
Air lalu menuruni tangga dan melihat Madunya yang tengah asik menonton televisi. "Bukannya kau harus menyiapkan sarapan? kenapa duduk disini?" tanya Air membuat Erika menoleh.
"Capek,"
"Capek kau bilang? kalau Badai tau kelakuan lo, dia bakalan ceraikan Lo!"
Erika tertawa pelan palu berdiri mendekati Air. "Lebih baik kau diam," tekan Erika sehingga Air mendengus kesal lalu duduk di lantai yang membuat Erika bingung.
"Astaga!"
Kedua wanita itu menoleh pada Badai yang baru masuk kedalam masion, yang membuat Air tersenyum miring. "Badai hiks perutku sakit," isak Air sehingga Badai menatap tajam kearah Erika yang kebingungan.
"Kamu gak apapa?" tanya Badai khawatir sekali.
"Hiks dia mendorong aku,"
Plak!
Plak!
Dua tamparan kuat dari Erika, yang membuat wanita itu kembali menoleh pada Badai yang menatapnya tajam. "Berani-beraninya kau mendorong nya, s i a l a n!" bentak Badai sehingga Erika terisak kecil. "Aku gak mendorongnya, ayang tiba-tiba duduk sendiri," jelas Erika sambil memegangi pipinya yang sakit sekali.
"Gue gak bakalan percaya dengan ucapan lo itu," ketus Badai lalu membawa Air menuju dapur, membuat Erika menatap penuh dendam pada Air.
"Lihat saja kau nanti, gue bakalan balas," gumam Erika lalu menuju dapur. Langkah wanita itu terhenti melihat suaminya mencium wanita itu.
"Badai!"
Badai menghentikan aktivitas nya lalu menoleh pada Erika. "Apaan?" ketus Badai sambil mengusap bibir tipis milik istrinya tersebut.
"Kenapa kau menciumnya? padahal, aku istri sah kamu?!"
Pemuda itu hanya menatap sinis pada Erika. "Istri? gue gak pernah anggap lo istri dan gue lebih baik bersama nya," balas Badai mencium leher Air.
"Aku akan melaporkan kamu pada kakek kamu?"
Badai langsung mencengkram kuat leher Erika. "Buat apaan kau mengadu, hah?! lo gak bakalan bisa menggoda kakek gue?" tekan Badai sehingga Erika tampak kesulitan bernafas karena cengkraman kuat Badai sedangkan Air hanya tersenyum miring.
Brukh!
__ADS_1
Erika meringis saat Badai mendorong tubuh nya ke lantai. "Punya istri gak ada gunanya," sinis Badai lalu duduk dan tak lupa menarik Air buat duduk di pangkuannya. Ia begitu lega sekali karena kakeknya sudah pergi karena urusan mendadak.
"Mau sarapan pakai apaan?"
"Sayur saja," jelas Air sehingga Badai langsung mengambil piring buat mengambil sarapan.
"Eh, ngapain lo duduk disana?" tanya Badai saat Erika duduk di hadapannya.
"Aku mau sarapan," balas nya pelan karena sudut bibirnya masih sakit akibat tamparan kuat Badai tadi.
"Lo sarapan setelah gue selesai, gak sudi gue sarapan bareng wanita m u r a h a n kek lo," sinis Badai membuat Erika menahan kesal, ia tak menyangka kalau menikah dengan Badai bakalan tersiksa seperti ini dan berbeda dengan apa yang ia pikirkan sebelum nikah. Ia memikirkan bakalan hidup enak dengan pria kaya dan di perlakukan sebagai ratu oleh Badai.
Tap!
Tap!
Badai langsung menurunkan Air dan menyuruh Air buat duduk di bangku di sampingnya, ia bingung melihat Kakeknya datang membawa koper mendekat. "Ka-Kakek ngapain bawa koper kesini?" bingung Badai sehingga Kakek menoleh.
"Kakek bakalan tinggal bareng cucu dan menantu kesayangan Kakek, apa salahnya?" balas Kakek membuat Badai terdiam. "Erika, kenapa sudut bibir kamu memar begitu?".
"Ditampar oleh Badai, Kek. dia juga mencium wanita itu tadi hiks," lapor Erika membuat Kakek menoleh pada Badai yang terlihat tenang, sedangkan Air hanya diam sambil menyantap makanannya. "Badai, apa itu benar?" tanya Kakek marah sehingga Badai menoleh.
"Kenapa menampar istri kamu, hah?"
"Karena Badai tak terima dituduh berselingkuh, Badai yang baru bangun saja di tuduh selingkuh dan membentak Badai," bohongnya sehingga Kakek menoleh pada Erika. "Itu gak benar, Kek. Badai bohong," jelas Erika supaya ada yang mempercayainya saat ini.
"Bohong apanya? jelas-jelas kau menuduh gue,"
sinis Badai dingin membuat Kakek menghela nafas panjang. "Sudah-sudah! owh iya, Kakek sempat beli dua tiket buat kalian honeymoon," jelas Kakek menyodorkan tiket itu pada Badai dan Erika, sedangkan Badai tak begitu tertarik dengan tiket tersebut.
"Badai kek nya kurang enak badan, Kek!" jelas Badai berbohong.
"Kakek gak mau tau, kau harus pergi setelah ini bersama Erika dan Kakek sudah mengatur keberangkatan kalian nanti siang,"
Deg!
Air yang mendengar itu tak terima, sedangkan Etika tersenyum bangga karena bisa honeymoon dengan Badai tanpa di ganggu oleh wanita di samping Badai. 'Kalau tiketnya dua, gue bisa beli satu lagi buat istri gue,' batin Badai menemukan ide.
*
__ADS_1
Siang harinya, Air menatap suaminya yang sudah menaiki mobil bersama Madunya. ia benar-benar tak menyangka kalau berjauhan dengan Badai selama 1 bulan di saat ia hamil muda begini.
Air lalu masuk kedalam kamar saat Badai menoleh padanya, wanita itu langsung menangis di tempat tidur karena tak terima wanita itu bersenang-senang dengan suaminya.
Tok!
Tok!
Mendengar suara pintu di ketuk, Air lalu bergegas membuka pintu kamarnya dan melihat seorang bodyguard berdiri dihadapannya. "Nona, sebaiknya anda siap-siap! Tuan Muda akan membawa anda juga," jelas Bodyguard itu yang membuat Air senang. "Baiklah, aku siap-siap dulu!" senang Air langsung kembali ke kamar buat mengambil koper.
Disisi lain, Badai tampak risi berada di dekat wanita yang sama sekali tak ia kenal. "Berhentilah kau ngomong! gue capek dengarnya!" bentak Badai membuat Erika menoleh.
"Aku terlalu senang karena bisa berduaan sama kamu tanpa di ganggu, aku gak sabar honeymoon sama kamu di luar negeri," senyum Erika sedangkan Badai menghela nafas kasar lalu menoleh keluar jendela mobil.
Tak lama, keduanya sampai di Bandara sedangkan Badai tampak mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung datang membuatnya tak mood buat pergi. "Badai, ayo! keberangkatan kita sebentar lagi!" ajak Erika sehingga Badai bimbang. Erika langsung menarik Badai sehingga pria itu tersentak mengikuti langkah Erika.
***
Badai begitu tak bersemangat saat sampai di sebuah bandara Amerika, ditambah ia begitu jijik melihat Erika yang kesenangan.
"Badai!"
Mendengar suara yang amat di kenali, kedua orang itu pun menoleh. "Kamu akhirnya ikut juga," senang Badai langsung memeluk tubuh mungil istrinya itu. "Tentu loh, Aku harus ikut bersama kamu karena aku pengen tubuh kamu," jelas Air memeluk suaminya itu. "Nanti saat tiba di hotel okey! dedeknya udah kepengen di jenguk," kekeh Badai mengusap perut rata istrinya itu.
"Badai, kenapa kamu membawa dia? hari ini adalah hari honeymoon kita berdua,"
"Gue gak sudi Honeymoon bareng lo, mendingan gue bareng istri dan calon anak gue," ketus Badai merangkul pinggang istrinya itu.
Prang!
Badai menghempaskan ponsel Erika saat wanita itu hendak melapor pada Kakeknya. "gue gak bakalan biarin lo laporin ini pada Kakek gue," tekan Badai sambil menginjak ponsel tersebut hingga hancur. "Ayo kita berangkat, biar aku yang bawa koper kamu,".
Air langsung mengikuti Badai. 'Gue harus menyingkirkan wanita itu dan gue yang bakalan miliki Badai,' batin Erika mengikuti Badai menuju hotel yang sudah di pesan.
Sesampai di depan pintu kamar hotel, Air langsung membuka pintu tersebut dan menatap kamar yang begitu besar sekali.
"Badai, hari ini kamu tidur bareng aku ya," pinta Erika tersenyum, membuat Air langsung memeluk Badai. "Gue bakalan tidur sama wanita gue," ketus Badai lalu membawa istrinya masuk kedalam kamar yang membuat Erika menahan marahnya. Wanita itu lalu tersenyum sinis karena menemukan ide buat dapatkan Badai nanti. Erika lalu berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat karena capek sekali.
"Kalau gue gak dapatin Badai hari ini, nanti malam Badai bakalan jatuh ke pelukan gue dan menyuruh orang buat membunuh wanita itu," smirk Erika senang.
__ADS_1
Bersambung...