
Setelah makan malam, Badai melirik jam yang yang sudah menunjukkan pukul 7 malam dan artinya, ada 2 jam lagi acara peresmian hotel nya akan di adakan. Ia juga sudah meminta orang buat mengurus semuanya sehingga ia bisa datang saja.
"Kita mau kemana?"
"Jalan-jalan," balas Badai tanpa berniat menoleh pada Air yang duduk di sampingnya, pemuda itu tampak begitu malas hari ini dan ia juga tak sabar akan mempermalukan keluarga tirinya nanti, karena ia juga mengundang keduanya.
Huweekk!
Badai menoleh pada Air yang menutup mulut, ia lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan. "Kau baik-baik saja?" tanya Badai khawatir, sehingga Air menggeleng pelan.
Huweek!
lagi-lagi, Air kembali mual sehingga Badai langsung mengusap punggung Air lembut. "Sepertinya kau hamil," kekeh Badai membuat Air menoleh.
"Gak mungkin, saya gak sud...," Air kembali mengigit bibir karena hampir keceplosan, Badai menarik dagu wanita itu untuk menatapnya. "Lanjutkan lagi," pinta Badai menatap tajam kearah Air, membuat wanita itu benar-benar ketakutan sekali. "Kau tak Sudi mengandung anakku?"
"Buk-Bukan itu...,"
"Apaan?"
Air benar-benar ketakutan sekali saat melihat tatapan tajam dari Badai. "Gak mungkin saya cepat hamil," jelas Air membuat Badai tertawa kecil. "Kalau keduanya sama-sama subur, gimana?" tawa Badai lalu kembali melajukan mobilnya lagi, membuat Air benar-benar kesal.
'Kalau aku benar-benar hamil, gimana caranya kabur dari pria kejam ini?' batin Air meremas perutnya kasar. namun, tindakannya terhenti saat Badai menggenggam erat tangannya, membuat dirinya meringis kesakitan.
"Mau ngapain? jangan melepaskan dendam pada calon anak gue yang tak tau apa-apa," tekan Badai kembali melepaskan genggamannya lagi.
"Tapi, aku gak siap punya anak!"
"Tetap siap! kalau digugurkan, kau yang menanggung akibat dari gue,"
Air mendadak takut sekali yang membuat Badai tersenyum miring. "Kita ke hotel saja supaya kau bisa istirahat," jelas Badai sehingga Air mengangguk pelan.
Tak lama, keduanya sampai di hotel dan melihat beberapa tamu undangan yang sudah berdatangan. Air menatap hiasan yang begitu manis sekali.
"Badai!"
Keduanya langsung menoleh. Air menatap seorang wanita yang memeluk Badai, sedangkan Badai tak ada niat melepaskan pelukan wanita itu. Air tak memperdulikannya karena ia memang tak peduli sama sekali. Air lalu menuju kamar karena benar-benar capek sekali.
"Eh!" Air kaget saat seseorang menarik tangannya memasuki sebuah kamar di hotel tersebut.
"Apa kabar, temanku!"
Air menoleh. "Astaga, kamu kemana saja?" tanya Air penasaran sekali. "Hehe, aku kuliah di Amerika dan baru pulang kemarin, lo kenapa bisa disini?" tanya Rika penasaran sekali.
"Hiks bantuin gue, gue gak mau tertekan gini!"
__ADS_1
"Maksud lo?"
Air lalu menceritakan masalah hidupnya saat bertemu dengan Badai, membuat Rika benar-benar syok sekali.
"Astaga, gue gak bisa bantu lo kalau sudah berhadapan sama orang kejam kek Badai dan gue saranin saja sama lo, lo harus bersikap baik padanya dan gue yakin, dia gak bakalan sakiti Lo," jelas Rika sehingga Air tak tau harus apa.
Tok!
Tok!
Rika membuka pintu kamarnya dan kaget melihat seorang pemuda menatap tajam kearah nya, pemuda itu lalu menoleh pada Air yang terisak di belakang wanita di hadapannya ini.
"Ke kamar!" suruh Badai dengan dinginnya yang membuat Air mendekati Badai. Badai kembali menatap tajam kearah Rika lalu menarik Air pergi dari sana. 'Astaga, tampan banget! tapi sayang, pria kejam,' batin Rika takut.
"Ngapain nangis disana? dia membuat kamu menangis?" tanya Badai mengusap air mata wanitanya itu.
"Ak-Aku gak papa,"
"Jangan berbohong!" tekan Badai sehingga Air menggeleng. "Yasudah, istirahatlah! nanti gue bangunin pas acara di mulai," jelas Badai sehingga wanita itu langsung menuju kasir untuk beristirahat.
"Kau mau kemana?"
"Mau keluar, ada urusan. ada apa?"
Badai melepaskan kemeja yang ia pakai dan meletakkannya di atas sofa, pemuda itu langsung berbaring di samping Air, Ia juga mulai memeluk Air.
"Tenanglah, dia adalah target gue. seseorang membayar gue buat melenyapkannya," jelas Badai menarik selimut yang menutupi wajah Air.
"Aku gak peduli!"
Badai menarik tubuh Air sehingga wanita itu berada di tubuhnya. "Jangan berbohong, kau pasti cemburu," kekeh Badai membuat Air menoleh dengan tatapan kesalnya. "Kau terlalu percaya diri," sinis Air hendak bangkit dari tubuhnya. tapi, pemuda itu memeluk tubuhnya erat.
"Tidur lah di tubuh gue," pinta Badai mengusap kepala wanita itu lembut sehingga Air pasrah. "Jaga calon anak kita baik-baik okey,".
"Iya," balas Air pendek yang membuat Badai tersenyum. 'Ternyata dia bakalan baik kalau aku penurut,' batin Air lalu mulai mengusap matanya yang benar-benar berat sekali, ia juga perlahan memeluk tubuh Badai yang begitu wangi.
*
Badai tampak membantu Air mengikat rambut, sedangkan wanita itu memoles wajah putihnya mengunakan makeup tipis. "Jangan tebal-tebal maketnya, gue gak suka!" jelas Badai menjauhkan alat-alat itu, membuat Air kesal sekali.
"Aku belum pake lipstik!"
"Biar gue yang pasangin,"
Badai lalu mengambil lipstik sehingga Air menatap wajah Badai yang begitu dekat dengannya. pemuda itu benar-benar tampan sekali dari jarak dekat.
__ADS_1
"Sudah puas menatap wajah gue?"
Air langsung mengalihkan pandangannya yang membuat Badai tertawa. "Wajahnya memerah," kekeh Badai tertawa membuat Air benar-benar kesal sekali. "Ayo berangkat!"
Wanita itu hanya mengangguk sehingga Badai mengandeng tangan Air, lalu berjalan menuju acara berlangsung.
"Ngapain lo disini? kerja ya haha!"
Badai menatap dingin pada saudara tirinya itu dan gak lama, seorang wanita paruh baya mendekati mereka.
"Badai! ngapain kesini? jangan malu-maluin saya ya! kamu itu gak pantas dengan kalangan atas!" tekan wanita itu sedangkan Air hanya diam.
"Loh? Buk Khaira juga disini?" kaget Salsa sehingga Air tersenyum.
"Selamat malam, Tuan Muda Badai!"
Semuanya menoleh pada beberapa pria penting mendekat. "Selamat malam juga, Tuan. terima kasih sudah datang di acara saya," senyum Badai membuat Salsa tertawa.
"Acara lo? lo itu udah miskin Badai haha!" tawa Salsa begitu juga dengan Mama tiri Badai.
"Kalian gak tau, kalau Tuan Muda adalah pemilik cabang hotel ini? Tuan muda adalah orang terkaya nomor satu, loh!" ungkap salah satu pria penting yang membuat Salsa dan Mamanya kaget.
"Kaya nomor satu? pasti semua itu harta suami saya!" kesal wanita itu menatap tajam kearah Badai.
"Maaf, Nyonya terhormat! kekayaan saya tak ada satu tetes pun keringat dari Papa saya. semua harta saya adalah hasil kerja saya selama ini dan ..., saya gak semiskin yang anda kira," smirk Badai membuat kedua wanita itu bungkam. "Selamat menikmati makanan mewah saya, walau makanan itu gak selevel dengan kalian,".
Badai lalu pergi bersama orang-orang lainnya. "Argh! Mama, dia kaya banget!" jelas Salsa kesal.
"Kamu jebak dia saja, kalau kamu hamil anaknya. Kamu bisa mendapatkan hartanya," usul Mama nya yang membuat Salsa terkekeh setuju. "Baik, Ma!" senang Salsa.
"Kalian kira gue bisa di jebak," gumam Badai yang berdiri tak jauh dari saudara maupun Mama tirinya itu.
***
Badai begitu panik sekali saat Air mendadak pingsan saat acara berlangsung.
"Tuan, dia hanya kecapekan saja dan saya sarankan Nona tak boleh capek-capek karena ia lagi hamil muda. sekaligus, jangan membuat Nona tertekan dan banyak pikiran," jelas Dokter yang memeriksa keadaan Air.
"Baiklah, nanti saya transfer uang bayaran,"
"Baik, Tuan. vitamin nya ada diatas meja,"
Badai hanya mengangguk lalu mengantar pria itu hingga pintu kamar.
Bersambung...
__ADS_1