
Setelah meminum susu, Badai langsung meletakkan botol susu itu ke atas meja sedangkan Air mengusap mulutnya mengunakan tissue. "Sekarang kamu tidurlah," suruh Badai mengusap kepala Air lembut.
"Aku belum ngantuk," jelas Air jujur yang membuat Badai pasrah dan memeluk Air lembut.
"Tidurlah, kamu ingin anak kita kenapa-napa?"
"mana mau aku,"
"Makanya tidur dulu," jelas Badai yang membuat Air tetap menggeleng, membuat Badai kebingungan mencari cara supaya istrinya itu tidur. "Kamu tidur ya, nanti aku ajak jalan-jalan," bujuk Badai dan tetap saja Air menggeleng tak mau, karena belum ngantuk sedikitpun. "Tidur atau aku cium?"
Air menoleh pada Badai yang menatapnya tajam. "Yasudah, cium saja," jawab Air dengan entengnya membuat Badai bungkam, ia benar-benar bingung dengan jalan pikiran istrinya tersebut.
"Yasudah, aku cium ya," senyum Badai mendekatkan wajahnya.
Cklek!
Badai yang belum mencium istrinya pun menjauhkan diri dari Air dan melihat beberapa guru yang masuk seenaknya. 'menganggu saja,' batin Badai kesal.
"Khaira, kamu baik-baik saja?" tanya salah satu guru wanita mendekati Air, membuat Badai terhindar dari sana karena guru itu cukup banyak mendekati istrinya. "Aku baik-baik saja kok," balas Air tersenyum membuat semuanya lega.
"Kamu pendarahan kenapa?"
Air menoleh kearah pria yang berada di sampingnya.
"Karena dia hamil,"
Semuanya menoleh pada Badai yang duduk di sofa sambil memakan jeruk kesukaannya tersebut. "Kenapa kamu tau?" tanya beberapa guru penasaran sekali. "Karena aku pemiliknya, why?" balas Badai dengan entengnya.
"Jangan ngehayal, gak mungkin seorang guru hamil anak muridnya," tawa salah satu pria membuat Badai menoleh.
"Ada, itu dia lagi hamil anakku." balas Badai lalu mendekati istrinya itu. "Iya kan, sayang! kamu hamil anakku," jelas Badai mencubit lembut pipi Air. "I-iya," balas Air membuat semuanya kaget.
"Kamu bercanda kan, Khaira? kamu sengaja berbohong supaya kamu bisa menghindar darii aku agar kita tidak bisa bersama lagi?" tanya salah satu pria yang membuat Badai menoleh pada guru itu.
"Aku memang sedang hamil anak Badai, kami juga sudah menikah," jawab Air jujur karena melihat Badai menatap tajam kearah guru itu, Air langsung menggenggam tangan Badai yang membuat Badai menoleh pada Air.
"Khaira, kamu tak mencintai dia kan? akulah yang kamu cintai selama ini, aku cinta pertama kamu! kamu selama ini menghilang yang membuat aku khawatir," jelas guru itu, Badai bungkam karena ia belum mendengar istrinya untuk mencintai dirinya. selama ini ia hanya mendengar kata benci yang di ucapkan istrinya tersebut padanya.
"Aku mencintai Badai, kalau aku gak mencintainya. aku sudah berniat membunuh janin ini, aku juga bakalan gak peduli apapun resiko nya," jelas Air jujur yang membuat Badai menoleh pada istrinya tersebut.
Entah kenapa ia senang mendengar perkataan istrinya tersebut. tapi, ia belum merasa lega kalau orang yang merupakan cinta pertama istrinya itu masih hidup dan bakalan ada orang yang merebut istrinya nanti.
Air menoleh pada Badai yang terlihat tenang dan ia yakin, kalau sifat tenang suaminya itu hanya menutupi keinginan pria itu. ia tau benar karena suaminya akan membunuh pria yang ada di sampingnya ini.
Air lalu menoleh pada guru-guru yang masih mengajaknya bicara, sedangkan Badai hanya diam dan bersikap tenang supaya tak merasa di curigai oleh siapapun.
__ADS_1
terutama istrinya yang bisa saja menghalanginya, ditambah pria itu adalah cinta pertama istrinya. Bagaimanapun ia harus menghabisi pria itu hari ini juga. Badai memilih diam melihat orang-orang itu bicara dengan wanita nya, ia juga memikirkan cara yang bagus buat menghabisi pria itu dengan aestetik.
Ia juga sedikit kesal saat pria itu mencoba mencari perhatian dengan istrinya itu, walau ia tau kalau istrinya itu tak menggubrisnya karena takut ia marah.
Tin!
Badai mengeluarkan ponselnya lalu pergi begitu saja karena ingin menjenguk Kakeknya. sesampai di depan ruangan Kakeknya, ia langsung disuruh masuk oleh Dokter yang membuatnya penasaran.
"Ba-Badai, to-tolong tanda tangani surat ini," lirih pria tua itu yang membuat Badai bingung terlebih ia melihat seorang pria berpakaian rapi di dekat kakeknya. "Buat apaan, Kek?" tanya Badai bingung.
"Kakek ingin semua harta milik Kakek untuk calon cucu Kakek, tolong tandatangani,"
Badai menerima surat-surat tersebut dan melihat nya dengan teliti karena takut salah. "Ini penanya, Tuan," jelas pria itu memberikan sebuah pena pada Badai, sehingga Badai menerimanya dan menandatangani surat-surat tersebut.
Tin!
Tiiiinnn!
Badai sontak menoleh kealat monitor yang berbunyi nyaring. "Kakek!" panik Badai saat menyadari Kakeknya sudah pergi untuk selamanya.
*
Air mendengus kesal karena suaminya tak kunjung datang sedari tadi, ia benar-benar kesepian sekali saat ini karena tak ada siapapun yang menemaninya berbicara.
Cklek!
"Kakek aku meninggal, aku pergi sebentar ya. disini bakalan ada yang jagain kamu soalnya aku mau melaksanakan proses pemakaman Kakek," jelas Badai mencium kening Air sehingga wanita itu mengangguk.
"Kamu hati-hati ya,"
"Baik, Sayang!"
Air menatap Badai yang sudah pergi dari ruangannya membuat Air kembali bosan sekali. Tak lama, Air sontak kaget melihat dua orang berpakaian tertutup mendekat dan membuka paksa infus yang ada di tangan Air.
"Ka-Kalian berdua siapa? lepaskan aku!" panik Air memberontak tapi salah satunya membius Air yang membuat Air melemah dan tak sadarkan diri, keduanya lalu keluar dan melihat beberapa bodyguard yang sudah tewas di tembak oleh mereka tadi.
"Akhirnya kita mendapatkan wanita yang dicintai oleh pria itu, dengan begini kita bisa membuat pria yang membunuh saudara gue menderita," kekeh salah satunya tertawa. "Benar sekali," tawa pria yang satunya lagi membaringkan Air di bangku belakang dan langsung saja mereka bergegas pergi dari sana.
2 jam berlalu...
Air mulai tersadar dari pingsannya dan menatap sebuah sel penjara yang membuatnya ketakutan sekali. Ia ingin bangkit tapi kedua tangannya diikat oleh rantai, membuat tangannya begitu kesakitan sekali.
"Hiks Badai, bantu aku," isak Air ketakutan sekali.
Cklek!
__ADS_1
Wanita itu menoleh pada pria bertopeng yang membuatnya ketakutan. "Nih! makanlah," ketus orang itu menyodorkan beberapa buah pada Air.
"Hiks gak mau, lepasin aku!" isak Air menangis membuat orang itu menghela nafas lalu membuka topengnya, membuat Air kaget melihat teman SMA nya dulu.
"Makanlah, gue tau lo lagi hamil anak pria itu dan gue gak bisa bantu lo buat bebas dari sini karena orang tua gue juga di sekap," jelas Ridho membuat Air menangis.
"Aku harus pergi dari sini hiks, aku takut Badai kesulitan buat mencari aku," tangis Air membuat Ridho berjongkok di balik jeruji besi.
"Kau jangan menangis dan makanlah buah sekaligus nasi goreng ini. makanan ini aman kok karena gue sengaja menukar semuanya supaya lo gak diracuni," jelas Ridho menyodorkan makanan itu melewati bawah besi tersebut.
"Aku gak percaya,"
"Gue memang jahat sama lo dan suka jail sama lo. tapi, gue gak bakalan meracuni lo yang udah gue anggap sebagai saudara, makanlah!" kesal Ridho sehingga Air mengambil salah satu buah lalu memakannya.
Cklek!
Ridho langsung memakai topengnya dan beranjak berdiri. "Bagus kalau lo menyuruhnya sarapan, gue akan pergi sebentar dan lo harus ikut dengan gue," ketus pria bertopeng itu sehingga Ridho mengangguk lalu mengikuti orang itu.
'Badai, help me!' batin Air lalu menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan kardus-kardus yang menumpuk. membuat kesan begitu menakutkan baginya. Ditambah bunyi-bunyi suara tikus yang berlarian membuatnya benar-benar ketakutan sekali, ia sangat membenci tikus karena menakutkan sekali.
Prang!
"Badai hiks, aku takut!" tangis Air saat mendengar suara yang jatuh dari kejauhan. Air berusaha mundur sambil menarik makanannya menuju dinding buat bersandar, sesekali ia melirik di sekitarnya supaya tak ada satupun tikus yang mendekatinya saat ini.
***
Badai menatap kearah makam Kakeknya itu, ia benar-benar kehilangan sosok Kakek yang sudah merawatnya sejak kecil saat Papanya sudah meninggal.
"Tuan Muda, gawat!"
Badai menoleh pada salah satu bodyguard nya berlari mendekat. "Ada apa?" tanya Badai penasaran.
"Beberapa bodyguard yang menjaga ruangan istri anda tewas, Tuan. keduanya ditemukan tewas tertembak dan tak hanya itu, Istri anda juga diculik,"
Deg!
Badai bergegas berlari menuju mobilnya untuk menuju rumah sakit, untuk memastikan kalau berita itu tidak benar, ia tak ingin istri dan calon anaknya kenapa-napa.
Sesampai di rumah sakit, Badai melihat beberapa orang berada di depan ruangan istrinya dirawat dan banyak bercak darah yang sudah mengering disana.
"Dokter, mana Kakak saya?"
"Maaf, Tuan. Kakak anda diculik seseorang yang wajahnya tak tertangkap jelas oleh cctv. beberapa polisi juga sudah mulai mencari keberadaan Kakak anda," jelas Dokter itu membuat Badai mengacak rambutnya frustrasi. 'Aku gak bakalan biarkan orang yang menculik istriku bahagia di dunia ini,' batin Badai emosi.
Bersambung...
__ADS_1