Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#27 Air Di Temukan


__ADS_3

Badai dan beberapa temannya melajukan mobil kesebuah toko, sesampai disana semuanya langsung berhamburan buat memesan bakso untuk menenangkan cacing di perut masing-masing.


"Bos, Bocah itu mirip ama lo dah!"


Badai yang penasaran pun menoleh pada Bocah yang asik berjualan. "Betul Bos, mirip banget malah," timpal Agung sedangkan Badai hanya diam memerhatikan bocah itu yang asik berjualan saat panas-panas begitu, bocah itu masih kecil dan malah di suruh berjualan.


"Gue kesana, moga saja itu anak gue," jelas Badai bergegas mendekati bocah tersebut, membuat yang lain ikut mendekati bocah tersebut.


"Permisi!"


Bocah laki-laki itu menoleh sambil tersenyum yang membuat Badai bungkam, senyuman itu sangat mirip dengan orang yang ia cari selama ini.


"Ada apa, Om? Om mau beli air ya?" tutur bocah itu sehingga Ferdi menyenggol lengan Badai. "Bolehkah saya tau nama kamu?" tanya Badai hati-hati.


"Namaku Alvino Dirgantara,"


Deg!


Badai yang mendengar marga anak itu sama sepertinya. "Nama Mama kamu?" tanya Badai lagi, ia yakin kalau dihadapannya ini adalah putranya.


"Mamaku ad-"


"Woi, anak s i a l a n! cepat pulang!"


Semuanya menoleh pada pria paruh baya yang berteriak. "Om, Alvin pulang dulu ya," pamit bocah it sehingga Badai menoleh. "Kita ikuti kemana bocah itu pergi!" pinta Badai sehingga yang lain mengangguk.


Mereka langsung mengikuti kemana bocah itu pergi secara diam-diam, mereka tak ingin kehilangan jejak.


"Mana uang hasil jualan kau!"


Langkah Badai terhenti saat melihat anak kecil itu di bentak kasar seperti itu.


"Ma-Maafkan aku, Paman. sejak tadi pagi gak ada yang beli," lirih Alvin menunduk karena takut ditampar lagi oleh pria itu.


"Kau dan Mama mu suka buat saya emosi ya, kerjaan gak pernah becus!"


Sebelum tangan itu terangkat menyentuh pipi Alvin, Badai langsung menahan tangan pria itu. "Berani sekali kau menampar anak kecil," tekan Badai sedangkan pria tua itu kaget melihat kedatangan seorang yang amat ditakuti akan kekejamannya. Orang yang berkuasa di negara ini.


Tapi, kenapa wajah nya mirip dengan bocah ini?


Mereka ada hubungan darah?

__ADS_1


"Ma-Maafkan saya, Tuan!" gagap pria itu menunduk sehingga Badai melepaskan genggamannya itu.


"Alvin, boleh saya bertemu dengan Mama kamu?" tanya Badai lembut yang membuat Alvin menoleh.


"Boleh, Om," balas Alvin menarik tangan Badai pergi dari sana.


"Kalau bocah itu adalah anak kandung Bos kami yang hilang, kau menerima akibatnya," bisik Ferdi membuat pria itu terdiam karena takut sekali, ia benar-benar takut kalau sudah berurusan sama gangster seperti Badai.


Disisi lain, Badai menatap rumah yang begitu besar. "Om, selamatkan Mama dari sini. Mama selalu di pukul dan disiksa," lirih Alvin yang membuat Badai menoleh. "Yasudah, ayo kita temui dia," ajak Badai sehingga bocah itu mengangguk.


"Dasar babu gak guna! udah ditolongin waktu itu dan sekarang kau hanya nyusahin keluarga gue!"


"Hiks ampun, Nona! sakit!" tangis wanita berpakaian lusuh itu terduduk di lantai, tubuhnya di cambuk habis-habisan karena tak sengaja menumpahkan air ke baju anak majikannya itu.


"Hentikan!"


Kedua wanita itu menoleh dan kaget melihat kedatangan Badai. "Eh, selamat datang!" senyum gadis itu karena kedatangan pria yang ia sukai, ditambah Badai adalah orang yang sesuai tipenya.


"Sayang,"


Wanita yang duduk di lantai itu menoleh pada pria yang wajahnya tak ia ingat. tapi, ia seakan mengingat nama yabg selama ini ia rindukan.


"Badai,"


Pria itu menoleh pada wanita yang berdiri di dekatnya. "Kau berani sekali menyiksa istri saya, kalian tangkap dia dan pria tua itu!" suruh Badai sehingga sahabatnya itu langsung menahan kedua orang tersebut.


"Lepasin aku!" teriak wanita itu memberontak.


"Mama,"


Badai maupun Air menoleh pada Alvin yang mendekat. "Dia anakku?" tanya Badai sehingga Air mengangguk. "Alvin sini, saya Papa kandungmu," jelas Badai sehingga Alvin tampak kebingungan sekali buat mendekat.


"Alvin, dia Papa kandung kamu. Papa yang kamu inginkan selama ini," jelas Air sehingga Alvin berlari memeluk Papanya erat. "Papa, Alvin kangen!" tangis Alvin yang membuat Badai tersenyum. "Papa juga kangen, maafin Papa yang gak becus jaga Mama kamu saat hamil kamu," senyum Badai mencium kening putranya itu.


"Ayo kita pulang ke masion Papa," ajak Badai sehingga Alvin mengangguk.


"Badai, tubuhku masih sakit!"


Badai tersenyum dan langsung mengendong istrinya itu. "Tubuh kamu ringan sekali, nanti tiba di masion. kamu harus makan yang banyak biar berat dan tubuh kamu gak kurus gini," pinta Badai sehingga Air mengangguk pelan sambil tersenyum.


Ia lalu membawa anak dan istrinya keluar sedangkan yang lain sibuk menyiksa orang-orang itu, walau dilaporkan ke polisi pun tak akan ada yang mampu menahan sahabat Badai tersebut.

__ADS_1


Sesampai dimasion, Air menatap banyak sekali pria bersenjata menunduk pada mereka sedangkan Badai tak peduli dan membawa istrinya itu kedalam masion.


"Kalian, siapkan air hangat buat istri saya mandi dan siapkan juga air hangat buat putra saya di kamar depan. selebihnya siapkan sarapan,"


"Baik, Tuan!" balas semuanya bergegas melakukan aktivitas masing-masing.


"Rumah Papa besar banget," kagum Alvin sehingga Badai terkekeh pelan dan mendudukkan istrinya ke sofa. "Tentu dong, sini duduk di pangkuan Papa," ajak Badai sehingga Alvin mendekat yang membuat Badai langsung mendudukkan Alvin di pangkuannya.


"Alvin sekarang umurnya berapa?"


"Udah mau tujuh tahun, Pa!"


"Mau sekolah?" tawar Badai sehingga Alvin mengangguk senang, ia sudah lama pengen sekolah seperti anak-anak lainnya. "1 minggu lagi Papa daftarin di sekolah yang bagus buat Alvin dan ingat, harus belajar yang rajin," senyum Badai sehingga Alvin kembali mengangguk.


"Tuan, air panasnya sudah siap!"


"Temani putra saya mandi," suruh Badai sehingga semuanya mengangguk dan mengajak Alvin buat mandi. "Kalau kamu, aku yang mandiin,".


"Eh, kau jangan macam-macam!"


"Gak macam-macam kok, palingan dikit buat nyentuh kamu. siapa tau jadi dedek buat Alvin," tawa Badai yang membuat Air ngeri. "Kamu gak boleh nolak, okey! aku udah tujuh tahun puasa," sambung Badai dengan jujurnya.


"Kamu itu udah kaya, kenapa gak cari wanita lain saat aku gak ada?"


"Gak mau! aku gak mau jajan sembarangan. kalau aku sakit HIV gimana? mendingan aku nunggu kamu sampai ketemu," balas Badai tersenyum.


***


Sekarang, mereka bertiga tampak menikmati sarapan masing-masing. Badai tersenyum melihat putranya yang amat lahap sekali memakan sarapan. "Pelan-pelan makannya," peringat Badai.


"Soalnya enak banget, Pa. Alvin gak pernah makan enak-enak seperti ini," jelas Alvin jujur yang membuat Badai tersenyum.


"Memangnya kamu makan apaan selama ini?" tanya Badai penasaran sambil mengunyah makanannya.


"Cuman nasi putih ama garam aja, Pa. itupun makanan sisa," tutur Alvin yang membuat hati Badai sakit mendengarnya, ia laku menoleh pada Air yang menunduk menahan sedihnya. "Sayang, jangan sedih! disini kamu adalah Nyonya dan lupakan masa kesulitan kamu itu," jelas Badai mengusap punggung Air lembut.


"Iya," lirih Air tersenyum.


"Alvin makan yang banyak ya, besok Papa ajak ke kantor Papa setelah itu kita ke Mall buat belanja pakaian kamu sekaligus Mama kamu!"


"Baik, Pa!"

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan sarapan masing-masing sedangkan Badai sesekali memberikan ayam buat putranya itu. kalau istri dan anaknya sangat menderita 7 tahun ini, saat ini ia berjanji akan membahagiakan dua orang yang ia cintai ini.


Bersambung......


__ADS_2