Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#19 Badai Ditangkap


__ADS_3

Badai keluar dari kamar yang membuat semuanya menoleh pada bos mereka tersebut. "Udah siap aja, Bos?" selidik yang lain saat Badai duduk di sofa usang, Badai hanya membalasnya dengan anggukan lalu mengambil botol minumnya.


"Lo kenapa bisa nikah sama guru sekolah kita, Bos?"


"Gue ketauan bunuh orang, langsung gue perkaos karena gue juga setengah mabuk waktu itu dan saat gue sadar, dia sudah kabur. makanya gue tertarik buat miliki dia," balas Badai kembali meminum minuman keras berakohol rendah tersebut. ia bisa saja minum dosis tinggi tapi mengingat istrinya ada disini, ia urungkan karena takut kena omel.


Dan lebih parahnya, ia gak bakalan mendapatkan kiss malam seperti biasanya.


"Bos, lo ingat ketua keamanan sekolah?"


"Terus?"


"Dia nyebarin kalau lo yang bunuh Pak Zul dan beberapa siswa lainnya,"


Deg!


Badai yang mendengar itu kaget dan berusaha tetap tenang karena ia tak mungkin tersulut emosi. "Dia target gue hari ini," jelas Badai berdiri tapi langsung ditahan oleh yang lain, membuat Badai bingung.


"Jangan tinggalin kami bersama istri lo yang hamil itu, Bos. Lo tau kan, kalau Bumil itu meresahkan," lapor salah satunya sehingga semuanya mengangguk setuju.


"Lagian istri gue lagi tidur,"


"Besok saja lo samperin tuh bocah, Bos."


"Kalian ini alay amat sih, gue cuman nitip istri gue bentar aja kagak mau," kesal Badai kembali duduk yang membuat semuanya lega sekali.


"Jaga wanita hamil itu sama aja jaga anak 3 tahun yang lagi aktif-aktif nya," sinis Ferdi membuat Badai mendengus kesal dan melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 3 subuh.


"Kapan dia bilang?"


"Keknya tadi, Bos. viral nih, takutnya polisi cari keberadaan lo," jelas yang lain yang membuat Badai mendengus kesal karena tak ingin orang-orang tau identitas nya.


Keesokan harinya, Badai menatap orang-orang berkumpul didepan masionnya bersama beberapa polisi. "Itu orangnya, dia pembunuh bayaran!" ujar Johan yang membuat Air kaget. Badai lalu turun yang diikuti oleh Istrinya. "Buktinya kalau gue yang pembunuh bayaran apaan?" tanya Badai dengan tenangnya membuat Johan menyuruh keempat polisi itu menahan Badai.


"Lepaskan, Badai! dia gak bersalah," tangis Air memeluk Badai yang di borgol oleh polisi tersebut.


"Kamu tenanglah, telpon beberapa nomor yang ada di ponsel aku. semuanya bernama klien! katakan kalau aku di tangkap," bisik Badai sehingga Air menoleh pada suaminya tersebut. "Jangan nangis," senyum Badai lalu pergi bersama polisi-polisi tersebut.


Air menoleh pada Johan yang tersenyum sinis lalu pergi dari sana, membuat Air terduduk di tanah sambil mengeluarkan ponsel suaminya untuk meminta bantuan.


{Ada apa, Tuan?}


"Hiks bolehkah saya minta bantuan? Badai ditangkap polisi," isak Air menangis.


{Saya akan membantu Badai,}


Tut!

__ADS_1


Air mengusap air matanya lalu menghubungi nomor yang lainnya, biar suaminya bisa bebas kalau banyak orang yang membelanya.


1 jam berlalu...


Brak!


"Bisakah kau jujur, hah? apa kau yang bunuh orang-orang?!"


Badai menoleh dengan tatapan dinginnya. "Saya akan bicara kalau saya yang salah," balas Badai dengan entengnya. Badai lalu menoleh pada Johan yang tertawa sinis padanya. "Saya sebenarnya dijebak," ungkap Badai membuat polisi yang menoleh kearah Johan yang terdiam.


"Saya punya buktinya, Pak!" jelas Johan memperlihatkan beberapa foto maupun Video yang membuat Badai menatap tajam kearah Johan.


"Ini bukti-bukti nya sudah jelas kalau kau buronan yang di cari," bentak polisi itu tajam sehingga Badai menghela nafas panjang. "Ini dunia modern, apapun bisa diedit," ketus Badai dengan entengnya membuat Johan tertawa mengejek. "Lo kira gue gak pernah ikuti lo dan gue gak sendirian merekamnya," jawab Johan membuat Badai tertawa sinis.


"Semua bukti mengarah pada kau dan tunggu pengadilan besok, masukkan ke dalam sel!" pinta polisi itu pada bawahannya.


'Kenapa orang-orang itu lambat sekali,' batin Badai menahan marah.


'lo akan dihukum mati, musuh!' batin Johan tertawa senang didalam hati.


Badai mendengus kesal saat polisi itu menyeretnya memasuki sel penjara, ia berjanji akan membalas semuanya pada Johan tersebut.


'Sayang, bantu aku!' batin Badai terduduk di lantai yang begitu dingin tersebut, ia juga menatap beberapa tahanan lainnya yang menatapnya dengan tatapan meremehkan.


"LEPASIN SUAMI SAYA, GAK! SAYA BOM NIH


KANTOR!"


Disisi lain, Air meletakkan sebuah bom di atas meja yang membuat beberapa polisi ketakutan.


"Bebaskan Tuan Badai, Pak! dia tak bersalah dan dia hanya dijebak," jelas semua pria itu tajam.


"Lepaskan Badai sekarang! kalian mau saya "ditinggal dalam keadaan hamil gini, ha?! cepat "lepasin atau saya Bom?!" sentak Air membuat salah satu polisi langsung membebaskan Badai karena takut dengan ancaman wanita itu ditambah kehadiran beberapa pria penting di kota ini.


"Sayang,"


Air menoleh dan langsung berlari menghampiri suaminya itu. "Guling bernyawa ku bebas," senang Air membuat Badai terkekeh pelan dan mencium kening sang istri.


"Makasih udah bebasin aku," senang Badai lalu mengendong Air ala koala buat pergi dari sana sedangkan beberapa orang itu tampak mengancam polisi tersebut.


Badai mengusap punggung Air karena wanita itu terisak di gendongan nya. "Tenanglah, aku baik-baik saja kok," kekeh Badai membuat Air menoleh.


"Tadi kenapa kamu gak memberontak saja?"


"Kalau aku memberontak, mereka bakalan yakin kalau aku pelakunya,"


"Hiks aku takut kamu bakalan dihukum mati,"

__ADS_1


"Gak bakalan kok," senyum Badai membuat Air mengusap air matanya. "Mau kemana sekarang?".


"Jajan mie ayam,"


"Ayo!"


***


Badai menatap dingin kearah istrinya yang asik memakan mie ayam dengan sambal yang begitu banyak sekali, ia sudah melarang tapi wanita itu malah mengancamnya balik.


"Kalau kamu sakit perut aku gak peduli," pasrah Badai sedangkan Air tak membalas melainkan asik memakan mie ayam tersebut dengan lahap.


'Lihat saja nanti, dia bakalan sakit perut,' batin Badai kesal dengan sifat keras kepala istrinya itu.


Setelah menghabiskan mie ayam tersebut, langsung mengajak Badai buat pergi membeli bakso bakar. Sedangkan Badai hanya diam sambil memainkan ponsel miliknya yang dikembalikan oleh Air tadi.


"Awh,"


Badai melirik sekilas pada Air yang memegangi perut. "Badai hiks perih," isak Air memegangi tangan Badai, sedangkan pria itu tak peduli sama sekali supaya istrinya itu jera setelah ini.


"BADAI HIKS!"


"Emang enak sakit ya? mau tambah makan yang pedas lagi?" sinis Badai sehingga Air memanyunkan bibirnya cemberut, lalu bergegas pergi meninggalkan Badai. "Ngambek lagi," kesal Badai mengejar istrinya itu yang berjalan menjauhinya.


Air lalu duduk di bawah pohon sambil memegangi perutnya yang perih, keringat dingin sudah membasahi wajahnya dan gak lupa dengan wajah yang sudah memucat karena tak tahan dengan sakit di perutnya tersebut.


Ia menoleh kejalan dan tidak menemukan suaminya itu, membuat Air benar-benar kesal sekali.


"Nih!"


Air menoleh pada Badai yang menyodorkan botol mineral padanya, membuat Air bergegas membuka botol tersebut dan meminumnya hingga habis.


"Makanya kalau sudah dibilangin jangan ngeyel, rasain akibatnya,"


"Hiks maaf," isak Air memeluk suaminya itu membuat Badai mengusap keringat di wajah istrinya tersebut lembut. "Kita pulang sekarang okey," bujuk Langit sehingga Air mengangguk patuh dan mengikuti suaminya itu. "Beli baksonya jadi?".


"Iya, dua puluh tusuk,"


"Baik," balas Badai bergegas memesan bakso bakar sedangkan Air menggenggam tangan Badai, membuat pemuda itu menggenggam erat tangannya sehingga Air tersenyum manis. Walau ia lebih tua dua tahun dari suaminya, tetap saja ia terlihat sebagai adik saat berjalan bersama Badai.


Udah kecil, pendek, tembem dan cerewet itulah karakter khas istri seorang Badai.


Setelah memesan bakso, Badai langsung membawa istrinya itu pulang sebelum berulah lagi. Sesampai di masion, Air langsung berlari menuju dapur buat mengambil piring untuk bakso bakar nya.


"Jangan lari-larian lagi, ingat kondisi kamu yang lagi hamil muda!"


"Iya," pasrah Air duduk dilantai dan meletakkan semua bakso bakarnya keatas piring. "Kamu mau?".

__ADS_1


"Aku kurang suka bakso bakar," jawab Badai jujur, membuat Air mengangguk paham sambil memakan baksonya itu. Sedangkan Badai mengotak-atik ponsel karena bosan.


Bersambung...


__ADS_2