Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran

Terperangkap Cinta Pembunuh Bayaran
#24 Air Jatuh


__ADS_3

Drep!


Air yang asik melayani pengunjung pun kaget saat Badai memeluknya dari belakang, entah darimana suaminya itu muncul.


"Suka dengan tokonya?" tanya Badai sehingga Air mengangguk pelan. "Sekarang kamu istirahat, lagi hamil besar juga," jelas Badai menarik tangan Air sehingga wanita itu menurut, walau dalam hati ia masih ingin melayani pengunjung di toko kuenya tersebut.


"Gimana kampus nya? kamu suka kuliah disana?"


"Gak ada hal yang menarik disana, cewek disana caper mulu," jelas Badai jujur, membuat Air menoleh pada suaminya itu. "Cantik-cantik ya?" selidik Air membuat Badai tertawa pelan, ia tau kalau istrinya itu lagi menahan cemburu saat ini.


"Gak cantik amat kok, cantikan Bumil yang satu ini," kekeh Badai mengusap lembut kepala Air yang membuat wanita itu tersenyum manis.


"WOI, BOS!"


Badai dan Air sontak menoleh, keduanya menatap segerombolan anggota geng Badai. "Kalian semua ngapain bisa disini?" tanya Badai bingung membuat semuanya terkekeh kecil.


"Kami gak bisa kalau gak ada Bos. makanya kami semua pengen masuk satu universitas sama lo," balas Ferdi sehingga semuanya membalasnya dengan anggukan setuju.


"Bagus deh, kalau kalian dapati Badai selingkuh, lapor sama aku ya," pinta Air membuat semuanya mengacungkan jempol sehingga Badai menoleh pada Air.


"Aku ini bukan tipe pria yang suka selingkuh ya," kesal Badai membuat Air langsung memeluk tubuh suaminya itu gemes. "Kalian semua bakalan tinggal dimana?".


"Kek nya kami semua asrama, Bos. owh iya, kami semua pamit ke kampus dulu buat urus surat-surat sekaligus asrama," pamit semuanya berlari menuju universitas yang tak jauh, Badai tak menyangka kalau anggota nya nekat kuliah jauh-jauh hanya untuk bersama dengannya. Semuanya mungkin berjumlah 30 orang.


"Udah puas berdiri?"


Badai sontak menoleh pada Air. "Eh, ayo ke apartemen," ajak Badai membawa istrinya itu supaya bisa cepat istirahat di tempat tidur.


Sesampai di apartemen, Air langsung bergegas buat tidur karena capek sekali. Badai juga ikut berbaring disebelah Air karena ingin memeluk istrinya tersebut. "Sekarang tidurlah biar aku peluk," jelas Badai mengusap kepala wanitanya itu lembut.


Air lalu memejamkan mata untuk tidur di pelukan hangat suaminya tersebut, sedangkan Badai tersenyum dan ikut memejamkan mata buat tidur sambil memeluk istrinya supaya nyaman buat tidur.


Ia kembali membuka mata dan melihat kearah perut Air karena merasakan gerakan kecil diperut buncit istrinya itu. Badai lalu mengusap lembut perut Air supaya calon anaknya itu tenang dan tidak membuat Air kesakitan atau terganggu.


Setelah itu, Badai kembali memeluk Air buat tidur karena mengantuk sekali.


*

__ADS_1


Beberapa minggu berlalu,


Kini Badai maupun anggotanya sudah resmi menjadi anak kuliahan, semuanya lega karena terlepas dari kegiatan yang dilakukan oleh anak semester lima pada calon mahasiswa sekaligus mahasiswi.


"Selamat pagi, Badai! ini cemilan aku buatin khusus buat kamu," senyum salah satu wanita berpakaian kekurangan bahan itu mendekati Badai. Badai menatap kotak bekal tersebut lalu menoleh pada wanita bernama Aurel tersebut dengan tatapan dinginnya.


"Gak butuh," balas Badai lalu pergi yang diikuti oleh yang lain, membuat Aurel benar-benar kesal sekali. "Gue harus mendapatkan Badai, apapun caranya," gumam Aurel tersenyum sinis.


Badai dan beberapa anggotanya memasuki kelas karena dosen yang akan mengajar sebentar lagi bakalan datang, ia lalu memasang headset sambil mengotak-atik ponsel nya.


Pemuda itu menoleh pada seorang wanita yang duduk di mejanya dan dengan entengnya menarik salah satu headset nya. "Bisakah bersikap sopan dihadapan gue? apa saya harus bersikap kejam membuat lo jera?" tanya Badai sambil melipat tangan membuat wanita itu tertawa pelan.


"Kamu mengemaskan sekali kalau sudah marah, bikin aku makin mencintai kamu," senyumnya membuat Badai berdiri dan langsung mencengkram kuat leher wanita tersebut, membuat wanita itu kesulitan bernafas.


"Lo belum tau siapa gue sebenarnya, gue sudah banyak membunuh orang atau lo ingin menyerahkan nyawa pada gue?" bisik Badai yang membuat Naura ketakutan sekali.


"Bos, udah! jangan bunuh orang lagi," bujuk Ferdi sehingga Badai mendorong wanita itu hingga jatuh. Badai kembali duduk sambil memasang headset nya lagi tanpa menghiraukan wanita itu yang sedang mengatur nafas.


Tak lama, dosen yang mengajar pun datang sehingga semuanya langsung menuju bangku masing-masing untuk belajar. Badai hanya fokus belajar dan tak menghiraukan tatapan beberapa wanita lain.


Drett!


"Sayang, ada apa?"


{I love you!}


"Ah, kamu membuatku khawatir sekali!"


Badai memutuskan panggilan tersebut karena tak ingin menganggu belajarnya.


Disisi lain,


"Nyonya, apa perutmu masih sakit?"


Air meletakkan ponselnya sambil memegangi perutnya yang tak sengaja membentur sudut meja di toko tadi. "Saya gak papa kok, cuman sakit sedikit," jelas Air mengusap perutnya tersebut lembut.


"Maafkan saya, Nyonya. karena kecerobohan saya, anda mengalami kejadian ini,"

__ADS_1


"Tenanglah, saya baik-baik saja dan calon anak saya juga baik-baik saja," jelas Air lembut sehingga wanita itu tersenyum. Air juga terpaksa di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari karena kakinya sedikit retak akibat terjatuh tadi.


***


Air yang tertidur pulas pun terbangun dari tidurnya, ia menoleh kelayar ponselnya dan melihat belasan panggilan tak diterima dari suaminya. Tak hanya itu, ia juga melihat beberapa pesan yang masuk dari Badai yang menanyakan keberadaannya saat ini.


Air meletakkan ponselnya keatas meja dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.


Cklek!


Wanita itu menoleh pada Badai yang mendekat dengan tergesa-gesa dengan keadaan panik sekali. "Kenapa kamu bisa jatuh? anak kita baik-baik saja, kan? kaki kamu kenapa di perban gini?" cerocos Badai yang sudah begitu panik sekali.


"Cerewet sekali,"


"Sayang jawab!"


"Aku gak sengaja jatuh, dedeknya baik-baik saja dan kaki aku retak.


"Yaampun, kamu itu harusnya hati-hati! setelah ini kamu gak boleh ke toko lagi," kesal Badai langsung memeluk istrinya itu. "Kalau aku gak ke toko, aku bakalan bosan," cemberut Air sehingga Badai menoleh.


"Aku takut kejadian ini terulang lagi, aku capek-capek buat dedeknya loh! sampai-sampai aku melayani kamu saat kamu ngidam. masa aku biarin anak ku kenapa-napa, ini hasil kerja keras aku ya," jelas Badai dengan entengnya yang langsung mendapatkan jitakan syantik dari Air.


"Otak kotor!"


"Kan itu benar, aku yang bek..,"


"Badai keluar dari ruangan ini!" pekik Air yang sudah kesal dengan perkataan suaminya yang terlalu miring tersebut. "Sayang, aku cuman bercanda," kekeh Badai kembali memeluk istrinya itu lagi. "Dasar menyebalkan," sinis Air membuat Badai tertawa pelan sambil mengusap perut istrinya lembut.


"Owh iya, aku beliin sarapan yang enak buat kamu. kamu makan ya,"


Air mengangguk dan melihat Badai mengeluarkan sebuah makanan yang begitu menggugah selera nya. Pemuda itu langsung menyuapi Air sarapan yang membuat Air menerima sarapan tersebut.


"Enak?"


"Iya, enak sekali. kamu beli dimana?" tanya Air sambil memakan makanan yang disuapin oleh suaminya itu. "Didamping toko kamu ada penjual makanan ini, makanya aku beli karena aku yakin kamu belum pernah makan makanan ini," kekeh Badai kembali menyuapi Air lagi.


"Aku suka makanan ini, nanti sore belikan lagi ya,"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membelikannya buat kamu nanti," balas Badai tersenyum sehingga Air senang sekali.


Bersambung...


__ADS_2