayang, gimana keadaan adik kamu?" tanya Aurel mendekati Badai yang baru masuk.
"Adik aku gak papa, dosennya belum datang kan?"
"Belum kok," senyum Aurel mengalungkan tangannya di lengan Badai, sedangkan beberapa anggota Badai hanya menatap sinis dan semuanya sudah tau kalau Bos nya itu cuman drama, mereka juga sudah di telpon oleh Singa betina tadi.
Huweekk!
Semuanya menoleh pada Badai yang keluar dari kelas, membuat beberapa anggota geng Badai bergegas mengikuti Badai begitu juga dengan Aurel yang penasaran. Mereka semua melihat Badai yang terlihat mau muntah.
"Badai, lo kenapa?" tanya yang lain bingung.
"Gue mual banget, padahal udah lima bulan," jelas Badai membuat semuanya paham dengan maksud Bos mereka itu.
"Lima bulan apaan, Sayang?" tanya Aurel mengusap punggung Badai lembut.
Badai hanya menggeleng pelan. "Riko, beliin gue mie pedas sana! yang pedas banget!" suruh Badai sehingga Riko mengangguk dan bergegas pergi dari sana. "Kok kamu kayak orang hamil gini?" tanya Aurel bingung sedangkan Badai kembali mual.
'Hadeh, belum lahir udah jailin gue aja tuh anak,' batin Badai kesal.
Badai lalu pergi dari sana menuju rooftop kampus sehingga semuanya juga ikut kecuali Aurel yang tengah kebingungan.
Tak lama, Riko datang dengan tergesa-gesa dan memberikan pesanan Badai sehingga Badai langsung memakannya membuat yang lain ngilu lihat mie pedas tersebut. Sedangkan Badai terlihat biasa-biasa saja memakan mie yang sangatlah pedas tersebut dengan tenangnya.
"Makan mie aja terus!"
Badai yang mendengar suara itu menoleh kesamping dan melihat Ferdi melakukan panggilan video. "Lihat Buk, mie nya pedas banget loh!" lapor Ferdi sehingga Badai mengulurkan tangannya sehingga Ferdi memberikan ponsel pada Badai yang asik makan mie.
"Aku ini makan mie karena permintaan anak kita ya, aku kepengen aja makan mie pedas," jelas Badai kesal yang membuat Air tertawa disana.
"Dedeknya belum lahir tapi sudah jailin aku,".
"Selamat menikmati hahaha...,"
__ADS_1
Panggilan video tersebut putus sehingga Badai memberikan ponsel itu kepada Ferdi lagi dan kembali melanjutkan makannya lagi.
Bersambung...